Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 104. Terlihat Tidak Bersemangat


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu sejak Khanif menerima video singkat dari nomor yang tidak dikenalnya. Sungguh, isi video itu membuat Khanif berpikir panjang setelahnya. Bagaimana tidak, padahal ia berencana segera menyelesaikan pekerjaannya disini, di kota M untuk segera memberitahukan mamanya kalau keputusannya dalam masa depannya sudah bulat.


Maksudnya, ia tidak akan menunda-nunda waktu lagi kalau dirinya ingin menjadikan Rania sebagian dari hidupnya. Namun sepertinya, keputusannya yang belum sempat ia lakukan itu harus kandas ditengah jalan saat melihat video itu. Video yang berisikan Rania yang tengah dilamar oleh Zaky, dokter pribadi keluarganya.


Sungguh, Khanif tidak menyangka kalau Zaky lebih dahulu maju dari pada dirinya. Memang sebelumnya, mama menyuruhnya untuk segera membuat keputusan. Tapi dengan entengnya ia malah menundanya. Ia mengatakan kalau dirinya ingin memastikan lebih dahulu perasaan Rania padanya.


Tapi apa ini, ia sudah terlambat beberapa langkah dari Zaky yang mungkin tidak menimbang beberapa hal seperti dirinya. Aapakah ini namanya menyesal dibelakang? Jika ya, ia telah merasakannya saat ini.


Kalau ia tahu akan begini jadinya, ia akan tetap melanjutkan aksi sengajanya membuat Rania selalu kesal kepadanya agar Rania semkin menjauhinya, tapi anehnya, ia bahkan terjebak dalam permainannya sendiri. Sungguh ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi kala mengingat kelakuannya dulu.


Betapa menyesalnya ia sekarang. Namun menyesal dibelakang sudah tidak ada gunanya lagi. Apa yang ingin dikatakan sudah tidak perlu lagi. Apa yang ingin dilakukan sebelumnya juga sudah tidak ada gunanya lagi.


Huft, lagi-lagi Khanif menghela nafas berat nan panjang kala mengingat kecerobohannya. Entah sudah berapa kali ia melakukannya sepanjang hari kemarin dan hari ini. Sepertinya, menghela nafas seperti itu telah menjadi kebiasaan barunya sejak mengetahui kalau impiannya telah pupus walau belum ia mulai. Ia seperti kalah sebelum bertindak.


Walau begitu, seberapa pun kecewanya Khanif terhadap dirinya sendiri, ia tidak akan membawa perasaan sedihnya itu sampai berimbas pada pekerjaannya karena pekerjaan adalah pekerjaan dan harus diselesaikannya sesuai target dan waktu yang telah ia tentukan sebelumnya.


Sedangkan perasaan adalah perasaan. Perasaan itu akan membaik dengan sendirinya. Membaik saat ia melewati hari-hari yang akan ia jalani kedepannya. Ia yakin, matahari akan bersinar lebih cerah setelah hujan reda dan Khanif berharap jika suatu saat ia bertemu dengan Rania lagi, ia akan dapat bersikap seperti biasanya.


"Pak Khanif."


Khanif berbalik melihat Tama yang baru tiba pagi ini. "Tama. Ayo kita kesana," ajak Khanif.


"Maaf membuat bapak menunggu lama."


"Tak apa."


Khanif dan Tama pun menuju taman depan vila yang tadi telah ditunjuk oleh Khanif. Khanif tahu, Tama tidak tahan akan dinginnya hawa di kota M ini. Namun karena profesional kerjanya, Khanif percaya kalau Tama rela melakukan apapun bahkan melawan dingin yang menusuk dikulitnya.


"Maaf masih membuatmu bertugas disini," ujar Khanif setelah mereka sampai ditempat yang dituju oleh Khanif.


"Bapak tidak perlu sungkan begitu. Ini adalah pekerjaan saya, jadi sudah seharusnya saya melakukannya," kata Tama lalu kemudian tertawa kecil saat melanjutkan perkataannya, "lagipula, gaji yang bapak berikan sudah sangat sepadan."


"Jika dikemudian hari kamu perlu bantuan, katakan saja. Saya siap membantumu."


"Iya pak."


Aneh! Itulah keadaan yang dirasakan Tama pagi ini bersama Khanif. Tidak biasanya Khanif terlihat tidak bersemangat kalau sudah berada ditempat kerja. Tidak biasanya Khanif akan berbicara seperti itu padanya. Tapi apa ini? Khanif menunjukkan dua hal tersebut saat ini.

__ADS_1


Bagaimana bisa Tama tidak merasa aneh jika mendapati sikap bosnya berbeda dari hari-hari biasanya. Mungkin Khanif menganggap hal ini biasanya untuk dirinya. Tapi untuk Tama, ia tidak menganggap hal ini adalah hal yang biasanya.


Semakin kesini, Tama seperti menjadi orang dengan keingintahuan yang tinggi saja. Apa ia harus merubah profesi kerjanya sebagai pemburu berita atau tetap pada profesinya?


"Tama!" seru Khanif memanggil Tama yang tiba-tiba diam.


