
Selagi Davina berbicara dengan penjaga toko, Rania mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah sepatu untuknya juga. Namun saat dirinya tengah mendengarkan pandangannya ke rak-rak sepatu, tanpa sengaja ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.
Mencoba membenarkan apa yang tengah dilihatnya, Rania pun melangkahkan kakinya mendekati sosok yang coba ia kenali itu. Namun saat ia sudah mendekat, ia malah terlihat terkejut.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Bella disini. Bukannya ia tidak senang! Tentu saja ia senang dapat melihat Bella saat ini tanpa menunggu janji mereka. Namun pertemuan ini seperti mendadak baginya. Ditambah lagi ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Bella dan mama Adelin terlihat bercakap sangat akrab.
Ah, ia terlihat posesif saja. Belum jadi udah malah bersikap seperti ini. Eh! Tunggu! Memangnya Rania sudah punya hubungan? Rania tersenyum geli. Ada-ada saja dengannya pada hari ini.
Rania lalu dengan senyum yang mengambang mendekati Bella dan mama Adelin. Sesampainya didekat mereka, Rania pun menyapa Bella, "Bella!"
Bella yang memang menyerong disamping mama Adelin langsung saja menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Sontak ia tersenyum, melangkah sedikit lalu kemudian memeluk Rania dengan Rania.
"Rania!" Bella melepaskan pelukannya. "Aku ngga nyangka bisa bertemu kamu disini." Bella lalu kembali maju untuk memeluk Rania lagi. "Aku rindu!"
Rania terkekeh. Selalu seperti ini jika mereka tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama. Seperti saat mereka libur semester dulu dan kembali bertemu lagi.
"Aku juga. Aku ngga nyangka bakalan bertemu kamu disini."
"Nak Rania dan nak Bella udah saling kenal?" tanya mama Adelin saat melihat keakraban mereka.
Bella dan Rania lantas melepaskan pelukan mereka berdua. Lalu Bella menolehkan wajahnya pada mama Adelin untuk menjawab pertanyaan tadi.
"Iya, tan. Aku dan Rania teman se-ruangan saat dikampus dulu."
Mama Adelin tersenyum mengatahui hal itu. Ia lalu kembali mengatakan, "gimana kalau kita lanjut belanja lagi?"
Rania dan Bella pun kompak mengatakan 'iya' pada mama Adelin.
Mereka bertiga pun kembali berbelanja. Rania yang kembali ke dekat Davina sedangkan Mama Adelin dan Bella masih berada ditempat yang tadi seraya mencari alas kaki yang mereka sukai.
Beberapa menit kemudian, setelah mendapatkan apa yang mereka cari. Keempat wanita itu pergi ke restoran untuk memuaskan rasa lapar mereka dan untuk sekedar bercakap santai.
Sesampainya ke empat wanita berbeda usia itu disebuah meja, Bella langsung saja mengambil tempat duduk tepat disamping mama Adelin. Apa lagi kalau Bella sengaja untuk lebih dekat lagi dengan mama Adelin. Tentu saja jawabannya 'ya'.
Mereka pun mulai memesan makanan masing-masing. Sambil menunggu pesanan datang, mereka sedikit berbincang untuk menghilangkan rasa rindu yang sempat mereka rasakan. Terutama pada Bella dan Rania.
"Ra, kamu naik apa ke sini?" tanya Bella yang begitu penasaran.
Saat Rania hendak menjawab, Mama Adelin lebih dahulu menjawabnya, "nak Rania ikut sama tante. Ini aja tante yang jemput nak Rania dari kantor." Mama tersenyum kala mengingat kelakuannya tadi.
Bella hanya mampu ber-o ria mendengar penuturan mama Adelin. Ia seperti tidak suka saja mendengarnya. Bukannya ia yang sebagai teman tidak menyukai hal itu. Hanya saja, ia yang memang sudah lama menyukai Khanif dan berusaha mendekati mama Adelin sejak lama tiba-tiba merasa mempunyai sebuah kendala bila ingin lebih mendekati keluarga ini dengan hadirnya Rania ditengah-tengah mereka.
