Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
33. Kencan buta untuk Khanif


__ADS_3

Khanif lantas semakin mempercepat langkah kakinya agar semakin mendekati Rania yang masih fokus melihatnya. Sesampainya didekat Rania, Khanif menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Tak kusangka, ternyata larimu cepat juga. Saya bahkan tidak dapat mengejar," komentar Khanif setelah sampai didekat mereka.


"Jangankan kamu, saya pun sudah beberapa kali dikalahkan oleh anak kecil ini," timpal Reyhan seraya mengacak rambut Rania sekali lagi.


"Huh, dasar. Jika ingin menyanjung Rania, ngga perlu gini juga, kan!" sungut Rania seraya merapikan helaian rambutnya yang teracak. "Bilangin Rania anak kecil lagi," lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sampai kapan pun, kamu akan tetap sebagai anak kecil bagiku." Kini rambu Rania bukan lagi menjadi sasaran empuk tangan Reyhan. Melainkan kini, pipi Rania-lah yang menjadi sasarannya.


"Sakit." Rania menyapu-nyapu pipinya yang terasa sakit.


Melihat tidak ada yang ingin mengalah, Khanif berdehem agar Rania dan Reyhan sadar dimana mereka berada saat ini. Namun, Reyhan bukannya tidak sadar, ia hanya ingin lebih lama bercanda dengan Rania. Karena setaunya, Rania pasti tidak lama lagi akan pulang. Meninggalkannya dirinya disini untuk bertugas.


Tidak ingin semakin sedih, Reyhan pun mengubah topik pembicaraan.


"Oh iya. Jika kalian mau gabung, silakan saja."


"No ... no ....." Rania mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Reyhan. "Kami memilih olahraga sendiri saja," ujar Rania sambil melirik para tentara disana yang masih melakukan push up secara bergantian dengan temannya yang tengah menghitung. 


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Kakak pergi dulu."


Rania mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan Rania menuju para anggotanya. Setelah beberapa saat memberi aba-aba, sekelompok lelaki berbaju loreng itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Rasa penasaran Khanif akan sosok Reyhan, kian bertambah. Namun, sesuatu dalam dirinya, membuatnya tidak ingin menanyakan sosok Reyhan pada Rania. Entahlah, kenapa dirinya tidak ingin bertanya pada Rania walau pertanyaannya sudah hampir di ubun-ubun.


Apakah karena ia takut Rania akan balik bertanya padanya? 'Kenapa bapak ingin tahu?'


Atau malah Rania membantahnya 'Ini rahasia. Bapak tidak boleh tau, karena bapak orang luar.'


Atau malah menuduhnya yang bukan-bukan 'Bapak cemburu ya, ngaku aja.'


Memikirkan semua pertanyaan yang akan muncul itu, membuat Khanif hanya menyimpan rasa penasarannya didalam hati saja.


"Bapak kenapa?" tanya Rania yang melihat Khanif hanya diam.


"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita kembali ke penginapan. Matahari mulai semakin meninggi."


"Bapak tenang saja, saya bukan vampir yang takut matahari," canda Rania.


Khanif terkekeh. Sungguh Rania adalah orang kedua yang suka membuatnya tertawa.


"Ayo cepat. Kita harus balik kembali ke penginapan. Mungkin Davina telah tiba."


Khanif pun berjalan lebih dahulu meninggalkan Rania yang baru akan mengejarnya.

__ADS_1


"Ah ya. Bapak benar. Saya juga harus segera bersiap-siap," ujar Rania menyamakan langkah kakinya dengan Khanif.


Khanif menoleh pada Rania, ia memicingkan matanya melihat Rania. "Kamu hendak kemana?"


"Duh, bapak ini gimana sih! Bukannya bapak mau melakukan penyelidikan yang kemarin?"


"Tidak usah, semuanya sudah selesai. Hari ini kamu bisa beristirahat."


"Sungguh?"


Khanif mengangguk sebagai jawaban.


"Ah, saya kira juga begitu. Jika saya masih memegang dokumen kacau itu, saya pasti akan membuangnya. Untuk apa disimpan, buat sakit kepala saja."


