Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 184. Hadiah Terbaik


__ADS_3

Keesokan harinya, Khanif kembali masuk ke kantor. Ia kembali memeriksa dokumen tiap divisi yang tidak ia selesaikan kemarin karena perkataan Davina.


Sesekali ia juga melirik ponselnya yang tidak ada kabar sedikitpun dari Rania. Padahal, ia sudah mengirimkan Rania pesan whatsapp sejam yang lalu. Namun sampai saat ini, belum juga ada tanda-tanda kalau pesannya akan segera dibalas.


Ah, sudahlah. Sepertinya mengirimkan Rania pesan bukanlah cara yang terbaik.


Ia pun menutup sebuah dokumen didepannya, lalu mengambil ponselnya. Lalu setelahnya, ia pun menyandarkan tubuhnya setelah ia mendial nomor telepon Rania.


Beberapa menit kemudian, terdengarlah salam seseorang dari seberang sana.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Ini aku Khanif."


"Iya, pak Khanif ada apa?" tanya Rania menyengaja.


"Tiga hari lagi."


Rania yang tau apa yang Khanif maksud dengan perkataannya barusan, lantas cepat-cepat menjawab.


"Iya, iya, maaf. Aku cuma bercanda aja, kok. Ada apa kak?"


"Ada apa?" beo Khanif tidak menyangka.


"He'em. Kenapa kakak meneleponku?"


"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?"


"Oh, itu. Aku ngga lihat kak. Ini aja aku baru pegang ponsel."


"Kok bisa?"


"Tadi Aku lagi mencoba baju pengantin. Jadi, baru sekarang bisa megang hp."


Mendengarnya, membuat Khanif mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa sadar.


"Kalau begitu tunggu aku disana. Aku mau lihat kamu pakai baju pengantin."


"Tidak!" seru Rania keras nan tanpa sadar hingga membuat orang-orang yang ada di butik pakaian pengantin itu menolehkan wajahnya kepadanya.


Tau hal itu, Rania hanya dapat tersenyum kecil pada mereka.


Ia pun lalu kembali melanjutkan perkataannya pada Khanif.


"Kakak ngga boleh datang kesini. Apalagi mau nemuin aku. Kata mama, kita ngga boleh ketemu sebelum acara akad nikah."


"Baiklah," ujar Khanif pelan.


"Oh, iya. Apa yang ingin kakak katakan sampai menelepon aku?"


"Hanya ingin mendengar suaramu saja. Apa tidak boleh?" ujar Khanif yang sebenarnya ingin memberitahukan perihal hadiah yang ingin diberikannya pada Rania. Namun ia tidak jadi mengatakannya karena ia ingin hadiah yang akan diberikannya pada Rania nanti, bisa menjadi sebuah hadiah yang tidak Rania disangka.


"Dasar tukang gombal. Baiklah. Aku tutup dulu teleponnya."


"Hem."


Setelahnya, Rania dan Khanif menyudahi percakapan singkat mereka lewat telepon.


***


Sore harinya, semua pekerjaan Khanif telah selesai. Mulai dari memeriksa dokumen dari berbagai divisi sampai memeriksa proposal bisnis yang ingin dikembangkan oleh divisi perencanaan.


Semua pekerjaan Khanif telah selesai. Untuk itu, Khanif pun bersiap-siap akan pulang sekarang.


Setelah mengabarkan pada Davina kalau ia akan cuti mulai sore ini, Khanif pun dengan perasaan lega meninggalkan ruangnnya yang telah menjadi saksi bisu dalam mengembangkan usahanya ini.

__ADS_1


Sesampainya Khanif di parkiran mobilnya, ia lantas masuk ke dalamnya dan melajukan mobilnya menuju rumah Rania untuk memberikan hadiah yang telah ia belikan kemarin.


Namun saat dipertengahan jalan, ia tiba-tiba merubah arah laju mobilnya menuju rumah sendiri karena ia baru tersadar kalau dirinya dan Rania tidak dapat bertemu lagi.


"Hampir saja," katanya pelan.


---


Sesampainya ia dirumah, lagi dan lagi Khanif melihat sang adik sedang berolahraga. Ia lantas mendekatinya untuk meminta tolong padanya.


"Kakak mau minta tolong apa?" tanya Jihan menghentikan olahraganya.


"Sebenarnya tidak minta tolong semua sih karena kakak akan mengantarmu kesana."


"Kesana mana?"


"Rumah calon kakak iparmu."


"Eh, bukannya kakak ngga boleh bertemu lagi, ya?"


"Makanya kakak minta tolong sama kamu agar ikut dengan kakak kerumahnya."


"Kakak mau apa sih?"


"Kakak mau memberikannya sesuatu. Cepat gih, kamu bersih-bersih diri, lalu ikut dengan kakak."


"Iya, iya, iya. Baiklah."


