
Setelah lama berkendara, akhirnya Khanif dan Rania telah sampai di bengkel langganan Khanif. Mereka lalu keluar dari mobil dan berjalan ke arah bengkel.
"Mas Khanif, Anda sudah datang," kata pemilik bengkel langganan Khanif. Ia lalu berdiri seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya yang kotor.
"Motornya udah selesai diperbaiki, Jon?" tanya Khanif sambil melihat motor Rania sekilas.
"Sedikit lagi," jawabnya. "Oh, iya. Silakan duduk dulu." Setelahnya, pemilik bengkel itu memanggil anak buahnya untuk membuatkan mereka teh sambil menunggu motor Rania selesai diperbaiki.
Khanif mengangguk. Ia pun menoleh pada Rania agar Rania mengikutinya untuk duduk menunggu sampai motornya selesai diperbaiki. Setelah beberapa saat, anak buah pemilik bengkel itu pun datang dengan membawa dua cangkir teh dan setoples cemilan.
"Mas Khanif, silakan cicipi dulu teh-nya. Teh ini, teh dari perkebunan hujo loh mas, teh yang terkenal itu. Baru-baru ini, ada pelanggan saya yang membawanya kesini."
Tanpa disangka, Rania yang sedang mencicipi teh-nya pun langsung tersedak. Ia tidak menyangka teh hujo begitu terkenal. Bahkan sampai membuat pemilik bengkel ini memujinya.
"Kamu tak apa-apa, kan?" tanya Khanif terlihat khawatir.
Rania mengangguk. "Hem tak apa, pak."
"Apa teh-nya kemanisan, neng?"
"Ngga pak. Teh-nya enak, kok. Cuma tadi saya terburu-baru untuk mencicipinya, jadi tersedak jadinya," elak Rania. Nyatanya Rania tersedak karena mendengar pemilik bengkel ini mengatakan 'perkebunan teh hujo'.
Pemilik bengkel itu mengangguk, ia lalu kembali mengerjakan motor Rania. "Kalau gitu, mas dan neng silakan dinikmati dulu teh-nya, saya mau lanjut kerja dulu."
Khanif mengangguk. Setelahnya, ia menoleh pada Rania sekilas sambil berkata, "teh milik keluargamu enak juga."
"A?"
Sungguh Rania tidak mengerti mengapa Khanif sampai berkata seperti itu. Ya, ia memang tahu kalau perkebunan teh hujo adalah perkebunan teh milik keluarganya. Tapi ia tidak menyangka kalau ia akan mencicipi teh perkebunannya disini. Pasalnya, teh perkebunannya tidak sembarang orang yang dapat memilikinya karena harganya yang cukup tinggi dari kebanyakan jenis teh lain nya. Hingga sebuah pertanyaan yang tidak penting masih saja terlintas di benak Rania. "Apa langganan pemilik bengkel ini adalah orang yang cukup terkenal?"
"Lupakan," kata Khanif memecah lamunan Rania. Khanif pun kembali menyesap teh yang terkenal akan rasa dan aromanya yang enak.
Setelah beberapa saat, akhirnya motor Rania telah selesai diperbaiki. Khanif lalu mengikuti pemilik bengkel ini ke meja kasir untuk mengurus pembayaran motor Rania.
"Seperti biasa, datang saja ke kantor untuk gantinya."
"Siap, mas."
"Baiklah, kami pergi dulu. Terima kasih."
"Sama-sama."
__ADS_1
Rania yang sedang membuka dompet terkejut saat Khanif mengatakan, "tidak udah. Biayanya ditanggung oleh kantor."
"Terima kasih," katanya riang. Bagaiamana tidak, uang yang sudah ia rencanakan untuk membeli hadiah untuk sang mama akhirnya tidak keluar juga.
"Sebagai gantinya, kamu akan menemaniku untuk ke perusahaan teh hujo besok," kata Khanif sambil berlalu dari hadapan Rania dengan senyuman jahilnya.
Senyum Rania yang semula mengembang senang, kini perlahan mengempis, lalu berubah menjadi senyum kecut. Ia tahu, Rania tidak boleh berdiam diri disini saja. Rania lalu mengejar Khanif.
"Saya kira beneran gratis, ternyata bapak ada maunya. Bapak tahu kan, kalau bisnis keluarga tidak boleh di sangkut pautkan dengan saya."
"Kalau ada yang gampang kenapa pilih yang susah!" canda Khanif sebenarnya hanya ingin membuat Rania kesal saja.
"Tapi tidak memanfaatkan saya juga, pak."
"Jadi kalau kamu diberi satu jalan, kamu akan mengatakan dengan riang 'kalau ada yang susah, kenapa pilih yang mudah' begitu?"
