Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 82. Bujuk Aku


__ADS_3

Hai, aku datang lagi nih. Kali ini aku mau berterima kasih banget sama @Nur Asyima, @Haji Lina Khdijah dan @Yeni Visa Al-Afif karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.


Baiklah, Selamat Membaca Semua 🤗


...***...


Saat Rania baru saja keluar dari gerbang, ia memicingkan matanya saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya melaju mendekatinya. Ah, tidak. Mobil itu bukan melaju mendekatinya melainkan hendak masuk ke dalam halaman perushaan.


Rania pun kembali menatap lurus kedepan dan melangkahkan kakinya menuju tepi jalan untuk menunggu angkot yang akan mengantarnya pulang kerumah.


Mobil yang tadi dilihat oleh Rania sudah sangat sangat dengannya. Namun tidak ada tanda-tanda kaca mobil itu akan turun dan memperlihatkan orang yang sedang mengendarainya. 


"Turunkan kaca mobil kek, menyapa karyawan yang baru pulang. Huh! Dasar pak Khanif, bunglon," ujar Rania dalam hati saat mobil Khanif melewatinya begitu saja.


Rania tertunduk dan malah menendang batu kecil yang ia jumpai. Sesaat Rania terkaget saat mendengar suara klakson mobil. Ternyata, tanpa ia sadari, mobil Khanif telah mundur sampai ke arahnya. Bahkan kaca mobilnya pun telah turun memperlihatkan Khanif yang memandang heran dirinya dengan tangan yang telah menyadarkan keluar jendela.


"Kenapa kamu jalan kaki?" tanya Khanif santai.


Rania berhenti berjalan. Ia juga mengembuskan napas panjang dan menolehkan dirinya melihat Khanif. "Papa tidak bisa menjemput saya, makanya saya keluar cari angkot."


"Kenapa tidak menghubungi pria yang kamu temui di loby siang tadi."


Rania memanyunkan bibirnya. Ia tidak suka Khanif membicarakannya sampai seperti itu. Dirinya dan Zaky tidak melakukan hal-hal yang aneh pun. Mereka hanya duduk dengan Zaky yang mengatakan kalau Zaky ingin mengajaknya nonton film malam ini di bioskop, tidak lebih.


"Apa pak Khanif cemburu?" tanyanya dalam hati sambil mencondongkan dirinya melihat Khanif. Ia ingin tahu dari matanya. Karena seperti yang ia ketahui, mata tidak pernah berbohong. Tapi sepertinya ia bukalah seseorang yang profesional yang dapat dengan mudah mengetahui kalau lelaki didepannya sedang cemburu atau malah mengejeknya.


"Kamu kenapa?" tanya Khanif memundurkan kepalanya karena melihat gelagat aneh Rania.


Rania pun kembali menegakkan dirinya. "Tidak, tidak apa-apa." Setelah mengatakannya, Rania pun lanjut berjalan lagi.


"Hei, saya belum selesai bicara," ujar Khanif membuat Rania menghentikan langkah kakinya dan kembali berbalik ke arah Khanif.


"Tapi saya sudah selesai berbicara sama bapak."


Rania pun kembali melanjutkan langkah kakinya menjauh dari Khanif. Namun Khanif yang melihat hal itu, bergegas keluar dari mobilnya dan menyusul Rania.


"Tunggu," ujar Khanif tanpa sengaja menghentikan langkah kaki Rania dengan memegang lengannya.

__ADS_1


"Lepas."


"Maaf, saya tidak sengaja," ujarnya seraya melepas cekalan tangannya. Ia kemudian melanjutkan perkataannya, "daerah sini sudah jarang ada angkot yang lewat saat sudah jam seperti ini. Jadi, saya akan mengantarmu pulang. Masuklah ke mobil."


"Ini baru jam berapa kok," ujar Rania seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Baiklah, terserah kamu saja." Khanif pun meninggalkan Rania seorang diri.


Jika orang yang melihat mereka tidak mengetahui duduk perkaranya, maka bisa dipastikan kalau mereka akan salah paham akan Rania dan Khanif. Bagaimana tidak, Rania dan Khanif malah terlihat seperti sepasang kekasih. Dengan Rania yang ngambek dan Khanif yang mencoba membujuk sang kekasih untuk kembali masuk ke dalam mobil bersamanya. Sungguh mereka terlihat seperti itu.


Melihat Khanif pergi, Rania menggerutu dalam hati, "bujuk kek, sampai saya mau ikut!" Rania lagi-lagi memanyunkan bibirnya. Namun pada akhirnya, ia mengikuti langkah kaki Khanif.


"Tunggu, saya akan ikut pulang sama bapak."


"Masuklah."


