Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 167. Menjadi Sekretaris Khanif


__ADS_3

Keesokan harinya, Rania begitu cepat berangkat ke kantor. Bahkan sangat bersemangatnya, ia memakai pakaian yang terlihat berbeda dengan hari-hari biasanya, saat ia masih menjadi staf keuangan biasa di kantor Khanif.


Dengan memakai kemeja putih, rok di bawah lutut dan sepatu pantofel, Rania begitu bersemangat untuk menjadi sekretaris Khanif.


Setelah jam menujukkan pukul delapan empat lima, Rania pun bergegas keruangan rapat. Tempat dimana peresmian dirinya menjadi sekretaris Khanif akan diadakan.


Ia pun memilih menggunakan lift kaca agar ia cepat sampai di ruangan rapat.


Sesampainya di ruangan rapat, disana sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu peresmian dirinya menjadi sekretaris Khanif dan salah satu orang yang ada disana adalah Davina.


Rania lantas melangkahkan kakinya mendekati Davina yang terlihat sibuk mengatur acara yang tinggal sepuluh menit lagi akan di laksanakan.


"Dav."


Davina menoleh. "Iya, ada apa?"


"Ada yang perlu aku bantu?"


"Tidak ada. Ini cuma pengaturan kecil aja kok. Kamu duduk aja gih. Ngga lama lagi pengangkatan kamu akan dimulai loh!"


Rania menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan ke arah tempat duduk yang telah disediakan untuknya. Namun baru juga dua langkah ia berjalan, ia kembali mendekati Davina untuk menanyakan satu hal yang menurutnya penting.


"Dav," panggilnya sekali lagi membuat Davina kembali menoleh. "Boleh aku menanyakan satu pertanyaan?"


"Iya boleh. Kamu mau nanya apa?"


"Apa pak Khanif akan datang ke kantor untuk peresmian aku nanti menjadi sekretarisnya?"


Saat Davina hendak menjawab pertanyaan Rania, sudah lebih dahulu pintu di belakang mereka terbuka. Menampilkan sosok wanita paruh baya terlihat begitu elegan dan disegani oleh para petinggi perusahaan.


"Bu Adelin. Silakan masuk," ujar salah seorang yang berada diruangan rapat.


Setelah Davina melihat mama Adelin duduk, Davina kembali melihat pada Rania.


"Bu Adelin yang akan meresmikan kamu menjadi sekretaris pak Khanif nanitnya," ujar Davina begitu formal dalam memanggil mama Adelin.


Mengetahui kenyataan itu, membuat Rania seperti kembali tidak semangat. Bagaimana tidak. Ia berharap kalau ia akan segera bertemu depan Khanif karena pastinya Khanif akan datang ke kantor untuk meresmikan jabatannya yang baru menjadi sekretarisnya.


"Pak Khanif kemana?"


Sudah! Ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak menanyakan keberadaan Khanif pada Davina.


"Pak Khanif punya urusan di luar. Jadi pak Khanif meminta pada mama untuk meresmikan kamu menjadi sekretarisnya."


"Emm ... begitu. Baiklah, aku pergi ke tempat dudukku."


"Ya."


---


Acara pengangkatan jabatannya pun di mulai. Mula-mula mama Adelin berdiri dari kursinya dan berjalan ke area yang akan menjadi tempat serah terima jabatan. Sesampainya mama Adelin disana, mama menyampaikan sepatah dua kata sebelum ia memanggil Rania untuk mendekat ke arahnya.


Sesampainya Rania didekatnya, mama pun mengumumkan pada semua petinggi perusahaan kalau Rania dengan resmi diangkat menjadi sekretaris utama perusahaan.

__ADS_1


Mama juga menjelaskan kalau Rania mulai bertugas senin depan.


Lalu setelah acara peresmian dirinya menjadi sekretaris Khanif, semua para petinggi perusahaan dan beberapa orang yang hadir pun perlahan-lahan meninggalkan ruang rapat dan hanya menyisakan mama Adelin dan Davina.


"Selamat ya, nak Rania. Tante ngga nyangka kalau anak tante itu mempunyai pemikiran seperti ini," ujar mama Adelin.


"Terima kasih, tan." Rania pun ikut tersenyum.


"Dav juga ngga nyangka kalau pak Khanif sampai berpikiran jauh seperti ini. Aku kira pak Khanif memang benar-benar memilih Farah sebagai sekretarisnya, ternyata tidak. Pantas saja sewaktu di kota M pak Khanif memanggil bu Rahayu untuk memberikannya surat keputusan bukannya aku. Ternyata ada tujuannya, loh!" ujar Davina membuat mama tersenyum.


"Ah, anak itu selalu membuat mama kagum."


"Dav juga."


Lalu mama Adelin dan Davina pun melihat Rania sambil tersenyum. Rania yang dilihat seperti itu langsung saja mengatakan, "Rania pun sama." Hingga membuat mama Adelin dan Davina kian merekahkan senyum mereka.


