
"Anda mau membawa saya kemana?" tanya Rania panik.
Pasalnya, ia hanya baru selesai sikat gigi dan belum mandi pagi ini, tapi Khanif dengan seenaknya jidatnya menarik dirinya saat ia baru saja keluar dari vila untuk menikmati suasana di pagi hari di kota M.
"Ikut saja. Aku ingin membawamu ke suatu tempat," jelasnya. Khanif lalu menoleh pada Rania dan berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu. "Mulai saat ini panggil aku kakak, ok!"
"Apa?"pekik Rania. "Bapak salah tidur kali!" ujar Rania mencoba menyadarkan Khanif.
Khanif langsung saja menempelkan jari telunjuknya di bibir Rania. "Sstt, sudah ku katakan. Kalau kita lagi berdua, kamu tidak perlu memanggilku dengan begitu formal. Cukup panggil kak Khanif saja. Sama seperti waktu kita masih sma, ok!"
"Tapi disini bukan cuma kita berdua. Disini Ada mbak Davina, Lisa, Farah dan masih banyak lagi."
"Memangnya kenapa dengan mereka? Mereka saja tidak dapat berkata-kata apapun, malah kamu yang begitu khawatir," ujar Khanif. "Sudah, jangan khawatir lagi dan ikut saja sama aku."
Dengan enggan, akhirnya Rania tetap juga mengikuti langkah kaki Khanif yang entah dimana Khanif akan membawa dirinya.
Sungguh, ia tidak bisa menduga. Apakah Khanif akan membawanya ke suatu tempat yang indah atau Khanif akan membawanya ke suatu tempat untuk urusan perkerjaan? Ah, sepertinya opsi kedua memang lebih memungkinkan dari pada opsi pertama. Untuk apa juga Khanif akan membawanya ke tempat yang indah! Aneh-aneh sajakan!
"Rania, ayo keluar," ajak Khanif setelah membukakan pintu mobil untuk Rania.
Tunggu! Sejak kapan mereka sampai di tempat yang ingin Khanif datangi? Apakah sepanjang jalan tadi ia tertidur atau hanyut dalam lamunanya? Kalau ia tertidur, apakah kepalanya bersandar di bahu Khanif? Ah, memalukan sekali. Tapi sudahlah. Rania tidak punya waktu untuk membahas hal itu. Pokoknya, ia harus menuruti perintah Khanif agar ia bisa secepatnya lepas dari Khanif.
"I ... iya, pak."
"Bukan 'pak' tapi kak!" komentar Khanif lagi.
Rania mengernyit heran. "Ada apa dengannya?" tanyanya dalam hati. Ia kemudian melanjutkan dengan berkata pada Khanif, "Anda salah tidur atau salah makan apa sih? Anda terlalu banyak berubah."
"Anda siapa yang kamu maksud, aku ini kak Khanif, loh. Dan ya, aku tidak salah tidur atau salah makan. Kemungkinan kamu yang sedang mengalaminya."
"Saya?" tunjukknya pada dirinya sendiri.
"Sudah lupakan hal itu. Mari kita pergi," ajak Khanif.
Melihat Rania tidak juga bergerak, Khanif pun mengambil tangan Rania untuk digenggamnya lagi. Tentu saja Rania terkejut dan mencoba melepaskannya, tapi Khanif tidak memberikan kesempatan pada Rania untuk melepaskan diri.
"Ayo," ajaknya lagi.
Rania mengangguk. Ia pun hanya mampu mengikuti langkah kaki Khanif menuju tempat yang baru ia datangi.
__ADS_1
Sesampainya ditempat tujuan Khanif, ia begitu takjub akan keindahan alam disini. Dengan bunga yang harum nan baru bermekaran memuat Rania terkagum.
"Bagaimana, indah bukan?" ujar Khanif seraya melihat Rania dengan senyuman yang menawan.
Rania diam. Ia lalu menoleh pada Khanif yang tengah melihatnya. ia pun tersenyum sebagai jawabannya.
"Saya kira bapak ...."
Belum juga Rania menyelesaikan kata-katanya, Khanif sekali lagi menempatkan telunjuknya di bibir Rania.
"Kakak," katanya membuat Rania mengangguk.
"Saya kira kakak akan membawa saya dalam urusan pekerjaan."
"Mendengarmu memanggilku, kakak. Aku sangat senang," katanya sambil tersenyum dengan tidak menanggapi ucapan Rania barusan. "Ayo, kita ke sana," ajaknya kemudian.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke sebuah tempat yang sudah Khanif hias dengan berbagai macam bunga yang hidup di kota M. Harum semerbak pun dapat tercium di indra penciuman mereka. Sangat menenangkan! Membuat Rania kian merasa takjub.