Rania pun masuk ke pintu sebelah. Setelah memasang sabuk pengamannya, Khanif tidak lantas mengantar Rania pulang karena dirinya sengaja kembali datang ke kantor hanya untuk mengambil dokumen dari Tama yang tadi disimpan oleh Davina ditempat yang menurutnya aman.


Setelah mengambil dokumen yang ia butuhkan, Khanif pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Rania. Namun belum juga mereka sampai, tiba-tiba Khanif mendengar suara yang sangat asing baginya. Suara itu terdengar seperti suara perut yang kelapan.


Sedang disisi lain, Rania nampak malu. Bagaimana tidak, pasti Khanif telah mendengarkan suara perutnya yang berbunyi tadi. Meski suaranya kecil, jika hanya keheningan yang berada diantara mereka sejak tadi, pasti akan terdengar juga, kan! Rania pun memegang perutnya. Ia berusaha agar perutnya tidak bersuara untuk yang kedua kalinya lagi.


Rania menoleh, bibirnya membentuk huruf o. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa lagi.


"Tak apa, kan?" tanya Khanif melanjutkan.


Rania menganggukan kepalanya malu. Tentu saja, sepertinya Khanif sengaja ingin mengajaknya makan dulu sebelum mengantarnya pulang karena Khanif tidak ingin mendengarkan suara perutnya yang berbunyi lagi.


Menebaknya sendiri, Rania lagi-lagi memanyunkan bibirnya. Namun kini, Rania sudah beralih menatap ke luar jendela mobil. Ia tidak ingin Khanif melihatnya. Ia merasa sedih dengan kata-kata dalam pikirannya sendiri.


Setelah Khanif memarkirkan mobilnya, ia pun membuka sabuk pengamannya dan bergegas keluar dari mobil untuk membukakan Rania pintu. Rania kaget, ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Khanif.


"Terima kasih," ujar Rania. Ia pun keluar dari mobil Khanif.


Sepanjang masuk ke dalam restoran, Rania kembali memikirkan kata-kata dalam pikirannya tadi. Ia sadar, sepertinya Khanif tidak sengaja mengajaknya makan untuk tidak mendengar suara perutnya lagi, akan tetapi Khanif ingin melindunginya dari rasa malu. Memikirkan kemungkinan ini, membuat hati Rania menghangat. Ia bahkan mulai bisa tersenyum lagi. 


Sesampainya mereka didalam, lagi-lagi Khanif membuatnya bersemu merah. Bagaimana tidak, Khanif menarik sebuah kursi untuknya. Entahlah, Rania tidak tahu mengapa Khanif bisa berubah seaneh ini. Bahkan pernah sekali Khanif membukakannya pintu mobil pun karena ia yang suruh. Nah ini? Rania bahkan tidak merengek pada Khanif untuk dibukakan pintu mobil sampai menarikkan sebuah kursi untuk dirinya.

__ADS_1


"Bapak kenapa jadi berubah seperti ini?" tanya Rania dalam hati setelah Khanif duduk.


Sungguh, Rania dibuat heran dengan kelakuan Khanif yang tidak bisa ia tebak. Bagaimana bisa seorang yang tidak ingin dibantah bisa menjadi seorang yang mau melakukan apapun tanpa disuruh. Rania pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu kenapa?"


"Oh, tidak apa-apa pak. Hanya ingin melemaskan leher saja."


Khanif melihat Rania sebentar. Ia lalu memberikan Rania buku menu. "Pilih lah, apa ingin kamu makan."


Rania pun mengambil buku menu dan mulai menjelajahi isinya untuk menemukan sebuah makanan yang dapat menambah minatnya. Matanya tertuju pada sebuah makanan yang berbahan dasar udang. Namun jika mengingat kalau baru-baru ini ia habis mengonsumsi makanan seafood, membuat Rania menghentikan niat untuk memakannya.


Khanif yang melihat Rania terdiam, akhirnya angkat bicara.


"Kamu kalau mau mesan makanan itu, pesan saja. Nanti saya yang bayar."


"Tidak, tidak seperti itu."


"Lalu?"


"Saya alergi seafood." Rania murung. "Saya pesan yang lain saja," ujarnya kembali. Rania pun memilih makanan berbahan dasar daging sapi.


Setelah mereka berdua memesan makanan dan minuman, Khanif pun mengangkat tangannya. Tidak lama setelah itu, terlihatlah seorang pelayan menghampiri mereka.


"Mohon tunggu pesanan Anda," ujar pelayan wanita itu setelah Khanif mengatakan pesanannya dan Rania.


Khanif mengangguk, begitupula dengan Rania. Sambil menunggu, Rania pun memberanikan diri untuk bertanya pada Khanif akan sikapnya yang tidak biasa tadi.


"Mengapa bapak mau membukakan saya pintu, bahkan menarikkan sebuah kursi untuk saya duduki."


"Itu karena suatu hal," ujar Khanif yang tidak dimengerti oleh Rania.


"Maksud bapak?"


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2