Ia teringat, sejak dulu ia selalu berbicara tentang Khanif pada Rania, Rania tidak pernah mengungkit kedekatannya dengan Khanif saat mereka masih kuliah dulu. Bahkan dengan antusiasnya ia membahas tentang Khanif beberapa kali padanya, Rania tetap saja tidak pernah bercerita tentangnya. Tapi mengapa sekarang Rania jauh lebih terlihat dekat dengan keluarga Khanif? Terutama pada mama Adelin!.
Hal itu sungguh membuat Bella heran. Sejak kapan Rania dekat dengan keluarga Khanif? Apa karena setahun belakangan ini ia tidak pernah tahu keadaan Rania? Dimana Rania berkerja dan sudah mempunyai sebuah hubungan dengan seseorang atau tidak?
Ah, ia terdengar seperti seseorang yang mempunyai keingintahuan yang tinggi tentang pribadi seseorang! Tapi jika tidak menanyakannya, ia akan selalu penasaran apa yang telah terjadi selama setahun belakangan ini.
"Ra!" panggil Rania yang duduk tetap didepannya.
Rania yang memeriksa aplikasi sosial medianya pun mendonggakkan kepalanya melihat Bella. "Ya?"
"Kamu kerja dimana selama ini?"
"Itu, aku kerja di ...."
Lagi-lagi mama Adelin memotong pembicaraan mereka dengan menjawab pertanyaan Bella. "Nak Rania kerja di perusahaan tante."
"Jadi Rania sekantor dong tan dengan kak Khanif."
"Tentu saja."
__ADS_1
Jawaban yang diberikan oleh mama Adelin membuat Bella tidak terkejut lagi karena jawab itu sudah ia duga sebelumnya. Hanya saja, Bella ingin Rania yang langsung menjawabnya bukan mama Adelin. Jika sudah seperti ini, Bella seperti ingin diam saja dan tidak bertanya apa-apa lagi dan hanya menunggu sampai makanan tiba saja.
Namun sepertinya ia salah karena mama Adelin kembali mengajaknya berbincang dengan bertanya. "Nak Bella ambil jurusan apa waktu kuliah?"
Seperti angin segar, hati Bella kembali menghangat. "Bella ambil jurusan manajemen bisnis, tan."
"Nak Bella kan baru aja lulus, mau kerja dimana? Apa udah dapat?"
"Belum tau, tan. Bella sedang mencari."
"Coba tante tanya Khanif, siapa tau anak tante punya lowongan pekerjaan di kantor."
Bella langsung saja tersenyum merekah. Bagaimana tidak, itu artinya ia bisa lebih dekat dengan Khanif dan pastinya bisa tambah dekat dengan mama Adelin. Memikirkan segala kemungkinan itu membuat Bella bahagia. Bahkan lebih bahagia saat ia sudah kembali ke indonesia.
"Bisa tan," jawab Bella antusias.
"Baiklah. Nanti tante tanyakan."
Tidak dalam setelah perbincangan itu, pesanan mereka semua telah tiba. Mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing. Saat makan yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu. Mereka makan dengan tenang hingga makanan mereka semua tandas tidak tersisa.
Baru setelah itu, ke empat wanita itu kembali membuka percakapan sambil menunggu makanan yang telah mereka makan tadi benar-benar telah sampai ke dalam pencernaan dengan baik.
"Tante senang kita bisa kumpul seperti ini. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi."
"Iya, ma. Mama benar. Mungkin kita bisa mengajak kak Khanif juga," seru Davina.
"Anak itu terlalu kaku kalau jalan sama kita."
"Mama benar. Mungkin kak Khanif akan menolak ajakan mama," kekeh Davina.
"Mungkin juga tidak, tan. Kenapa ngga coba dulu," celetuk Bella tiba-tiba.
"Iya, ma," ujar Davina.
Saat mama hendak berdiri dari tempat duduknya, Bella tiba-tiba bersuara, "tan, Rania pulangnya sama Bella ya."
"Kalau nak Rania mau, tante ngga bisa larang."
"Ra," ujar Bella menoleh pada Rania yang sudah menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Kalian hati-hati. Kalau gitu tante sama Davina pulang duluan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Rania dan Bella kompak.