"Mengapa kakak membawaku kesini?"
"Ada yang ingin kukatakan padamu."
"Mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi bagiku ini adalah waktu yang tepat," ujar Khanif sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Rania.
Setelah beberapa detik berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kalau Rania akan menanggapinya, Khanif pun kembali melanjutkan perkataannya dengan melihat tepat ke manik mata coklat Rania.
"Beberapa waktu telah kita lewati bersama. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan hal ini, aku membutuhkan waktu yang banyak untuk mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku ini? Dan sudah tepatkah perasaanku ini? Kamu tau, berkali-kali pula jawabanku tetap sama, yakni pilihan dan perasaanku sudah tepat! Yaitu kamu. Aku tau, kamu berhak mendapatkan seseorang yang terbaik, seseorang yang mampu mendukungmu tanpa batas, yang membiarkanmu tumbuh tanpa batas, dan mencintaimu tanpa batas. Untuk itu, maukah kamu mengizinkanku menjadi seseorang itu? Seseorang yang mampu membahagiakanmu dan melindungimu sampai akhirnya kita dapat menua bersama."
Khanif lalu tiba-tiba berlutut dan mengatakan, "will you marry me?" kata Khanif bersungguh-sungguh.
Rania terdiam. Sungguh ia terlalu terkejut untuk menanggapi perkataan Khanif yang tiba-tiba ini. Ini adalah sebuah lamaran yang tidak pernah ia duga dan tidak pernah ia harapkan. Apalagi terlintas di benaknya. Rania dilema.
Berbeda dengan Khanif yang menunggu dengan sabar balasan Rania dari lamarannya. Ia takut mendengar jawaban Rania, tapi ia juga penasaran akan jawaban Rania! Sungguh meresahkan hati dan pikiran.
"Aku ... aku ...."
Rania tersentak kaget dari tidurnya saat seseorang dengan sengaja menggoyang-goyangkan lengannya seraya memanggil-manggil namanya berulang kali.
"Rania, Rania. Bangun, ini sudah pagi."
__ADS_1
Perlahan-lahan Rania mulai membuka matanya. Ia mengernyit heran saat mendapati dirinya masih berada diatas tempat tidur.
"Mbak Davina!" kata Rania dengan suara serak nan mengernyit heran.
Davina menghela napas panjang nan lega. "Akhirnya kamu bangun juga," ujar Davina sambil tersenyum.
Pasalnya, ia sudah beberapa kali mencoba membangunkan Rania. Mulai dari mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, sampai nekat masuk ke dalam kamar seraya memanggil nama dan menggoyangkan lengannya pelan.
Sedikit tersadar, akhirnya Rania kembali bertanya, "Ini dimana, mbak?"
"Hah!" ujar Davina terkejut. "Ini masih di kamar vila, Rania."
"Di vila?" ujarnya tidak percaya.
"Hem. Lihatlah sekitar," suruh Davina.
Rania lalu melihat sekitar kamar inapnya. Benar! Ia masih berada di vila, bukan di suatu tempat yang diajak oleh Khanif.
Oh tidak, Rania sadar. Apa yang tadi ia alami adalah sebuah mimpi. Bunga tidur yang begitu indah dan tidak ingin di akhirinya jika saja Davina tidak datang membangunkannya.
Di akhirinya? Oh, apa-apaan Rania! Sepertinya ia sudah terlena akan mimpi yang tidak nyata itu. Ia secepatnya harus sadar sebelum Davina menjadi curiga.
"Rania, kamu tidak apa-apakan?" tanya Davina memecah lamunan sesaat Rania.
"Aku ngga papa, mbak. Hanya agak kaget aja ada mbak disini," ujar Rania tersenyum simpul.
"Kamu sih, tidurnya kayak orang gimana gitu. Padahal aku sudah dari tadi aku membangunkan kamu, loh! aku bahkan sudah hampir menyerah," kekeh Davina.
"Maaf, mbak. Aku juga ngga tau kenapa," ujar Rania pelan.
"Ngga papa. Aku hanya bercanda," ujar Davina. "Kamu bersih-bersihlah dulu, lalu setelah itu kita akan sarapan bersama."
"Iya, mbak."
...To be continued ...
Mimpi? Iya gaes, Rania cuma mimpiin Khanif melamar dirinya. Jika jadi kenyataan, gimana reaksi kalian?
Jangan lupa like, vote sama komen ya 🤗
__ADS_1
...By Siska C ...