"Baiklah. Mama balik duluan ya."


"Iya, ma."


"Tante hati-hati dijalan," ujar Rania membuat mama Adelin menganggukkan kepalanya pelan.


Mama Adelin pun berlalu dari sana meninggalkan Davina dan Rania.


"Dav."


"Hem. Iya?"


"Kapan pak Khanif akan masuk kantor lagi?"


"Kamu khawatir tentang pak Khanif?" tanya Davina membuat Rania menganggukkan kepalanya pelan.


"Pak Khanif baik-baik saja kan?"


"Pak Khanif baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir lagi. Dari yang ku tau, pak Khanif saat ini tengah mengatur acara reuni di sekolah kalian."


"Apa?" Rania begitu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Davina barusan. Sehingga ia memberikan respon seperti itu.


"He'em. Pak Khanif adalah ketua panitia dari reuni sekolah kalian. Makanya dia sangat sibuk beberapa hari ini dan tidak sempat masuk kantor."


"Bukannya pak Khanif masih sakit?"


"Iya juga, tapi dia ngotot pergi kesana. Padahal ya, para anggota reuni sudah memberikan pengaturan mereka. Katanya sih, dia cuma memeriksa aja, jadi ngga terlalu memakan tenaga gitu. Makanya dia berani pergi."


Rania manggut-manggut mendengar penjelasan Davina. Ia kini memiliki rencana saat makan siang nanti.


"Baiklah. Terima kasih informasinya. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Hem."


Rania pun berlalu dari sana dan bergegas mencari Dian untuk menolongnya pada satu hal lagi saat jam istirahat kantor.


Sesaat Rania keluar dari lift, tepukan tangan yang meriah terdengar di telingaku. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar dari lift dan malah mendapati semua teman se divisinya tersenyum senang padanya.

__ADS_1


Lalu satu persatu teman se divisinya itu memberikan selamat padanya atas terpilihnya ia menjadi sekretaris Khanif.


"Selamat ya, Ra. Mbak sangat senang kalau kamu lah yang menjadi sekretaris pak Khanif," ujar May.


"Terima kasih, mbak dan terima kasih untuk teman-teman semua."


"Bagaimana kalau kita merayakan pengangkatan jabatan Rania dengan acara makan-makan malam nanti," ujar salah seorang berbaju putih.


"Hem. Itu ide yang bagus, tapi yang traktir harus orang yang dapat buah durian runtuh, loh!"


Mereka semua pun tergelak tawa.


"Bagaimana, Ra?"


"Hem. Baiklah. Kalian pilih tempat makannya aja."


Sontak mereka yang setuju dengan ide tersebut pun bersorak kegirangan.


Waktu pun berlalu dengan cepat. Rania yang sudah memberitaukan rencananya tadi pada Dian pun mendekati Dian yang masih sibuk mengerjakan tugasnya.


"Ehem," dehem Rania membuat Dian menolehkan wajahnya.


"Duh, maaf ya, Ra. Seperitnya aku ngga bisa menemani kamu pergi ke sekolah sma kamu. Lihat, aku sibuk mengerjakan laporan keuangan ini dan laporan ini harus aku kumpulkan sama mbak May sebelum ashar. Maaf ya, Ra."


"Udah ngga papa. Besok kan bisa. Kita pergi besok aja kalau pak Khanif belum masuk kantor."


"Baiklah."


"Kalau gitu kita makan dulu. Baru lanjutin laporan kamu lagi."


Dian mengangguk. Dian pun menyimpan hasil kerjanya, lalu membereskan meja kerjanya. Setelah itu, ia dan Rania pun pergi ke kantin kantor.


***


Sore harinya, lima menjelang pulang kerja, Rania dan teman se divisi keuangan sudah berkumpul di dalam ruangan untuk bersama-sama pergi ke tempat makan - teman dimana Rania akan mentraktir mereka makan.


Setelah waktu menujukkan pukul lima tepat, mereka pun secara bergantian masuk ke dalam lift.


Sesaat mereka telah berkumpul semua di parkiran kantor, mereka lantas pergi ke kendaraan masing-masing. Rania dan beberapa orang yang tidak membawa kendaraan pun ikut dengan teman mereka yang membawanya.


Setelah pengaturan kecil itu, mereka secara bertahan mengendarai kendaraan mereka menuju restoran yang telah Rania pesan sebelumnya.


Karena tempat yang Rania pesan tidak terlalu jauh dari kantor, mereka semua telah sampai disana dengan waktu yang lumayan singkat.


"Kalian masuklah lebih dahulu. Kami memarkirkan kendaraan dulu," ujar May.


"Iya, mbak."


Rania dan beberapa teman yang tidak membawa kendaraan pun lebih dahulu masuk ke dalam restoran.


Sesaat Rania masuk ke dalam, netra matanya langsung saja bersitatap dengan netra mata hazel yang sudah lama tidak di lihatnya. Seketika itu, membuat mata Rania berkaca-kaca.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2