Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 194. First Night


__ADS_3

Halo, vote hari baru sudah dimulai ya. Jangan lupa berikan Vote kalian ke cerita ini sebagai bentuk balasan buat aku ya.


Oh iya, sebelumnya aku minta maaf pada bagian kali ini karena bagian kali ini adalah malam pertama mereka jadi mungkin siapa tahu ada kata-kata yang tidak sepantasnya mohon tegur aku supaya bisa segera aku ubah.


Baiklah, Selamat Membaca.


...***...


Malam harinya, Khanif benar-benar mengajak Rania untuk keluar menikmati malam indah yang dipenuhi dengan lilin kecil di pinggir pantai dekat resort-nya.


Sebenarnya, sejak pagi tadi, Khanif tidak menghilangkan seperti dugaan Rania. Melainkan Khanif beserta orang-orang resort-nya telah membuat kejutan ini untuk Rania malam ini.


Untuk lebih meyakinkan kalau rencananya akan berhasil, Khanif pun keluar sejenak untuk melihat hasil kerjanya bersama petugas-petugas resort-nya.


Setelah dirasa kalau semuanya telah berjalan dengan baik, ia pun kembali ke penginapan untuk memanggil Rania agar bisa bersama-sama menikmati keindahan alam saat malam di luar ruangan. Tepatnya di tepi pantai dengan ombak yang tenang.


Setelah ia sampai di sana, ia melihat Rania sudah bersiap. Namun penampilan Rania malam ini ada yang kurang menurut dirinya. Untuk itu, Khanif berjalan masuk melewati Rania yang sudah tidak sabar untuk pergi menikmati malam indah kata Khanif.


"Kenapa kakak masuk kembali ke kamar?" tanya Rania setelah Khanif telah kembali ke dekatnya. "Kita tidak jadi keluar ya?"


"Tidak, ma chérie."


"Lalu?"


"Ma chérie. Suhu diluar sangat dingin. Kakak tidak ingin kamu terkena flu nantinya. Untuk itu, kamu harus memakai ini," ujar Khanif seraya memakaikan Rania sebuah cardigan panjang. "Ayo," ajaknya kemudian seraya menganggam tangan Rania.


Dalam perjalanan itu, Rania sesekali mencuri pandang pada Khanif. Ia juga sempat bertanya-tanya dalam hati. Kemanakah dirinya akan di bawa malam ini oleh Khanif?


Namun setibanya mereka disana, Rania terdiam. Ia bahkan sempat berhenti berjalan karena melihat keindahan lilin-lilin kecil yang dibentuk seperti jalanan untuk mereka. Ditambah dengan taburan bunga-bunga yang kian menambah keromantisan malam ini.


Sungguh, ia tidak menyangka Khanif akan membawanya ke tepi pantai dengan lilin kecil dan taburan bunga di sepanjang jalan.


"Terima kasih," kata Rania terharu. Ia bahkan sampai berkaca-kaca melihat kesungguhan Khanif dalam menyenangkan dirinya.


"Sama-sama, ma chérie," ujar Khanif seraya mengelus pipi Rania. "Jadi bagaimana, apa kamu sudah memaafkan aku?"


"Belum semuanya," dusta Rania.


"Baiklah. Tak apa. Setelah malam ini, kamu tetap juga akan memaafkan aku," ujar Khanif membuat Rania tiba-tiba tertawa geli.


"Rasa percaya diri kakak sangat tinggi juga, ya."


"Tentu harus, ma chérie. Kalau tidak, kakak tidak akan sepercaya diri saat melamarmu kala itu."


"Ah, iya. Kakak benar juga."


"Baiklah, ma chérie. Sebaiknya kita segera ke sana," tunjuk Khanif pada sebuah meja kecil khusus untuk mereka.


Khanif dan Rania pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka ke meja kecil itu. Sesampainya disana, Khanif lantas menarik kursi untuk Rania. Lalu setelahnya, ia pun mengambil tempat duduk tepat didepan Rania.


Tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang membawakan mereka makanan dan minuman terbaik di resort ini.


"Selamat makan, ma chérie," ujar Khanif setelah pelayan resort-nya pergi.


"Selamat makan juga, ma chérie," ujar Rania ikut-ikutan memanggil Khanif dengan kata sayang hingga membuat Khanif jadi tersenyum.


Mereka pun mulai menyantap makanan mereka masing-masing. Dalam makan malam romantis itu, sesekali Khanif menyuapi Rania atau membersihkan bibir Rania yang sedikit belepotan karena makanan.


Tentu saja semua hal itu membuat hati Rania menghangat. Ia juga seperti ingin memberikan hadiah buat Khanif. Hadiah yang tidak akan pernah dilupakan olehnya.


Setelah makan malam romantis itu, mereka duduk sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan mereka menyusuri bibir pantai dengan saling bergandengan tangan.


"Emm, kak," ujar Rania pelan saat mereka sudah lama menyusuri bibir pantai dengan tak ada percakapan sedikit pun.

__ADS_1


"Hem. Kenapa?" tanya Khanif sambil menolehkan wajahnya pada Rania.


"Kenapa kakak memberikan aku kejutan seperti ini?"


"Kakak hanya ingin melihatmu bahagia saja. Kenapa?"


"Aku hanya merasa kalau selama kita tiba disini, kita tidak pernah terlihat sedang bekerja atau bertemu dengan bisnis kakak. Jadi, aku pikir, apa pergi mengunjungi resort kakak ini memang sebuah pekerjaan atau kakak sedang mengajakku liburan, tapi tidak ingin mengatakan yang sebenarnya?


"Menurutmu jawaban yang paling bagus itu yang mana?" Khanif lantas menghentikan langkah kakinya, lalu beralih melihat Rania.


"Kakak saat ini sedang mengajakku liburan."


"Yakin?"


"Hem. Yakin seratus persen."


"Berarti sudah seperti itu."


"Ih! Aku beneran ini loh!"


"Kakak juga beneran ini."


Rania ngambek.


"Baiklah-baiklah. Kakak bercanda. Kakak memang tengah membawamu liburan, tapi tidak ingin mengatakannya. Biar jadi kejutan nantinya."


"Tapi ini sudah dua hari berlalu dan aku baru tau sekarang?"


"Rencananya kakak akan memberitaumu saat kita berada di kota M," canda Khanif.


"Hah!"


"He'em. Tapi tak apa. Semuanya berjalan sesuai rencana juga kan. Kamu senang dan kakak bahagia," ujar Khanif membuat Rania tersenyum malu. "Baiklah. Sebaiknya kita nikmati jalan-jalan malam ini, ayo!"


Mereka berdua pun kembali menikmati jalan-jalan mereka di pinggir pantai dengan pasir pantai yang terasa menenangkan jiwa dan suara deburan ombak yang membuat mereka merasa damai.


Sekitar sepuluh menit mereka berjalan-jalan, tiba-tiba saja gerimis datang membuat mereka mau tidak mau segera kembali ke resort.


Setelah mengambil alas kaki yang sengaja mereka lepas tadi, mereka pun segera berlalu dari pantai.


Dalam perjalanan pulang itu, gerimis kian bertambah saja, membuat Khanif maupun Rania berlari kecil menuju penginapan agar mereka tidak semakin basa karenanya. Namun seberapa kuat juga mereka berlari, gerimis yang telah berganti dengan hujan itu telah membuat mereka basah dan mulai kedinginan.


Sesampainya mereka di penginapan, Rania mulai menggigil kedinginan. Khanif pun secepat mungkin menyuruh Rania untuk mandi air hangat agar dirinya tidak terkena flu keesokan harinya.


"Iya, kak. Kakak juga harus mandi air hangat."


"Hem. Pasti, ma chérie. Baiklah. Kamu duluan aja."


"Iya, kak."


Rania lantas mengambil pakaian tidurnya didalam lemari. Lalu sedetik kemudian, Rania bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengikuti saran dari Khanif barusan.


