
Tidak terasa sudah lima tahun Khanif dan Rania mengarungi bahtera rumah tangga. Dalam kurung waktu itu juga, Rania masih setia menjadi sekretaris Khanif — berada di dekatnya saat dirumah maupun di kantor.
Tak ketinggalan pula, dimana ada Khanif, disitu pasti ada Rania. Seperti saat ini — mereka yang sedang berada di sebuah restoran untuk mengadakan rapat, bersama rekan bisnis Khanif yang baru.
"Farel, perkenalkan dia Rania, sekretaris saya," ujar Khanif seraya memperkenalkan Rania sebagai sekretarisnya.
Farel nama rekan bisnis Khanif tentu saja tersenyum pada Rania seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Namun bukannya berkenalan, Farel malah mengatakan, "hai, lama tidak bertemu." Ia kemudian melanjutkan ucapannya kembali seraya melihat Khanif. "Kami sudah kenal sejak beberapa tahun yang lalu, tapi baru sempat bertemu lagi."
"Kenal?" tanya Khanif tanpa sadar.
"He'em. Kami sama jurusan saat di bangku perkuliahan tapi beda tingkatan. Aku se-tingkat sama Zaky."
"Oh!"
"Lebih jelasnya, kami pernah bersama menjadi anggota pelaksana seminar di kampus, jadi bisa terbilang dekat," lanjut Farel menjelaskan.
"Tidak usah di jelaskan, saya juga tidak akan tau," ujar Khanif membuat Rania diam-diam tertawa.
"Apa kak Khanif cemburu?" tanya Rania dalam hati.
"Baiklah. Ada baiknya kita segera membahas kerja sama kita," ujar Khanif.
"Aku setuju."
Mereka bertiga pun duduk di kursi masing-masing. Dimana Rania duduk didekat Khanif, sedang Farel duduk diseberang mereka. Lebih tepatnya, Farel duduk didepan Khanif saat ini.
Setelah beberapa menit berlalu, rapat antara kedua pe-bisnis itu pun akhirnya dimulai juga.
Rania tentu saja sudah bersiap dari tadi. Ia bahkan sudah menyiapkan buku dan pena untuk mencatat hal-hal penting yang akan bicarakan nanti oleh Khanif dan Farel.
Semua berjalan lancar pada awalnya, dengan Khanif dan Farel yang membahas bisnis mereka dan Rania yang mencatat poin-poin penting dari rapat kali ini. Namun kelancaran rapat itu mulai terlihat tidak baik dalam beberapa menit kemudian.
Semua itu terlihat saat Rania mulai terlihat tidak nyaman mengikuti rapat pagi ini.
Bagaimana tidak, Farel sesekali mencuri pandang padanya. Ia seperti tengah menelisik perbedaan Rania dari terakhir kali yang pernah ia lihat beberapa tahun belakangan.
Rania terlihat lebih cantik dan mempesona. Bahkan Farel tanpa sadar menguji kecantikan Rania dalam hati.
"Farel ... Farel," panggil Khanif menyadarkan Farel yang mulai tidak fokus dengan pembicaraan mereka.
"Maaf, aku tidak terlalu memperhatikan perkataanmu barusan."
"Tak apa. Bisa kita lanjut lagi?"
"Tentu saja."
Mereka pun kembali melanjutkan rapat yang membahas bisnis mereka berdua. Hingga pada akhirnya rapat yang diadakan selama dua jam lebih itu akhirnya berakhir juga.
Tentu saja Rania sudah dapat bernafas lega saat ini karena dirinya bisa terbebas dari lirikan-lirikan mata Farel yang senantiasa melihatnya. Ia bahkan tanpa sadar menghembuskan nafas lega.
Setelah Farel berpamitan pada Khanif dan berjabatan tangan, Farel pun kini sedang menuju ke arah Rania untuk berpamitan juga. Namun sebelum itu, ia ingin memastikan sesuatu. Untuk itulah, ia ingin bertanya pada Rania.
"oh iya, Rania. Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, kak Farel tanya saja."
"Apa kamu udah nikah sama Zaky?"
Rania tentu saja tertawa kecil mendengar pertanyaan tak terduga itu
"Tidak. Aku hanya menanggap Zaky sebagai kakak saja tidak lebih."
"Jadi saat ini aku punya kesempatan dong," ujar Farel membuat Khanif terbatuk-batuk.
"Pak, Anda."
"Tidak apa-apa."
"Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu," ujar Farel sambil menjabat tangan Rania.
"Hem. Terima kasih telah datang di rapat ini," ujar Rania.
Sesaat Rania hendak melepaskan tangannya, tanpa disangka, Farel menyisipkan sebuah kertas ditangan Rania yang satunya.
Tentu saja hal itu membuat Rania terkejut bukan main.