"Iya pak."


"Apa kamu dengar apa yang tadi saya katakan?"


Tama diam. Sungguh ia tidak memperhatikan maupun mendengar perkataan Khanif tadi. Apa karena lamunanya yang kelewat batas atau memang dirinya sudah mirip menjadi seseorang pemburu berita. Semakin kesini pemikiran Tama semakin melantur saja.


"Maaf pak, saya tidak terlalu memperhatikan bapak," ujar Tama diselingi senyuman malunya.


Khanif memijit pelipisnya. Jadi sedari tadi ia berkata-kata, Tama tidak memperhatikannya. Huft, sepertinya Khanif harus memulainya dari awal.


"Kamu punya masalah dirumah?" tanya Khanif bermaksud pada Rumah Tama yang ada di kota yang sama dengannya.


"Tidak pak."


Tama mengangguk. Khanif pun menjelaskan ulang apa yang tadi telah dikatakannya pada Tama saat Tama sibuk dengan pemikirannya sendiri. Khanif lalu mengatakan kalau didepan vila, ia akan membuat taman kecil dengan adanya gasebo yang dikelilingi tanaman merambat diatasnya.


Ia juga mengatakan kalau ia akan menambahkan beberapa arena bermain untuk anak-anak yang ikut berlibur dengan keluarga masing-masing. Mendengar hal itu, membuat Tama bertambah antusias untuk segera meyelesaikan pekerjaan yang ada, lalu melanjutkan pekerjaan yang telah dikatakan oleh Khanif tadi.


"Siapa dilaksanakan, pak," jawab Tama pada ide-ide yang diberikan oleh Khanif.


"Baiklah. Saya harap pekerjaan disini cepat selesai dan kamu memperhatikan kesejahteraan pada pekerja disini. Oh, iya. Untuk gasebo dan arena bermain anak-anak, akan kamu kerjakan setelah peresmian. Jadi, sekitar seminggu lagi, saya mau pekerjaan ini selesai tepat waktu."


"Iya, pak. Saya akan pastikan itu."


"Hem. Sore ini saya akan kembali. Setelah semua pekerjaan rampung, saya akan datang lagi mengecek dan sekaligus meresmikannya."


"Iya, pak."


Setelah mengatakannya, Khanif pun pergi meninggalkan Tama yang mulai mengerjakan pekerjaannya kembali. Khanif melangkahkan kakinya menuju mobil. Namun belum sempat ia mencapainya, ia teringat dengar kebun strowberry yang berada di ujung vila-nya.


Khanif lantas membelokkan langkah kakinya menuju kebun buah strowberry untuk memetik beberapa buah yang ingin dijadikannya sebagai oleh-oleh untuk keluarganya dan untuk Rania.

__ADS_1


Huft, mengingat satu nama itu, membuat Khanif langsung saja menggelengkan kepala. Baru saja beberapa jam berlalu ia mengatakan pada dirinya sendiri agar segera melupakan Rania, saat ini ia malah teringat padanya lagi. Ia memang sungguh aneh.


Khanif pun kembali melanjutkan kegiatannya untuk memulai memetik buah yang siap untuk dipanen. Setelah mengambil keranjang buah, Khanif mulai melangkahkan kakinya untuk memilih strowberry.


Saat Khanif sibuk mencari serta memilih, bapak yang beberapa waktu lalu pernah diajaknya bicara, terlihat sedang memilih buah juga. Bapak yang tidak sengaja melihat Khanif pun jadi takut. Ia takut akan dimarahi karena telah masuk ke kebun ini tanpa seizin Khanif.


"Maaf pak. Saya setelah lancang masuk ke kebun buah, bapak."


"Tak apa, bapak ambil saja sesuka hati bapak," ujar Khanif karena ia tahu, bapak itu bukan mengambil buah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak-anaknya dirumah. "Bapak bisa memanggil saya, Khanif."


"Tapi itu tidak sopan pak. Apalagi bapak adalah bos, saya."


"Baiklah, kalau dalam pekerjaan bapak bisa memanggil saya seperti itu. Tapi jika diluar, bapak bisa memanggil saya Khanif, saja."


Bapak itu pun lalu tersenyum. "Bapak baik sekali. Terima kasih, pak."


"Sama-sama. Silakan bapak melanjutkan memilihnya."


Bapak itu lalu mengangguk dan mulai memilih buah lagi, seperti yang tengah dilakukan Khanif. Saat Khanif tengah sibuk mencari strowberry yang siap untuk dipanen. Tiba-tiba ponselnya berdering. Khanif lalu merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya.


Sebelum mengangkatnya, Khanif melihat siapa pemanggil tersebut. "Mama," ujar Khanif. Khanif pun menggeser ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk diponsenya.


"Assalamualaikum, ma."


"Waalaikumsalam."


"Mama, ada perlu apa?"


Bukannya menjawab, mama malah membuat Khanif terkejut dengan perkataannya. Khanif dengan refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya.


...To be continued ...


Jangan Lupa Follow aku ya. Biar kalian bisa tau informasi dari aku.


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2