Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 23. Perhatian vs Kejahilan Khanif


__ADS_3

Semoga yang like/vote/ di berikan kesehatan dan rezeki yang lancar, aamiin.


...***...


"Jika ucapanmu benar, kenapa saat mengetahui suara itu adalah suara saya, kamu tidak lantas pergi?" tanya Khanif membuat Rania gugup.


"Saya ... saya... mau menawarkan bapak makanan khas kota ini, yang tadi diberikan oleh Mbak Davina kepada saya tadi," jelas Rania cepat. "Tunggu, saya ambilkan dulu," lanjutnya kemudian.


Rania pun mengambil beberapa potong kue untuk Khanif. Balkon kamar yang begitu dekat, membuat Rania dengan mudah memberikannya pada Khanif.


"Terima kasih," ujar Khanif.


"Sama-sama pak."


"Kenapa kamu tidak beristirahat?"


"Saya tidak dapat tertidur."


Khanif mengangguk, ia pun melanjutkan perkataannya.


"Karena kamu sudah ikut dalam perjalanan kali ini, saya tidak akan menutupinya lagi darimu."


Rania menatap Khanif serius.


"Sebelumnya saya minta maaf karena telah menyia-nyiakan waktu berhargamu dengan mencari informasi tentang kota M yang sebenarnya sudah tidak perlu." Khanif melihat Rania sekilas. Setelah merasa Rania tidak ingin menanggapi, Khanif pun kembali melanjutkan perkatanyaan lagi.


"Awalnya saya tidak ingin merencanakan yang demikian. Tetapi karena banyaknya mata dan telinga yang sewaktu-waktu dapat membocorkan informasi penting ini, jadi saya tetap harus menyuruhmu. Saya harap kamu mengerti."


"Bapak sudah tau ada banyak mata dan telinga yang tidak patuh, kenapa masih dipertahankan?"


Khanif tersenyum kecil. "Saya tidak bermaksud mempertahankan. Saya ingin memberikan mereka kesempatan lainnya. Jika, mereka berubah, maka itu adalah hal yang baik dan mereka memang layak untuk diberikan kesempatan lainnya. Namun jika tidak, maka seperti perkataanmu, mereka tidak pantas untuk dipertahankan."


"Hem, ya. Tentu saja. Hati bapak sangat mulia."


"Tidak, jangan menganggapku terlalu berlebihan karena jika suatu saat tanpa sengaja saya membuat satu kesalahan di matamu, maka kamu akan menyesali perkataanmu yang sekarang dan mungkin saja, kata mulia itu bisa berganti dengan kata-kata cacian tanpa batas. Semakin banyak kata-kata pujian yang kamu tujukan pada manusia, maka semakin banyak pula kekecewaan yang akan kamu dapatkan. Meski hanya satu kesalahan yang kamu lihat, tak urung kesalahan itu pasti membuatmu kecewa. Sekalipun kamu ingin memberikan pujian, maka jangan membuatnya terlalu berlebihan dan terlalu mengagumi."


Khanif tersenyum kecil. Ia mengatakan hal itu pada Rania agar Rania tahu kalau awal dari sebuah kekecewaan yang sangat besar adalah karena kita terlalu memuja pada selain dari-Nya.


"Ya, yang bapak katakan memang benar," balas Rania sambil tersenyum.


"Sudah nikmati saja kue ini," ujar Khanif mengakhiri pembicaraan ini.

__ADS_1


...***...


Sore harinya, seperti perkataan Khanif siang tadi, saat ini mereka telah bersiap-siap untuk menuju ke kota M. Masih dengan posisi yang tadi, kini Rania duduk didekat Khanif. Sedangkan Davina duduk disamping sopir. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih empat jam akhirnya membuahkan hasil. Kini mereka telah tiba di pintu masuk kota M.


Tentu saja Rania tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Ia menurunkan kaca mobil untuk menghirup udara yang bersih nan sejuk disini. Rania yang baru pertama kali berada disana pun kian terpesona akan keindahan dan kesejukan alam yang ada di kota M.


Ia tidak menyangka, kesejukan di kota ini hampir sama kesejukan saat dirinya ada di puncak untuk berlibur bersama keluarganya. Meski suasana di kota M tidak begitu ramai seperti di kota besar, namun hal itu tidaklah mengherankan Rania.


Setelah beberapa menit berkendara dari pintu masuk kota M, akhirnya mereka tiba juga ditempat penginapan. Pertama-tama, Rania memperhatikan sekelilingnya. Setelah dirasa cukup lama, Rania pun mengikuti Khanif keluar dari mobil.


Saat Rania baru saja keluar dari mobil, seketika hawa sejuk nan dingin itu seperti masuk ke dalam pori-pori kulitnya yang bersih. Rania lantas merapatkan tangannya didada. Ia berharap bisa mendapatkan sedikit kehangatan.


Sesaat kemudian, Rania tersentak kaget saat ada sebuah jaket terlampir dipunaknya. Rania berbalik, sekali lagi ia dibuat terkejut akan keberadaan Khanif yang berada dekat dengannya.