Segera saja ia melihat Khanif. Takut Khanif melihat perlakuan Farel. Bukannya Rania takut kalau mereka akan ketahuan, tapi Rania takut kalau Khanif akan salah paham.
Ah, Rania dapat bernafas lega saat Khanif sepertinya tidak memperhatikan mereka karena saat Rania melihat Khanif, Khanif sedang melihat-lihat kembali berkas perjanjiannya dengan Farel.
"Emm, pak Khanif. Bisa kita pulang sekarang?" tanya Rania pelan.
"Hem."
Khanif pun mengambil berkas perjanjiannya dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pribadi di restoran.
Sesaat mereka telah ada di parkiran mobil, Rania merasa heran dengan tingkah Khanif.
Bagaimana tidak, Khanif langsung saja masuk ke dalam mobil tanpa membukakan pintu untuknya juga — seperti yang biasa Khanif lakukan.
"Bapak baik-baik saja, kan?" tanya Rania pelan.
"Hem. Kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa."
Setelahnya, tidak ada percakapan lagi yang terjadi setelah mereka sampai di kantor.
***
Sore harinya, Rania benar-benar dibuat bingung oleh sikap Khanif. Bagaimana tidak! Khanif seperti kembali ke sikap saat mereka baru pertama kali bertemu setelah sekian lama.
"Siapa kamu?" tanya Khanif membuat Rania mengernyit heran dengan dua kata dari pertanyaan Khanif barusan.
"Tentu saja sekretaris, bapak."
"Oh, jadi kamu sekretaris saya? Saya kira saya yang jadi sekretaris disini dan kamu adalah bos saya."
"Maaf, pak. Saya tidak sengaja membawa dokumen yang salah."
"Sudah. Kamu kerjakan yang lain saja."
"Iya, pak."
"Berhenti!" seru Khanif saat Rania hendak keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Ada apa, pak?"
"Bisa tidak kamu tidak memanggil aku bapak? Ingat, aku itu bukan bapakmu!"
Rania menatap Khanif tak percaya.
"Bapak sakit?"
"Aku bilang, aku bukan bapakmu."
"Terserah Anda saja. Kalau begitu saya permisi."
"Hei, aku belum selesai bicara."
"Tapi saya sudah. Sekian."
***
Malam harinya, sikap Khanif masih terlihat aneh di mata Rania. Bahkan semakin aneh saat menjelang mereka tidur bersama.
Tidak tahan lagi dengan sikap Khanif yang aneh, Rania lantas bertanya, "ada apa dengan kakak hari ini?"
"Saat rapat pagi tadi telah selesai, kakak lihat dia memberikan kamu secarik kertas. Apa tulisannya?" tanya Khanif langsung.
"Emm, dia ... dia ... dia menuliskan sebuah nama restoran dekat kantor."
"Em, lalu?"
"Dia mengajak ketemuan saat jam istirahat besok siang."
"Em, lalu."
"Ya, itu saja. Kalau kakak melarang, tak apa. Itu bukan hal yang penting kok."
"Itu pastinya penting. Kamu pergi saja."
"Kakak ngga marah? Cemburu?"
Khanif diam nan tersenyum simpul melihat Rania.
"Kakak punya rencana, ya?"
Lagi-lagi Khanif diam hingga membuat Rania penasaran.
Rania perlahan-lahan mendekat pada Khanif. Saat mereka tinggal beberapa inci lagi berdekatan, tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka — menampilkan dua sosok anak kecil yang berbeda usia.
"Mommy?" seru seorang anak kecil laki-laki berusia empat tahun.
"Popy?" Tak ketinggalan pula, seorang anak kecil perempuan berusia dua tahun juga memanggil Khanif dengan nada penuh kejutan.
Sontak saja Khanif mau pun Rania menjauh satu sama lain.
"Kenapa belum tidur, sayang?" ujar Khanif.
"Kami mau tidur sama mommy dan popy."
"Loh, kakak kan udah besar. Masa tidur sama mommy dan popy?" ujar Rania.
"Mau tidur sama mommy," seru si kecil bernama Kania.
"Raka juga mau."
"Baiklah. Kalian bisa tidur sama popy dan mommy, tapi untuk malam ini aja, ya," ujar Khanif.
"Yea ... ayo, kak Aka," ujar Kania yang masih belum terlalu pintar mengucapkan huruf R.
Kedua anak Khanif dan Rania sontak saja berlari ke tempat tidur — untuk bergabung dengan mommy dan popy-nya.
"Gagal lagi malam ini," ujar Khanif pelan, namun masih dapat didengar oleh Rania. Hingga membuat Rania tertawa diam-diam.
***
Keesokan harinya saat jam istirahat, Rania telah siap-siap untuk pergi bertemu dengan Farel. Ia pun hendak pergi ke ruangan Khanif untuk meminta izin. Namun langkah kakinya terhenti saat ia mendengar suara anak-anaknya memanggil dirinya.
