
Hari telah berganti, waktu pun telah berlalu. Namun, rasa deg-degan yang selama ini Rania sembunyikan tidak mau padam juga. Apa iya, karena ingin nonton bersama dengan Khanif malam nanti? Rania menggelengkan kepalanya pusing akan sikapnya hari ini. Apalagi nanti malam, saat Khanif mengajaknya nonton.
"Ra!"
Rania tersentak kaget saat Dian memanggil namanya dengan tangan yang diletakkan diatas bajunya.
"Astagfirullah," ujar Rania seraya mengelus-elus dadanya yang berdebar. "Kamu bikin kaget aja, tau."
"Hah! Biasanya kan aku kayak gini. Pastinya kamu udah terbiasa atau jangan-jangan ... ada yang kamu pikirkan. Hayo, ngaku aja."
"Hem," jawabnya malas sambil menopang dagu diatas meja kerjanya.
"Apa ... apa?" tanya Dian mulai penasaran lagi.
"Baiklah, karena kamu sudah tau, aku tidak akan menutupinya lagi," ujar Rania kembali menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. "Sebentar malam, aku dan pak Khanif akan pergi nonton bareng. Sama seperti kamu dan David."
"Ya, lalu. Apa masalahnya?"
"Kamu taukan, pak Khanif orangnya kayak gimana. Dingin tau, kayak es di kutub. Kadang juga panas seperti lava di gunung merapi dan lebih parahnya lagi, pak Khanif seperti hembusan angin yang berbeda tiap waktunya," ujar Rania menjabarkan kepribadian Khanif yang sering berubah-ubah.
"Ya, aku akui. Tapi kalau aku perhatikan, sikap pak Khanif yang kamu katakan itu berlaku untuk waktu yang telah lalu. Untuk sekarang, perlakuan pak Khanif sama kamu sudah berbeda. Contohnya saja beberapa waktu yang lalu. Aku dengan jelas loh, lihat kelakuan kamu sama pak Khanif di lobi kantor," ujar Dian tersenyum diakhir kalimatnya.
"Kamu salah paham."
"Salah paham dimananya?"
Rania menghela napas panjang sebelum berkata, "coba kamu bayangkan, aku sudah tiba dikantor saat lima menit lagi jam delapan. Kalau seperti itu, kan tidak terhitung telat? Tapi pak Khanif bilang kalau aku tidak tiba di ruangan pada jam delapan tepat, aku akan terhitung terlambat. Aneh, kan. Makanya aku buru-buru waktu itu, tapi lagi-lagi pak Khanif ingin memastikan kalau aku tiba di ruangan tepat waktu, makanya pak Khanif mengikuti aku sampai membuat kamu salah paham," jelasnya panjang lebar.
"Kalau menurut aku sih, apa yang kamu jelaskan ini jauh berbeda dari apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri."
"Sudahlah, tidak apa kalau kamu ngga percaya. Tapi aku tidak ingin membahas ini lagi."
"Kalau begitu aku ingin memberimu solusi untuk entar malam."
"Tidak, terima kasih. Aku akan mencari solusinya sendiri."
__ADS_1
"Eh, mana bisa begitu," komentar Dian.
"Bisa saja. Aku takut kalau kamu nanti memberiku solusi yang aneh-aneh. Terlebih lagi kamu sepertinya pendukung sejati pak Khanif."
Sebagai respon, Dian hanya tersenyum mendengar penuturan Rania.
"Ya sudah. Gimana kalau kita pergi makan saja. Aku udah lapar nih."
"Baiklah, ayo!"
Mereka pun pergi ke kantin kantor. Sepanjang jalan itu, mereka hanya diam tak bercakap apa-apa. Hingga tiba-tiba Dian teringat akan sesuatu yang sangat penting bagi Rania dimasa depannya di kantor tempat mereka bekerja.
"Oh, iya. Aku baru ingat," seru Dian sampai menghentikan langkah kakinya. Ia lalu menoleh pada Rania.
"Ingat apa?" tanya Rania penasaran.
"Hem, kamu pura-pura lupa atau beneran ngga ingat?" goda Dian sambil menyenggol lengan Rania pelan.
"Beneran! Aku ngga tau apa yang kamu maksudkan."
Benar saja kata Dian. Di dalam lift ini sudah ada beberapa karyawan yang hendak ke kantin. Tidak enak saja kalau Dian mengatakannya disini. Apalagi pembicaraan yang ingin dikatakan Dian adalah hal yang sensitif. Bisa-bisa jadinya ada yang salah paham, walau sebenarnya Dian tidak bermaksud buruk.
