
Rania dan Davina pulang duluan ke penginapan. Sedangkan Khanif dan Tama masih tinggal disana untuk memperjelas semua pekerjaan orang-orang itu. Sesampainya di penginapan, Rania dan Davina berjanji untuk sore harinya, mereka akan berbicara santai diatas penginapan ini.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Saat ini pun mereka sedang berada diatas penginapan. Bercakap santai sambil menunggu kedatangan Khanif dari vila.
"Saya tidak menyangka pagi ini pak Khanif begitu berbeda dari hari-hari yang telah lalu," ujar Rania saat memulai percakapan.
"Kamu bahkan belum melihat kepribadian pak Khanif yang lain. Seiring berjalannya waktu, saya yakin kamu akan mengetahuinya juga."
"Mungkin, kalau aku lolos menjadi sekretaris pak Khanif."
"Maka dari itu, kamu harus lebih giat lagi. Biar pak Khanif melihatnya."
"Tapi aku tidak punya niatan untuk menjadi sekretaris pak Khanif. Dengan jabatan sebagai staf accounting biasa, aku sudah merasa senang."
"Jabatan sebagai sekretaris banyak tunjangannya loh! Bahkan ...." Davina menghentikan perkataannya sebentar lalu mencondongkan dirinya lebih dekat dengan Rania hanya untuk membisikkan kata-kata yang mungkin bisa membuat Rania berubah pikiran atau menumbuhkan niat Rania menjadi sekretaris Khanif.
"Bahkan kamu juga bisa jalan-jalan kemanapun pak Khanif pergi, seperti saat ini. Dan jenjang karir yang tidak ada duanya. Bahkan mungkin bisa ... bisa ..., ah sudahlah. Hal-hal itu saja sudah cukup."
Bukannya Davina melebih-melebihkan keuntungan kalau menjadi sekretaris Khanif. Hanya saja ia sengaja mengatakannya agar Rania mempunyai niatan yang besar untuk menjadi sekertaris Khanif.
Davina tentu sangat setuju kalau Rania menjadi sekertaris Khanif. Untuk Lisa dan Farah, Davina pun setuju juga tapi sangat setuju kalau Rania yang menjadi pilihan Khanif karena sebelum adanya pencalonan sekretaris itu, Davina sendirilah yang mencari informasi kepribadian mereka dari orang-orang se-ruangan mereka maupun se-kantor dengan mereka.
Dari informasi itu, Davina mendapatkan kepribadian Lisa, Farah dan Rania. Kalau Lisa, dia orang yang cerewet dan mempunyai keingintahuan yang tinggi akan orang lain meski dia harus mengorek informasinya dari orang lain pula.
Sedangkan Farah, dia orang yang sombong dan pemarah. Dia bisa menjadi sangat sombong jikalau dia mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang lain dan selalu marah tidak jelas kalau orang lain itu mempunyai apa yang tidak dia punyai.
Bukannya Davina ingin mengetahui keburukan mereka. Hanya saja, inilah pekerjaan yang disuruhkan Khanif padanya. Dan ya, untuk Rania. Rania adalah wanita yang baik. Dia ceria dan tidak memiliki sifat-sifat dari mereka berdua.
Hanya saja, Rania tidak mempunyai niatan untuk menjadi sekretaris Khanif. Sangat disayangkan. Rania yang mempunyai kriteria seorang sekretaris untuk Khanif, malah tidak ingin menjadi sekretaris Khanif
Davina mulai mengetahui Rania tidak menginginkan posisi sekretaris saat putaran kedua akan dimulai. Davina bisa melihat Lisa maupun Farah sangat antusias saat mereka mengetahui kalau mereka masuk ke dalam putaran kedua. Davina bisa melihatnya dengan cara mereka memperlakukan hari-hari baru mereka.
Lisa dan Farah memulai hari baru mereka dengan datang lebih awal ke kantor, memakai pakaian layaknya sebagai seorang sekretaris dan mengerjakan tugas mereka lebih cepat dari biasanya.
Sedangkan untuk Rania, Rania bahkan tidak mempersiapkan dirinya untuk hari barunya. Rania bahkan memperlakukan hari-harinya seperti hari biasanya. Datang ke kantor tepat waktu - tidak kecepatan maupun kelamaan, mengerjakan tugas seperti yang dijadwalkan dan memakai pakaian seperti yang biasa ia pakai ke kantor. Sungguh, tidak ada niatan apapun dan hal itu sukses membuat Davina menghela nafas berat nan panjang.
__ADS_1
"Mbak kenapa?"
"Ah tidak apa-apa." Davina diam. Entah harus bagaimana lagi ia bisa mengubah niat Rania.