"Mommy," seru Kania dan Raka.
Sontak saja hal itu membuat Rania berbalik belakang. Ia dapat dengan jelas melihat Kania, Raka dan mama Adelin berjalan ke arahnya.
"Sayang. Kenapa datang ke kantor?"
"Loh, bukannya Khanif bilang kalian berempat ingin makan siang bersama? Makanya mama bawa mereka kesini."
Belum juga Rania bersuara, pintu ruangan Khanif sudah lebih dahulu terbuka.
"Anak-anak kesayangan popy rupanya udah datang," seru Khanif berjalan mendekat ke arah mereka. "Terima kasih, ma udah membawa mereka kesini."
"Sama-sama. Nak. Baiklah, mama pulang dulu."
"Iya, ma."
Seperginya mama Adelin, Khanif lantas mengajak Rania untuk pergi ke restoran untuk makan siang bersama.
"Pantesan aku tanya kakak tadi malam, kakak diam saja. Ternyata ini rencana kakak."
Khanif terkekeh pelan. "He'em. Sudah sepantasnya Farel tau kalau kamu itu ibu dari anak-anakku, iya kan anak-anak."
Sontak saja Raka dan Kania mengangguk-anggukan kepala mereka meski tidak tau maksud dari ucapan Khanif.
Tidak lama setelah itu, Keluarga kecil Khanif pun bergegas menuju sebuah restoran yang telah dituliskan oleh Farel pada sebuah kertas untuk Rania kemarin.
Sesampainya mereka disana, Khanif lantas mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Farel.
"Dia ada disana," ujar Khanif pada Rania. "Ayo."
Mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke sosok lelaki berjas abu yang tidak jauh dari pintu masuk.
"Khanif!" seru Farel terkejut. Pasalnya, ia hanya mengundang Rania saja.
Ia lalu bergantian melihat Rania dan dua orang anak kecil yang ikut ke restoran ini.
"Kamu pasti telah menunggu lama," ujar Khanif.
Sedang Rania masih diam.
"Ayo, sayang kita duduk dulu. Sini Kania, sama papa," panggil Khanif bermaksud untuk memangku sang putri tersayang.
Rania dan Raka pun turun mengambil tempat duduk di meja itu.
__ADS_1
"Ka ... kalian pasangan suami istri?" tanya Farel.
"He'em."
Farel lantas melihat Rania. Ia seperti ingin memastikan kalau perkataan Khanif benar.
"Sejak kapan kalian menikah?"
"Lima tahun yang lalu, Iya-kan ma chérie?"
"Iya."
"Se ... selamat untuk kalian," katanya yang begitu canggung.
Lalu sedetik kemudian, ponsel Farel yang diletakkan diatas meja dekatnya, tiba-tiba saja berdering. Ia lalu mengangkat teleponnya itu.
"Emm, maaf sepertinya aku harus segera pergi. Aku punya urusan yang mendadak. Tidak apa kan?"
"Tidak apa. Kamu pergi lah," ujar Khanif.
"Semoga saja lain kali kita bisa makan siang bersama lagi. Baiklah. Aku pergi dulu. Kalian nikmati aja makan siang disini, aku yang bayar."
"Terima kasih atas tawaranmu ini, tapi kamu tidak perlu membayarnya."
"Tak apa. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf aku."
"Tidak perlu. Terima kasih."
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi."
Farel pun segera pergi dari sana.
Saat ia baru saja memasuki mobilnya, ia menumpukan jidatnya di stir mobil. Sungguh, ia begitu malu hari ini. Malu pada Rania terlebih pada Khanif. Bagaimana tidak, ia sudah terang-terangan tertarik pada istrinya.
Yah, ia akui. Ia tertarik pada Rania sejak ia berada di bangku perkuliahan, tapi ia tidak berani mendekati Rania karena melihat kedekatan Rania dan Zaky saat itu.
Hingga, saat kemarin ia menanyakan hubungan Rania dan Zaky, lalu tidak ada yang spesial terjadi di hubungan mereka, ia pun memberanikan diri untuk mendekati Rania karena mengira kalau sampai saat ini Rania masih sendiri.
Apalagi Rania masih terlihat cantik dan mempesona meski sudah mempunyai dua orang anak.
"Ah! Bodoh. Mana ada Rania masih menyendiri sampai saat ini ."
Farel mendongkak. Ia baru menyadari fakta ini.
"Ah, sudahlah. Semoga mereka bisa hidup bahagia selamanya," doa Farel sebelum melajukan mobilnya menuju kantornya sendiri.
