
Hai, aku datang lagi nih. Kali ini aku mau berterima kasih banget sama @Dewi Ri, @Mamah Afi dan @atikah karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.
Yang ingin seperti mereka, yuk segera vote. caranya, kalian baca sampai akhir cerita ini, dibawa bagian kanan, ada tulisan VOTE, kalian klik aja tulisan vote itu, lalu berikan vote, setelah itu, selesai deh. gampang kan. Selamat mencoba.
Baiklah, Selamat Membaca Semua 🤗
...***...
"Mama mau apa?"
"Mama mau ajak dia berbelanja, sekalian menemani Davina juga biar ngga bosan."
Khanif menganggukkan kepalanya lalu berujar, "baiklah."
"Nah, gitu dong."
Mama pun terdiam beberapa saat karena sedang mencari saat yang tepat untuk membicarakan soal wanita yang ingin Khanif perkenalkan sama mama. Setelah dirasa waktu ini adalah waktu yang tepat, mama pun sedikit beringsut ke dekat Khanif.
"Emm, rasanya mama sudah tidak sabar bertemu dengan wanita pilihan kamu ini," ujar mama memulai pembicaraan tentang masa depan Khanif lagi.
"Bukannya Khanif udah bilang kalau mama mengenalnya."
"Mama tahu, tapi mama ingin segera meresmikan hubungan kalian. Jangan sampai dia direbut orang lain, loh!"
"Khanif tahu, tapi Khanif tidak ingin buru-buru dalam mengambil keputusan."
"Aish, anak ini. Tidak ada rasa kekhawatirannya sama sekali."
Mama pun beranjak dari tempat duduknya. Ia lalu menuju telepon rumah - hendak menghubungi seseorang. Setelah lama menunggu, akhirnya sambungan telepon mama terhubung.
Mama mulai berbicara dengan seseorang yang tengah ditelponnya itu saat Khanif yang lewat didekat mama. Melihat mama begitu senang, membuat Khanif menjadi heran. Khanif lalu menghampiri mama.
"Mama bicara sama siapa?"
Sambil menutup telepon, mama berbicara kecil pada Khanif. "Tentu saja dengan wanita pilihanmu."
"Bisa Khanif berbicara sebentar dengannya," ujar Khanif ingin memastikan kalau mama tidak salah paham akan wanita yang telah dipilihnya.
"Nih," ujar mama seraya memberikan telepon rumah pada Khanif.
Khanif pun mengambil tempat duduk disamping mama. Setelah itu, Khanif menempatkan telepon rumah itu di telinganya. Betapa terkejutnya Khanif saat mendengar suara wanita diujung sana. Seperti dugaannya, mama salah menduga tentang wanita pilihannya.
Tanpa berkata apa-apa, Khanif kembali memberikan mama telepon rumah. Ia senyum-senyum lucu saat memberikannya.
Hal itu pun sukses membuat mama heran. Mama lalu mengatakan pada wanita yang ditelponnya untuk segera meyelesaikan percakapan mereka. Setelah sambungan telepon tertutup, mama bersedekap dada. Ia memandang Khanif penuh curiga.
"Sepertinya mama salah mengira tentang wanita pilihanmu."
__ADS_1
Khanif terkekeh. Ia pun kembali duduk didekat mama dan mengambil tangan mama untuk digenggamnya.
"Ya, mama telah salah paham. Dia wanita yang baik. Pernah menolong mama dari pencopet."
Mama cepat menoleh pada Khanif. Sekarang mama sudah tahu siapa wanita yang dipilih oleh Khanif.
"Mama mau menelponnya sekarang!"
"Ma, biar hal ini berjalan semestinya. Mama jangan khawatir, Khanif hanya ingin memastikan satu hal saja. Setelah itu, mama dan papa bisa datang kerumahnya untuk melamarnya."
"Anak mama. Baiklah, mama setuju. Tapi jangan lama-lama. Dia itu cantik, baik lagi. Siapa coba yang tidak suka dengannya. Maka dari itu, cepatlah sedikit. Jangan bilang 'jangan khawatir aja' tau kan sekarang jaman bagaimana. Biar ngga ketemu muka, ponsel pun jadi."
Khanif tersenyum. "Jadi mama setuju kalau Khanif sama dia?"
"Tentu saja sangat setuju."
"Baiklah. Semua sudah sepakat. Jadi Khanif mau lanjut nonton berita dulu."
"Anak nakal. Nanti jangan lupa cerita sama papa."
"Iya, ma."
Khanif lalu kembali ke tempat duduknya semula. Menonton berita yang tengah hangat diperbincangkan saat ini.
