Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 94. Aku Baru Tau


__ADS_3

Saat ia hendak beranjak menuju ke mejanya, seseorang dari luar - tanpa mengetuk pintu maupun mengucapkan salam, langsung saja menerobos masuk hingga membuat Khanif terkejut.


"Mama!"


Mama melihat Khanif dengan pandangan kesal seraya berjalan menuju sofa. Mama menghempaskan tubuhnya disana.


"Mama kenapa?"


"Kamu yang kenapa?"


Khanif bingung. Sungguh ia tidak mengerti maksud mama barusan. Khanif lantas mendekat, ia lalu duduk didepan mama dengan tangan yang tertaut. Khanif pun kembali mengulangi pertanyaannya mengapa mama bisa datang kemari dengan keadaan hati yang buruk.


"Mama kenapa? Kok datang-datang jadi gini?"


Mama memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. Mama berpikir, apa Khanif tidak mengetahui penyebab hatinya yang menjadi buruk saat ini? Sungguh anaknya kurang peka terhadap keadaan sekitar. Setelah diam cukup lama, akhirnya mama membuka suara juga.


"Sewaktu mama mau kesini, mama tidak sengaja melihat nak Rania sedang makan siang bersama nak Zaky di sebuah warung makan."


"Mama salah lihat kali."


"Mana mungkin mama salah lihat. Jelas-jelas wanita itu nak Rania. Mata mama masih jernih, yah! Belum rabun."


"Iya, iya. Khanif tahu. Tapi dikota ini, ada banyak wanita yang bisa saja mirip kan!"


Mama bersungut marah. "Sudahlah, mama capek berbicara sama kamu."


"Ma," ujar Khanif sambil mendekati mama dan membawa tangan mama ke genggaman tangannya sendiri. "Khanif tahu mama bicarakan ini demi kebaikan Khanif. Tapi Khanif tidak ingin membatasi kehidupan seseorang sebelum Khanif dan dirinya bersama."


Mama melihat Khanif, lalu mama juga ikut menganggam tangan Khanif dengan tangan satunya yang masih bebas.


"Mama tidak memikirkan hal itu."


"Mengapa mama bisa datang kemari?" tanya Khanif mengalihkan pembicaraan mereka yang sebelumnya.


"Mama mau jalan-jalan kemari sekalian mau ngajak nak Rania pulang bersama, lalu terus berbelanja."


"Jadi Davina sendirian di rumah?"


"Ngga, teman sma-nya datang. Makanya mama berani pergi."


"Kalau gitu mama diruangan Khanif aja menunggunya."


"Tidak perlu. Mama mau keliling dulu. Mau ngecek keadaan perushaan semenjak dikelola sama kamu. Mama mau tahu perusahaan mengalami kemajuan atau malah sebaliknya."


Khanif terkekeh mendengar penuturan mama. Ia tidak sedikitpun tersinggung mendengar ucapan mama, karena Khanif tahu, mama hanya mengatakan hal itu untuk tidak berdiam diri didalam ruangannya saja.


"Baiklah. Khanif mau lanjut kerja dulu. Mama bisa menjalankan rencana mama barusan."


"Iya. Mama mau pergi dulu."


Mama lalu beranjak keluar dari ruangan Khanif. Lisa yang melihat mama Adelin pun menyinggungkan sebuah senyuman paling manis yang ia punya. Ia seperti ingin membuat mama Adelin terkesan padanya. Namun pada kenyataannya mama Adelin tidak sedikitpun tertarik pada wanita berbaju soft blue itu. Bahkan mama Adelin membalas senyuman Lisa dengan sebuah senyuman simpul darinya. Lalu kemudian melangkahkan kakinya menuju lift kaca.


Mama keluar dari lift dimana lantai ruangan Rania berada. Ia sekalian untuk melihat para karyawan yang sudah sangat lama tidak ia temui. Pak manajer yang melihat kedatangan mama Adelin pun tergopoh-gopoh mendatanginya.


"Ibu, selamat datang di divisi keuangan."

__ADS_1


Mama Adelin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kalau boleh tau, ibu datang kemari untuk urusan apa? Siapa tahu saya bisa bantu."


"Tidak usah, saya datang melihat-lihat saja. Lanjutkanlah pekerjaanmu," ujar mama Adelin.


Mama Adelin pun kembali melanjutkan langkah kakinya menyusuri ruangan keuangan ini. Mama Adelin baru berhenti saat kakinya berada didepan meja kerja Rania. Dian yang melihat hal itu pun mendekati mama Adelin.


"Siang bu. Ibu mencari Rania?"


"Iya, dia kemana?" tanya mama Adelin basa-basi padahal mama sudah tahu Rania pergi kemana.


"Rania pergi makan siang bu dengan temannya." Dian lalu maju untuk menarik kursi Rania agar mama Adelin bisa duduk disana. "Ibu silakan duduk dulu."


Tidak lama kemudian, dari arah lift terlihatlah Rania yang melangkah keluar. Dian yang melihat hal itu pun memanggil Rania dengan kode lambaian tangannya. Rania lihat, ia berjalan cepat menuju meja kerjanya. Sampainya disana, Rania tidak menyangka mama Adelin duduk ditempat duduknya.


"Tante," panggil Rania pelan tanpa embel-embel memanggil mama Adelin seperti apa yang tadi dipanggilkan oleh Dian.