"Sekarang kita telah sampai, cepat katakan," ujar Rania tidak sabaran.
"Tunggu dong. Kita belum nemu tempat duduk yang cocok nih!" ujar Dian sambil celigak-celiguk mencari tempat duduk yang pas dengan apa yang ingin dikatakannya nanti. "Nah! Kita duduk disana," tunjuk Dian pada meja kantin yang berada di sudut dengan beberapa meja disebelahnya yang tidak memiliki tuan.
Mereka pun menuju meja yang dimaksudkan Dian.
"Apa yang ingin kamu makan? Biar aku pesan dulu."
"Nasi goreng pedas dengan telur ceplok aja."
"Baiklah. Tunggu disini. Baru setelah itu, kita bisa membahasnya."
Beberapa menit kemudian Dian kembali setelah memesan pesanan mereka. Setelah mengambil tempat duduk disamping kanan Rania, Rania yang sudah tidak sabaran lagi pun memaksa Dian untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Ya, ya. Sabar," kata Dian sambil tersenyum. "Jadi gini, kita semua tau kalau saat ini pak Khanif lagi mencari sekretaris utama mereka. Nah, yang masuk dalam kandidat itu kalian bertiga. Kamu, Farah dan Lisa. Lalu, dalam minggu ini, tugas Farah pasti akan berakhir. Nah, jadi ... pastinya minggu depan kalian pasti sudah dapat keputusan tentang siapa yang akan menjadi sekretaris pak Khanif. Aku jadi penasaran siapa yang nantinya terpilih menjadi sekretaris pak Khanif," ujar Dian penasaran. "Kinerja kamu selama menjadi sekretaris pak Khanif, bagus kan?"
"Aku rasa begitu. Tapi ngga tau kalau pendapat pak Khanif. Kamu tau sendiri kan pak Khanif ingin mempunyai sekretaris yang serba bisa."
"Ya. Begitu. Semoga aja kamu terpilih. Aku ngga mau kalau Lisa atau Farah yang menjadi sekretaris pak Khanif."
"Kenapa emangnya. Mereka kerjanya bagus kok."
"Huh, ya emang kalau soal kerjaan bagus. Tapi kalau sifat, aku ngga jamin. Terakhir kali aku membawakan berkas untuk pak Khanif, Lisa maupun Farah terlihat tidak suka padaku. Apa karena mereka tau kalau aku berteman sama kamu?"
"Aku kurang tau soal itu," ujar Rania yang sebenarnya menyembunyikan apa yang ia ketahui tentang mereka berdua. "Makanan kita udah tiba, tuh," ujar Rania saat tanpa sengaja ia menolehkan wajahnya ke arah kantin dan melihat seorang pelayan membawakan pesanan mereka.
"Hem. Aku udah lapar banget!" kata Dian antusias. "Sini, mbak cepet." Perut yang minta diisi segera, membuat tangannya juga ikut melambai memanggil pelayan segera datang pada mereka.
"Ini pesanan, Anda."
"Terima kasih," ujar Rania dan Dian hampir bersamaan.
Sebagai respon, pelayan wanita itu tersenyum. Lalu sedetik kemudian, ia pergi meninggalkan mereka yang mulai menyantap makan siang mereka.
Saat mereka tengah asik menikmati makanan mereka, samping meja mereka yang tadinya masih kosong, kini sudah mulai satu persatu terisi dengan adanya beberapa karyawan yang baru mulai makan siang di kantin. Namun bukanlah hal itu yang membuat mereka berdua tertarik akan kedatangan beberapa karyawan beda divisi itu, melainkan mereka tertarik dengan pembicaraan yang menjadi topik hangat baru-baru ini.
"Eh, kamu tau ngga. Kalau sekretaris pilihan pak Khanif udah selesai minggu ini loh! Dan lebih serunya, kalau pak Khanif akan menentukan pilihannya di kota M, loh!"
"Wah, beneran! Di vila baru pak itu, kan," ujar seseorang menanggapi.
"Hem. Enak ya jadi mereka. Udah pergi ke kota M, bisa sekalian liburan lagi."
"Yang lebih beruntung, tuh, yang menjadi sekretaris pak Khanif kedepannya. Tiap pak Khanif keluar kota, pasti ikut juga."
"Ah, ya kamu bener. Oh, iya. Menurut kamu siapa kira-kira yang menjadi sekretaris pak Khanif kedepannya?"
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...