
Sesaat ia pun memutar knop pintu. Pintu terbuka, namun Rania terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bibirnya yang semula menyinggungkan sebuah senyuman akan rasa senang, kini berganti dengan senyuman yang dipaksakan. Perlahan bibirnya terbuka untuk memanggil pelan nama seseorang yang berdiri didepannya ini.
"Da ... Davina."
Davina tersenyum simpul. Davina tahu, akibat berita pagi ini, ia menjadi topik terhangat diperusaahaan. Ia juga tidak bisa menyangkal berita pagi ini karena memang difoto itu, dirinya tengah berpelukan dengan Khanif bahkan sampai menenggelamkan wajahnya ke dada Khanif.
Tentu saja, siapa pun yang melihat foto itu dan membaca kata-kata yang seakan-akan dirinya mempunyai hubungan dengan Khanif, mereka akan mengira demikian. Tapi satu yang belum mereka tahu, kata-kata di foto itu tidak seperti apa yang mereka lihat.
"Kamu mendengarnya?" tanya Rania memecah kebisuan Davina.
Davina mengangguk kecil. "Tak apa. Terima kasih telah membelaku," ujar Davina sambil tangannya terulur untuk memegang lengan Rania agar Rania tidak semakin canggung padanya.
"Aku tahu berita itu tidak benar."
"Terima kasih telah mempercayai aku lagi." Davina tersenyum, karena ada juga orang yang mau mempercayai dirinya dengan Khanif. "Sepertinya kopimu akan segera dingin jika kamu tidak bergegas keruanganmu dan menikmatinya," ujar Davina.
"Ah, ya. Kamu benar. Jika kamu butuh teman curhat, kamu bisa memanggilku kapan saja. Aku akan selalu siap untuk menemanimu. Baiklah, aku pergi dulu."
Davina menangguk. Rania pun berlalu dari hadapan Davina. Saat dirinya baru saja menunggu lift, tidak lama kemudian lift khusus karyawan itu terbuka. Namun lagi-lagi Rania dibuat terkejut diwaktu yang belum lama ini.
Ia dapat dengan jelas melihat siapa orang yang tengah berada didalam lift sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Dengan canggung, Rania pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Disana, ia sesekali menoleh pada lelaki yang terlihat tampan saat diam itu, tapi sepertinya akan lebih tampan jika lelaki itu mau sedikit saja menoleh padanya dan memberikan dirinya sebuah senyuman yang menawan.
"Kenapa terus melihat saya?" tanya Khanif tanpa menolehkan wajahnya pada Rania yang terus saja melihatnya dalam kebisuan.
Untung saja mereka hanya berdua didalam lift. Kalau tidak, entahlah, mau ditaruh dimana wajah Rania yang kini telah bersemu merah karena kedapatan memandangi Khanif sedari tadi tanpa disadarinya.
Rania pun menjawabnya dengan gugup, "sa ... saya heran. Mengapa bapak memakai lift ini, dari pada lift khusus bapak. Disanakan lebih bagus dan bapak satu-satunya orang di kantor yang bisa menggunakannya," ujar Rania yang akhirnya mendapatkan alasan yang masuk akal.
"Apa saya tidak bisa menggunakan lift ini juga?" tanya Khanif menolehkan wajahnya pada Rania yang membuat Rania malah tertegun.
Bagaimana tidak, manik mata hazel Khanif yang bening nan tajam, tengah berpapasan dengan manik matanya yang coklat meneduhkan.
Seketika Rania memutuskan kontak mata duluan dan menjawab pertanyaan Khanif. "Ya, tidak. Hanya saja jika bapak menggunakan lift ini, aneh saja menurutku."
"Maka mulai dari sekarang, ubah keanehanmu itu dan ganti dengan rasa terbiasa."
__ADS_1
"Ah, ya. Bapak benar."
"Kamu membuat kopi itu untukmu semua?" tanya Khanif tiba-tiba.
Rania melihat gelas kopi tangannya. "Tidak, satunya untuk Dian."
"Buatkan aku satu juga dan bawa keruanganku sebentar."
"Bapak kan bisa minta tolong pada Lisa." Lalu Rania menenambahkannya dengan pujian, "mungkin kopi buatan Lisa jauh lebih enak dari pada buatan saya."
