
Pagi ini matahari bersinar cerah. Angin yang bertiup sejuk membawa keharuman bunga yang mulai bermekaran ditaman. Dedaunan dari pohon-pohon rindang pun seakan ikut menikmati keindahan pagi ini dengan melambai-lambaikan daun yang tertiup angin.
Diantara dari keindahan alam yang membawa kedamaian pagi ini, terlihat seorang lelaki dengan berpakaian rapi hendak berangkat ke kantor. Dengan tas kantor yang berada di tangan kanan, Khanif melangkahkan kakinya menuju garasi mobil.
"Nak! Sarapan dulu baru berangkat kerja," teriak mama dari dalam rumah seraya mengejar Khanif yang berangkat tanpa sarapan bersama.
Khanif yang telah berada dalam mobil lantas menurunkan kacanya. "Khanif sarapan dikantor aja, ma," balasannya.
"Tidak bisa. Setidaknya sedikit saja yang penting perutmu terisi. Cepat masuk kembali sarapan!"
"Khanif akan sarapan dikantor. Khanif pergi dulu. Assalamualaikum."
Mama menghela nafas panjang seraya menjawab salam Khanif, "wa'alaikumsalam." Mobil Khanif telah keluar dari halaman, namun mama masih saja berdiri didepan pintu. "Kebiasaan, semoga aja anak itu segera mendapatkan jodohnya. Biar dia ada yang perhatikan." Setelahnya, Mama menggelengkan kepala dan kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara Khanif melajukan mobilnya lebih dahulu ke arah penjual bubur ayam yang biasa dibelinya untuk sarapan paginya dikantor nanti.
Setelah beberapa menit berkendara, Khanif melihat sosok yang tidak asing lagi di pinggiran jalan dengan motor matic yang kemungkinan telah mogok. Khanif lalu menghentikan mobilnya tepat didepan wanita berbaju navy itu.
Khanif keluar dari mobil. Ia melangkahkan kakinya ke wanita yang belum menyadari keberadaannya.
"Motor kamu mogok?"
Wanita yang tidak lain adalah Rania menolehkan wajahnya. Ia terkejut melihat Khanif sudah berada didekatnya. "Pak Khanif!"
"Motor kamu mogok?" ulang Khanif.
"Ti ... tidak. Ban motor saya kempes, tertusuk paku."
Langsung saja Khanif merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menghubungi kenalannya yang kerja di bengkel. Setelah menghubunginya, Khanif melihat jam tangan yang telah menunjukkan pukul tujuh lewat.
"Kamu ikut sama saya saja ke kantor. Ayo!"
"Eh, motor saya bagaimana?"
"Nanti ada kenalan saya yang akan membawanya ke bengkel."
"Tidak ... tidak ... Saya akan tunggu kenalan bapak itu tiba, baru saya akan ikut bapak."
"Baiklah."
Demi mengikuti kemauan Rania, sepertinya Khanif harus merelakan perjalanan untuk membeli bubur ayam kesukaannya. Karena jika sampai ia jadi membelinya, bisa dipastikan mereka berdua akan telat masuk ke kantor.
__ADS_1
"Kalau bapak mau pergi, bapak pergi saja. Biar saya menunggu disini."
"Tak apa. Tidak baik seorang atasan melihat karyawannya kesusahan."
Karyawan! Datu kata itu langsung saja menyadarkan Rania kalau Khanif berada disini karena bentuk tanggung jawab sebagai atasan kepada bawahannya. Tidak lebih!
"Terima kasih."
"Hem."
Akhirnya kenalan Khanif yang kerja di bengkel pun telah tiba. Setelah bercakap sebentar, Khanif dan Rania berlalu menuju kantor.
Didalam perjalanan, Rania heran. Ia heran pada Khanif yang bisa mendapatinya ada disini. Bahkan disaat ia kesusahan begini.
Apa Khanif kelebihan indera sehingga dia bisa tahu kalau dirinya ada disini? Semakin kesini, Rania semakin hampir menyamakan Khanif dan Bella saja.
Rania lalu menggeser sedikit duduknya, menyerong melihat Khanif yang sedang fokus menyetir. Ia memperhatikan Khanif. "Tidak ada yang salah," batinnya.
"Kenapa memperhatikan saya?" Khanif menoleh sesaat membuat Rania tersentak. Ia ketahuan telah memperhatikan Khanif.
"Tidak. Saya hanya heran saja. Kenapa bapak lewat sini?"
