Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 43. Insting yang Tajam


__ADS_3

Maaf ya, aku masih up satu bab perhari karena aku bakalan ikut crazy up yang mengharuskan upload 3 bab perhari.


Baiklah, selamat membaca 🤗


...***...


Sesaat mereka mendengar suara burung-burung yang saling bersahut-sahutan. Namun, bukan hal itu yang membuat mereka berhenti melainkan ada sebuah suara lain yang salah satu dari mereka mengenal suara itu.


"Suara itu, suara pak Khanif," ujar Davina. Davina lalu berjalan duluan mencari asal suara tadi.


Baru saja Davina beberapa langkah didepan, tangan Davina sudah dicekal oleh Reyhan. Davina lantas menoleh pada Reyhan.


"Jangan gegabah. Mungkin saja itu bukan suara Khanif."


Ya, Davina tahu itu, tapi tidak mungkin pendengarnya salah oleh suara rintihan kesakitan dari suara yang tadi didengarnya. Ia tidak mungkin salah. Namun, ia juga tidak bisa melangkah maju jika Reyhan masih mencekal tangannya.


"Tunggu disini. Biar saya yang memeriksanya."


Reyhan lalu mengecek sendiri suara yang diduga Davina adalah suara Khanif. Reyhan maju perlahan-lahan. Pasalnya ia tidak tahu suara itu adalah suara Khanif atau suara yang sengaja dibuat sama oleh sekelompok orang yang tak dikenal yang sering keluar-masuk kedalam hutan pinus ini, seperti kata Macau tadi.


Langkah demi langkah Reyhan semakin dekat dengan asal suara itu. Matanya sukses membulat saat ia melihat seseorang lelaki tergeletak tak berdaya diatas buah tanah basah.


"Khanif."


Mendengar ada seseorang yang memanggilnya dari belakang, Khanif lantas mendongkak.


"Reyhan," ujarnya. Perlahan Khanif bangun meski tubuhnya agak sedikit sakit.


Khanif teringat bagaimana saat-saat ia terjatuh tadi. Bagaimana saat ia baru saja turun kudanya untuk menyusul Rania yang memang sudah tidak kelihatan oleh pandangannya. Khanif perlahan jalan menyusuri hutan pinus ini.


Dari kejauhan, ia dapat melihat kuda yang tadi tunggani oleh Rania sudah berdiri tak jauh darinya. Ia lalu bergegas ke arah kuda tersebut. Namun sesampainya disana, ia tidak mendapati Rania.


Awal disanalah ia masuk ke hutan semakin dalam. Dalam pencariannya, ia sesekali memanggil nama Rania, tapi yang ia dapatkan hanya pantulan suaranya kembali. Tidak tinggal diam, Khanif terus masuk ke dalam karena keyakinan Rania berjalan ke arah hutan itu.


Ditengah kehati-hatian dalam berjalan, Khanif tidak sengaja menginjak sebuah tanah yang licin. Mau tidak mau ia jatuh terjerembab dan membuat kepalanya pusing.


"Astagfirullah, aduh!" Khanif lantas memang kepalanya. 


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reyhan membuat lamunan sesaat Khanif buyar.


"Ah, ya. Aku tidak apa-apa." Khanif melihat kuda yang telah di tunggani oleh Rania tadi. "Lihat, itu kuda Rania. Tapi, saya tidak tahu dia ada dimana sekarang."


"Kami saat ini sedang mencarinya," ujar Davina menenangkan.

__ADS_1


Reyhan lantas menjauh. Ia menghubungi semua anggotanya, mulai dari Elang, Macau, Kakatua dan Cendrawasih. Setelah mereka berempat datang, Reyhan kembali mendekati mereka.


"Mulai dari sini kalian bisa pulang. Biar kami berlima yang menanganinya."


Khanif kontan berdiri dan menolak dengan tegas. "Tidak, saya akan tetap membantu kalian."


Reyhan sedikit menimbang, namun ia tetap menolak bantuan Khanif.


"Kami bisa melakukannya. Disini sedang ada bahaya. Beberapa hari ini, Elang melihat ada sekelompok orang yang mencurigakan keluar masuk ke dalam hutan ini. Kami tidak ingin lebih membahayakan kalian. Hutan ini adalah medan kami, sedangkan kalian tidak."


"Biar bagaimana pun saya turut bertanggung jawab," kilah Khanif.


"Jika soal janji yang kamu ucapkan kala itu, kamu jangan khawatir. Saya akan merahasiakannya."


"Kamu benar, tapi izinkan saya ikut mencarinya."


Melihat kesungguhan dimata Khanif, pada akhirnya Reyhan mengizinkan Khanif untuk ikut. Tapi, tidak bagi Davina dan bapak penjaga keamanan yang sudah terlihat tidak muda lagi.


"Cendrawasih, antarkan nona dan bapak ini kembali ke tempat semula."


"Siap kapten!"


"Tidak, saya juga ingin ikut mencari," tolak Davina.


Khanif lalu mengambil alih, ia ingin menjaga keselamatan Davina juga. Jadi, Khanif pun membujuk Davina mengikuti saran Reyhan. Meski tadi sempat menolak, akhirnya Davina dan bapak penjaga keamanan itu mengikuti langkah kaki Cendrawasih.


Melihatnya, Elang dan Macau pun berjalan lebih dahulu beberapa meter kedepan mendahului mereka untuk memastikan kalau bagian depan aman. Kakatua mengambil bagian dibelakang Khanif dan Reyhan untuk memastikan bagian belakang mereka tetap aman. 


Sesekali Macau berjalan ke samping kanan dan kiri untuk memastikan kalau mereka tetap aman dari bahaya apapun. Mereka tetap berjalan mencari keberadaan Rania. Hingga mereka menemukan sebuah rumah-rumah kecil yang berada ditengah-tengah hutan pinus ini.


