
Halo, maaf ya up date ceritanya ini kemalaman. aku tadi sibuk banget sama dunia nyataku. jadi mohon di maklumi, ya.
Baiklah, Selamat Membaca.
...***...
Seketika wajah pelayan itu memucat. Pasalnya, ia takut kalau ada pelayanannya tidak disukai oleh khanif sehingga Khanif akan mengadukannya pada atasannya. Apalagi dirinya seorang karyawan baru disini.
"Jangan khawatir, saya hanya ingin mengatakan sesuatu padanya," ujar Khanif sambil tersenyum kecil membuat pelayan restoran itu menjadi malu karena telah berpikiran yang tidak-tidak pada Khanif.
"Kalau begitu. Tuan bisa menunggunya ditempat, tuan saja," ujarnya.
"Baiklah."
Pelayan restoran itu pun pergi memanggil atasannya untuk bertemu Khanif. Sedang Khanif kembali ke tempat duduknya.
"Pak Khanif!" ujar manager restoran dari jauh saat melihat Khanif duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bapak mengenalnya?" tanya pelayan restoran itu.
"Kamu gimana sih! Pak Khanif adalah pemilik restoran ini. Sudahlah, kamu kembali bekerja saja."
Manager restoran itu pun pergi menghampiri Khanif yang tidak menyadari kedatangan dirinya.
"Siang, pak Khanif," sapanya.
"Kamu sudah tiba, duduklah!"
Manager restoran itu lalu duduk seperti kata Khanif. Rania yang melihatnya pun menjadi heran, namun ia tidak bisa bertanya disaat yang seperti ini.
"Bagaimana pengunjung restoran akhir-akhir ini?"
"Beberapa terakhir, pengunjung restoran meningkat, pak. Kami juga sudah menjalankan tugas sesuai perkataan, bapak."
"Baiklah, kamu telah bekerja dengan baik."
"Terima kasih atas pujian bapak."
"Saya akan pergi sekarang, kamu kembali lah bekerja."
Manager restoran itu pun pergi meninggalkan Khanif. Rania yang dari tadi diam pun kini telah tahu, kalau restoran yang mereka tempati makan adalah salah satu dari sekian banyak restoran milik Khanif.
Khanif mulai berdiri dari tempat duduknya menuju kasir diikuti dengan Rania yang berjalan di belakangnya.
"Berapa tagihan, saya."
"Pak Khanif, bapak tidak usah membayarnya," kata wanita yang bertugas di meja kasir.
__ADS_1
"Biarkan saya membayarnya, karena kalau tidak, saya tidak akan mendapatkan hadiahnya," canda Khanif.
Tugas kasir itu terkekeh kecil mendengar penuturan Khanif. Pasalnya, meski tidak membayarnya, Khanif masih bisa mendapatkan hadiah nonton itu. Namun saat melihat seorang wanita yang tidak lain adalah Rania yang berdiri disisi Khanif, petugas kasir itu pun jadi tahu maksud Khanif melakukannya.
"Semuanya tiga ratus empat puluh ribu, pak."
Saat Khanif hendak memberikan kartu atmnya pada kasir, Rania secepat mungkin menahan tangannya.
"Ada apa?"
Rania lalu mengajak Khanif sedikit menjauh dari meja kasir.
"Kamu kenapa?" tanya Khanif tidak mengerti akan tindakan Rania.
"Emm ... saya ...."
Belum juga Rania menyelesaikan perkataannya, Khanif sudah lebih dahulu mengatakannya, "saya tau, tapi saya membayarnya bukan pakai uang pribadi, melainkan pakai fasilitas perusahaan. Jadi, kamu tidak udah ikut mengeluarkan uang," kata Khanif sambil tersenyum.
Khanif pun kembali ke meja kasir. Setelah membayar tagihan makanan mereka dan mendapatkan tiket nontonnya, mereka pun keluar dari restoran.
"Ini kunci, bapak," ujar petugas valet seraya memberikan kunci mobil Khanif.
"Terima kasih."
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Lalu beberapa detik kemudian, Khanif mulai melajukan mobilnya menuju kantor. Setelah lama berkendara, Rania baru sadar kalau jalan yang diambil Khanif bukanlah jalan menuju perusahaan.
"Menurutmu kita mau kemana?"
"Jangan bercanda deh, pak. Saya serius bertanya loh, ini."
Tiba-tiba Khanif terkekeh saat mendengar suara Rania yang kian terdengar aneh ditelinganya. Tidak ingin membuat Rania berpikiran yang aneh-aneh, Khanif pun mengatakan, "saya mau ke apartemen, saya dulu."
