Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 88. Sedikit Tentang Papa


__ADS_3

Hai, aku datang lagi nih. Kali ini aku mau berterima kasih banget sama @xing'er dan @salhah karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.


Selamat Membaca ya


...***...


Keesokan harinya, Khanif bangun begitu cepat. Setelah melaksanakan sholat subuh dan mengaji beberapa lembar, ia pun mulai siap-siap untuk berangkat ke kantor. Jam masih menujukkan pukul 05:55 saat Khanif mulai memasang dasinya. Lalu Khanif berlanjut merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Lepas itu, Khanif pun mengambil jam tangannya di laci lemari kacanya. Setelah semua selesai, Khanif berlalu keluar dari kamarnya.


Saat Khanif keluar kamar, jam masih menujukkan pukul 06:20 hari yang masih pagi menurut sebagian orang. Bahkan matahari di langit masih bersinar malu-malu dari celah-celah awan yang sedikit terlihat berombak. Meski masih terlihat pagi sekali, Khanif ingin segera berangkat ke kantor. Ia bahkan sampai ingin melewatkan sarapan paginya bersama keluarganya. Hanya demi segera sampai ke kantor.


Khanif pun menuju dapur, tempat biasanya mama berkutat dengan hari yang masih begitu dingin. Bisa Khanif lihat mama sangat sibuk ke sana kemari untuk menyelesaikan satu masakan ke masakan lainnya dengan Davina yang ada di sisinya yang kerap kali membantu.


Mama yang merasa seperti tengah ada yang memperhatikannya pun mengedarkan pandangannya. Mata mama terpaku pada Khanif yang sudah berpakaian lengkap siap untuk ke kantor.


"Sayang," ujar mama membuat Davina yang sibuk dengan masakannya kini ikut menoleh pada Khanif.


Khanif pun mendekat, ia lalu mencium tangan sang mama. "Khanif ingin berangkat sekarang ma."


"Loh! Ini masih sangat pagi, sayang. Kamu kan juga belum sarapan."


"Khanif sarapan dikantor aja, ma."


"Kalau gitu makan roti aja. Tunggu mama siapkan." Mama pergi ke meja makan dan mulai menyiapkan sarapan untuk Khanif dengan beberapa lembar roti yang telah mama berikan selai kacang kesukaan Khanif.


"Ini, jangan lupa dimakan. Pokoknya, mama mau kotak makan ini kembali dalam keadaan tak tersisa satu lebar roti pun."


"Ma, ini kebanyakan."

__ADS_1


"Mama sengaja, siapa tahu kamu punya teman sarapan bersama." Mama tersenyum begitu lucu.


"Baiklah. Kalau begitu Khanif pergi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Hati-hati dijalan."


Khanif mengangguk. Ia pun pergi ke rak sepatunya. Setelah memasang sepatu, Khanif berlalu dari rumah dengan mengendarai mobil pribadinya. Selama diperjalanan, Khanif selalu memikirkan kata-kata papa semalam.


Khanif tahu papa adalah orang yang melihat seseorang dari bibit dan bobotnya. Untuk bebet, papa tidak mempermasalahkan hal itu karena papa pernah mengatakan, kalau mereka bisa mencari saat sudah berumahtangga dan tidak mempermasalahkan kaya ataupun miskin pasangannya nanti.


Bahkan dulu papa saat dijodohkan sama mama pun menimbang dua hal itu. Ia menyelidiki lebih dahulu bibit dan bobot mama sebelum menyetujui perjodohan yang dilakukan oleh kakak dan nenek Khanif.


Awalnya papa ragu menerima perjodohannya dengan mama. Tapi setelah mengatahui kalau mama tidak mempunyai masalah apapun di kedua kriteria itu, papa pun menyetujuinya dengan mantap. Kata papa lagi, cinta urusan belakangan. Karena papa tahu cinta bisa hadir kapan saja. Lihat sekarang, betapa papa sangat mencintai mama. Hingga apapun yang mama lakukan untuk anak-anak mereka, papa akan langsung menyetujuinya. Contohnya saja Khanif yang selalu diatur untuk bertemu anak perempuan dari temannya. Papa tidak melarang mama untuk tidak melakukan hal itu lagi.


