Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 35. Kapan Mereka Menikah?


__ADS_3

Hai, semua. Maaf ya baru sempat update.


Selamat membaca 🤗


...***...


Saat kakinya sudah sampai di anak tangga terakhir, lagi-lagi Rania di buat terkejut oleh Khanif. Rania sungguh terkejut melihat Khanif dan Davina yang duduk begitu dekat. Bukan hanya itu saja. Rania bahkan tidak sengaja melihat salah satu tangan Khanif ada dipipi Davina.


Melihatnya, Rania lantas menutup mulutnya, takut ia mengeluarkan suara terkejut yang dapat membuat sepasang manusia itu beralih pandang padanya.


Setelah beberapa saat, ia pun tersadar. Rania lantas mengurungkan niat awalnya untuk meminta izin sekaligus meminjam kunci mobil. Dengan hati-hati, ia lalu kembali berbalik. Namun belum juga ia melangkah turun, Khanif telah melihat dirinya dan lantas memanggilnya.


"Rania."


"Duh ketahuan," runtuknya dalam hati.


Dengan hati-hati lagi, Rania kembali membalikkan badannya. Saat ia tanpa sengaja bertatap mata dengan Khanif, Rania melebarkan senyumnya seperti bertingkah tidak melihat apa-apa sebelumya. Mau tidak mau, Rania pun mendekati Khanif dan Davina yang pandangan mereka tidak pernah lepas darinya.


Sesampainya Rania didekat mereka, Rania terkejut ketika Khanif tiba-tiba mengatakan, "jangan salah paham atas apa yang kamu lihat tadi. Davina sedang kelilipan, jadi saya bantu mengeceknya."


Sebagai responnya, Rania mengatakannya dengan terbata-bata, "sa ... saya mengerti pak."


"Tidak, kamu tidak mengerti. Jika kamu mengerti, kenapa kamu berbalik kembali?"


Khanif benar, untuk apa Rania kembali berbalik kalau dirinya mengerti akan apa yang Khanif dan Davina tadi lakukan. Ah, sudahlah! Rania sudah ketahuan. Untuk apa lagi ia mencari alasan lain kalau Khanif tidak akan mempercayai apa yang akan dikatakannya. Untuk itu, sebagai jawabannya, Rania tersenyum simpul. Ia pun perlahan mendekati mereka.


"Rania, ada perlu apa?" tanya Davina.


"Saya mau izin pergi ke pasar yang ada disini sekaligus mau pinjam mobil."


Davina melihat Khanif. Melihat anggukan kepala Khanif, Davina pun memberikan kunci mobil pada Rania.


"Ini. Hati-hati dijalan. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku."


Rania mengangguk. Setelah menerimanya, Rania pun berlalu dari hadapan mereka. Setelah mengambil tas salempangnya, Rania kembali berlalu dari kamarnya.


Saat Rania hendak membuka pintu mobil, tangannya tertahan dengan tangan orang lain. Rania lantas menoleh, ia begitu terkejut melihat Khanif berdiri sangat dekat dengannya. Hembusan nafas Khanif pun begitu terasa di kulit wajahnya. Refleks Rania langsung mendorong Khanif, seraya berseru memanggil nama Khanif, "pak Khanif!"


"Kenapa?"


"Bapak kenapa berada disini? Bukannya sama Davina."


"Urusan kami telah selesai. Saya juga harus punya waktu bersantai, kan."


"Lalu bapak mau kemana?"


"Kemana saja, asalkan dapat menjernihkan pikiran."


Rania diam. Ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa lagi. Rania lalu mundur untuk membiarkan Khanif yang menyetir mobil ke tujuannya. Setelah Khanif masuk, Rania berbelok ke pintu sebelah dan mengambil tempat duduk di samping Khanif.

__ADS_1


Merasa Rania telah siap, Khanif pun melajukan mobilnya ketempat tujuan.


Selama perjalanan, Rania diam. Ia tidak ingin membuka percakapan dengan Khanif. Namun Khanif berbeda. Ia sepertinya harus menjelaskan secara detail kejadian yang tadi Rania lihat.


Meski begitu, Khanif tidak mungkin langsung ke inti pembicaraan. Jadi, ia pun sedikit berbasa-basi dulu pada Rania, walau sebenarnya ia lebih menyukai berbicara langsung ke intinya.


"Apa yang ingin kamu beli, sampai harus pergi sendiri ke pasar?"


"Oh itu, saya hanya ingin pergi melihat-lihat. Sepertinya menyenangkan berada disana. Disana tidak terlihat seperti pasar tapi lebih terlihat seperti tempat wisata yang dikunjungi banyak orang." Rania menoleh pada Khanif seraya tersenyum merekah.


"Saya rasa juga begitu."


Khanif diam, waktu ini sepertinya adalah waktu yang bagus untuk menjelaskannya pada Rania.


"Rania," panggil Khanif tanpa menoleh pada Rania.


"Ya."


"Apa yang tadi kamu lihat, itu tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiranmu."


"Hah!"


Khanif menoleh sebentar, lalu kembali lagi fokus pada jalanan didepannya. Entah dorongan dari mana ia harus menjelaskan apa yang tadi terjadi padanya dengan Davina.


Ia seperti harus menjelaskannya meski - mungkin Rania akan meragukan perkataannya. Namun tak apa, yang terpenting ia telah menjelaskannya. Itu saja sudah cukup, mau Rania percaya atau tidak, itu urusan Rania sendiri.


