
Entah angin segar dari mana hingga membuat Khanif menolehkan wajahnya ke meja yang tidak terlalu jauh dari mejanya. Melihatnya, membuat nafsu makan Khanif tiba-tiba saja hilang entah kemana!
Khanif melihatnya saling melempar senyum. Entah, apa yang membuat pasang berbeda jenis itu saling memandang dan saling melengkung-kan bibir membentuk bulan sabit. Namun, satu yang pasti. Khanif tidak menyukai pemandangan itu.
Khanif pun beranjak dari tempat duduknya dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berjalan pergi meninggalkan mama, Tasya dan Davina yang baru tiba. Tasya yang baru sadar akan kepergian Khanif, berlari kecil menghampirinya yang hampir mencapai pintu keluar.
Tasya memegang lengan Khanif untuk menahannya pergi. "Kamu mau kemana?" tanya Tasya.
"Aku mau kembali ke ruanganku," ujarnya sambil melepaskan tangan Tasya dari lengannya.
"Ngga makan dulu? Ini udah jam makan siang loh!" ujar Tasya memberitahu kalau dirinya belum makan apapun.
"Aku masih kenyang." Khanif sedikit melirik pada dua orang yang berstatus karyawannya itu. "Kamu makan aja sama mama dan Davina," ujarnya setelah memutuskan untuk tidak melihat dua orang itu lagi.
"Tapi aku mau makan siang sama kamu juga," ujar Tasya berterus terang.
"Maaf, tapi aku tidak bisa."
"Kenapa kamu tiba-tiba tidak berminat makan siang? Apa karena dua orang itu." Lirik Tasya pada Rania dan David.
Khanif seketika melihat Tasya tajam. "Bukan hakmu untuk mengatakan hal itu padaku." Setelahnya, Khanif pergi meninggalkan Tasya yang menyesal karena kecerobohannya sendiri.
Sepeninggal Khanif, Tasya berjalan lesu kembali ke arah mama dan Davina yang sempat melihat dirinya bercakap dengan Khanif.
"Khanif kenapa pergi?"
"Khanif katanya masih kenyang, tan," ujarnya tersenyum kecut saat tahu kalau alasan itu bukanlah penyebab Khanif pergi.
Mama bergumam, "emm." Sebagai respon. Lalu mama kembali melanjutkan, "kalau gitu biar nak Tasya aja makan siang sama tante dan Davina."
Tasya pun mengangguk tanpa minat. Pasalnya, ia jauh-jauh datang kemari hanya untuk makan siang dengan Khanif, berbincang sebentar sebelum nantinya ia pamit pulang. Namun karena mencemburuannya, ia malah membuat Khanif menjauh darinya.
"Iya tan."
Ketiga wanita berbeda usia itu pun menikmati makanan mereka yang baru diantarkan oleh pelayan.
Semantara itu, Rania memakan makannya tanpa minat. Entah, ia seperti tidak berminat saja. Apa karena tadi ia tidak sengaja melihat Tasya memegang lengan Khanif atau karena memang makanannya kali ini kurang sedap? Tetapi, jika makannya kurang sedap, sepertinya tidak. Karena Rania melihat David sangat menikmati makananya saat ini yang sama dengan makanan yang terpampang didepannya.
__ADS_1
Masa hanya karena melihat Tasya memegang lengan Khanif bisa membuat nafsu makannya hilang! Ada apa dengannya? Ia seperti tidak mengenali dirinya sendiri lagi.
Saat tengah tenggelam dalam pemikirannya sendiri, Rania tersentak kaget, saat David melambaikan tangannya didepan wajah Rania.
"I ... iya. Kenapa Mas David?" tanya Rania gugup.
"Kenapa melamun? Nanti makanmu dingin loh!"
"Oh, i ... iya." Rania pun memakan makanannya hingga tandas meski ia tidak terlalu menikmatinya karena kekacauan dan banyaknya pertanyaan dikepalanya saat ini.
"Aku sudah selesai, aku duluan ya."
"Eh, tunggu. Kita harus pergi ke ruangan bersama lagi. Nanti kamu jatuh loh, karena sepertinya kakimu belum terlalu pulih."
"Tak apa. Aku bisa jaga diri. Baiklah, aku duluan." Tanpa menunggu ucapan David selanjutnya, Rania pun pergi meninggalnya seorang diri.
Rania berjalan tanpa tujuan hingga dirinya tanpa sadar telah sampai di rooftop perusahaan yang dibuat menjadi taman kecil asri yang juga dilengkapi dengan tempat santai dan payung lebar yang siap melindungi para pengunjung datang dari teriknya matahari.
