Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 124. Harapan Baru


__ADS_3

Hai, maaf ya baru bisa up lagi dikarenakan beberapa hari ini jari jempol aku sakit, jadi ngga bisa terlalu lama ngetik ceritanya.


Semoga dengan bab baru ini, kalian akan terhibur. selamat membaca.


...***...


Baru saja beberapa menit Khanif meninggalkan Rania, Rania sudah berubah mood lagi! Bahkan ini jauh lebih parah dari pada tadi!


"Kamu kenapa?" tanya Khanif penasaran setelah beberapa menit ia melajukan mobilnya.


Rania menoleh. "Bapak yang kenapa!"


"Hah?" Aneh! Itulah hal yang dirasakan oleh Khanif.


"Ini es krim mochi kamu. Saya tidak tahu rasa kesukaan kamu, jadi saya membelikan kamu semua rasanya," ujar Khanif menyodorkan kantung plastik berisi es krim kesukaan Rania.


"Terima kasih."


Rania pun mengambil es krim mochi secara acak. Sedetik berikutnya, ia membukanya dan langsung saja memakan mochinya. Khanif yang melihatnya pun hanya dapat tersenyum. Biar bagaimana pun, Khanif yakin kalau Rania bersikap seperti itu pasti ada alasannya.


"Bagaimana rasanya? Enak?"


"Em," gumam Rania yang tidak bisa menjawab Khanif karena mulut yang terisi es krim mochi.


Khanif terkekeh. Mungkin ini saatnya ia bertanya perubahan sikap Rania barusan padanya. "Oh, iya. Kenapa kamu tiba-tiba jadi diam seperti tadi?"


"Ah, itu. Bapak yang kenapa."


"Apa?"


"Iya. Ternyata bapak punya janji sama kak Tasya, tapi malah mengantar saya pulang. Bukannya itu tidak baik?"


"Apa katamu?" tanya Khanif tidak mengerti. Pasalnya, ia tidak mempunyai janji pada Tasya, tapi apa ini? Rania malah mengatakan hal tidak akan terjadi itu.


"Iya, janji."


"Dari mana kamu dapat info palsu itu?"


"Sudahlah, saya tidak mau membahasnya lagi. Lebih baik saya menikmati mochi ini."


"Katakan saja, supaya saya bisa jelaskan dan membuat kamu tidak salah paham."


"Hah! Untuk apa juga saya salah paham?"


"Tidak, maksud saya, saya hanya ingin tau saja."

__ADS_1


Rania menghela napas sebentar sebelum ia menjelaskan apa yang terjadi saat Khanif pergi tadi.


Beberapa detik setelah Khanif pergi, ponsel yang di taruhnya di holder dasboard mobil tiba-tiba berdering. Rania lantas melihatnya. Dalam panggilan itu, tertera nama tante Adelin dilayar ponsel Khanif.


Rania pun mengabaikannya karena ia rasa ia tidak perlu mengangkatnya, sebab ia merasa tidak sopan saja mengangkat panggilan yang bukan di tujukan untuknya.


Namun setelah beberapa saat Khanif tak kunjung kembali dan ponselnya terus saja berdering, mau tak mau membuat Rania terpaksa mengangkatnya karena ia mengira kalau tante Adelin pasti punya sesuatu yang mendesak untuk dikatakan.


Biarlah ia mengangkatnya dulu, lalu nanti ia akan memberitahukan Khanif apa yang dibicarakan tante Adelin.


"Khanif, kenapa kamu tidak pergi sama nak Tasya?" tanya tante Adelin tiba-tiba membuat Rania terkejut dan tidak tau harus menjawab apa.


"Bukannya tadi mama sudah setujui kalau kamu bisa pergi sama nak Tasya? Kenapa kamu malah tidak pergi. Huft, sayang. Mama hanya ingin melihatmu bahagia, itu saja. Makanya mama menyetujuinya. Kamu pergi mengajaknya makan malam, kan!" ujar tante Adelin panjang lebar tanpa tahu siapa yang menerima telponnya.


Merasa mama Adelin sudah berbicara panjang lebar, namun tidak mendapat respon cepat dari Khanif seperti biasanya, membuat mama heran. Mama lantas memanggil nama Khanif untuk memastikan kalau Khanif mendengar suaranya.


"Sayang, Khanif ... Khanif?"


"Emm ... tante, maaf ini Rania. Pak Khanif sedang ke mini market membeli sesuatu," kata Rania begitu sungkan, sebab ia merasa bersalah karena telah mendengarkan perkataan mama Adelin yang ditujukan untuk Khanif.


