Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 147. Gadis Incaran Khanif


__ADS_3

Dua hari telah berlalu namun Khanif tidak sedetik pun tidak berusaha untuk lebih dekat dengan Rania.


Mulai datang menjemput Rania untuk pergi ke kantor bersama, datang ke ruangan Rania untuk mengajaknya makan siang bersama, sampai datang kerumahnya pada malam hari untuk sekedar berkunjung jika mempunyai waktu luang.


Khanif juga tidak sedetik pun memberikan cela untuk Rania menghindar. Bahkan saat Zaky juga ada dirumah Rania saat ia datang berkunjung, Khanif tidak sedikit pun merasa tersaingi.


Ia beranggapan kalau mendapatkan hati Rania tidak lah harus mempunyai rasa cemburu berlebihan pada lelaki yang juga dekat dengan gadis incarannya. Ia ingin bersaing secara sehat agar Rania dapat melihat ketulusan hatinya.


Sedang Rania, ia sepertinya belum mau memberikan Khanif harapan yang lebih. Bukannya ia tidak memiliki perasaan sedikit pun pada Khanif, hanya saja ia ingin lebih memberikan Khanif waktu, agar Khanif memahami betul pada siapa hatinya ingin berlabuh.


Tidak memberi perhatian lebih itu dapat Rania lakukan dengan cara menolak ajakan Khanif untuk makan siang bersama.


"Maaf, pak. Saya mau makan siang bersama Dian."


"Ra ...," ujar Dian terpotong dengan ucapan Rania yang tiba-tiba.


"Bukannya kamu ingin makan siang di sebuah kedai makan yang baru buka hari ini?" tanya Rania dengan memberikan kode senyum simpulnya.


"Ah, i ... iya. Aku hampir lupa."


"Nah, bapak dengar sendirikan."


"Tak apa kalau hari ini tidak jadi. Besok aku akan mengajakmu makan siang lagi dan aku harap kamu mau. Baiklah, aku pergi lebih dulu. Kalian nikmatilah istirahat kalian."


Semenjak Khanif mulai mengejar Rania, Khanif juga mulai merubah panggilan dirinya yang semula memakai kata 'saya' menjadi kata 'aku' untuk berbincang dengannya. Agar ia merasa lebih dekat dengannya walau sejengkal.


Rania awalnya merasa heran dengan perkataan yang Khanif ubah itu. Ia merasa tidak terbiasa saja dengan panggilannya dan lagi pula, hanya dirinya satu-satunya wanita yang bukan dari keluarga di perusahaan yang Khanif bedakan dalam penggunaan kata itu.


Ia takut kalau dirinya akan menjadi bahan omongan lagi. Sudah cukup ia pernah merasakannya.


---


Sore harinya saat pulang kantor, Rania menunggu sang papa untuk datang menjemputnya di lobi kantor. Namun sudah setengah jam berlalu, papa belum juga datang menjemputnya.


Ia pun mengeluarkan ponselnya dari tasnya, lalu mulai menghubungi papanya lagi.


"Assalamu'alaikum, pa. Kenapa papa belum datang?" tanya Rania dengan pandangan yang tertuju pada pintu masuk kantor.


"Wa'alaikumussalam. Maafkan papa, nak. Papa tidak jadi menjemputmu karena papa tidak tau kalau ban mobil papa tengah bocor. Jadi papa membawanya ke bengkel dulu."


"Emm, iya pa. Papa tidak usah khawatir. Rania naik taksi atau mobil online aja kalau gitu."


"Hati-hati dijalan kalau gitu, sayang."


"Iya, pa."


Setelahnya, Rania pun memutuskan sambungan teleponnya, lalu mulai beranjak dari tempat duduknya menuju luar kantor untuk mencari angkot ataupun kendaraan lainnya yang dapat membawanya pulang kerumah.


Baru saja ia melangkahkan kakinya keluar, suara panggilan yang beberapa hari ini terus menganggunya mulai terdengar dari arah belakang.


Rania menghela napas pendek, lalu perlahan membalikkan dirinya melihat sosok lelaki yang tinggi tegap nan tersenyum berjalan semakin dekat ke arahnya.

__ADS_1


"Iya, pak Khanif. Ada apa?" tanyanya tanpa minat.


"Kenapa panggil pak. Kakak, Rania. Ini sudah jam pulang kantor, loh," ujarnya kembali mengingatkan.


"Saya belum menyetujuinya untuk memanggil bapak dengan sebutan itu," katanya seraya berbalik kembali, lalu mulai melangkahkan kakinya lagi.


Khanif lalu mengikuti langkah kaki Rania.


"Tak apa. Biar aku lebih dahulu yang memulainya."


"Bapak kenapa sih, selalu menganggu saya."


"Siapa yang menganggumu? Aku itu ingin lebih dekat saja. Apa tidak boleh?"


