Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 190. Pelukan Pertama


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu saat Rania mencoba membuat dirinya tertidur walau hanya memakai bathdrobe hotel sebagai pakaian luarnya. Namun sepanjang waktu yang berlalu itu, tidak sedikitpun Rania merasa kalau dirinya akan terlelap, meski matanya sisa berapa watt lagi. Sungguh, Rania tidak dapat tertidur walau sejenak.


Ia bahkan sudah beberapa kali berganti posisi tidur. Kadang miring ke kanan, kadang miring ke kiri dan kadang pula ia tidur terlentang - melihat langit-langit kamar yang begitu memanjakan mata karena lukisan langit malam disana. Namun tak sedetik pun matanya ingin terpejam.


Apa ini?


Apa ini karena ada seorang lelaki yang tidur di tempat tidur yang sama dengannya?


Jika begitu? Maukah Khanif pindah tempat tidur dulu? Ah, mana bisa. Dirinya mau menjadi istri durhaka?


Rania lantas memiringkan tubuhnya ke arah kanan. Melihat sosok lelaki yang sudah tertidur lelap disampingnya.


Namun baru saja beberapa detik ia melihat Khanif dari jarak dekat, tiba-tiba saja mata Khanif terbuka.


Satu detik, dua detik tiga detik. Mereka masih saja bertatapan satu sama lain tanpa ada seorang pun yang mengedipkan matanya.


Hingga sedetik kemudian, Khanif tersadar akan keadaan ini.


"Rania?" panggil Khanif membuat Rania terkejut. "Kenapa belum tidur?"


"Aku ... aku belum ngantuk. Kakak kenapa bangun?" tanyanya balik yang sudah menguasai keadaan dirinya yang sempat mematung seperti batu.


"Aku mau bangun sholat tahajjud. Kalau kamu udah sempat tertidur walau sejenak, ada baiknya kalau kita sholat berjamaah saja."


Rania lantas menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana ia bisa tertidur? Jangankan sejenak, sedetik pun ia tidak yakin bisa terlelap.


"Kalau begitu kamu tidur saja disini. Aku mau sholat dulu."


"Iya, kak."


Khanif lalu beringsut turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Rania yang melihat hal itu pun mengambil kesempatan untuk membuat dirinya tertidur lelap.


See, belum juga Khanif keluar dari kamar mandi, Rania sudah tertidur dengan lelapnya. Ia bahkan tidak sadar saat Khanif baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat dirinya yang sudah terbawa ke alam mimpi.


Khanif tentu saja tersenyum melihat hal itu. Ia lalu berjalan mengambil perlengkapan sholat-nya.


Menggelar sejadah, memakai peci dan menghadap kiblat, kini Khanif siap menghadap pada sang Pencipta.


Selesai sholat, Khanif kembali menaruh semua perlengkapan sholat-nya, lalu kemudian ia pun beranjak naik ke tempat tidur. Tidur lelap seperti Rania.


***


Keesokan paginya, Rania lebih dahulu bangun dari tidurnya. Ia membuka matanya dengan sebuah senyuman terukir di bibirnya. Namun semua itu tidak bertahan lama saat matanya tanpa sengaja melihat tangan dan kakinya saat ini sedang berada di tubuh Khanif.


Hei sejak kapan ia tertidur dengan memeluk Khanif? Ah, sudahlah pertanyaan itu sekarang sudah tidak penting lagi. Yang terpenting saat ini adalah ia harus segera menjauhkan dirinya dari Khanif.


Perlahan tapi pasti, Rania pun akhirnya berhati-hati dalam memindahkan tangan dan kakinya yang saat ini tengah memeluk Khanif yang masih tertidur lelap.


Sesaat ia tinggal sedikit lagi melepaskannya, sudah lebih dahulu Khanif bergerak dan malah menaruh tangannya tanpa sadar ke tubuh Rania.


Rania mematung. Ia merasa deg-degan karena keadaan yang tidak di sangka ini.


Rania pun berusaha meloloskan diri lagi dengan perlahan-lahan memindahkan tangan Khanif. Namun lagi semua hanya sia-sia saja saat Khanif yang masih belum sadar menarik dirinya kian mendekat padanya.

__ADS_1


Bukannya terlepas, malah pelukan itu kian mengerat saja! Huh.


Sudah, semua tidak ada jalan keluar lagi kecuali Rania membangunkan Khanif agar bisa lepas darinya.


