Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 175. Tindakan Yang Paling Jauh Sejak Mereka Bersama


__ADS_3

"Terima kasih telah membawaku kesini," ujar Rania selepas menghabiskan makanannya. Sebagai responnya, Khanif tersenyum bahagia melihat Rania bahagia.


Lalu sedetik kemudian, Khanif pun berkata apa yang ingin dikatakannya sedari tadi.


"Besok kamu tidak usah datang ke kantor," ujar Khanif membuat Rania sontak melihatnya dengan tatapan heran.


"Kok bisa?"


"Rencana besok aku dan keluargaku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu secara resmi dan juga menetapkan tanggal pernikahan kita," ujar Khanif lagi-lagi membuat pipi memanas dan mungkin juga sudah bersemu merah.


Ah, lelaki didepannya ini selalu saja membuatnya merona malu.


"Bukannya pernikahan kita tinggal tiga belas hari lagi?"


"Itu hanya kataku saja," ujar Khanif tersenyum.


"Jadi yang kemarin hanya ancaman aja gitu?"


"Tidak juga. Aku mengatakannya karena aku ingin pernikahan kita tidak terkesan terlalu terburu-baru, tapi tidak terkesan terlalu lama juga."


"Emm, begitu."


"Semua keputusan pernikahan ada ditangan mama. Kalau mama mau segera punya mantu, mungkin mama akan memajukan tanggal pernikahan kita."


"Emm, tidak. Dua minggu saja sudah baik."


"Kenapa emangnya kalau pernikahan kita dipercepat. Bukannya kita lebih cepat untuk bersama, ya kan."


Sudah! Khanif benar-benar sengaja membuatnya bersemu merah.


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang, " ujar Rania mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku masih mau lama-lama sama kamu disini."


"Tapi sebentar lagi jam istirahat kantor akan selesai."


Khanif menghela napas panjang. Siapa sih yang membuat jam istirahat kantor sampai sesingkat itu? Sepertinya Khanif harus memberi perhitungan padanya.


"Kakak adalah atasan disana dan kakak pastinya wajib memberikan contoh yang baik pada bawahan kakak. Lagi pula, kakak sendiri kan yang membuat jam istirahat kantor sesingkat itu kata kakak barusan?" ujar Rania membuat Khanif tersadar kalau dirinyalah yang membuat jam istirahat kantor seperti itu.


Ah, ia benar-benar pelupa jika sudah berhadapan dengan wanita yang sebentar lagi menjadi miliknya.


"Kalau kakak masih ingin berlama-lama, seharusnya kakak membuat jam istirahat kantor lebih lama lagi. Contohnya memberikan kami jam istirahat selama 2 jam," kata Rania membuat Khanif berpikir keras.


"Tidak. Sejam setengah itu sudah cukup untuk beribadah dan beristirahat. Aku seharusnya tidak mencampur adukkan kehidupan pribadi kita dengan kehidupan kantor."


"Nah. Itu kakak tau. Rania bahkan sangat senang saat kakak menambah jam istirahat kami kala itu. Waktu segitu pun sudah cukup untuk kami, kalau kakak menambahnya hanya karena keinginan pribadi, Rania tidak akan menerimanya. "


"Hem. Terima kasih telah menyadarkan kakak."


"Itu tugasnya casi."

__ADS_1


"Iya, iya, Calon istrinya Khanif."


Mereka pun sama-sama terkekeh pelan. Lalu beberapa menit kemudian, mereka lantas kembali ke kantor untuk segera mengerjakan tugas mereka masing-masing.


***


Keesokan harinya, Khanif benar membuktikan ucapannya untuk datang kerumah Rania beserta keluarganya untuk datang kerumahnya - melamarnya secara resmi.


Saat ini pun, Khanif dan kedua orang tuanya serta Davina telah duduk manis di dalam ruang tamu di rumah Rania.


Rania yang juga sudah duduk manis di sana sesekali mencuri pandang pada Khanif yang hari ini terlihat berbeda di matanya. Khanif terlihat lebih tampan dengan potongan rambut yang baru.


"Jadi pernikahan mereka akan kami adakan sepuluh hari lagi. Itu adalah tanggal dan hari yang baik untuk menikah."


"Bagaimana nak Rania. Nak Rania setujukan?" tanya mama Adelin.


"Rania ngikut aja, tan."


"Loh, kok manggilnya tante sih," sewot mama. "Panggil mama aja, sayang. Sama seperti Khanif."


"I ... iya, ma," katanya canggung karena belum terbiasa.


"Nah, gitu dong. Mama jadi ngga sabar ingin mempercepat tanggal pernikahan kalian," ujar mama Adelin antusias hingga mengundang gelak tawa yang lainnya.


