Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 31. Pesona Khanif


__ADS_3

"Brengsek!" umpat Khanif. "Bagaimana bisa mereka semua bersikap biasa saja tanpa adanya rasa bersalah, walaupun  kecurangan mereka sudah sangat keterlaluan!"


Khanif membuang semua dokumen yang berisi omong kosong itu. Apa gunanya dokumen itu sekarang? Semua isinya begitu kacau, tidak ada lagi yang perlu diteliti lagi disana. Ia juga sudah marah besar. Jika Khanif sudah mengatakan umpatan yang seperti itu, berarti Khanif sudah benar-benar berada di ambang kesabarannya.


Bagaimana tidak, orang-orang itu memang pantas mendapat panggilan seperti itu. Khanif masih ingat betul, bagaimana ia dan Rania menemukan sejumlah angka yang banyak memiliki selisih didalam dokumen yang mereka periksa sore itu.


Bahkan banyaknya selisih angka di dalam dokumen itu bisa membuat mereka semua jalan-jalan keluar negeri selama berhari-hari.


Kini sudah cukup, Khanif tidak akan memberikan mereka keleluasaan lagi. Bahkan pada pamannya sendiri. Ia sudah tidak peduli pada rasa kekeluargaan itu sendiri karena pamannya pun sepertinya sudah tidak mempunyai rasa itu juga. Tapi, siapa yang tau suatu saat nanti Khanif akan kembali memikirkan rasa kekeluargaan itu.


Khanif mondar-mandir diatas penginapan itu. Untung saja ia sudah menyewa semua tempat diatas sini. Jadi, tidak ada seorang pun yang melihat ekspresinya saat ini.


Jika saja, ia tidak mengambil tindakan ini lebih awal, ia yakin para penginap yang lainnya pun tidak ingin tinggal diam di dalam penginapan saja. Pasti ada saja yang akan naik kesini dan entah, apa yang akan mereka katakan kalau melihat ekspresinya menahan amarah saat ini. Apakah merasa takut atau malah akan menertawakannya karena tidak dapat menahan kekesalannya.


Ya, Khanif tau, sebagai seorang lelaki yang terbiasa hidup damai dan bahagia, ia tidak mengharapkan akan mendapatkan akhir dari penyelidikan seperti ini. Namun mau bagaimana lagi, itulah yang telah terjadi. Bukti pun telah ada ditangannya. Walau para pekerja yang tidak tahu diri itu mau mengelak, Khanif yakin, mereka tidak akan mengelak lagi setelah menujukkan semua bukti keterlibatan mereka yang berbuat kecurangan.


Khanif menoleh pada sumber cahaya yang masih memberinya sedikit kehangatan. Ia melihat, sumber cahaya terbesar itu sudah hendak mau kembali ke peraduannya lagi. Melihatnya, seakan marahnya mereda hilang entah kemana.

__ADS_1


Sudah berkali-kali ia terpesona akan ciptaan Sang Maha Kuasa ini. Ia seperti tidak akan bosan berada disini. Namun, tentu saja ia tidak harus melepaskan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hanya demi melihat pemandangan ini. Meski, ia merasa tenang saat berada disini, namun ia pastikan, ia akan merasa lebih tenang tatkala ia menjalani kewajiban yang telah dianggapnya sebagai makanan sehari-harinya itu. Menghadap pada Sang Maha Pencipta adalah suatu hal yang sangat dinantikan Khanif.


Ia pun menuruni tangga dengan santai. Sesampainya dilantai dasar, Khanif sempat melihat Rania masuk ke arah dapur. Entahlah, Rania mau berbuat apa, Khanif tidak ingin menegurnya lagi. Khanif percaya jika ia menegurnya Rania mungkin akan memperlambat gerakan selanjutnya.


Baru saja Khanif hendak memutar knop pintu, suara panggilan Rania dibelakangnya sudah membuat tangannya hanya memegang knop pintu tanpa membukanya.


Khanif menoleh. "Ya."


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Benar dugaan Khanif, Rania hanya bermain-main dengannya. Tanpa Khanif sadari, Khanif menggeleng melihat tingkah laku Rania, baru saja mereka begitu kompak saat diatas sana, Rania sudah mulai memancing rasa kesalnya lagi setelah pekerjaan mereka selesai. Sudahlah, Khanif tidak mempunyai waktu yang banyak untuk meladeni permainan Rania. Ia pun melangkah masuk ke dalam kamarnya dan bergegas mengambil air wudhu untuk menjalankan rutinitasnya tiap hari.