Perlahan-lahan, Rania pun menepuk-nepuk tangan Khanif. Namun cara itu tidak berhasil juga. Ia lalu menggoyangkan-goyangkan lengan Khanif agar segera terbangun.


See, caranya ini berhasil, namun menimbulkan kecanggungan diantara mereka.


Sepersekian detik saling bertatap, akhirnya Khanif lagi-lagi tersadar lebih dahulu.


"Maaf. Aku ... aku tidak sengaja," ujar Khanif serak, khas suara orang baru bangun tidur.


Khanif lantas melepaskan pelukannya pada Rania. Lalu perlahan bangun dari tidurnya.


Rania pun begitu. Ia ikut bangun juga dengan hati yang tak karuan.


"Ini sudah jam berapa?" tanya Khanif.


Rania lantas mengambil ponselnya diatas nakas dan melihat jam yang ada sana.


"Sekarang sudah jam setengah enam."


"Kalau begitu kita siap-siap untuk sholat subuh berjamaah."


"Iya, kak."


Khanif pun lebih dahulu mengambil air wudhu. Setelahnya, Rania juga ikut mengambil air wudhunya.


Beberapa menit kemudian, mereka bersama-sama dan untuk yang pertama kalinya melakukan sholat berjamaah bersama.


***


Sekeluarnya Khanif dari kamar mandi, ia sudah lengkap dengan pakaian hariannya. Berbeda dengan Rania yang masih menggunakan bathdrobe dari semalam.


"Jihan belum datang?" tanya Khanif.


"Belum."


Baru saja mereka bercakap sebentar, bel di pintu kamar mereka telah berbunyi.


"Mungkin itu Jihan. Aku keluar dulu."


"Iya, kak."


Khanif pun keluar kamar untuk  membukakan pintu untuk seseorang diluar.


Sesaat Khanif telah membukanya, seseorang yang merupakan petugas hotel untuk membawakan mereka sarapan pun tersenyum pada Khanif.


"Silakan masuk," ujar Khanif.


Karyawan hotel itu pun kembali mendorong troly makanannya masuk ke dalam kamar hotel Khanif.


Setelah karyawan hotel itu keluar dari kamar mereka, Khanif pun pergi memanggil Rania untuk sarapan bersama.


"Bukan Jihan yang datang?" tanya Rania saat Khanif mengatakan kalau mereka sarapan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya. Setelah sarapan, aku akan menghubunginya lagi."


"Baiklah."


Rania lalu mengikuti Khanif keluar dari kamar untuk sarapan bersama.


Beberapa menit setelah sarapan, suara bel kamar hotel mereka kembali berbunyi. Lagi dan lagi, Khanif bergegas membukakan pintu untuk seseorang yang ada diluar sana.


"Assalamualaikum, kak," sapa Jihan dengan senyuman manisnya.


"Wa'alaikumsalam. Ayo, masuk."


"Kak Rania mana kak?"


"Dia ada dikamar."


Jihan hanya mampu ber-o ria karenanya.


"Kenapa kakak ngga di kamar juga?"


"Adik nakal. Kakak tau ini akal-akalan kamu kan."


"Jihan melakukan ini kan demi kebaikan kakak juga."


"Sudah. Kamu temui saja kakak iparmu sekarang karena sudah dari tadi dia menunggu kedatanganmu."


"Siap kak. Kalau gitu, Jihan temui kak Rania dulu."


"Hem."


Jihan lalu masuk ke dalam kamar yang telah ditempati Khanif dan Rania semalam.


"Kak Rania," panggil Jihan pelan membuat Rania yang duduk diatas tempat tidur menolehkan wajahnya ke sumber suara.


"Jihan!" pekiknya senang seraya turun dari tempat tidur.


"Kenapa baru tiba sekarang?"


"Maaf, kak. Jihan terjebak macet dijalan. Jadi telat deh."


"Udah ngga papa, yang penting kamu udah datang."


"Oh iya, ini baju ganti kakak." Jihan lantas memberikan Rania baju gantinya. "Soal baju ganti didalam lemari itu ... Jihan, Jihan minta maaf kak. Jihan kira kakak Rania terbiasa dengan pakaian tidur seperti itu."


"Sudah. Ini juga udah baik kok. Gih, kamu duduk dulu. Aku mau masuk ke kamar mandi dulu."


"Aku keluar aja kak." 


"Baiklah."


...To be continued...


Sekedar info, cerita ini tidak lama lagi aku selesaikan. Jadi, tiap dukungan baik itu poin, like, komen maupun vote, akan sangat berharga buat aku.


Baiklah, semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2