***
Makan malam pun tiba. Semua anggota keluarga telah duduk dimeja makan. Mulai dari papa yang duduk ditempat duduk utama, mama disamping kanan papa, Khanif disamping kiri dan Davina berada disebelah mama.
Papa melihat Khanif dengan tangan yang terlipat diatas meja. "Papa dengar ada yang ingin kamu bicarakan."
"Iya, pa."
"Papa sudah selesai. Kalau kamu juga sudah, kita bisa keruangan papa."
Khanif mengangguk. Mama dan Davina pun membereskan meja makan. Sedangkan Papa dan Khanif pergi keruangan kerja papa. Sesampainya mereka disana, Khanif pun mengutarakan maksudnya pada papa kalau dirinya sudah tertarik pada seorang wanita dan hendak meminang wanita tersebut.
"Kamu sudah mengenal dia dengan betul?" tanya papa memastikan.
"Iya, pa."
"Bagaimana kepribadiannya?"
"Dia adalah gadis yang baik dan juga sayang pada orang tua."
Papa terlihat diam. Sedangkan Khanif merapalkan dalam hati, "semoga papa menerima penjelasanku."
Pasalnya, papa adalah seorang yang pemilih. Ia akan berhati-hati dalam memilihkan calon pendamping untuk anaknya. Meski jauh sebelumnya papa sudah tahu kalau mama sering memperkenalkan anak mereka pada anak teman-temannya, papa tidak pernah protes karena papa tahu, 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'. Semua teman mama adalah orang yang baik dan tentu saja pastinya anak-anak mereka juga anak yang baik.
"Bagaimana dengan orang tuanya?" lanjut papa bertanya.
__ADS_1
"Papanya adalah orang dari kemiliteran. Beliau orang yang baik dan juga disiplin. Begitu pula dengan ibunya." Khanif diam sejenak. Ia teringat kalau mama adalah teman sma papa dari gadis yang ia tengah bicarakan. "Mama kenal dengan papa gadis itu. Mama bilang, mereka adalah teman semasa sma," lanjut Khanif menambahkan agar papa semakin percaya dengan pilihan hatinya.
"Dimana gadis itu bekerja?"
"Dia bekerja diperusaahaan Khanif. Sebagai staf accounting biasa."
"Jika dia hanya staf biasa saja, maka bisa dipastikan dia adalah orang yang biasa-biasa saja."
"Papa jangan salah menduga dulu. Meski pekerjanya hanya biasa, tapi gadis itu bukalah gadis biasa."
Papa tersenyum mendengar penuturan Khanif yang membela sang gadis yang sengaja papa sudutkan.
"Sepertinya anak papa sudah benar-benar dengan pilihannya."
"Pa."
"Papa rasa percakapan kita sampai disini dulu. Ini sudah malam. Papa ingin istirahat lebih awal."
"Jadi?" tanya Khanif dengan suara pelan. Ia masih belum tahu bagaimana pendapat sang papa dengan gadis pilihannya.
"Papa akan mempertimbangkan lagi," ujar papa seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Khanif akan menunggu."
Papa pun lebih dahulu keluar dari ruangan kerjanya dan disusul dengan Khanif kemudian. Mama yang begitu penasaran dengan percakapan antara suami dan anaknya itu pun pergi mendekati Khanif setelah Khanif hendak pergi ke kekamarnya.
"Bagaimana percakapanmu dengan papa."
"Papa masih lampu kuning."
Mama tergelak tertawa akan ucapan Khanif. "Papa emang orangnya kayak gitu. Kepingin punya mantu perfect lah, kayak Jihan."
"Lama-lama Khanif bisa jadi bujang lapuk kalau begitu. Tapi, kenapa papa malah membiarkan mama menjodoh-jodohkan Khanif dengan anak teman mama."
"Beda lagi itu ceritanya. Papa tahu teman mama semuanya baik. Jadi papa tidak keberatan dengan ulah mama ini. Lagi pula ini namanya cinta. Nanti suatu saat kamu pasti akan merasakannya juga. Percaya deh, sama mama."
"Khanif percaya seratus persen sama mama."
"Baiklah, gih istirahat. Besok jangan lupa perkataan mama sore tadi."
"Iya ma."
Khanif pun berlalu dari hadapan mama dan bergegas menuju kamarnya. Sesampainya Khanif didalam kamarnya, Khanif duduk dipinggirkan tempat tidurnya. Ia memegang dadanya.
Sungguh ia merasa deg-degan saat berbicara dengan papa tadi. Apalagi papa adalah orang yang menilai setiap orang dari segalanya. Ia takut, jika Rania tidak masuk dalam kriteria papa. Bagaimana dengan nasibnya?
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...