Dulu, awal mereka berada dibagian kota ini, Rania tidak mendengar suara Khanif saat melakukan rutinitasnya karena penginapan yang sebelumnya mereka tempati adalah penginapan kedap suara, jadi biarpun Rania berteriak, bernyanyi ataupun hal-hal yang dapat membuat ribut, suara ribut itu hanya tertahan di dalam kamar penginapan saja. Berbeda saat berada disini. Ia bahkan bisa mendengar jelas suara merdu Khanif, baik saat melantunkan baca-bacaan dalam shalatnya maupun melantunkan bacaan ayat suci Al-Qur'an saat seperti ini.


"Huft, sampai kapan aku harus seperti penguntit. Apa dia sengaja membesar-besarkan suaranya, karena kamar kami begitu dekat!" gerutu Rania.


Rania memanyunkan bibirnya, lalu beralih duduk di pinggiran tempat tidur. Ia seketika tersadar, ia seharusnya tidak boleh mengatakan hal-hal tersebut. Rania pun memukul-memukul pelan bibirnya seperti merasa bersalah.

__ADS_1


"Astagfirullah, ada apa dengamu Rania. Jika kamu tidak ingin dengar, kamu bisa saja kan menutup telinga!"


Rania pun berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Disana, selalu saja jika Rania memegang air di bak mandi itu, Rania akan menggigil kedinginan. Bagaimana tidak, Rania sudah pernah katakan kalau air di bak mandi itu sudah seperti air yang ada di dalam lemari pendingin. Dingin, membuat dirinya kedinginan.


"Brrr ... dingin," komennya untuk kesekian kalinya. Meski sudah terbiasa akan dinginnya kota ini, namun jika Rania masuk ke dalam kamar mandi, Rania pun akan tetap merasakan dingin yang berlebihan. Ia seperti tidak ingin membersihkan diri saja. Namun mau bagaimana lagi, ia sudah merasa gerah memakai baju tebal seharian. Apalagi mereka habis pergi ke vila Khanif dengan berpura-pura sebagai pengunjung dan jangan lupa, Rania juga habis berkeliling di kebun strowberry yang ada disana.


Melihat ada kebun strowberry disana, Rania menduga, kebun inilah salah satu yang menjadi daya tarik pengunjung walau vila belum terbuka untuk umum. Dari sana jugalah Rania tau, kalau uang yang para pelaku kecurangan itu mendapatkan banyak uang.


Kala memikirnya, membuat Rania naik pitam. Sungguh, apa yang dikatakan Khanif memang benar. Mereka-mereka itu adalah orang yang brengsek. Bahkan lebih brengsek dari preman dipasaran. Apa yang telah dikatakan Davina juga benar. Jika seorang keluarga menghargai hubungan kekeluargaan itu, maka orang itu pasti tidak akan mau melakukan hal securang ini. Apalagi, Rania tau kalau dalang dibalik ini semua adalah Gunawan, paman Khanif.


Rania lupa, ia harus merapalkan dalam hati agar Khanif tidak tau kalau ternyata Rania mendengar semua perkataan Khanif tadi. Awalnya Rania hanya ingin memanggil Khanif untuk turun karena cuaca semakin dingin. Namun begitu melihat kemarahan Khanif, seakan rasa percaya diri Rania hilang. Ia hanya berdiri mematung menunggu amarah Khanif reda.


Setelah amarah Khanif reda, tanpa menghampiri Khanif, Rania berlalu meninggalkannya. Ia saja hampir ketahuan. Namun secepat ia melarikan diri, secepat itu pula sebuah ide menghampirinya. Ia pun berpura-pura seperti habis keluar dari kamar. Saat matanya menangkap sosok Khanif, Rania memanggilnya. Ia dapat melihat jelas Khanif memandangnya kesal karena jawabannya sendiri.


Kembali mengingatnya, membuat Rania terkikik geli. Andai saja ia tidak berada di kamar mandi, mungkin Rania akan melanjutkan gelak tawanya. Biar Khanif mendengarnya.


...To be continued ...

__ADS_1


Yuk, dukung ceritaku dengan memberikan like/komentar/vote. bisa juga memberikan hadiah 😁


...By Siska C ...


__ADS_2