Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 19. Perhatian Kecil Khanif


__ADS_3

"Rania," panggil Alex. Saat tangan Alex hendak menyeberang untuk menyentuh tangan Rania, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan tangannya.


Alex terkejut. Melihat Khanif tiba-tiba membuka penutup matanya dan memegang tangannya. Alex mengira Khanif telah tertidur lelap saat dirinya dan Rania sibuk bercakap-cakap sedari tadi. Tapi, ternyata dugaannya salah total. Ia tidak menyangka Khanif begitu sigap. Bahkan kini, cengkeraman tangan Khanif begitu kuat memegangnya hingga membuat lengannya kian memerah.


Sambil masih memegang tangan Alex, Khanif berbicara tanpa melihatnya. "Dia ingin istirahat. Sebaiknya Anda mengerti," jelas Khanif.


Alex geram. Ia tidak terima Khanif memperlakukannya seperti seorang pengganggu. Ia pun menantang balik Khanif. "Memangnya kamu siapa, sampai melarang saya, hah!"


Khanif menoleh, ia tersenyum tipis nan dingin melihat Alex. Seakan-akan, Alex adalah seseorang yang harus segera ia buat menjadi beku saja agar tidak ada lagi orang yang menganggu Rania.


"Siapa saya? Anda tidak perlu tahu!"


Khanif menarik  Alex mendekat, lalu mulai membisikkan kata-katanya, "jika Anda tidak ingin membuat hidup Anda dalam masalah, sebaiknya jangan menganggu wanita disamping saya lagi."


Alex berdecih tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia tau saat ini ia berbicara dengan siapa. Apalagi saat merasakan cengkeraman tangan Khanif yang begitu sakit. Jika saja ia menantang kata-kata Khanif, cepat atau lambat ia akan merasakan akibatnya. Ia tau, meski bisa saja dirinya melapor pada orang yang bertugas, ia akan tetap disalahkan karena telah menganggu kenyamanan salah satu penumpang pesawat. Untuk itulah, saat ini ia mengalah saja dari pada harus menanggung rasa sakit yang berlebihan.


"Baik-baik. Kalau begitu lepaskan tanganmu ini."


Khanif melepaskannya. Alex lalu sedikit menjauh dari Khanif. Lalu tanpa mengatakan apa-apa, ia mengambil penutup matanya dan mencoba tertidur, seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.


Rania yang hanya melihat percakapan singkat itu, menjadi penasaran saat Alex dengan mudah menuruti perkataan Khanif. Rania yakin, Khanif pasti mengatakan hal-hal yang mengancam Alex. Sehingga Alex bagai mati kutu setelah bicara dengan Khanif.


Tidak ingin semakin penasaran, akhirnya Rania memberanikan diri untuk berbicara pada Khanif, meski ia sendiri harus sedikit berbisik agar Alex tidak mendengarkan perkataannya.


"Pak," panggil Rania dengan suara pelan nan kecil.


Khanif menoleh, ia melihat Rania seperti ingin mengetahui perkataannya tadi pada Alex. Tapi seberapa keras apapun Rania ingin mengetahuinya, ia tidak akan pernah mengatakannya. Tidak ingin bercakap lebih dengan Rania, akhirnya Khanif mengatakan perkataan yang membuat Rania bungkam.


"Jika kamu ingin mengetahui apa yang tadi saya katakan padanya, tanya saja pada dirinya sendiri. Bukannya tadi kalian terdengar akrab sekali saat saya lagi mencoba beristirahat?" ujar Khanif dengan suara pelan mengikuti nada bicara Rania.


Seperti dugaannya, Rania bungkam. Awalnya, jauh didalam hati Khanif, ia merasa harus memberitaukan apa yang telah dikatakannya pada Alex agar Rania tidak akan besar kepala. Namun, melihat manik mata Rania yang begitu serius dalam melihatnya, Khanif mengurungkan niatnya itu karena ia tidak ingin membuat percakapan baru pada Rania yang tadi sempat membuatnya kesal setengah mati.


"Tidurlah, bukannya tadi kamu bilang ingin istirahat?"


Rania mengangguk. Ia lalu beralih kembali melihat keluar jendela. Sungguh rasa kantuk yang tadi melandanya kini tiba-tiba hilang entah kemana. Namun, setelah kembali melihat Khanif, Rania menduga kalau Khanif telah mengambil rasa kantuknya karena baru sebentar ia tidak melihat Khanif, Khanif sudah memasang penutup matanya kambali. Seakan-akan percakapan yang terjadi diantara mereka bertiga tidak pernah terjadi.

__ADS_1


Menyadarinya, Rania seperti mimpi. Ia lalu menepuk pipinya agar dapat mengetahui kalau ia tadi sedang mimpi atau benar nyata adanya.


"Au," ringis Rania sambil menyapu-nyapu pipinya yang sedikit sakit karena tepukannya sendiri.


Khanif bergerak sedikit. Rania yang melihatnya tiba-tiba saja mengalihkan kembali perhatiannya pada luar jendela. Ia lebih memilih melihat awan-awan yang putih didalam langit yang berwarna biru cerah. Melihatnya, membuat ia tidak bosan lagi.