Jihan pun segera berlalu masuk ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya.


Sekitar lima belas menit kemudian, ia pun kembali lagi pada Khanif.


"Ayo, kak. Aku udah siap."


"Hem."


"Kakak mau beri apa sama kak Rania?" tanya Jihan begitu penasaran.


"Sesuatu."


"Iya, sesuatunya itu apa? Jangan kayak macam lagu deh kak."


"Kakak mau berikan dia bingkisan."


"Isinya apa?"


"Jilbab."


Jihan lantas hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka tiba juga di rumah Rania. Namun Khanif hanya didalam mobil saja menunggu Jihan mengantarkan bingkisan-nya untuk Rania.


Jihan yang sudah masuk ke halaman rumah Rania, kembali menoleh ke belakang dan memberikan kode jempol pada Khanif untuk mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Setelahnya, Jihan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju rumah Rania.


Belum juga ia sampai disana, dirinya dikejutkan dengan suara seseorang di belakangnya.


"Cari siapa?"


Sontak Jihan membalikkan badannya melihat siapa yang telah menahan langkah kakinya dengan mengatakan dua kata barusan.


"Aku ... aku cari kak Rania. Kak Rania-nya ada kan?"


"Ada. Ada perlu apa kamu mencari adik aku?" tanya Reyhan yang ternyata mendapati Jihan.

__ADS_1


"Kamu kakak-nya, kak Rania? Maaf aku tidak tau."


"Tak apa. Kalau boleh tau, kamu siapa?" tanya Reyhan.


"Perkenalkan aku Jihan. Aku adiknya kak Khanif."


"Oh, maaf. Aku kira siapa. Rania ada didalam. Kamu masuk saja," ujar Reyhan.


"Iya, kak."


Jihan pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Rania. Dalam perjalanan yang lumayan dekat itu, tak ayal membuat jantung Jihan berdetak lebih cepat dikarenakan Reyhan yang seperti tengah mengintrogasi dirinya.


Ia tau kalau keluarga Rania berasal dari keluarga militer. Untuk itulah, ia rada-rada deg-degan saat ditanya seperti itu sama Reyhan 


Namun sebenarnya, Reyhan tidak bermaksud untuk menakuti Jihan. Ia hanya bertanya siapa Jihan agar ia tidak kecolongan lagi seperti hari-hari yang telah lalu.


Bisa sajakan Jihan salah satu suruhan Alex. Apalagi, Reyhan baru pertama kali melihat Jihan datang disini.


---


Jihan yang sudah ada didepan pintu rumah Rania lantas mengucapkan salam.


Lalu tidak lama setelahnya, orang yang ingin ia temui akhirnya keluar juga.


"Wa'alaikumsalam," salamnya balik. "Jihan. Silakan masuk dulu."


Jihan lantas menganggukkan kepalanya.


"Ada perlu apa kamu datang kesini?" tanya Rania setelah mereka duduk.


"Aku cuma mau memberikan bingkisan ini, kak. Ini dari kak Khanif untuk kakak. Semoga kakak terima, ya," ujar Jihan sengaja berkata seperti itu diakhir katanya jika mengingat Rania tidak pernah menerima traktiran apapun.


"Apa ini?"


"Kakak lihat saja nanti. Baiklah, kalau begitu Jihan pamit pulang, soalnya kasian kak Khanif hanya menunggu di jalan aja, kak."


"Loh, aku kira kamu datang sendiri kesini."


"Rencananya gitu sih, kak. Cuma kak Khanif malah maksa, jadinya kak Khanif mengantar aku hanya sampai didepan aja," jelas Jihan. "Baiklah kak. Kalau gitu aku pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati dijalan, ya."


"Iya, kak. Ntar aku beritau kak Khanif juga."


Setelah Jihan berlalu dari rumah, Rania pun kembali ke dalam kamarnya untuk membuka bingkisan yang telah dibawa oleh Jihan tadi.


Sungguh, Rania tidak menyangka isi bingkisan yang dibawa oleh Jihan tadi berisi beberapa lembar jilbab bermotif.


Rania lantas mengambil salah satunya dan mencobanya kemudian.


"Masya Allah," ujarnya dalam hati. Ia tersenyum sendiri melihat pantulan dirinya di cermin.


Semenit kemudian, ia kembali melepas jilbab pemberian Khanif, lalu beralih mengambil tas selempangnya dan keluar dari kamar dengan berlari kecil.


"Sayang kamu mau kemana?" teriak mama saat mendapati Rania berlari keluar dari rumah dan langsung menuju mobil sang suami.


"Rania ada keperluan yang mendesak, ma. Rania pergi dulu, ya. Assalamualaikum."


Rania pun segera berlalu dari rumah, hingga membuat mama merasa cemas.


...To be continued ...


Semoga yang berikan like,.vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2