"Sudahlah, setiap kali berbicara sama bapak, saya pasti kalah!"
"Nah, itu lebih baik. Baiklah, besok kita pergi ke perusahaan teh hujo. Saya akan menjemputmu." Khanif pun berlalu dari hadapan Rania menuju mobilnya. Namun belum sempat Khanif memutar knop pintu, sudah lebih dahulu Rania menghentikannya.
"Saya pulang naik apa?"
"Bukannya motor kamu sudah selesai diperbaiki?"
"Jangan katakan kalau kamu ingin pilih cara yang susah daripada cara yang mudah!" kekeh Khanif membuat Rania kembali kesal. "Baiklah, saya pergi dulu. Ingat! Besok kita pergi ke perusahaan teh hujo pada jam 9."
Dengan enggan menjawab, Rania berbalik meninggalkan Khanif yang tersenyum lucu melihat kelakuan Rania.
"Huh! Tahu begini aku bayar sendiri saja," kata Rania kesal. "Tapi ... tapi kalau aku membayarnya, uang yang sengaja ku simpan untuk membeli barang itu pasti tidak akan cukup. Ah, sudahlah. Mungkin ini sudah jalannya. Kenapa pilih yang mudah kalau ada yang susah," kekeh Rania pada akhirnya.
Rania tahu, seperti apa sifat kakeknya itu, makanya saat ia mengatakan 'kenapa pilih yang mudah kalau ada yang susah' ia malah tertawa karena meski dirinya adalah cucu dari pemilik perkebunan teh hujo, bukan tidak mungkin kakeknya akan mengikut campurkan masalah bisnis dan keluarga.
Kalau Khanif percaya mengikuti sertakan dirinya dalam pertemuan besok adalah hal yang baik, maka Khanif salah besar. Karena Rania tahu, kakek paling tidak suka hubungan keluarga dibawa dengan hubungan bisnis.
"Lihat saja besok, pasti pak Khanif menyesal telah mengatakan 'kalau ada yang mudah, kenapa pilih yang susah!" kekeh Rania puas.
"Neng?"
"Eh, i ... iya?" ujar Rania tersadar kalau dirinya masih berada di bengkel langganan Khanif.
"Motor Anda ada disana."
__ADS_1
"Iya, mas. Terima kasih."
"Sama-sama, neng."
Rania pun melangkahkan kakinya menuju motor hasil kerja kerasnya itu. Setelah menyalakannya, Rania berlalu meninggalkan bengkel yang menjadi saksi kesalahan Khanif. Mengingat hal itu, membuat Rania lagi-lagi terkekeh.
****
Saat Rania baru saja masuk kedalam rumah, langkah kaki Rania terhenti saat melihat sang kakak menatap tak biasa padanya. Rania tahu, pasti kakaknya, Reyhan telah mengatahui dan melihat video tentang dirinya. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menyembunyikan masalah besar ini padanya.
"Kakak mau bicara!"
"Tapi kakak janji, jangan marah pada Rania," kata Rania menetap Reyhan dengan senyuman simpulnya.
"Tergantung bagaimana adik menjelaskannya!"
Reyhan pun berjalan duluan diikuti dengan Rania dibelakangnya dengan bibir yang kini telah cemberut, takut apa yang nantinya dikatakan Reyhan akan membuat dirinya merasa bersalah sekali.
"Kakak sudah melihat videomu dengan Zaky," ujar Reyhan setelah mereka sampai di samping rumah, tempat Reyhan biasanya duduk santai saat sore hari.
"Itu tidak seperti yang kakak lihat. Rania bahkan tidak tahu kalau Zaky akan melamar Rania dengan cara seperti itu, sungguh!"
"Kakak tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi bagaimana kalau papa tahu."
"Makannya Rania mau minta tolong sama kakak," ujar Rania sambil mendekat pada Reyhan dengan senyum lebarnya.
"Minta tolong untuk menghapus video itu?"
Sebagai jawaban, Rania mengangguk antusias. Akhirnya masalah kecil yang telah membuat Rania pusing tujuh keliling itu akan berakhir juga dengan cara mudah seperti ini. Tahu begini, ia akan lebih dahulu memberitahukan sang kakak dari pada sang kakak yang mengetahuinya lebih dulu.
"Kakak memang yang terbaik." Rania pun memeluk Reyhan sebagai rasa senangnya. "Baiklah, Rania mau ke kamar dulu. Rania mau bersih-bersih."
Rania pun perjalan meninggalkan Reyhan yang masih dihinggapi satu pertanyaan.
"Tunggu!" kata Reyhan mau tak mau membuat Rania berhenti dan membalikkan badannya pada Reyhan.
"Ada apa, kak?"
"Apa mama sudah tahu akan hal ini?"
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...