Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 126. Saya hanya Ingin Lebih Dekat


__ADS_3

"Jadi kakak akan pergi nonton juga?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Tiba-tiba ada teman yang minta tolong untuk tukeran piket. Jadi, ya aku tolong."


"Untung kakak ngga jadi ajak aku, kalau tidak ... aku pastinya akan marah," canda Rania terkekeh.


Zaky pun ikut tertawa. "Ada-ada saja. Mana bisa kamu marah sama aku."


"Bisa saja," balas Rania ikut tertawa. Zaky pun hanya dapat tersenyum mendengar ucapan Rania.


Setelah beberapa menit berkendara, mereka telah tiba di pelantaran kantor. Rania lantas tersenyum pada Zaky sebelum ia keluar dari mobil. Tak lupa pula Rania berterima kasih pada Zaky karena telah mengantar dirinya ke kantor pagi ini.


Zaky tersenyum karena dengan senang hati ia mengantar Rania berangkat kerja. Kalau pun bisa, ia ingin berdoa agar suatu saat ia bisa selalu mengantar jemput Rania.


Maka dari itu, ia akan tetap berjuang meski saat ini Rania belum mempunyai rasa padanya kecuali hanya rasa seorang adik pada kakaknya. Ia tau, mengubah rasa itu adalah hal yang sulit, terlebih lagi jika Rania mengaja menutup dirinya. Bukan tidak mungkin kalau Zaky akan mendapatkannya suatu saat nanti meski bertahun-tahun telah ia lewati.


"Semangat kerjanya!" ujar Zaky sambil tersenyum lebar.


"Hem. Kakak juga," balas Rania. "Emm, kalau begitu aku masuk dulu."


"Iya. Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Kakak hati-hati dijalan."


"Iya."


Sesaat setelah pernyataan singkatnya, Zaky pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Sedang Rania melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan.


Para karyawan wanita yang berpapasan dengannya pun ada yang tersenyum padanya dan ada pula yang langsung menyapanya. Rania tentu saja balas menyambutnya dengan sapaan maupun senyuman.


Rania tersenyum pada semua orang disana, kecuali pada satu orang yang tengah berdiri didepan meja resepsionis. Bukannya Rania tidak ingin membalas senyumnya, hanya saja, apa yang dilakukan Khanif pagi ini telah membuatnya merasa aneh.


Seakan Rania tidak mengenali sosok lelaki yang telah di kenalnya jauh sebelum ia menjadi seorang karyawan di sini. Khanif yang memang sengaja menunggu Rania di lobi kantor segera saja menghampiri Rania saat ia melihat Rania dengan sengaja tidak membalas senyumannya.


"Assalamualaikum, pagi," sapa Khanif.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, selamat pagi juga pak," balas Rania. "Bapak butuh bantuan?"


"Em, tidak. Saya hanya ingin menyapamu saja."


"Kalau begitu, saya akan pergi sekarang!"


"Kita sama."


Khanif lalu jalan duluan diikuti dengan Rania dibelakangnya yang kian merasa aneh dengan tingkah laku Khanif pagi ini. Awalnya Rania merasa kalau dirinya yang terlalu melebihkan saja, tapi setelah Khanif tidak berjalan ke arah lift khususnya melainkan berjalan pergi ke lift karyawan, Rania merasa kalau dugaannya benar. Yakni, Khanif pasti telah terbentur sesuatu saat Khanif mengantarnya pulang kemarin malam.


"Bapak sakit?"


"Apa?" Khanif bingung dengan pertanyaan Rania. "Saya sakit? Kamu pasti mimpi."


"Lalu kenapa bapak tidak berjalan ke lift bapak sendiri? Malah sepertinya bapak ingin menggunakan lift karyawan!"


"Memang itu tujuan saya. Jangan salah paham. Saya hanya ingin lebih dekat dengan karyawan saya. Apa itu salah?"


"Tentu saja tidak. Tapi hal itu bukanlah rutinitas pagi bapak," ujar Rania.


"Saya akan menjadikan rutinitas ini tiap pagi jika bertemu kamu," ujar Khanif sengaja mengecilkan suaranya.