"Pakailah, Saya tau kamu tengah kedinginan."


"Te ... terima kasih pak."


Davina yang melihat mereka pun nampak tersenyum.


"Saat saya pertama kali berada disini, saya sama seperti kamu. Meski sudah beberapa kali berlibur ke puncak, tak urung membuat saya merasa terbiasa akan suasana kota ini." Khanif menoleh sebentar. Ia pun kembali melanjutkan perkataannya. "Sering berada disini, membuat seseorang yang tinggal di kota ini memberikan saya sebuah tips agar saya bisa terbiasa akan suasana kota ini."


"Saya akan memberitahukan dirimu, saat kamu juga sudah datang beberapa kali disini."


Rania melongo, ia lalu memprotes, "lalu apa gunanya tadi bapak mengatakan kalau ada sebuah tips yang dapat meredakan rasa dingin ini? Atau bapak cuma bercanda sama saya?"


Khanif tersenyum. Ia sebenarnya memang mempunyi sebuah tips, tapi ia sengaja ingin mengerjai Rania walau sebentar saja. Entah dari mana asal datangnya kejailan itu. Ia sendiri pun tidak tau. Dulu pernah ia katakan, kalau saat berada didekat Rania, ia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Memikirkannya, membuat Khanif tambah melebarkan senyumnya.


"Bapak sengajakan," tebak Rania saat tanpa sengaja ia melihat senyuman Khanif. "Sudahlah, tidak ada gunanya berbicara sama bapak."


"Tunggu!"


Rania menghentikan langkah kakinya saat ingin melangkah masuk kedalam penginapan berwarna hijau daun itu. Ia lantas berbalik melihat Khanif.


"Mulai saat ini - jika berada diluar, panggil nama saya saja. Agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaan kita."


"Baiklah .... Khanif."


Kali ini, posisi mereka seimbang karena kini, malah Khanif lah yang dibuat melongo oleh Rania. Bagaimana tidak, Khanif tidak menyangka, Rania akan segampang itu menyebutkan namanya. Bahkan Khanif menduga kalau Rania menyebutkan namanya seperti tengah mamakan ikan yang memilki duri banyak, namun tidak khawatir akan duri itu. Bukannya ia ingin membandingkan, Davina saja harus ia bujuk dulu selama sejam lamanya untuk memanggil namanya saja tanpa embel-embel panggilan kesopanan.


"Kamu heran?" tanya Rania cuek akan keterkejutan Khanif.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah merencanakan hari ini dari jauh hari."


"Sembarangan." Rania mengibaskan tangannya didepan wajah kahnif. "Ini namanya akting, pak. Lihat, hanya beberapa detik saja saya sudah memanggil bapak lagi. Bahkan bapak bisa tertipu."


Setelah mengatakannya, Rania berlalu masuk ke dalam penginapan. Sepanjang langkah kakinya, Rania diam-diam tersenyum. Dalam hati ia berkata, "memangnya bapak bisa semudah itu mengerjai saya."


Khanif lalu mengikuti Rania masuk ke dalam penginapan. Begitu pula Davina. Namun Davina langsung ke bagian dapur untuk memberitahukan pelayan penginapan agar membuatkan mereka beberapa cangkir teh hangat. Setelah mengatakannya, Davina kembali ke ruangan tengah. Ia lalu berjalan mendekat pada Rania yang kini tengah fokus menonton tv.


"Sudah siap kalau malam ini akan kedinginan?" ujar Davina sambil duduk didekat Rania.


Rania dengan ragu pun mengangguk. Ia tidak yakin akan jawabannya.


"Mbak Dav, aku boleh bertanya?"


"Tentu saja."


"Apa mbak tahu tips agar tidak merasa kedinginan saat disini?"


"Iya aku tahu."


"Apa mbak?" tanya Rania begitu penasaran.


"Saat kamu baru pertama datang kesini, kamu cukup membersihkan diri saja. Biar, kamu terbiasa akan dingin yang ada di kota ini."


"Itu saja?" tanya Rania tidak percaya. Ia mengingat betul kata-kata Khanif tadi begitu serius.


"Pak Khanif sendiri yang mengatakan padaku awal aku kemari. Gih, sana mandi dulu. Biar nanti malam kamu ngga terlalu kedinginan."


Rania mengangguk. Ia kini percaya akan perkataan Davina padanya. Saat ia melewati kamar inap Khanif, Rania tidak sengaja bertemu dengan Khanif yang baru keluar kamar. Ia lalu bersedekap dada lalu mengatakan, "tips yang bapak rahasiakan kini sudah saya ketahui."


"Baguslah kalau begitu. Berarti saya tidak perlu repot lagi."


"Tentu saja." Rania berhenti sejenak. Baru kemudian ia melanjutkan perkataannya dengan memanggil nama Kahnif tanpa embel-embel pak seraya berlari ke arah kamar inapnya sendiri dengan terkikik geli.


Khanif seketika menoleh. "Ternyata dia mulai terbiasa."


...To be continued ...


Gimana pendapat kalian tentang bab ini? Dikomentar ya gaes!


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2