Sesaat ia telah selesai membersihkan dirinya, Rania kembali bimbang. Bimbang, apakah dirinya harus memakai pakaian tidur yang terbuka seperti yang ia bawa saat ini atau ia menggantinya seperti yang telah ia pakai pada malam-malam sebelumnya.


Sungguh, ia hanya ingin memberikan kejutan buat Khanif, tapi ia takut. Takut kalau Khanif tidak akan menyukainya dan malah akan menyuruhnya menggantinya saja.


Bukannya hal itu membuat ia menjadi malu? Namun jika tidak mencobanya, kapan lagi ia bisa tau tanggapan Khanif padanya. Untuk itu, ia akan memakainya saja.


Lagi pula juga, ia akan memberikan kejutan malam ini buat Khanif. Sebuah kejutan yang mungkin tidak pernah di sangkanya.


Sekeluarnya Rania dari kamar mandi, Khanif langsung saja mengernyit heran melihat penampilan Rania.


"Ma chérie, kenapa masih memakai bathdrobe? Bukannya tadi kamu bawa baju ganti?"

__ADS_1


"Sudah pakai kok, kak. Cuma ingin makai ini aja."


Khanif lantas mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


"Kakak cepat mandi gih! Nanti kena flu, loh!"


"Iya, iya."


Lima menit kemudian, Khanif telah selesai membersihkan diri. Ia lalu berjalan ke tempat tidur untuk bergabung dengan Rania. Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat Rania yang menyembunyikan dirinya ke dalam selimut.


Khanif langsung berjalan ke tempat tidur dekat Rania untuk memeriksa keadaannya.


"Ma chérie," panggil Khanif sesaat ia telah ada di pinggiran tempat tidur dekat Rania.


Merasa dipanggil, Rania lantas menyembulkan kepalanya dari dalam selimut lalu melihat Khanif dengan tersenyum malu-malu.


"Kamu sakit?" tanya Khanif seraya menempelkan tangannya di jidat Rania.


"A ... aku tidak sakit."


"Lalu kamu kenapa, hem?" tanya Khanif seraya duduk di samping Rania.


"Aku tidak apa-apa. Sungguh."


"Lalu kenapa kamu memasukkan serta kepalamu didalam selimut?"


"Lagi ingin saja."


"Kakak kira kamu kenapa. Baiklah. Kamu perbaiki posisi tidurmu biar kamu bisa tidur nyenyak."


Khanif lantas kembali ke sisi tempat tidurnya.


Ia pun mulai membaringkan dirinya disisi Rania. Lalu masuk ke dalam selimut tanpa mengetahui pakaian yang sedang dipakai oleh Rania.


Sesaat ia menarik Rania ke dalam pelukannya, Khanif terkejut saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Rania.


Khanif lantas membuka selimut yang mereka pakai. Ia begitu terkejut dengan pakaian tidur Rania kenakan.


"Ke ... kenapa makai pakaian ini?"


"Emm, itu ... itu ... aku sengaja kakak. Aku ... aku ...."


"Aku kenapa?"


Rania lantas kian memajukan dirinya pada Khanif, lalu berisik di telinganya.


"Aku sengaja. Aku ingin memberikan kakak kejutan."


Khanif tersenyum.


"Kalau kamu malu dan masih belum siap, kakak masih bisa menunggunya, ma chérie."


"Aku tau, tapi mau sampai kapan. Kakak juga telah memberikan aku kejutan yang sangat romantis. Apa aku tidak dapat memberikannya juga?"


"Tantu saja bisa, ma chérie. Terima kasih."


Mereka berdua pun menikmati malam pertama mereka dengan kebahagian di hati masing-masing.


Dengan rintikan hujan yang semakin deras saja, membuat mereka larut dalam penyatuan itu. Biarlah hujan ini menjadi saksi bisu antar mereka berdua menuju keabadian Cinta yang sesungguhnya.


...To be continued ...


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2