Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 40. Pangeran Dari Negeri Dongeng


__ADS_3

Seperti perkataan Khanif kemarin sore, Khanif pun membawa mereka berdua jalan-jalan ke wisata hutan pinus kota M. Baru saja mereka tiba, Mereka sudah melihat banyaknya wisatawan yang ada disana. Bahkan sebagian dari mereka sudah ada yang mengambil tempat duduk untuk bersantai.


Namun ada pula yang berjalan-jalan menikmati hembusan angin segar nan sejuk yang membelai wajah-wajah mereka yang menikmatinya. Selain duduk bersantai dan berjalan-jalan, ada juga yang sedang naik kuda dengan ditemani oleh pawang kudanya. Meski hari masih pagi, mereka tak heran jika wisatawannya akan sebanyak ini.


"Ayo kita kesana," seru Davina.


"Sepertinya kamu sudah sangat ingin kesini naik kuda," tebak Khanif.


"Sangat. Ayo cepat," rujuknya seperti anak kecil.


Rania lagi-lagi tersenyum lucu melihatnya. Namun, kali ini ia tidak mempunyai niatan untuk pergi meninggalkan mereka lagi. Untuk apa juga ia pergi, kalau dirinya sudah suka berada disini. Bahkan sangking sukanya, Rania sudah mengekor di belakang Davina tanpa menunggu Khanif menyusul mereka.


"Cepat," rujuk Davina melambaikan tangannya saat ia berbalik melihat Khanif, tapi Khanif melangkahkan kakinya pelan.


Namun belum ada semenit, Khanif mempercepat langkah kakinya karena ia ingin mengatakan sesuatu pada Davina. Bahkan Khanif melewati Rania begitu saja. Rania kecewa? Tentu saja tidak.


"Davina!"


Davina berbalik karena Khanif memanggilnya. "Hem, ya."


Khanif mendekat lalu mengatakan apa saja yang baru hinggap di pikirannya. "Sebaiknya kita berjalan-jalan dulu sebentar. Sebelum kamu hendak naik kuda." Khanif lalu mencari alasan lain agar Davina bisa kembali memikirnya.


Setelah mendapatkannya, Khanif pun kembali berujar. "Tidak baik kalau kamu langsung naik kuda disini. Apalagi ini adalah kunjungan pertamamu."


"Iya," ujar Davina teringat.


"Baiklah sudah diputuskan. Kita berjalan-jalan dulu sebelum naik kuda."


Rania yang baru tiba pun menyetujui perkataan Khanif. "Saya setuju dengan pak Khanif. Kita baru saja tiba. Kita tidak tahu betul tempat ini, jadi alangkah baiknya kalau kita berjalan-jalan dulu walau sebentar."


"Ya, sepertinya kalian benar."


Meski tidak menyukai ide ini, tapi apa salahnya ia mengikutinya. Lagi pula ia memang baru pertama kali datang kesini dan belum sempat melihat-lihat suasananya. Mungkin selain akan berkuda, Davina akan merindukan saat-saat berjalan didaerah ini.


Davina pun mengajak Rania menyusuri hutan pinus ini. Sedangkan Khanif pergi mencari tempat duduk santai. Namun selama Rania dan Davina berjalan, pandangan Khanif tidak terputus dari mereka.


Davina dan Rania begitu puas berjalan-jalan bahkan mereka juga sempat mengambil foto di beberapa spot foto yang disediakan oleh orang-orang yang berusaha disini. Berbagai macam gaya mereka lakukan. Bahkan kemungkinan, baik Davina maupun Rania, telah melupakan tujuan mereka kemari, yakni berkuda.


Sementara Davina dan Rania berfoto ria sambil mengagumi keindahan hutan pinus ini, Khanif yang bersantai ditempat duduk yang telah disediakan, tidak tinggal diam saja.


Ia telah memesan minuman hangat dari salah satu warung yang membawakan menu warungnya. Khanif juga memesan makanan berkuah yang membuatnya merasa hangat.


Meski Khanif begitu menikmati santapannya ini, seperti yang Khanif lakukan sebelumnya, matanya tidak pernah lepas dari mereka walau sesekali ia fokus untuk menikmati makanan dan melihat-lihat orang sekitar.


Sekitar sejam lamanya Khanif menunggu mereka menikmati keindahan alam disini dengan cara berjalan kaki. Kini Khanif pun menghampiri mereka untuk mengajak mereka berkuda. Mengelilingi wisata hutan pinus ini.

__ADS_1


"Sudah puas jalan-jalannya?"


"Iya." Davina menjawab pertanyaan Khanif dengan semangat menggebu.


"Baiklah, bagaimana kalau sekarang kita berkuda. Sepertinya hari sudah cukup bagus untuk mulai berkuda," ujar Khanif sambil memperhatikan suasana yang mulai menghangat karena matahari bersinar begitu terik namun, angin disana tetap saja membuat mereka merasa sejuk.


"Hem. Ayo. Rania kamu mau berkuda-kan?" tanya Davina tersadar kalau Rania belum mengatakan persetujuannya untuk berkuda atau tidak.


"Aku tidak tahu cara berkuda."