Seperginya mama Adelin dan Davina, Bella pun mengajak Rania kembali ke tempat Davina membeli sepatu tadi.
"Kita mau kemana?"
"Ke tempat Davina membeli sepatu."
"Kenapa mau kesana lagi?" tanya Rania heran. Pasalnya mereka tadi sudah mengunjungi toko sepatu ini.
"Ada sepatu lars panjang wanita yang menarik perhatianku. Seperti di drama korea gitu."
"Aku kira kamu udah berubah, ternyata belum," kekeh Rania. "Baiklah, ku antar"
Bella pun mengangguk antusias. Mereka berdua lalu pergi kembali ke toko sepatu yang telah mencuri perhentian Bella. Sampainya mereka disana, Bella bergegas masuk ke toko dan langsung menuju rak sepatu yang memamerkan sepatu-sepatu lars wanita seperti sepatu yang ada di drama yang masih suka ia nonton.
"Ah, akhirnya ketemu," ujarnya sambil mengambil sepasang sepatunya. "Gimana, cantikkan!"
"Iya, pilihanmu memang bagus."
__ADS_1
"Biar ku coba dulu." Bella pun berjalan ke sebuah kursi untuk mencoba sepatunya. Namun belum juga ia sampai, ia malah memberikan sepatu pilihannya pada Rania dan kembali berjalan ke rak-rak sepatu yang tadi.
Rania mengernyit heran saat melihat Bella kembali ke arahnya dengan membawa sepasang sepatu lagi.
"Kamu mau beli dua pasang?"
"Ngga," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Aku memilihnya untukmu. Kamu coba aja dulu. Siapa tahu cocok."
"Tidak, ah. Aku tidak terlalu suka dengan seperti gaya seperti itu."
"Coba aja dulu. Bagus loh ini. Please, mau ya ... ya ...."
"Baiklah."
Bella pun memberikan sepatu lars yang didapatnya kepada Rania. Sesampainya mereka di sebuah kursi, mereka berdua mencoba sepatu masing-masing. Bella mencobanya dengan antusias. Ia bahkan mencoba sepatunya dengan berjalan-jalan kesana kemari.
"Aku akan membeli sepatu ini," ujarnya senang karena sepatu yang ia incar ternyata pas juga dikakinya.
Bella lalu berjalan ke arah Rania untuk menyuruh Rania agar ikut berjalan dan mencoba sepatu yang tadi dipilihkannya, apakah cocok atau tidak.
"Coba jalan deh, Ra. Siapa tau kamu cocok dan nyaman."
Rania mengangguk. Ia pun mulai berjalan seperti kata Bella. Namun baru beberapa langkah, ia merasa kalau sepatu yang tengah ia pakai ini kekecilan. Rania lantas kembali duduk.
"Kenapa?" tanya Bella melihat Rania yang menghentikan langkah kakinya.
"Kakiku sakit. Seperitnya kekecilan deh!" Rania lantas mengangkat kakinya untuk memperlihatkan ukuran sepatu yang dipakainya pada Bella. "Bel, tolong lihat nomor ukuran sepatunya, dong!"
"Baiklah." Bella maju untuk melihatnya. "Em, nomor sepatunya ukuran tiga delapan, Ra."
"Pantesan kakiku sakit. Nomornya tiga delapan," ujar Rania sambil tersenyum lucu karena tidak melihat ukuran sepatu dan langsung saja memakainya.
"Aku ngga jadi, Bel. Kamu aja, ya!"
"Iya."
Rania pun hendak melepaskan sepatunya. Namun Rania mengernyit heran saat sepatu yang dikenakannya ini sangat sulit untuk ia lepaskan.
"Kenapa?" tanya Bella lagi.
"Ngga mau lepas!"
"Sini ku bantu." Bella pun ikut membantu Rania. Tapi ia lagi-lagi susah juga.
"Hah, ngga mau lepas."
Rania hampir saja menangis kalau tidak mendengar suara dari pintu masuk.
"Kenapa sepatunya tidak mau lepas?"
Sontak Rania dan Bella beralih ke sumber suara. Mereka sama-sama terkejut dengan siapa yang mereka lihat didepan mereka.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1