"Oalah, ternyata nak Rania. Aduh, maaf ya, nak Rania. Nak Rania pasti sudah mendengarkan perkataan aneh dari tante."


"Ngga papa kok, yang malahan Rania yang harusnya merasa minta maaf karena Rania sudah mendengarkan ucapan tante," ujar Rania tidak enak pada mama Adelin.


"Wa'alaikumussalam."


***


"Harusnya pak Khanif mendengarkan perkataan tante Dahlia. Biar bagaimana pun, pastinya tante Adelin ingin melihat pak Khanif bahagia."


"Lupakan saja apa yang telah kamu dengar dari mama saya," kata Khanif singkat.


"Kalau begitu, kenapa pak Khanif malah mengantar saya pulang padahal sudah punya janji dengan kak Tasya?"


"Siapa bilang saya punya janji dengannya!"


"Bukannya tadi siang kak Tasya datang ke kantor untuk membuat janji temu sama pak Khanif?"


"Saya tidak menyetujuinya dan ... saya tidak mempunyai janji dengannya!" tegas Khanif. "Kita sudah sampai!" ujar Khanif membuat Rania melihat sekelilingnya. "Saya harap kamu bisa melupakan ucapan mama saya tadi."


"Saya akan berusaha," respon Rania. "Baiklah, terima kasih atas tumpangan pak Khanif."


"Hem, sama-sama."


Rania pun melepaskan sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil Khanif. Rania tidak lantas masuk ke dalam rumah. Ia ingin menunggu sampai Khanif pergi. Namun Khanif yang mengetahuinya pun menyuruh Rania masuk duluan saja.

__ADS_1


"Gih, masuk."


Rania mengangguk. "Bapak hati-hati dijalan."


"Ya, selamat malam."


"Selamat malam." Rania pun bergegas masuk ke dalam rumah.


Khanif baru melajukan mobilnya setelah ia tidak melihat Rania lagi. Ia melajukan mobilnya menuju apartemennya. Bukannya ia tidak ingin mendengarkan saran mama. Namun ia hanya ingin mengistirahatkan dirinya sejenak dari desakan mama yang selalu saja menghantuinya.


***


Keesokan harinya, Khanif bangun dengan perasaan bahagia. Ia baru menyadari tindakan Rania semalam bukanlah tindakan seseorang yang kesal karena ucapan mama, namun Khanif menduga kalau Rania kesal karena Rania cemburu. Memikirkan kemungkinan itu membuat Khanif mempunyai secerca harapan baru.


Sepertinya pagi ini adalah pagi yang berbeda dari pagi-pagi yang telah berlalu. Khanif pun segera bersiap-siap setelah tadi ia telah melaksanakan rutinitas paginya. Dengan sarapan roti dan segelas susu, Khanif mengisi perutnya yang lapar sejak semalam.


Setelahnya, ia kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya diatas nakas. Ia tersenyum melihat benda persegi itu. Ia merasa aneh saja dengan kejadian semalam. Namun berkat satu panggilan terjawab dari mama Adelin, membuat kehidupan Khanif akan berubah mulai sekarang.


Puas melihat ponselnya, Khanif lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku jas-nya dan mulai melangkahkan kakinya menuju rumah Rania untuk menjemputnya.


Berbeda dengan Khanif, pagi ini Rania bangun dalam keadaan tidak baik. Pasalnya, ia juga baru menyadari sikapnya yang tidak wajar kemarin malam. Rania lantas mengacak-acak Rambutnya untuk meredakan rasa malu yang terlambat ia sadari.


"Ah, pasti pak Khanif sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang aku. Gimana sih! A ... mama, Rania mau cuti aja hari ini," rengeknya seperti anak kecil. "Tapi pekerjaan aku masih banyak! Baiklah, aku akan tetap ke kantor, tapi sebisa mungkin aku harus menghindari bertemu langsung dengan pak Khanif!" tekadnya yang kuat.


Rania pun beringsut turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk segera bersiap pergi ke kantor. Setelah Rania telah siap, Rania lantas keluar dari kamar.


"Pagi, ma," sapa Rania seraya mencium pipi mama bergantian.


"Pagi, sayang."


"Kak Rey mana, ma?"


"Kakakmu ada di ruangan tamu."


"Ruang tamu?"


"Hem, kamu kedatangan tamu pagi ini. Gih, temui dia. Dia udah dari tadi nungguin kamu, loh!"


Rania bergegas ke ruangan tamu untuk melihat siapa yang dimaksudkan oleh mamanya. Sempainya Rania di ruangan tamu, berapa terkejut nya ia saat melihat seseorang yang coba ia hindari.


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2