"Kopi ya kopi. Buatkan saya satu," ujar Khanif kembali ke kebiasaan lamanya, yakni tidak ingin mendengar adanya bantahan.
Rania pun hanya mampu menghela napas panjang yang sangat pelan agar Khanif tidak mengetahui helaan napasnya itu.
"Sebagai karyawan yang baik, saya akan membuatkan kopi untuk bapak," ujarnya sambil melihat Khanif sekilas.
"Tentu saja harus."
Tidak lama setelahnya, hanya kebisuan yang terjadi diantara mereka, karena Rania tidak tahu topik apalagi yang harus ia katakan agar Khanif meresponnya dengan baik.
Lift yang membawa Rania ke lantai kerjanya pun telah sampai. Pintu lift terbuka. Lalu dengan perlahan ia melangkahkan kakinya keluar dari sana dan meninggalkan Khanif seorang diri.
Rania lagi-lagi menghela nafas panjang karena telah bebas dari Khanif. Saat ia kembali membalikkan dirinya, lagi-lagi ia terkejut dengan seseorang yang begitu dekat dengannya. Bahkan sangat dekat hingga membuatnya mundur berapa langkah.
"Huft, aku kira siapa."
"Kamu kenapa lama sekali hanya untuk membuat kopi?" tanya Dian.
"Maaf, aku tadi punya urusan sedikit," ujar Rania tanpa memberitahukan apa urusannya itu. Ia lalu menyodorkan kopi pesanan Dian. "Kopi dengan sedikit gula."
"Terima kasih, kamu memang teman yang dapat diandalkan."
"Tentu saja. Tapi sepertinya aku harus pergi lagi. Titip kopi ku dulu ya. Taruh aja di atas meja dekat tempat pena."
Belum juga Dian bertanya lebih lanjut, Rania sudah kembali memencet tombol lift. Saat lift terbuka, Rania pun menghilang dari pandangannya.
"Dia seperti ... ah, sudahlah. Mungkin dia punya urusan yang mendesak."
__ADS_1
Rania kembali ke pantry lagi. Membuat dua orang wanita tadi menjadi heran dibuatnya. Namun meski kedua wanita itu heran melihat Rania datang, tak ayal mereka menanyakannya pada Rania. Karena mereka tentu saja sudah tahu batasannya masing-masing.
Setelah Rania membuatkan Khanif kopi, ia pun keluar dari pantry dan bergegas menuju lantai duapuluh satu dengan menggunakan lift yang tadi. Sesaat dirinya baru saja keluar dari lift, ia berpapasan dengan Lisa yang juga hendak masuk ke dalam.
"Rania, mau apa kamu kesini?"
"Aku disuruh buat kopi sama pak Khanif dan meminta aku untuk mengantarkannya langsung ke ruangannya."
"Kenapa pak Khanif tidak meminta tolong saja padaku."
"Entahlah," ujar Rania mengangkat bahunya tidak tahu.
"Pasti kopi buatanmu pahit," ejek Lisa.
Rania mendesah berat. "Dimana-mana rasa kopi itu pahit, kalau ngga ya namanya susu atau tidak, ya teh."
Lisa mendenggus sebal. Ia lalu masuk ke dalam lift meninggalkan Rania dengan kekesalannya.
"Aneh. Mana ada kopi yang rasanya ngga ada pahitnya." Rania menggelengkan kepalanya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Khanif.
Sesampainya Rania didepan pintu, Rania mengetuk pintunya. Setelah mendengar suara dari dalam yang mengatakan masuk, Rania pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Khanif.
"Ini kopi pesanan, bapak."
"Taruh saja diujung meja," ujar Khanif tanpa melihat Rania.
Rania pun menaruh kopi Khanif. Lalu kemudian ia pun berkata, "kalau begitu, saja pamit undur diri, pak."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Rania pun berlalu dari hadapan Khanif. Saat dirinya hendak mencapai pintu, Khanif kembali memanggil dirinya. Rania lantas membalikkan badannya. Tanpa mendekat, ia bertanya, "apa bapak punya keperluan lain."
"Ya, sepertinya."
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...