Elang memberikan isyarat dengan mengangkat tangannya yang terkepal agar mereka semua berhenti berjalan dan menunggunya disini. Elang pun berjalan semakin dekat ke rumah tersebut. Ia secara mengendap-endap berjalan semakin dekat. Ia ingin mengawasi siapa saja yang menempati pondok tersebut. Melihat ada lima orang yang berada diluar rumah, tidak membuat Elang puas.


Ia pun kembali berjalan mengendap-endap, menghindari kecurigaan ke lima orang bertubuh besar dan berambut ikal itu. Dengan kecerdikan dan penglihatannya yang tajam mengawasi musuh, Elang dapat dengan mudah masuk kedalam kawasan rumah itu.


Sekali lagi, Elang berjalan semakin mendekati rumah kecil itu untuk mengetahui siapa saja yang berada didalam sana. Setelah mendapatkan cela, Elang secepat mungkin lari bersembunyi diantara dinding untuk kemudian memanjatnya dengan mengandalkan beberapa batang kayu yang tergeletak disana agar dengan mudah mencapai tujuannya.


Usahanya tidak sia-sia. Ia dapat dengan jelas melihat siapa saja yang berada disana. Tebakannya pun tidak salah saat memilih mengintip dirumah yang paling besar diantara rumah-rumah yang lain.


Ia tidak terkejut saat melihat seorang wanita ditawan disana dengan tangan - kaki terikat dan didudukkan disebuah bangku tinggi. Ia juga dengan jelas mendengar percakapan mereka.


"Tidak sia-sia kita berkeliling tadi. Lihat, kita mendapatkan sebuah mangsa yang empuk," ujar seorang lelaki berkepala plontos.


"Hem, kamu benar. Jika tau akan ada seperti dia lagi, aku pun akan selalu berkeliling disekitar sini."

__ADS_1


"Tapi kali ini kita hanya beruntung. Tidak tahu kedepannya. Bagaimana kalau ada yang mengetahui keberadaan kita? Pasti akan berakhir kacau dan bisa membongkar rahasia kita disini."


"Kamu benar lagi. Kali ini kita beruntung, tapi tidak lain kali."


"Kapan bos tiba?" tanyanya mengalihkan percakapan mereka sebelumya.


"Mungkin tidak lama lagi."


Mendengarnya, Elang cepat-cepat mencari tempat yang akan menyembunyikannya dari bos yang mereka maksud. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan tetap berada ditempatnya semula.


Jika ia bisa mengelabui kedua penjahat itu, namun mungkin tidak bagi bos mereka. Bisa saja bos mereka mempunyai kepekaan yang tinggi, sehingga dapat dengan mudah mengetahui keberadaan dirinya.


Ia pun berpindah tempat sembunyi dengan hati-hati, ditempat yang lebih tertutup. Namun, ia masih bisa melihat dan mendengarkan percakapan mereka dengan jelas seperti tadi. Tidak lama kemudian, orang yang dimaksudkan oleh kedua orang itu, terlihat masuk ke dalam rumah tempat intaian Elang.


"Apa yang kalian dapatkan?" tanya pria berbadan besar, berkulit coklat yang tidak lain adalah bos mereka.


Kedua orang tadi, tergopoh-gopoh mendekati pria yang mereka panggil bos itu.


"Kami mendapatkan seekor kelinci yang cantik. Lihat, bos!" ujar salah seorang diantara sambil melirik Rania yang masih belum sadarkan diri dari obat bius.


"Kerja bagus. Kalian akan mendapatkan bonus nanti. Baiklah, kalian tinggalkan dia sendiri, karena aku masih punya tugas untuk kalian. Lagi pula, dia tidak akan kabur dengan mudah."


Kedua orang itu mengangguk. Mereka pun mengikuti bos mereka keluar dari sana.


Semantara Elang yang masih bersembunyi sejak bos mereka datang, kini ia telah menampakkan dirinya lagi. Tatapannya secara bergantian melihat Rania dan pintu masuk yang sudah tertutup rapat dan juga terkunci dari luar. Tidak lupa pula ia melihat-lihat dalam ruangan ini.


Penglihatannya berhenti pada banyaknya bungkusan diatas meja yang tidak jauh dari Rania. Elang lantas pergi ke bungkusan yang membuatnya penasaran. Ia lalu membuka salah satunya dengan sangat hati-hati.


"Narkoba!" serunya. "Pantas saja mereka memilih tempat yang sepi untuk menyembunyikan bungkusan ganja ini!"


Elang lalu kembali melihat Rania. Jika saja Rania sudah sadar, ia pasti akan sangat mudah membebaskan Rania. Hanya saja, Rania sepertinya tidak mempunyai tanda-tanda untuk bangun.


Jika saja orang-orang diluar tidak terlalu menjaga ketat tempat ini, ia pasti akan membawa Rania menerobos pintu masuk rumah ini. Ah, coba saja keadaan jadi segampang itu. Ia yakin kalau mereka telah lolos dari tadi.


Setelah di rasa cukup, Elang kembali pada kelompoknya lagi. Seperti saat ia datang kesini, seperti itu pula ia meninggalkan tempat ini. Namun belum jauh ia berjalan, seseorang dari komplotan itu melihatnya.


"Aku harus segera lapor pada bos," ujar seorang lelaki yang melihat Elang.


Merasa ada yang memperhatikannya, Elang seketika menoleh - mencari asal dari insting-nya yang tajam. Matanya menangkap sosok yang mulai menjauh itu.


"Gawat!" seru Elang.


...To be continued ...

__ADS_1


Selamat hari ku jumat berkah, semoga yang berikan Like, Vote dan Komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki. Aamiin. 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2