
Saat waktu menunjukkan jam di angka sembilan lewat, Khanif, Rania dan Davina tiba di lokasi pembangunan vila. Mereka menempuh perjalanan selama kurang dari setengah jam dari tempat makan yang telah mereka kunjungi tadi.
Sesuai perkataan Khanif di awal mereka tiba di penginapan, baik Rania maupun Davina, harus memanggil Khanif tanpa embel-embel panggilan 'pak'. Kalau tidak, pasti para pekerja yang terlibat dalam masalah pembangunan, akan mengetahui kalau dirinya sudah tiba lebih awal di kota M ini.
Bukannya Khanif ingin menuduh yang bukan-bukan pada pekerjanya. Hanya saja, ia ingin membuktikan kalau ternyata dugaannya selama ini telah salah. Bahkan sangat salah. Namun, Khanif juga tidak bisa memungkiri hal itu, saat pembangunan vila yang semula hanya berjangka selama dua bulan, kini telah melewati batas waktunya. Walau sudah ada beberapa bangunan vila yang telah jadi. Khanif tetap ingin menyelidikinya.
Sebelum ke sini, Khanif sudah menyelidikinya dengan di bantu oleh Davina dari jauh-jauh hari saat pemilihan calon kandidat sekretaris belum diadakan. Jadi, kini Khanif telah mempunyai target kecurigaan. Ia pun sudah mengantongi beberapa nama beserta foto dari orang yang patut ia curigai. Baik di lokasi pekerjaan maupun di dalam kantornya sendiri.
Ia pernah mengatakan pada Rania, 'ia tidak bermaksud untuk mempertahankan, melainkan memberikan mereka kesempatan kembali. Jika mereka berubah ke arah yang lebih baik, maka mereka memang masih patut dipertahankan. Namun jika tidak, mereka tidak patut untuk dipertahankan.' Malah harus dihilangkan sampai ke akar-akarnya, agar tidak ada lagi orang yang dibuat rugi karenanya.
Mereka pun telah sampai ditempat tujuan. Disana, Khanif, Rania dan Davina mulai menjalankan rencana mereka sebagai pengunjung yang ingin melihat suasana alam yang ada di sekitar vila.
Awalnya mereka dilarang masuk oleh seorang paruh baya dengan alasan, kalau vila belum terbangun sempurna. Namun, saat mereka hendak pergi, langkah kaki mereka terhenti saat bapak tadi memanggil mereka kembali. Jika boleh menebak, sepertinya bapak itu adalah penanggung jawab disana. Apalagi melihat tidak ada orang yang berani membantahnya.
"Tunggu!" seru bapak tadi. Bapak itu pun mendekati Khanif, dia lalu berbisik pada Khanif, "Jika tuan ingin pergi melihat-lihat, bapak bisa melakukannya. Asal ada ...." Bapak tadi tidak lagi melanjutkan perkataannya, namun melanjutkannya dengan mengangkat kedua jarinya, jari telunjuk dan jempol, seraya menggesk-gesekkannya seperti meminta uang.
Khanif mengerti. Sebenarnya ia tidak ingin melakukannya karena jika ia melakukannya, itu sama saja membuat bapak ataupun orang dibelakangnya semakin haus akan uang. Namun jika tidak melakukannya, ia tidak akan mengetahui kalau prasangkanya ini benar atau tidak. Jadi, mau tak mau Khanif memberikan uang yang diminta.
"Tuan ngerti juga. Baiklah, tuan boleh masuk."
Khanif serta Rania dan Davina pun masuk ke dalam. Disana, Khanif terkejut melihat banyaknya pengunjung lain yang juga ikut menikmati keindahan alam dari tempat vila Khanif. Ia tidak menyangka ada banyak orang disana.
"Kak Khanif," ujar Davina menoleh pada Khanif. Ia juga terkejut melihat para pengunjung itu.
"Tak apa." Khanif lalu beralih melihat mereka secara bergantian. "Kalian tidak apa kalau ku tinggal sendiri?"
"Jangan khawatir, kami adalah wonder woman-nya didunia nyata," ujar Davina bergurau.
Khanif tersenyum. "Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu. Kalian berhati-hati lah. Oh ya, dua jam kemudian, kita akan bertemu disini lagi."
"Baik."
Khanif pun pergi meninggalkan Davina dan Rania untuk pergi mengecek sendiri kebenaran itu. Bukannya ia ingin meninggalkan mereka. Hanya saja, jika beramai-ramai nanti akan mengundang kecurigaan oleh banyak orang.
Khanif mulai berjalan-jalan disekitar vila. Saat ia melihat ada beberapa pekerja, Khanif pergi menghampiri mereka. Para pekerja itu melihatnya dengan heran. Namun Khanif tidak memperdulikan. Ia tetap berjalan semakin mendekat ke arah mereka.
"Pagi pak," sapa Khanif pada para pekerja yang sudah terlihat tua itu.
__ADS_1
"Pagi, cari siapa ya?" tanya salah seorang pria paruh baya.
"Tidak ada pak, saya hanya salah satu pengunjung disini. Saya lihat bapak-bapak lagi beristirahat, jadi saya samperin."