Khanif diam. Ia menduga, sepertinya Rania melihat aksi marahnya sore kemarin. Namun, ia tidak mau menjelaskan lebih lanjut pada Rania. Biarlah, Rania melihat sisinya yang lain, agar suatu saat nanti Rania tidak kaget melihat dirinya yang beda dari biasanya ini.


"Kamu benar."


Setelahnya, tidak ada lagi pembicaraan sampai mereka tiba dipenginapan. Mereka terdiam satu sama lain. Khanif sibuk dengan pemikirannya sendiri sedangkan Rania sibuk memandangi pemandangan yang berbeda setiap jalan.


Sungguh, ia baru sadar setelah mereka berjalan pulang. Tadi ia tidak terlalu memperhatikan sekitarannya. Sekarang, semakin diperhatikan, semakin membuat Rania lebih menyukai berjalan kaki. Namun jelas itu hanya untuk bersantai saja. Sedangkan kalau sudah terburu-baru, bahkan jika ada alat canggih dari abad dua-dua Rania pun akan memakainya juga.


"Akhirnya sampai juga," seru Khanif saat mereka tiba didepan penginapan.


"Hah!" Rania memperhatikan sekeliling. Ya benar, mereka telah sampai.


"Maaf pak, saya tidak bermaksud," ujar Davina dengan wajah paniknya.


"Tidak apa. Bagaimana dengan yang ku suruhkan?"


"Sudah selesai, pak."


Khanif mengangguk. "Sejam kemudian, bawakan hasil kerja kamu di lantai teratas penginapan ini."


"Baik pak."


Khanif pun pergi meninggalkan Davina dan berlalu masuk kedalam kamarnya.


"Mbak Davina," panggil Rania pelan.


Davina menoleh pada Rania.


"Mbak dari mana?"


"Oh itu, aku pergi berbicara dengan seseorang yang akan menjadi penanggung jawab baru di vila."

__ADS_1


"Emm gitu, dimana dia sekarang?"


"Dia akan datang, tapi tidak untuk saat ini."


"Semoga masalahnya cepat kelar deh, mbak."


"Iya, mbak harap juga begitu."


"Baiklah, mbak. Rania mau membersihkan diri dulu."


"Iya."


***


Khanif begitu puas akan hasil kerja Davina. Dengan begitu, tinggal besok saja, semua kecurangan paman serta teman-temannya yang berkomplot akan ketahuan. Lebih baik ia mengambil langkah awal.


Setelah agak puas, ponsel Khanif berdering. Terlihat nama mama Adelin terpampang di layar ponsel Khanif. Melihatnya, Khanif lantas menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan dari mama Adelin.


"Kenapa baru diangkat sih, sayang?"


"Bukannya mama baru nelpon Khanif?"


"Udah dari tadi. Tapi baru kamu angkat. Mama kira terjadi sesuatu disana."


Khanif lalu teringat. Ia sempat mengisi daya ponselnya dengan ponsel yang sengaja ia non aktifkan.


"Maaf ma, tadi ponsel Khanif sedang mengisi daya, jadi Khanif tidak mengaktifkannya," jelas Khanif. "Mama jangan terlalu khawatir. Disini Khanif baik-baik saja sama yang lainnya. Semuanya berjalan lancar," ujar Khanif tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya karena ia tidak ingin mama merasa khawatir. Apalagi jika sampai papa mengetahuinya. Ia tidak ingin kesehatan papa jadi terganggu karena hal ini.


"Alhamdulillah kalau gitu. Mama kira ada yang tidak beres."


"Ngga ada, ma. Oh, iya. Kenapa mama menelepon Khanif?"


"Mama punya berita yang cocok untukmu," seru mama Adelin antusias. Pasalnya, ini menyangkut masa depan anak laki-laki satu-satunya.


"Cocok?" beo Khanif sebagian.


"Iya cocok. Sepulang dari sana, ada yang ingin mama kenalkan sama kamu."


"Kencan buta lagi?" Tebak Khanif langsung.


Diujung tangga, seseorang terpaku mendengar perkataan Khanif. Khanif berbalik. Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan mata seseorang yang masih diam membatu diujung sana.


...To be continued ...


Semoga yang beri like/vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin. 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2