Dian melihat Rania, ia lagi-lagi memberikan kode. Namun kali ini Dian memberikan kode mata agar Rania mengubah panggilannya pada mama Adelin. Rania yang cepat sadar pun buru-buru mengubah panggilannya.


"Ibu."


Mama Adelin berbalik. Ia tersenyum melihat Rania sudah datang.


"Eh, kok manggil ibu, sih! Tante aja, ngga papa."


Rania mengangguk canggung.


"Entar sore jadi kan ikut tante berbelanja?"


"Insya Allah, tan. Jadi."


"Iya, tan."


Setelah mama Adelin pergi, Dian memberikan Rania tatapan ingin tahu. Dian lalu mendekatinya dan menoel-noelkan jarinya di lengan Rania.


"Aku ngga tahu, kalau ternyata kamu udah dekat dengan ibu, pak Khanif."


"Jangan mikirin yang macam-macam dulu. Dulu aku pernah nolongin tante Adelin sewaktu hampir di copet. Makanya kami bisa dekat."


"Benarkah?" tanyanya kian menggoda Rania.


"Iya benar," tegasnya. Namun hal tersebut malah membuat Dian tertawa cekikitan. "Kenapa tertawa?" tanya Rania heran.


"Aku cuma merasa lucu aja. Aku rasa ibu Adelin menyukaimu."


"Maksudmu?"


"Rahasia. Biar kamu pikirkan aja sendiri. Baiklah, aku mau lanjut kerja lagi."


Dian pun melangkahkan kakinya kembali ke meja kerjanya. Rania yang penasaran dengan ucapan Dian pun mengejarnya.


"Hei! Jangan buat aku penasaran dong."


Dian berbalik. Ia tersenyum melihat Rania. "Baiklah, aku cerita. Sini dekat-dekat," ujarnya bermaksud untuk membisikkan sesuatu ditelinga Rania.

__ADS_1


"Apa?"


"Sepertinya ibu Adelin sudah memberikan restunya pada kamu."


Rania langsung menjauh. "Jangan ngaco, ah. Paling-paling itu karena bentuk rasa terima kasih tante aja padaku. Pak Khanif kan dekat sama Da ...."


Belum juga Rania menyelesaikan kata-katanya, Dian sudah lebih dahulu memotong ucapannya.


"Davina maksud kamu? Bagaimana mereka mau dekat kalau Davina saudari persusuan pak Khanif. Kamu ada-ada saja."


Mendengarnya, membuat Rania hampir tidak percaya. Ia bahkan mematung ditempatnya dan kehabisan kata-kata untuk menyangkal ucapan Dian barusan.


Bagaimana bisa keadaan menjadi seperti ini? Ia bahkan sudah pernah menduga sebelumnya kalau mereka mempunyai hubungan yang lebih tanpa pernah memikirkan kalau mereka bisa saja bersaudara melihat kedekatan mereka. Ah, Rania merasa bersalah lagi.


"Kamu kenapa?" tanya Dian membuyarkan lamunan sesaatnya.


"Tidak, tidak apa-apa."


"Beneran?" tanya Dian memastikan.


"Iya bener. Tapi dari mana kamu tahu, kalau mereka saudara persusuan?"


"Aku dari dulu udah temenan sama Davina sejak masa sma. Dulu juga aku ngga tahu kalau pak Khanif dan Davina adalah saudara. Bahkan aku pernah menuduh mereka punya hubungan seperti pacaran gitu. Abisnya, tiap pulang sekolah dia dijemput terus sama pak Khanif yang kala itu sudah sma juga. Aku kira mereka sepasang kekasih. Nyatanya tidak."


Dian jadi ingat bagaimana dirinya sering menggoda Davina yang tiap pulang sekolah selalu menunggu seorang lelaki digerbang sekolah.


Kala itu, Dian menemani Davina menunggu lelaki berbaju sekolah abu-abu yang sering datang menjemputnya karena sekolah mulai sepi. Ia menemani Davina selama kurang lebih lima belas menit. Selama itu pula, Dian membuka percakapan dengan Davina.


"Kamu bagus banget ya, ada pacar selalu antar jemput kamu."


"Pacar, siapa?"


"Kamu! Itu loh yang selalu jemput kamu pulang."


"Oh itu, kamu salah paham. Dia itu kakak aku, tahu!"


"Mana ada. Kamu kan, anak tunggal."


"Kak Khanif itu saudara persusuan aku." Davina mengatakannya sambil terkekeh. Ia tidak menyangka ada saja teman yang salah sangka padanya dan Khanif.


"Hah! Kamu ngga lagi bercanda kan?"


"Ngga lah. Sungguh, kak Khanif adalah kakak angkat aku sekaligus kakak sepupuku."


***


Memikirkan hal bertahun-tahun lalu, membuat Dian tersenyum lucu. Ternyata sekarang ada orang yang sama seperti dirinya yang dulu.


"Pokoknya, Davina dan pak Khanif itu saudara persusuan. Makanya tadi aku bilang kalau sepertinya ibu Adelin sudah memberikan restunya padamu."


"Restu? Siapa yang diberikan restu?" tanya seseorang dibelakang mereka.


...To be continued ...


Note bagi yang bertanya. *Bab selanjutnya, dimana mama Adelin dan Rania belanja bareng.

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2