Rania lalu tersadar, kenapa tidak dari tadi ia tidak menoleh ke sini? Runtuknya dalam hati. Tapi, ia kembali tersadar, kenapa tadi dirinya tidak juga menyadarinya? Seakan terjawab sendiri, karena pada awalnya, percakapannya dengan Alex hanya ingin membuat Khanif merasa terganggu dan tidak menutup mata lagi.


Awalnya ia memang sudah mempunyai niat yang tidak baik. Untuk itulah, saat Rania telah mendapatkan balasannya, ia tidak mau mengeluh lebih. Sekali lagi Rania menghela nafas berat nan panjang. Selalu begini. Jika ia tidak mempunyai niat yang baik, cepat atau lambat, ia akan mendapatkan batunya juga.


Namun dengan begitu, ia bersyukur pada Sang Maha Kuasa, karena lebih baik mendapatkan balasan didunia dari pada mendapatkan balasan di akhirat kelak. Jika didunia ia teriris silet, maka ia hanya akan merasakan sakitnya sebentar saja. Tapi kalau dihari akhir kelak ia mendapatkannya, ia sudah tidak tau, se sakit apa yang harus ia rasakan.


Memikirkan segala kemungkinannya, secara perlahan akhirnya rasa kantuk itu menghampiri Rania lagi. Rania pun memasang pelindung matanya dan mencoba terlelap. Tapi saat ia mulai terlelap, malah terdengarlah informasi penerbangan yang mengatakan mereka akan segera mendarat. Seketika itu membuat Rania membuka penutup matanya. Jujur, ia ingin sekali tidur walau sejenak.


"Tidurlah sedikit, saat penumpang sudah keluar semua, saya akan membangunkanmu," ujar Khanif membuat Rania seketika melihatnya dengan pandangan terkejut.


Rania bertanya dalam hati, "kapan pak Khanif bangun?"


Seakan tau apa yang tengah terlintas dipikirkan Rania, Khanif ingin menjawabnya. Namun, sedetik kemudian ia segera mengurungkannya lagi. Sebab untuk apa juga ia menjawabnya? Kalau akan membuat Rania mencurigainya atau bahkan bisa menuduhnya sudah memata-matai Rania.


Seperti perkataannya, Khanif tidak segera membangunkan Rania saat pesawat baru saja mendarat. Ia baru membangunkan Rania dari tidur lelapnya saat penumpang pesawat sudah keluar semua. Sangking terlelapnya, Khanif sudah dari tadi memanggil nama Rania. Namun Rania seakan tidak mendengarkannya.


Tidak ada pilihan lain, Khanif lalu menepuk pelan lengan Rania. Ia bermaksud menyadarkan Rania agar segera bangun. Tidak sampai beberapa detik, perlahan Rania tersadar. Rania pun membuka penutup matanya dan langsung melihat sekelilingnya.


"Semua orang sudah keluar?"


Khanif mengangguk.


"Oh. Te ... terima kasih, pak."


"Hem, segera bersiap. Kita harus segera keluar."


Khanif pun berdiri. Ia melangkahkan kakinya keluar dan diikuti oleh Rania. Ia lalu mengambil barang di kabin pesawat. Setelahnya, mereka pun berjalan keluar dari pesawat.


Setelah berada didalam bandara, mereka langsung bergegas menuju tempat ambil bagasi. Disana, mereka tengah menunggu koper mereka saat Alex mendekati Rania lagi.

__ADS_1


"Rania, kita bertemu lagi."


"Ah, ya."


"Kamu mau kemana? Siapa tau kita bisa sejalan."


"Kami ... kami ...." sambil melihat Khanif, Rania memilih tidak mengatakan tujuan mereka pada seseorang yang baru dikenalnya. "Kami mau kerumah keluarga."


"Emm, yah. Aku kira kamu akan pergi berlibur."


"Rania, kopermu sudah ada. Ayo pergi," potong Khanif disela-sela percakapan mereka.


"Iya."


Setelah menaikkan koper mereka di troli, tanpa menunggu Rania selesai berbincang, Khanif pun berjalan meninggalkan Rania yang masih sibuk berbincang dengan Alex.


Melihat Khanif yang pergi meninggalkan Rania, Alex mulai berkomentar, "sepertinya pacarmu cemburu."


"Hus, sembarangan. Dia itu atasanku dikantor," jelas Rania.


"Oh, maaf aku kira dia pacarmu. Jadi, kalau begitu aku punya kesempatan dong?"


Rania menoleh, ia tersenyum dipaksakan lalu berkata pada Alex, "saya tidak cocok dengan Anda yang mudah mengumbar perasaan."


Sesudah mengatakannya, Rania pun berlari mengejar Khanif yang mulai terlihat menjauh. Didalam pengejaran Khanif, Rania menekankan dalam hati bahwa ini adalah terakhir kalinya ia berbicara dengan Alex kecuali ada hal penting lainnya.


Sesampainya Khanif dan Rania di tempat penjemputan, Rania melihat Khanif terlihat tersenyum entah pada siapa. Rania lalu mengikuti arah pandangan Khanif. Sesaat kemudian, pandangannya terkunci pada sosok wanita yang terlihat cantik dari sisi manapun. Ia putih nan memiliki tubuh bak gitar spanyol.


"Siapa dia?" tanya Rania dalam hati yang begitu penasaran.


...To be continued...


Siapakah dia? kalau ada yang bisa tebak, aku up lagi deh sebentar 💪


Semoga yang komen/like/vote diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, begitu pula dengan ku. aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2