Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 136. Punya Porsinya Masing-masing


__ADS_3

Hari telah senja saat Reyhan mengantar Rania pulang ke vila. Ia mengantarnya memakai mobil jeep yang tadi di pinjam oleh macau entah kemana. Reyhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun keadaan didalam mobil begitu hening karena Rania tengah marah padanya.


Tidak ingin membuat adiknya semakin marah, akhirnya Reyhan memilih mengalah.


"Masih marah sama kakak?"


Rania diam, tidak ingin menanggapi perkataan Reyhan.


"Baiklah, kakak mengaku salah."


Setelah Reyhan mengatakannya, barulah Rania menolehkan wajahnya.


"Kakak memang salah. Kakak tidak seharusnya memarahi Macau seperti itu. Dia kan tidak sengaja pulang lama. Kan, kakak tau sendiri kalau Rania tadi diantar sama pak Khanif bukannya orang lain," ujar Rania.


"Ya, kakak akui. Tapi kakak sengaja melakukannya karena kakak khawatir terhadap anggota kakak yang tidak memberikan kabar setelah sekian lama pergi."


"Harus seperti itu juga?" tanya Rania tak percaya dengan mulut yang terbuka.


"Harus, kami para lelaki telah banyak melakukan aksi penyelamatan dan berbagai keadaan lainnya yang menyebabkan musuh-musuh kami, yang masih bebas berkeliaran dan masih menyimpan dendam pada kami. Bisa saja keadaan yang tidak pernah kami inginkan malah terjadi di keadaan yang tidak tepat. Jadi, kakak sebagai kapten mereka, harus mengetahui kemana mereka pergi selama masa tugas sehingga keadaan yang tidak kami inginkan itu, bisa kami minimalisir dan mengetahui keadaan mereka itu sudah kewajiban kakak sebagai kapten," jelas Reyhan panjang lebar. "Lagi pula, memberinya hukuman lari beberapa kilometer saja itu sudah terbilang hukuman yang mudah."


Rania mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Ia kini paham mengapa kakaknya berlaku tegas pada anggotanya. Ini karena kakaknya sangat mencemaskan para anggotanya. Apalagi dengan banyaknya keadaan yang pernah mereka alami, tidak menutup kemungkinan ada beberapa dari musuh mereka yang ingin membalas dendam.


"Rania minta maaf karena telah salah paham sama kakak."


"Tak apa. Malah kakak bersyukur karena dengan begitu membuat kakak tidak terlalu khawatir lagi padamu selama disini."


"Kenapa?"


Reyhan tersenyum. "Karena adik sudah mendengar cerita kakak, maka selama 24 jam, adik harus memberitahu keberadaan adik pada kakak selama disini."


"Kakak, aku bukan salah satu anggota kakak."


"Ya benar. Tapi adik adalah adik yang paling kakak sayangi. Jadi, tidak ada kata menolak. Ini adalah perintah."


"Ya, ya. Baiklah kapten. Kalau begitu aku adalah merak dalam keanggotaan kapten," kekeh Rania.


"Sangat cocok."


Mereka berdua pun sama-sama tertawa pelan.


Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka telah tiba di vila. Setelah bercakap sebentar pada petugas gerbang, Reyhan kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam vila. Disana, terlihat Davina dan wanita lainnya berada ditaman kecil menikmati teh hangat sambil berbincang santai. Rania dan Reyhan pun pergi menghampiri mereka semua


"Ehem. Boleh kami ikut gabung?" tanya Rania yang sebenarnya tidak perlu karena tanpa disuruh pun ia bisa ikut bergabung.


Davina menoleh. Ia tersenyum melihat Rania telah tiba. "Sini, duduk bersama kami. Aku dari tadi nungguin kamu." Davina lalu beralih pada lelaki berjaket loreng samping Rania. "Rey, ikut gabung sama kami juga."


Reyhan tersenyum yang membuat Lisa yang dari tadi memperhatikan dirinya jadi terpesona.


"Terima kasih, tapi aku hanya mengantar Rania saja. Baiklah kalau begitu, aku tidak akan menganggu perbincangan kalian lagi." Reyhan lalu beralih pada Rania. "Kakak pulang dulu. Kalau ada waktu, kakak akan membawamu jalan-jalan."

__ADS_1


"Hem. Rania tunggu, kakak."


"Kakak pergi dulu."


Reyhan pun berlalu dari sana, sedang Rania mulai ikut dalam perbincangan hangat disore yang mulai terasa sangat dingin.


"Hari ini kita masih bisa nikmati suasana sesantai ini, tapi besok jangan ditanya lagi," ujar Davina.


"Iya, mbak. Enak Rania udah jalan-jalan duluan," kata Lisa cemberut.


"Kalian nanti juga bisa jalan-jalan setelah peresmian vila selesai."


"Pasti seru," ujar Lisa lagi. "Aku tidak sabar lagi."


"Kamu kayak kurang kerjaan banget," komentar Farah. "Belum juga peresmian, udah kebelet mau jalan-jalan."


Lisa kesal. Ia melihat tidak suka pada Farah. "Biarin. Dari pada kamu. Mau bilang tapi ngga bisa!"