"Tidak, tidak ada apa-apa," balasnya sengaja tidak memberitahukan Rania. "Sisa lima menit lagi kamu harus sampai di runganmu."


"Bukannya saya sudah di kantor. Jadi saya tidak telat."


"Pengecualian untuk kamu."


"Bapak jangan suka mengubah aturan sesuka hati, dong!"


"Itu karena kamu terlalu banyak bertanya."


"Karena bapak juga yang terlalu banyak teka-teki," katanya kesal. Rania lalu berjalan cepat mendahului Khanif guna terhindar dari ucapan Khanif yang bisa saja menyusahkan dirinya atau membuat paginya menjadi pagi yang mendung karena diselimuti oleh perasaan kesal. Namun Khanif tidak tinggal diam. Ia lalu berjalan mengejar Rania.


Rania membalikkan badannya setelah ia masuk ke dalam lift. Melihat Khanif berjalan cepat ke arahnya, Rania dengan tidak sabaran menekan tombol lift berulang kali. Rania tersenyum jail melihat Khanif saat pintu lift bergerak tertutup. Namun, lagi-lagi senyuman jailnya tidak bertahan lama saat Khanif berhasil menyusulnya.


Jika tidak ada kaki Khanif yang gesit untuk menahan pintu lift tertutup, pastinya Rania dengan senang hati menertawakan kekalahan Khanif dalam mengejarnya.


Khanif pun masuk ke dalam lift, ia tersenyum kecil lalu mengambil tempat berdiri tepat disamping Rania dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajah tampannya meski ada beberapa karyawan didalam lift karyawan itu juga.

__ADS_1


Khanif memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Sedangkan Rania terus saja cemberut dan menggerutu dalam hati saat tau kalau Khanif sengaja berdiri tepat disampingnya dan seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Huft, tidak lama lagi!" gumam Rania menyemangati dirinya karena tentunya ia akan terbebas dari rasa aneh yang dibuat oleh Khanif.


Lift berdenting tepat dilantai 15, Rania pun melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan senyum mengembangkan. Ia tersenyum karena ia tidak perlu lagi merasa canggung berada didekat Khanif. Dengan riang, Rania duduk dikursi kerjanya. Setelah menghidupkan komputernya, Rania pun mulai mengerjakan laporan keuangannya.


Sedang Khanif baru saja tiba di lantai dua puluh satu. Sekeluarnya Khanif dari lift, Khanif masih saja tersenyum kecil. Bahkan Farah melihatnya ikut merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Khanif.


"Pagi, pak Khanif," sapa Farah.


Khanif lantas menoleh. "Farah! Apa kamu sudah baikkan? Kalau belum, kamu izin saja hari ini."


"Tidak perlu, pak. Saya sudah merasa baikkan," jawab Farah. "Terima kasih atas perhatian, bapak."


Khanif mengangguk nan tersenyum. Setelahnya, ia kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam ruangan yang diikuti oleh Farah dibelakangnya dengan membawa agenda harian Khanif.


"Apa agenda saya hari ini?"


"Pada jam sembilan, bapak ada rapat bersama dewan direksi dilanjutkan dengan makan siang bersama. Lalu pada sore harinya, bapak ada kunjungan kerja ke kota B."


Khanif mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Farah.


"Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa lanjut kerja lagi."


"Iya, pak. Saya permisi."


Sesaat setelah Farah keluar, Khanif mulai memeriksa beberapa dokumen sebelum ia pergi rapat sesuai jadwal telah ditentukan. Ditengah fokusnya, pintu ruangannya diketuk. Khanif tersenyum. Ia tau siapa yang mengetuk pintu ruangannya sepagi ini. Dengan suara lantang, Khanif menyuruh sosok wanita dibalik pintu kebesarannya itu masuk.


"Rania," panggilnya pura-pura terkejut sesaat ia melihat sosok wanita yang telah diketahuinya itu. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


Rania berdecih tak suka, bukannya menjawab sopan, Rania malah menjawab Khanif dengan suara kesal yang telah memuncak. "Bapak sengaja, ya!" tuduhnya.


"Sengaja apa maksud kamu?"


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2