"Tadi ...." Khanif terdiam, ia seperti lelaki yang menjelaskan kejadian tadi pada kekasihnya agar tidak salah paham dan hubungan mereka kembali membaik. "Huft," Khanif lalu menghela nafas pelan.


"Kalau bapak tidak ingin mengatakannya, tak apa. Jangan memaksakan diri."


Khanif lagi-lagi diam menanggapi perkataan Rania.


Selama perjalanan itu pun mereka tetap diam sampai mereka ada dipasar yang hendak mereka datangi. Khanif baru menyadari kalau perkataan Rania tadi adalah benar adanya. Disini bukan terlihat seperti pasar, melainkan lebih cocok disebut sebagai tempat wisata.


Rania dan Khanif pun keluar dari mobil. Tidak tinggal diam, Rania lalu berjalan ke sebuah tempat kosong yang biasa orang-orang disana mengabdikan momen mereka dengan berfoto ria.


Angin yang sepoi-sepoi menyapu rambutnya dengan lembut, bahkan sempat membelai wajahnya yang alami tanpa riasan apapun kecuali pelembab bibir yang telah dipakainya.


Merasa Khanif mengikutinya, Rania menoleh pada Khanif dan mengatakan, "Bagaimana cantik bukan?"


"Hem, sangat cantik," ujarnya sambil melihat Rania.


Pandangan mereka terkunci. Khanif tertegun begitu pula Rania. Seketika Khanif maupun Rania tiba-tiba mengalihkan pandangan mereka.


Sejak tatapan tak sengaja itu, jantung mereka telah berdegup tak karuan. Oh tidak, sejak pertama kali mereka bertemu didepan lift kala itu. Dimana Rahayu - pihak HRD mengajak Rania keruangannya untuk memberitahukan kalau Rania masuk ke dalam calon kandidat sekretaris ceo mereka. Namun, saat itu mereka mampu menyembunyikannya dari satu sama lain bahkan berlanjut sampai sekarang.


Suasana tiba-tiba terasa canggung, membuat Rania membuka percakapan untuk membuat suasana kembali menghangat meski cuaca disini terlalu dingin bahkan telah membuat Rania kedinginan.


"Coba kita kesana," ajak Rania setelah terdiam beberapa saat.

__ADS_1


Khanif mengangguk. Ia pun sekali lagi mengikuti langkah kaki Rania. Sambil berjalan, sekali-kali Rania menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Melihat hal itu, Khanif lantas membuka jaketnya dan memakaikannya pada Rania. Merasakannya, membuat Rania terkejut. Ia lantas menolehkan wajahnya pada Khanif.


"Pak Khanif."


"Pakailah," katanya sambil tersenyum. Ia lalu memberikan naehat pada Rania. "Lain kali, jika kamu ingin keluar, kamu harus memakai pakaian yang lebih tebal agar kamu tidak kedinginan."


"Tapi bapak?"


"Saya sudah terbiasa. Jaket ini untuk kamu saja."


"Terima kasih," ujar Rania tulus.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya mereka ditempat tujuan, Rania melihat sudah ada beberapa orang yang ada disana.


Jika bisa menebak, sepertinya sekumpulan orang-orang itu adalah sebuah keluarga kecil. Rania bisa menebaknya hanya dengan melihat dua orang dewasa yang berbeda jenis dengan tiga orang anak kecil disekitarnya.


Saat mereka hendak pergi ke tempat lain, seorang dari keluarga kecil itu menghampiri mereka.


"Permisi," ujar seorang wanita.


"Ya," ujar Rania.


"Bisakah saya minta tolong pada Anda untuk memfoto kami sekeluarga?" tanyanya.


Rania mengangguk mengiyakan. Wanita itu pun memberikan benda pipih bersegi panjang pada Rania untuk memfoto mereka berlima. Setelah berada ditangannya, Rania mundur beberapa langkah kebelakang. Namun tanpa disangka, saat Rania tengah mundur, ia terkatuk dengan Khanif yang tepat berada dibelakangnya.


Rania berbalik. "Maaf, saya tidak sengaja."


"Tak apa."


Wanita dan suaminya itu lantas tersenyum pada Khanif dan Rania. Beberapa detik kemudian, Rania mulai mengarahkan kamera ponsel yang dipegangnya pada keluarga kecil itu. Sedangkan keluarga kecil itu mulai mengambil gaya untuk di foto.


Satu foto telah berhasil Rania ambil. Keluarga kecil itu mulai berganti gaya lagi hingga beberapa foto selanjutnya. Sampai kemudian, keluarga kecil itu puas setelah melihat hasil jepretan Rania. Senyum wanita itu mengambang ketika melihatnya. Begitu pula lelaki yang berada disampingnya.


"Bisa Pegang sebentar, sayang," ujar wanita itu sambil memberikan ponselnya pada suaminya. Suaminya mengangguk. Selanjutnya, wanita itu mendekati Rania.


"Permisi," ujar wanita itu sekali lagi.


"Ya. Masih mau di fotokan lagi?" tanya Rania mencoba menebak.


Wanita itu menggeleng dan berkata, "tidak. Saya mau berterima kasih pada Anda. Sebagai tanda terima kasih saya, saya akan memfoto diri Anda dengan suami Anda."


Melihat Rania hanya diam saja, wanita itu pun kembali mengatakannya dengan menambahkan beberapa kata agar Rania mau menerima niat baiknya itu.


"Kata orang disini, tanpa berfoto rasanya kurang afdol. Seperti tidak pernah mengunjungi tempat ini. Jadi biar saya memfoto diri Anda dengan suami Anda."


"Suami?" beo Rania di kata kedua dari terakhir.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang like/vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2