"Tenang saja, kalau begitu kita satu server. Aku pun tidak tahu cara berkuda maupun cara memulai naik ke punggungnya." Davina terkekeh mengetahui keinginan terbesarnya untuk naik kuda meski ia tidak tahu cara menaikinya maupun mengendalikannya. "Tapi aku kekuh mau berkuda karena aku tahu, akan ada seseorang nanti yang membantu kita dalam mengendalikan kuda."


Rania pun ikut terkekeh, sepertinya mereka sehati.


"Baiklah, kalau begitu aku mau."


"Sudah diputuskan. Tunggu disini, saya yang pergi memesan kuda untuk kita bertiga."


"Eh, tunggu ... tunggu ... aku tidak ingin ketinggalan dalam memilih kuda. Lagi pula aku yang ingin menaikinya dan mengendalikannya. Jadi aku harus memilih kuda yang terbaik dari terbaik. Pasti Rania juga ingin memilih kudanya sendiri." Davina menoleh pada Rania. Ia ingin menegaskan, "iya kan, Rania?"


"Tentu saja. Saya ingin memilihnya sendiri. Jarang-jarangkan kita bisa se-santai ini," ujar Rania antusias.


"Lebih dari kalian, pemilik kuda itu lebih mengetahui kuda apa yang pantas buat kalian pakai."


Khanif mengembuskan napasnya panjang. "Baiklah, aku menyerah. Ayo ikut!"


Mereka pun berjalan ke tempat penyewaan kuda.


Sesampainya mereka disana, Davina dan Rania mulai memilih kuda yang mereka akan tunggangi. Bahkan dalam sekali memilih, Davina dan Rania sudah mendapatkan kuda keinginan mereka.


Setelah memilih, Khanif lebih dahulu naik ke punggung kuda membuat Davina maupun Rania terpana akan keahlian Khanif yang satu ini. Mereka seperti melihat pangeran dari negeri dongeng.


"Aku sudah bisa menebaknya ...,"


"Kalau aku bisa menunggangi kuda sendiri," tebak Khanif memotong ucapan Davina.


"Ya."


"Baiklah, ayo kita mulai."


Davina pun mulai ikut naik ke pelana kuda. Sedangkan Rania agak ragu-ragu dalam tindakannya kali ini. Ia merasa seperti ini terlalu menyenangkan baginya. Ia takut, sesuatu akan terjadi karena rasa senang yang entah datangnya dari mana.


Rania pun mulai membawa kakinya ke sanggurdi atau lebih dikenal dengan pijakan kaki saat menunggangi kuda. Seperti Davina, akhirya Rania berhasil duduk diatas pelana kuda. Ia duduk begitu tengang hingga Khanif menegurnya.


"Jangan terlalu tegang. Cobalah duduk santai seperti kami. Nanti juga kamu akan terbiasa."

__ADS_1


Rania menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia pun mulai merilekskan tubuhnya, namun saat ia mencobanya, tiba-tiba kuda yang ditungganginya memekik sedikit hingga membuat Khanif melompat turun dari kudanya untuk membuat Rania terbiasa diatas kuda cokelat yang ia pilih.


"Tenang, jangan terlalu tegang," ujar Khanif melihat Rania sambil mengelus-ngelus punggung kuda cokelat itu.


"Sa ... saya sepertinya melihat kalian saja dari sini," cicit Rania.


"Kalau kamu takut jika orang lain yang menjadi pengendali kudamu, maka jangan khawatir mulai sekarang, karena saya yang akan menjadi pengendali kuda ini."


"Tapi ... tapi ... bapak?"


"Tak apa." Khanif lalu menoleh pada Davina. "Kamu tidak takut kan?" tanyanya pada Davina.


"Tidak. Ini adalah pengalaman yang seru."


Khanif tersenyum melihat keberanian Davina.


"Baiklah, aku duluan." Davina lalu beralih pada pengendali kudanya. "Ayo pak."


"Kita jalan sekarang?" tanya Khanif .


"Sa ... saya ...."


"Atau kamu mau berkuda berdua denganku?" ujar Khanif sebenarnya hanya candaan buat Rania.


"Tidak. Saya naik kuda sendiri saja."


"Kalau begitu jangan melarangku untuk menjadi orang pengendali kudamu."


"Bukannya bapak ingin berkuda juga?"


"Nanti setelah kamu sudah terbiasa."


Rania menganggukkan kepalanya setuju. Ia lalu tersenyum kecil.


"Ayo." Khanif pun mulai menuntun Rania dalam mengendalikan kudanya.


Meski agak takut, tapi Rania mulai merilekskan tubuhnya. Ia seperti mulai terbiasa dalam menunggangi kuda. Entah kuda tunggangannya yang mulai bersahabat atau karena Khanif lah yang menjadi pengendali kuda tunggangannya itu. Rania tidak tahu, yang ia tahu dengan sangat jelas sekarang yaitu kalau dirinya sudah terbiasa dalam menunggangi kuda cokelat pilihannya.


Sedang Rania yang sudah terbiasa dan bahkan sudah bisa menunjukkan senyumnya karena senang akan dirinya yang sudah bisa menunggangi kuda dengan santai. Ditempat lain yang tidak terlalu jauh dari dirinya berada, ada seseorang yang melihatnya dengan pandangan marah.


...To be continued ...


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang banyak, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2