"Sudah kalian tidak perlu bertengkar. Semuanya punya porsi masing-masing kok," lerai Davina.


"Hem. Dulu aku sama seperti kalian. Selesaikan perkerjaan dulu baru jalan-jalan."


"Tapi Rania," ujar Lisa sambil menunjuk Rania.


"Dia berbeda. Disini, Rania punya seseorang yang biasa mengajaknya jalan-jalan," ujar Davina.


"Kamu kenapa sih, selalu nargetin aku kalau bicara."


"Ya, ngga papa sih. Cuma kepengen aja."


"Sudah-sudah kalian. Lebih baik kita nikmati teh hangat ini aja. Jarang loh kita ada kesempatan kayak gini," lerai Rania.


"Dia yang mulai," tunjuk Lisa pada Farah. "Aku kan cuma ingin mengatakan apa yang terlintas dipikiranku," terang Lisa. "Kalau tidak suka, kan bisa diam saja."


Davina yang melihat keadaan mulai tidak terkendali, akhirnya merubah topik pembicaraan.


"Kalau begitu, mari kita lupakan pembicaraan barusan." Davina tersenyum.


"Aku setuju, mbak," ujar Lisa berkata paling pertama disusul oleh Rania dan Farah.


"Baiklah. Pertama, aku ingin tau bagaimana pendapat kalian tentang perjalanan kesini dan tanggapan kalian tentang vila ini. Kita bisa mulai dari Farah."


"Emm, aku ... dalam perjalanan kesini, tentu saja rasa lelah itu aku rasakan, bahkan aku sempat berkata sama mbak Davina kalau sesampainya disini aku ingin langsung beristirahat saja. Tapi, lagi perkataanku itu tidak dapat aku tepati sendiri karena melihat keindahan vila ini," ujar Farah memberi jeda sebentar untuk melihat reaksi dari ketiga wanita disamping dan depannya.


"Aku rasa kalau aku seperti ada diluar negeri saja. Aku bahkan begitu takjub dengan pemandangan yang ada disini dengan kabut yang semakin memperindahnya. Tapi .... tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Lisa tidak sabaran.


"Jika tau dinginnya akan seperti ini, aku akan membawa banyak baju hangat," lanjut Farah seketika membuat Lisa jadi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Makanya, kalau ada yang dikatakan sama mbak Davina itu dilakukan."


"Tak apa. Nanti juga kamu akan terbiasa," ujar Davina. "Baiklah, kini giliran Lisa."


"Iya mbak," ujar Lisa. "Sama seperti Farah, dalam perjalanan kesini, aku juga merasakan lelah yang sangat luar biasa."


Tanpa Lisa ketahui, Farah tersenyum menyejek saat mendengar Farah mengatakan perkataan yang sama dengannya.


"Tapi semua rasa lelah itu seketika lenyap begitu saja setelah melihat keindahan alam yang ada di vila ini. Aku tidak menyangka, aku dapat menginjakkan kaki disini. Ditempat yang pastinya banyak orang impikan. Pokoknya, mbak. Tidak sia-sia deh, kita berkendara selama berjam-jam kalau perasaan lelah itu terbayarkan," ujar Lisa mengakhiri.


"Respon kalian baik-baik semua. Aku senang kalian berdua memberikan respon yang positif. Aku kira tadi kalian akan berkata yang sebaiknya."


"Mbak Davina bisa saja," ujar Farah.


"Baiklah sekarang giliran Rania."


Saat Rania hendak memulai berkata pendapatnya tentang perjalanan dan vila ini, tiba-tiba saja Lisa menyahut.


"Kalau Rania ngga usah ditanya lagi, mbak. Pasti perasaannya sama kayak kita. Iya kan, Ra?"


"Iya, benar. Aku rasa aku tidak perlu bercerita lagi, mbak."


Davina tersenyum. "Baiklah. Aku akan menganggap perkataanmu, sama seperti perkataan mereka tadi," ujar Davina. "Jadi secara keseluruhan kalian menyukai tempat ini. Aku begitu senang saat mengetahuinya. Terima kasih telah memberikan dukungan kalian," kata Davina. Ia kemudian berkata, "sepertinya, cuaca makin dingin saja. Sebaiknya kita masuk."


Mereka semua langsung mengangguk. Perlahan, mereka semua pun berlalu masuk ke dalam vila. Rania yang berjalan paling akhir, begitu terkejut saat Khanif - entah dari mana memanggil namanya.


Rania lantas membalikkan badannya. Ia melihat Khanif berjalan mendekat ke arahnya, dengan membawa sebuah syal rajut yang indah.


"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Rania setelah Khanif sampai didekatnya.


"Hanya ingin memanggilmu saja," ujar Khanif.


Namun tanpa disangka, Khanif malah membuat Rania terkejut lagi dengan mengalungkan sebuah syal rajut dileher Rania.


"Pakailah saat kamu hendak keluar vila. Daerah sini sangatlah dingin."


"Te ... terima kasih, pak."


"Hem."


Khanif lalu berjalan duluan meninggalkan Rania yang masih mematung ditempat.


"Tunggu!" seru Rania setelah tersadar.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2