"Maaf, kalau saya tidak mempunyai niatan itu."
"Eh!" Davina terperanjat. "Tidak apa-apa. Mungkin saja hal itu adalah yang terbaik bagimu. Tapi, sebelum masa percobaan ini selesai, aku harap kamu masih Rania yang ku kenal selama beberapa hari belakangan ini."
Rania mengangguk. "Tentu saja, aku akan pastikan itu."
Nyatanya, orang yang mereka tunggu sudah berada diujung tangga dari tadi memperhatikan mereka bercakap tentang sekretaris. Awalnya Khanif ingin menghampiri mereka dan ikut bergabung dalam percakapan itu. Namun, mendengar Davina dan Rania berbicara serius membuat Khanif membatalkan niat awalnya itu.
Ia pun ingin kembali. Tapi, saat mendengar kata sekertaris dari suara Rania, Khanif menghentikan langkahnya dan sebagai gantinya, ia duduk disalah satu anak tangga lalu mulai mendengarkan percakapan kedua perempuan itu.
Khanif tahu, Rania tidak menginginkan posisi sebagai sekretarisnya. Ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya seorang diri.
Untuk hal ini, Khanif akan menyerahkan sepenuhnya pada Rahayu - pihak HRD. Biarlah dia yang ambil alih semuanya. Baik Rania, Lisa maupun Farah, jika salah satu dari mereka menjadi sekretarisnya dikemudian hari, ia tidak akan mengganggu gugat keputusan itu. Biarlah semua berjalan sesuai apa yang memang diharuskan terjadi.
Khanif menghela napas. Ia tidak menyangka dalam pemilihan sekretarisnya kali ini, Khanif banyak kehilangan tenaga untuk berpikir lebih lanjut.
Merasa tidak ada lagi yang membahas tentang pilihan sekertaris lagi, Khanif berdiri. Ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi menghampiri mereka. Seolah-olah ia tidak mendengarkan percakapan mereka yang sudah memenuhi telinganya. Ia akan bersikap seperti baru-baru tiba, agar mereka tidak salah paham karenanya.
"Pak Khanif," ujar Rania pelan.
"Bagaimana masalah disana, apa sudah selesai?" celetuk Davina.
"Hem. Tentu saja. Tapi saya tidak akan mudah melepaskan mereka."
"Saya tahu bapak akan melakukannya. Oh iya, silakan gabung sama kami, pak."
"Ya. Kebetulan ada yang ingin saya sampaikan."
Rania dan Davina menatap Khanif dengan pandangan serius.
Khanif tersenyum sebelum berkata, "Saya akan mengajak kalian besok jalan-jalan kemanapun kalian ingin pergi?"
__ADS_1
Davina seketika berdiri lalu kemudian berseru, "beneran?"
Khanif mengangguk.
"Aaa senangnya," ujar Davina sambil menautkan jari-jarinya.
Rania tersenyum lucu melihat reaksi Davina. Jujur ia baru mengatahui kalau Davina bisa se-santai ini. Biasanya Davina bersikap serius walau mereka lagi bersantai.
Mengetahui Rania melihatnya, Davina pun perlahan duduk kembali dengan senyum malu-malunya. "Maaf, aku terlalu senang."
"Bukannya selalu ku katakan jangan berlebihan?"
Davina terkekeh. "Iya tahu, tapi sudah terlanjur juga."
Melihat interaksi Khanif dan Davina saat ini, Rania sepertinya harus menarik diri dari mereka untuk memberikan mereka ruang mengekspresikan diri sendiri tanpa adanya yang ditutup-tutupi karena adanya ia disini. Saat Rania hendak beranjak diam-diam, Davina melihat hal tersebut.
"Rania kamu mau kemana?"
"Aku ... aku ...."
"Jangan tinggalkan kami. Kami masih mau bercakap-cakap denganmu."
"Oh!" Rania terperanjat.
"Benar, kamu jangan pergi dulu. Saya ingin tahu kalian mau kemana saja besok, biar besok tinggal jalan saja."
"Aku mau pergi ke wisata hutan pinus-nya dan ingin berkuda disana. Rania pasti suka."
Rania yang baru sedikit tahu tentang kota ini, hanya mengangguk mengiyakan saja sebagai jawaban. Karena bagaimana pun pasti Davina akan memilih wisata yang aman untuk mereka.
...To be continued ...
Halo, maaf ya beberapa hari ini cuma up 1 bab aja, aku up cuma segitu karena aku akan ikutan crazy up, itu loh, yang mengharuskan upload 3 bab perhari.
Jadi jangan bosan-bosan baca cerita ini ya.
__ADS_1
Semoga yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲
...By Siska C...