"Kalau mau, kita bisa mempercepatnya," respon mama Dahlia yang sebenarnya hanya bercanda.


Papa dari calon pengantin pria dan pun hanya dapat tersenyum melihat tingkah istri-istri mereka yang sudah tidak tahan lagi ingin mempercepat pernikahan anak-anak mereka.


"Baiklah. Kalau begitu kita akan menyepakati bersama kalau tanggal dua tiga adalah hari pernikahan anak-anak kita," ujar papa Rudy, papa Rania.


Percakapan antara kedua orang tua pun masih berlanjut. Mereka masih melanjutkan percakapan mereka dalam seputar acara pernikahan Khanif dan Rania.


Dimana acara akan dilangsungkan, kapan resepsinya akan diadakan dan sampai wedding planernya juga mereka bicarakan.


Khanif yang mulai tidak ikut dalam pembicaraan antar kedua orang tua pun memberikan kode mata pada Rania untuk mengikutinya ke luar rumah.


Sesaat mereka berdua telah keluar, Rania lantas saja berbicara, "apa tidak apa-apa kalau kita pergi dari sana?"


"Ya, ngga papa. Dari pada kita hanya diam-diam saja. Lebih baikkan kita cari suasana baru," ujar Khanif. "Ayo, aku ingin membawamu kesuatu tempat," ajak Khanif kemudian.


Kedua orang tua yang baru sadar kalau anak-anak mereka telah pergi pun hanya dapat tersenyum-senyum mengetahui tingkah anak-anak mereka masing-masing.


"Sepertinya keputusan kita sudah tepat jika mengadakan pernikahan anak-anak kita dalam sepuluh hari kedepan," ujar mama Adelin terkekeh pelan.


"Kami rasa juga begitu," balas mama Dahlia.


Sementara itu, Khanif pun melajukan mobilnya ke suatu tempat yang ingin diperlihatkannya pada Rania.


Setelah berkendara agak lama, Rania yang sebelumnya tidak tau menahu dimana Khanif akan membawanya, pada akhirnya menemui titik terang.


Ia lantas berkata, "kita mau apa jalan ke arah sekolah?" tanya Rania.

__ADS_1


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat dimana terakhir kali kita bertemu."


"Kita akan pergi ke taman belakang sekolah?" tanya Rania memastikan.


"Hem."


Sesaat mereka pun telah sampai disana. Setelah melepaskan sealbelt mereka, mereka pun bersama-sama keluar dari mobil.


"Kenapa membawaku ke sana?" tanya Rania.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin datang ke sana saja dengan kamu. Tapi sebelum itu, kita harus memakai ini lagi," ujar Khanif memperlihatkan benda penyamaran mereka sewaktu terakhir kali mereka datang kesini.


Melihat hal itu, membuat Rania terkekeh pelan. Ia lalu mengambil benda penyamaran sendiri.


Setelahnya, Mereka pun bersama-sama melangkahkan kaki menuju taman belakang sekolah.


Meski anak-anak sekolah masih ada, mereka tetap saja melangkahkan kaki mereka kesana.


Anak-anak sekolah yang berjumpa dengan mereka pun banyak yang bertanya-tanya dalam hati.


Siapa mereka? Kenapa mereka bisa masuk ke sini?


Namun semua pertanyaan itu pada akhirnya tidak dapat terjawab juga seiring tidak terlihatnya Rania dan Khanif di sepanjang lorong yang menghubungkan kelas-kelas lain.


Sesampainya Khanif dan Rania disana, Khanif lantas mengedarkan pandangannya mencari dimana tempat ia dan Rania pernah berpijak.


Setelah mendapatkannya, Khanif tanpa sadar mengambil tangan Rania. Ia menganggamnya hingga membuat Rania mengernyit heran, namun bibirnya seakan kelu - tidak dapat berkata-kata apa-apa.


Dengan tangannya yang masih bebas, Rania lantas memegang dadanya yang bergemuru hebat. Secara hal ini adalah tindakan Khanif yang paling jauh dengannya.


"Rania," panggil Khanif pelan dan masih belum sadar kalau tangannya masih menganggam tangan Rania.


"Rania," panggilnya lagi.


"I ... iya?"


"Kamu kenapa?"


Sontak Rania mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga membuat Khanif terkejut dan langsung saja melepaskan tautan tangan mereka.


"Maaf, aku tidak sengaja."


Sebagai tanggapannya, Rania hanya dapat tersenyum malu-malu. Sedang Khanif menggaruk tengkuknya canggung.


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


yuk beri dukungan pada cerita ini dengan cara memberikan vote kalian ya.

__ADS_1


__ADS_2