Rania pun berjalan menuju tempat duduk yang terbuat dari kayu jati itu dengan payung besar yang siap melindunginya. Saat ia hendak duduk disana, manik matanya menangkap sosok yang tidak asing. Rania lalu kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah sosok yang berdiri tegap di pinggiran pembatas kaca rooftop.
"Ehem." Rania sengaja berdehem agar lelaki yang tidak menyadari kehadirannya ini sadar kalau dirinya juga ada disini. "Siang, pak Khanif," sapa Rania.
"Seperti pemandangan disana lebih menarik perhatian bapak dari pada melihat saya barang sejenak ataupun mambalas sapaan saya," ujar Rania sambil ikut melihat ke arah pandangan Khanif.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Khanif pada akhirnya. Namun lagi-lagi ia tidak menolehkan wajahnya pada Rania.
"Emm ...." Rania mengembuskan napas lega. "Akhirnya bapak mau juga berbicara."
Khanif lalu beralih melihat Rania dan kembali mengulang pertanyaanya tadi. "Kenapa kamu kemari?"
"Oh, itu ... saya juga tidak tahu kenapa saya bisa sampai disini." Rania lalu mengangkat bahunya. "Entahlah!"
"Pergilah, saya ingin sendiri disini."
"Eh, bapak jangan gitu dong. Saya juga mau disini." Tolak Rania. "Kalau mau, bapak bisa mencari tempat lain untuk menyendiri. Lagi pula tempat ini sangat luas."
Khanif menghela napas panjang. Ia seperinya tidak punya pilihan lain selain membiarkan Rania tetap disini.
__ADS_1
"Kalau kamu mau, kamu bisa disini bersamaku, tapi jangan ribut. Aku butuh ketenangan bukan celotehan kamu yang ribut."
"Siap laksanakan tugas, pak," ujarnya sambil tersenyum yang menampilkan gigi kelincinya.
Khanif tersenyum. Mereka pun menghabiskan jam istirahat kantor dengan memandang langit dan berbagai macam pemandangan lainnya yang dapat mereka lihat dari atas rooftop kantor ini.
***
Hari telah beranjak sore saat divisi keuangan tempat Rania bertugas tiba-tiba begitu sibuk karena kedatangan mendadak dari atasan mereka, yakni Khanif.
Seluruh karyawan keuangan pun berbaris rapi menunggu kedatangan Khanif yang sebengar lagi akan tiba. Bahkan saat ini mereka semua telah membentuk dua barisan seperti lorong agar saat Khanif tiba dan melewati mereka, mereka akan lebih mudah memberikan Khanif hormat dengan cara menundukkan kepala sedikit.
Sesaat mereka baru saja mengatur barisan, Khanif tiba dengan pandangan tajam lurus kedepan, tubuh tegap dibalut dengan jas yang rapi serta rambut pendeknya yang ditata sedemikian rupa.
Ia sungguh rupawan! Pantas saja para karyawati yang masih lajang tergila-gila pada atasannya ini. Apalagi saat tahu kalau atasannya ini masih lajang juga sama seperti mereka. Plus telah sukses diusia muda. Siapa yang tidak jatuh hati padanya?
Ah, jika saja wanita yang pernah ditolak itu menujukkan bergejala-gejala seperti gadis lainnya, pasti Khanif akan gembira. Namun nyatanya tidak, Khanif tidak tahu, apakah perasaannya masih sama seperti dulu atau telah berubah seperti pagi berganti malam.
"Selamat datang di divisi keuangan, pak. Mari keruangan saya, pak," ujar sang manajer keuangan.
Khanif bergumam, "em." Ia lalu berjalan duluan menuju ruangan manajer. Sesampainya disana, Khanif duduk di kursi manajer, sambil bertanya, "bagaimana kinerja karyawan yang baru masuk beberapa hari ini?"
"Kinerjanya baik, pak. Dia adalah orang yang tepat untuk ditempatkan divisi keuangan," pujinya.
Khanif mengangguk. Ia pun berdiri lalu keluar dari ruangan manajer untuk melihat-lihat para karyawan yang sedang mengerjakan tugas mereka. Manajer keuangan pun selalu mengikuti langkah kaki Khanif. Langkah kaki mereka tiba di meja kerja David, karyawan yang sempat mereka bicarakan tadi.
David yang melihat Khanif berdiri dibelakangnya, perlahan berdiri dan menundukkan kepalanya. "Pak Khanif," katanya.
"Duduklah kembali. Saya hanya ingin melihat saja sebentar."
Saat Khanif hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di atas meja kerja David.
...To be continued ...
Apa yang dilihat oleh Khanif ya? 🤔
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...