Rania diam. Ia tidak tau harus berkata apa dengan pertanyaan Khanif itu.


"Sudahlah. Lupakan hal itu," lerai Khanif. "Ayo, aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak, terima kasih pak. Saya naik taksi saja."


"Kamu terlambat. Om Rudy baru saja menghubungiku untuk mengantarmu pulang. Aku kira papa kamu sudah memberikan restunya padaku. Tinggal kamu saja yang mengatakan 'yes' atas lamaranku tempo hari."


"Lamaran yang mana?" tanya Rania pura-pura lupa.


"Mau ku ulangi lagi? Kalau kamu mau, aku bisa mengulanginya lagi disini," kata Khanif santai tanpa takut kalau ucapannya didengar oleh para karyawan yang juga baru akan pulang kantor.


Sontak Rania menghentikan langkah kakinya, lalu menolehkan seluruh tubuhnya ke arah Khanif.


Ia lalu kembali lagi melanjutkan langkah kakinya secepat mungkin untuk menghindari Khanif.


Sesampainya ia diluar kantor, tanpa sengaja matanya menangkap sosok lelaki yang tengah bersandar santai di body mobilnya.


Rania menghela napas panjang. Belum juga masalah yang satu selesai, masalah lainnya sudah datang lebih dahulu.


"Zaky," tegur Rania.


Sosok lelaki yang tengah bersandar santai di badan mobil itu, lantas menolehkan wajahnya ke arah wanita yang sudah di tunggunya dari tadi itu.


"Akhirnya kamu pulang juga."


Rania menganggukan kepalanya pelan. "Kenapa kamu berada disini?"


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Emm, itu. Terima kasih atas niat baik kamu, tapi aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana. Lagi pula papa sudah tau kalau aku sudah pulang," tolak Rania halus.


Namun bukan namanya Zaky kalau ia tidak berusaha agar lebih dekat dengan Rania.


"Aku tadi tidak sengaja pergi ke parkiran dan aku lihat, kamu tidak membawa kendaraan kamu."


"Oh, itu. Iya benar, aku memang tidak membawanya karena papa mengantarku pergi kantor tadi."

__ADS_1


"Jadi, paman sudah akan datang menjemputmu?"


"Tidak, ban mobil papa kempes, jadi papa tidak jadi datang menjemputku."


"Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarmu pulang ke rumah."


"Kamu tidak perlu repot-repot, kok. Soalnya, tadi papa sudah mengirimkan pesan pada pak Khanif untuk mengantarku pulang ke rumah. Jadi aku ikut di mobil pak Khanif saja."


Khanif yang baru keluar kantor dan mendengar perkataan Rania barusan, jadi tersenyum sendiri. Ia lalu pergi menghampiri mereka berdua.


"Kamu tidak perlu repot-repot mengantar Rania pulang kerumahnya, karena aku yang akan mengantarnya pulang," ujar Khanif seraya berjalan semakin dekat dengan mereka.


Zaky melihat Khanif yang kian mendekat menjadi tidak suka, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa tidak sukanya itu. Ia hanya tidak ingin kalau Rania akan menganggapnya sebagai seorang yang buruk dalam bertingkah.


Untuk menutupinya, ia pun perlahan tersenyum simpul padanya.


"Sepertinya aku telat selangkah lagi," candanya kemudian.


"Emm, no. Kamu terlambat beberapa langkah dibelakang ku," balas Khanif yang juga ikut bercanda.


Mendengar hal itu, membuat Rania tersenyum aneh. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Kalian aneh!" komentarnya.


"Sepertinya Rania-ku ingin segera pulang," ujar Khanif menekankan kalau Rania akan segera menjadi miliknya dengan mengatakan kata 'Rania-ku' barusan. "Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi, kami akan segera pulang."


Zaky tersenyum sebagai jawaban.


"Baiklah. Kami pulang dulu. Kamu hati-hatilah dijalan."


Khanif menepuk-nepuk pundak Zaky sejenak, lalu Rania memberikan kode kalau mereka akan segera pulang.


"Maaf, ya," ujar Rania sebelum melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Khanif yang menuju mobilnya yang terparkir manis diparkiran mobil.


"Tak apa. Kamu pulang saja, tapi aku harap, aku akan mempunyai kesempatan untuk mengantarmu pulang nanti."


"Semoga saja," respon Rania singkat. "Kalau begitu aku pergi dulu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Rania pun mengikuti langkah kaki Khanif yang sudah hampir mencapai mobil suv berwarna putih.


Namun tanpa mereka sadari, percakapan singkat mereka itu telah didengar oleh sosok yang memiliki niat tidak baik pada Rania dan Khanif.


"Sudah cukup kalian menikmati hari-hari bahagia kalian. Karena mulai saat ini, yang tertinggal hanyalah hari-hari sengsara buat kalian."


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2