***
Keesokan harinya, Khanif bangun begitu pagi. Ia bahkan tidak membangunkan sang istri yang masih tertidur lelap akibat kelakuannya semalam. Lagi pula waktu masih menujukkan pukul empat lewat. Masih belum terlambat untuk bangun sholat subuh.
Sesaat ia memandangi wajah ayu Rania. Ia bahkan dengan jahilnya memainkan bulu mata lentik Rania. Hingga membuat Rania sedikit bergeliat kecil. Tidak ingin membuat sang istri terbangun. Ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya.
Sebelum keluar kamar, Khanif kembali menoleh ke belakang. Ia sempat tersenyum melihat sang istri yang masih terlelap berada didalam selimut putih yang tebal. Lalu setelahnya, ia pun segera beranjak dari kamar menuju kamar anak-anaknya — melihat apakah mereka telah bangun atau tidak.
Khanif pertama pergi melihat kamar Raka - kamar anak pertamanya. Sesaat ia membuka pintu kamar, Khanif tersenyum lega karena sang anak pertama masih tertidur lelap. Ia lantas berjalan masuk. Membetulkan selimutnya, lalu mengecup pucuk kepala jagoan kecilnya.
Setelahnya, ia lalu berjalan keluar. Menutup pintu kamarnya lagi, lalu beralih pada kamar anak bungsunya – Kania. Nama yang sengaja ia ambil sebagai nama gabungan dirinya dan Rania.
Ia lantas membuka pintu kamarnya. Sama seperti Raka, Khanif melihat kalau putrinya ini masih tertidur lelap.
Ia tersenyum, lalu berjalan masuk ke dalam sang putri tersayang. Sesampainya disana, Khanif duduk di pinggiran tempat tidurnya.
Lalu mengusap-usap kepala sang putri dengan lembut nan hangat. Ia lagi-lagi tersenyum melihat wajah anak perempuan yang mirip wajahnya masih kecil. Jika bisa dikatakan, wajah Kania tidak ada bedanya saat ia saat kecil.
"Ehem," dehem Rania.
Khanif menoleh. Ia tersenyum melihat Rania yang kini berjalan mendekat.
"Kenapa kakak pergi tidak bilang-bilang?"
"Kakak hanya tidak ingin menganggu tidurmu, ma chérie."
"Mereka semua masih tidur?"
"Iya," ujar Khanif.
Rania lalu mengambil tempat duduk disamping Khanif.
"Kenapa juga ya, wajah Kania mirip dengan wajah kakak. Kenapa ngga mirip aku, aja?"
Khanif terkekeh pelan. "Itu pertanda, kamu sangat cinta sama kakak, makanya wajah perempuan anak kita mirip aku."
"Beneran? Ah masa sih?"
"Kamu ngga cinta kakak?"
Kini gantian Rania yang tertawa geli melihat wajah panik Khanif.
"Mana ada. Kalau ngga cinta, mana bisa Kania hadir didunia."
Khanif tersenyum.
"Tapi apa yang kakak katakan barusan itu beneran tidak?"
"Kakak hanya bercanda," ujar Khanif membuat Rania tertawa pelan. "Baiklah. Ayo kita pergi. Kita harus melanjutkan kegiatan yang semalam."
"Jangan modus lagi, ih."
"Kania kan udah gede. Udah bisa punya adik lagi."
"Kakak," kata Rania manja. Ia malu tentu saja.
Khanif pun berdiri dari tempat duduknya, lalu membawa Rania ke dalam pelukannya.
Rania yang masih malu-malu meski sudah mempunyai dua anak, masih saja menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Khanif.
Tentu saja Khanif tersenyum melihat kulakukan sang istri tercinta. Ia lalu membawa Rania masuk ke dalam kamar mereka kembali. Tentu saja untuk membuatkan Kania dan Raka adik lagi.
...SELESAI...
...*Aku akan menjadi matahari yang diam-diam akan menghangatkanmu dari dinginnya udara sejuk di pagi hari dan aku juga akan menjadi selimut di malam hari untuk menghangatkanmu. Apa kamu bisa merasakan sentuhanku? jika kamu sudah merasakannya, maka kamu sudah menjadi segalanya bagiku. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku berharap kita bisa tua bersama agar kita bisa menghirup udara pagi, agar kita bisa bercerita tentang sepi, agar cuma mautlah yang bisa memisahkan kita dan ku yakin bahwa kamu adalah takdirku selamanya."...
...•°•▪︎ Rania Dwi Syifa ▪︎•°•...
...*****°°°•••°°°°•••°°°°•••°°°•••*****...
Hai ... Hai, Cerita ini udah benar-benar selesai, yah. Terima kasih atas partisipasi kalian selama ini dan Jangan lupa juga untuk memberikan Like, Vote, Komentar dan Hadiah untuk ekstra bab ini.
__ADS_1
Gabung di grup aku juga, ya. Baiklah.
...By ... By ... By .......