"Berarti kamu sama saja sama mereka-mereka itu dan pak harjo."
"Pak harjo?"
"Iya pak Harjo. Itu, bapak yang izinin kalian masuk," timpal salah seorang diantaranya.
Khanif mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti maksud dari bapak tadi. Ia lalu ikut duduk diantara pekerja paruh baya itu.
"Pekerjaan bapak lumayan santai ya," ujar Khanif mulai memancing.
"Santai apanya! Anak muda macam kamu, mana tau kesusahan kami," komentar salah seorang bapak berbaju abu-abu.
Khanif tertarik, ia semakin ingin mengorek informasi dari bapak-bapak pekerja ini.
"Lihat, pekerjaan bapak sudah berhenti. Bahkan sekarang bisa mengobrol dengan bapak-bapak lainnya. "
"Orang seperti kami hanya bisa memendamnya dalam hati saja." Bapak itu terdiam sejenak karena beliau menimbang ingin mengatakannya pada Khanif atau tidak. Namun entah mengapa bapak itu merasa nyaman kalau berbicara pada Khanif. Jadi, bapak itu tidak memperhatikan lagi kalau Khanif adalah orang yang baru ia dikenal. Yang ingin dilakukannya, hanya untuk mengeluarkan semua unek-unek yang telah disimpannya dan teman seperjuangan selama ini. Bapak itu lalu menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Awalnya kami bekerja disini sangat taat pada aturan. Tapi entah mengapa, beberapa minggu belakangan, kami, para pekerja tidak lagi menerima gaji harian sesuai kesepakatan awal. Lalu, seperti yang kamu lihat, kami disini tidak bersantai. Hanya saja, kami disuruh berhenti bekerja disaat jam seperti ini karena pengujung mulai berdatangan. Kami baru kerja saat siang menjelang, sampai masuk waktu maghrib."
"Kenapa tidak protes saja, pak?"
"Kalaupun perkataan kami semua diperhatikan, kami tidak akan menjadi seperti ini. Andai saja pak Khanif datang, kami akan mengadukannya," timpal bapak berbaju abu-abu itu lagi.
"Pak Khanif?"
"Hem, iya. Beliau adalah pemilik vila ini. Beliau terkenal baik pada pada pekerjanya."
Khanif menganggukan kepalanya, tersenyum kecil. "Bapak disini, ada yang mengetahui rupa pak Khanif?"
Serentak semuanya menggelengkan kepalanya, lalu menatap Khanif sedih.
"Jika saja kami tahu, kami sudah dari dulu menghubunginya." Bapak berbaju abu itu lagi mengomentarinya. Bapak itu begitu curiga pada Khanif, namun tidak bisa mengutarakannya. Beliau tetap diam dan akan berkomentar jika diperlukan.
__ADS_1
Disisi lain, Khanif begitu senang karena ternyata bapak-bapak pekerja ini tidak ada yang mengetahui kalau dirinya adalah orang yang tengah mereka bicarakan. Hal ini seperti keberuntungan dirinya.
Bukannya Khanif masih ingin menyembunyikan identitasnya setelah mengetahui kalau dugaannya benar. Hanya saja, masih ada satu hal yang belum ia pastikan, yaitu keterlibatan orang-orang didalamnya.
Tentu saja Khanif berpendapat seperti itu karena mana bisa Khanif mengetahui siapa dalang dibalik ini semua kalau dirinya sendiri berada ditempat yang terang? Jadi untuk itulah, ia rela berada ditempat yang sama gelapnya dengan para pelaku kecurangan itu, untuk mengetahuinya lebih banyak lagi.
Khanif yang masih sibuk berbincang dan sedikit demi sedikit mengetahui informasi yang dibutuhkannya, sangat berbeda dengan Davina dan Rania yang saat ini tengah menikmati keindahan alam yang ada di vila. Jujur saja, Davina baru pertama kali masuk ke sini karena dirinya tidak berani untuk menampakkan diri.
Ia takut akan menghancurkan rencananya dengan Khanif, kalau ada orang yang mengenali dirinya sebagai sekretaris Khanif. Meski hanya sekretaris kedua, tak memungkiri kalau pekerjaan itu pun sangat dekat dengan Khanif.
Saat Davina sibui memikirkan masa lalunya, Davina tersentak kaget saat Rania menepuk pundaknya.
"Mbak kenapa?" tanya Rania.
"Ti ... tidak apa-apa."
"Mbak baru pertama kali kesini juga?"
Davina mengangguk membenarkan.
"Kenapa?"
"Buat rencana ini," ujar Davina pelan.
Rania pun balik menganggukan kepalanya.
Mereka pun melanjutkan aksi lihat-melihat mereka. Namun tanpa di sadari, mereka yang sibuk melihat keindahan Alam, ternyata ada seseorang yang juga sibuk memperhatikan mereka.
"Tunggu saja pembalasanku," gumam orang yang bersembunyi diantara pengunjung lainnya.
...To be continued ...
Ada yang bisa tebak, siapa yang berkata 'tunggu saja pembalasanku?'
Semoga yang like/vote/komen diberikan kesehatan dan kelancaran/kelimpahan rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1