Bagi Khanif, papa adalah sosok yang sempurna dimatanya. Papa lah yang mengajarkan Khanif bagaimana caranya menjadi orang yang baik, orang yang berguna bagi orang lain. Papa mengajarkan Khanif tentang agama, cara bersosialisasi dan menjadi seorang pemimpin terlepas dari mama yang ikut membantunya juga. Papa selalu mendukung ucapan dan tindakannya. Untuk itulah, Khanif memandang sosok papa yang bertanggung jawab dalam membina kelurga. Sekali lagi, Khanif ingin menjadi seperti papa.


Bukannya Khanif tidak memiliki pendirian sendiri. Hanya saja, kepribadian papa sayang untuk dilewatkan begitu saja oleh Khanif. Khanif bahkan harus lebih belajar lagi sama papa. Mulai cara perushaan sampai sebesar ini sampai cara mengurus kelurga yang tetap harmonis diusia yang tidak lagi muda.


Sungguh Khanif salut dengan papa. Papa betul-betul menjadikan mama sebagai cinta sejatinya. Sejak Khanif kecil hingga sekarang, Khanif tidak pernah melihat mereka bertengkar gara-gara masalah luar. Papa dan mama hanya bertengkar kalau terkait anak-anak mereka. Itu pun hanya pertengkaran kecil saja dan bahkan pertengkaran seperti itu tidak akan bertahan lama.


Contohnya saja saat Khanif masih kecil. Saat itu Khanif masih berusia 9 tahun. Usia dimana anak lelaki aktif-aktifnya dalam bermain. Kala itu, Khanif ingin pergi bermain hujan. Tapi mama melarangnya karena takut Khanif nanti terkena flu. Papa yang tidak ingin melihat anaknya menangis sambil merengek, akhirnya membiarkan Khanif kecil bermain hujan tanpa sepengetahuan mama. Namun tanpa disangka, mama melihat Khanif bermain hujan. Mama yang tahu kalau papa yang mengizinkan Khanif bermain hujan pun marah pada papa gara-gara hal itu.


Meski begitu, marah mama tidaklah bertahan lama karena papa sukses membuat mama melupakan kemarahannya dan berbalik menjadi membiarkan Khanif bermain hujan sesuka hati. Sungguh, papa adalah papa yang hebat.


Sesampainya Khanif didepan pintu masuk, Khanif langsung saja memarkirkan mobilnya dibasement kantor. Dari sana, ia naik lift menuju ke ruangannya. Setelah menyimpan tas kantornya, Khanif lalu kembali menuju rooftop kantor.

__ADS_1


Khanif merentangkan kedua tangan sesaat ia telah sampai disana. Setelah ia menaruh kotak sarapan paginya di pembatas rooftop yang tebal. Ia kemudian mulai menghirup udara pagi yang masih begitu segar, jauh dari polusi udara yang diakibatkan banyaknya kendaraan di kota ini. Khanif begitu menikmati panas matahari di pagi ini. Awan yang terlihat berombak-ombak dan burung-burung kecil yang terbang ke sana kemari.


Khanif sangat menyukainya. Ia sudah beberapa kali menikmati pagi harinya disini. Namun, pagi ini terlihat berbeda. Karena sepertinya Khanif tidak menyadari sesosok wanita yang berdiri di sisi lain yang juga tengah menikmati suasana pagi diatas rooftop kantor.


Kedua orang itu tidak saling tahu-menahu tentang keberadaan masing-masing. Barulah saat tanpa sengaja keduanya berbalik untuk duduk di sebuah meja yang memiliki payung lebar, mereka saling melihat. Sesaat mereka tersadar, tanpa sengaja ucapan dari masing-masing pun membuat mereka tambah terkejut.


"Pak Khanif!"


"Rania!"


"Apa yang bapak lakukan sepagi ini dengan datang ke kantor?" tanya Rania sambil mendekati Khanif.


"Harusnya saya yang berhak menanyakan hal itu padamu. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Khanif memicingkan matanya. Namun bukannya gugup, Rania malah tertawa kecil sebagai respon.


"Bapak aneh. Harusnya bapak jawab pertanyaan saya, bukan malah meng-copy-nya dan balik bertanya sama saya."


"Saya tidak perlu untuk menjawab kamu," tegas Khanif. "Sekarang coba jelaskan, mengapa kamu bisa ada dikantor ini pagi-pagi sekali. Bahkan sampai berada di rooftop kantor?"


Tiba-tiba saja Rania menjadi gugup melihat ekspresi dan nada bicara Khanif yang terdengar serius.


"Sa ... saya ...."


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2