"Oh itu, saya lagi mau saja," ucap Khanif tanpa mengatakan kalau sebenarnya ia ingin pergi membeli bubur. Khanif hanya tidak ingin Rania merasa bersalah saja. Namun karena hal itu, malah membuat Rania kian penasaran saja.
Khanif tertawa geli. "Kamu kebanyakan nonton drama, mana ada saya memasang alat pelacak padamu. Untuk apa juga saya memasangnya, ada-ada saja."
"Tidak kebetulan juga bapak bisa lewat sini." Rania tidak mau kalah. Ia harus mengetahui alasan Khanif lewat jalan ini.
"Apa kamu tidak terima kalau saya yang mendapati kamu, bukannya Zaky?" Canda Khanif membuat Rania seketika kesal.
"Bapak jangan bawa nama Zaky disini." Rania memanyunkan bibirnya.
Khanif tersenyum. Ia tahu Rania mulai kesal lagi padanya.
"Saya mau turun disini saja."
"Dan kamu akan terlambat masuk kantor, lalu berimbas pada penilaian karyawan. Kalau itu mau kamu, saya akan hentikan mobil sekarang," ujar Khanif yang sebenarnya hanya mengingatkan Rania kalau jam tidak lagi sepagi tadi.
Rania diam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada Khanif karena apa yang Khanif katakan memang benar. Semua keputusan yang akan diambilnya pasti akan berimbas pada hasil kerjanya nanti. Jika sudah begini, Rania memilih diam saja.
"Bagaimana, kamu pilih yang mana?" canda Khanif yang sudah tahu keputusan Rania dengan melihat gerak-geriknya yang diam dari tadi.
__ADS_1
Rania kesal. "Bapak sudah tahu, tapi masih bertanya."
Khanif tersenyum. Ia pun menambah laju kendaraannya. Sedangkan Rania menolehkan wajahnya ke arah samping. Melihat kendaraan lainnya yang saling berlomba-lomba untuk sampai ke tempat tujuan masing-masing.
Saat mobil Khanif telah memasuki halaman kantor, Rania cepat-cepat menaikkan kaca mobil agar dirinya tidak terlihat oleh karyawan lainnya yang mulai berdatangan.
"Kenapa kamu naikkan? Bukannya tadi kamu sangat suka kaca terbuka?"
Rania menoleh pada Khanif, ia meletakkan jari telujuknya dibibirnya. "Sstt ... Bapak diam saja, ok!"
"Kamu takut ketahuan sama siapa, kalau kamu berangkat bareng saya?"
Rania mendelik. "Bapak tidak tahu kalau banyak bibir yang akan berkeliaran bebas nantinya?" ujar Rania bermaksud pada orang yang akan membicarakan mereka karena telah satu mobil ke kantor.
Bukannya Rania menuduh, hanya saja ia tidak suka menjadi bahan pembicaraan meski pembicaraan mereka baik. Seperti 'Rania beruntung bisa diberi tumpangan gratis sama pak Khanif' tapi tetap saja, Rania tidak suka itu. Ia hanya ingin semua berjalan seperti bisanya.
"Kita sudah sampai." Khanif menghentikan mobilnya ditempat parkir yang sepi karena pastinya Rania lagi-lagi akan melihat kondisi dulu. Jadi sekalian saja, ia membawa mobilnya ke tempat yang sepi.
"Terima kasih." Rania tulus mengatakannya.
"Sama-sama. Oh iya, soal motormu, nanti saya akan menemanimu mengambilnya kalau pulang."
Rania mengangguk. Ia pun keluar dari mobil Khanif.
"Tunggu, kita masuk sama-sama," canda Khanif lagi yang sengaja ingin membuat Rania panik dengan mengejar Rania yang sudah berjalan cepat didepan.
Rania menengok kebelakang melihat Khanif yang tersenyum lucu, namun bukannya menunggu kedatangan Khanif, Rania malah mempercepat laju jalannya. Ia terlihat seperti sedang olahraga jalan cepat saja gara-gara kelakuan iseng Khanif.
"Hei, tunggu!" panggil Khanif sengaja.
Rania kembali menengok sebentar sebelum ia berlari kecil masuk kedalam kantor.
"Rania ... Rania." Khanif tertawa kecil melihat kelakuan Rania yang takut ketahuan oleh orang-orang kantor.
Tiba-tiba saja ponsel Khanif berbunyi. Ia pun melihat isi ponselnya dan mendapati pesan Rania. "Bapak jangan bercanda ya."
Khanif terkikik geli membacanya. Khanif pun membalasnya, "sampai bertemu pulang nanti."
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...