Namun meski sudah mengatakan tempatnya ingin pergi, tak ayal perkataannya itu tidak juga membuat Rania merasa nyaman. Bahkan saat Rania bertanya, "bapak mau apa disana?" Suara Rania masih terdengar aneh saja. Seperti suara seseorang yang dengan kecemasan yang tinggi.
Khanif pun kembali mengatakannya, namun kini lebih jelas. "Lihat," ujar Khanif seraya menunjukkan bagian kemeja-nya yang terkena saus steak-nya tadi. "Saya mau ganti baju dulu."
Rania lalu ber-o ria mengatahui tujuan Khanif.
"Makanya kalau makan, bapak harus lebih hati-hati biar tidak jadi seperti ini."
"Kamu benar. Sepertinya saya harus segera mencari seseorang yang mau memperhatikan, saya," ujar Khanif seraya melihat Rania sekilas. "Bagaimana menurutmu?"
"Itu ide yang bagus, tapi juga ide yang buruk."
Tiba-tiba Khanif mengerem mendadak mobilnya, hingga membuat Rania terkejut.
"Astagfirullah, bapak mau buat jidat saya memerah, ya!"
__ADS_1
"Apa katamu tadi? Itu ide yang bagus, tapi juga buruk?" ulang Khanif.
Seakan tidak perduli lagi akan kekagetannya barusan, Rania malah menganggukkan kepalanya pelan. Lalu sedetik kemudian, ia mulai menjelaskannya.
"Ide bagusnya karena bapak sudah ingin membuka diri," jelas Rania.
"Ide buruknya?" ujar Khanif saat kembali melajukan mobilnya.
"Saya mengatakan itu ide buruk, karena sampai saat ini bapak belum mempunyai seseorang yang dapat memperhatikan, bapak," kekeh Rania kemudian.
"Bagaimana kalau kamu saja, kalau begitu?" ujar Khanif sukses membuat Rania terdiam karena terkejut. "Saya hanya bercanda, jangan dimasukkan dihati," jelas Khanif tersenyum kecil.
Hening! Suara yang terdengar hanyalah suara deru mesin mobil. Ya
Itulah yang terjadi setelah Khanif mengatakan candaanya yang membuat Rania diam. Bahkan saat Khanif mengatakan, "Kita sudah sampai. Kamu tunggulah disini."
Rania hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban. Sungguh, Rania tidak tahu harus menanggapi seperti apa candaan Khanif yang terdengar tidak seperti candaan ditelinganya. Ia ingin berpura-pura tidak mengerti, namun Khanif mengatakannya sangat jelas. Bahkan sampai membuat dirinya jadi kepikiran sampai seperti ini.
Khanif pun meninggalkan Rania didalam mobil dan bergegas menuju apartemennya untuk mengganti pakaiannya. Selagi Khanif pergi, Rania kembali teringat percakapannya dengan kakek pagi tadi saat di parkiran mobil.
"Cucu kakek tersayang," kata kakek saat pertama kali bertemu Rania. "Apa yang kamu lakukan disini?"
"Rania datang bersama pak Khanif untuk urusan bisnis, kek."
"Oh, jadi anak muda itu atasan kamu?"
Rania mengangguk dan berujar, "ya."
"Dia anak muda yang berbakat. Dia bahkan sudah sukses diusia semuda itu. Kakek mengakuinya. Namun, jika dia sengaja mengajakmu kesini untuk memanfaatkanmu karena dia tahu kalau kamu adalah cucu tersayang kakek, maka kakek tidak bisa mentolerirnya."
"Kakek ada-ada saja. Kakek tidak perlu khawatir. Rania yakin pak Khanif bukanlah orang yang seperti itu. Rania murni datang kesini karena pekerjaan."
Meski Rania mengatakan hal demikian, Rania tidak yakin akan ucapannya barusan. Namun, ia tidak ingin membuat kakeknya merasa tidak suka pada Khanif. Karena Rania sadar, apa yang ada dihatinya, belum tentu juga benar. Yakni, jika benar kalau Khanif memanfaatkan dirinya.
"Bisa tidak, kita tidak usah bahas tentang itu lagi?" ujar Rania pelan.
Kakek mengangguk, ia pun membawa Rania kepelukannya seraya mengelus kepala Rania sayang. "Baiklah, kakek bersedia asalkan, cucu kakek ini bahagia."
Rania mengangguk. Ia lalu membalas pelukan kakek. "Terima kasih, kek."
Tiba-tiba saja Rania tersentak dari lamunanya saat ia mendengar seseorang sedang mengetuk kaca mobil. Rania lantas menolehkan wajahnya ke arah samping.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1