
Rania tersadar saat orang yang menolongnya bertanya, "kamu tidak apa-apa?"
Rania mendonggakkan kepalanya melihat sosok yang telah menolongnya itu. Dengan canggung, Rania melepaskan dirinya dari sosok lelaki yang telah menolongnya itu.
Saat Rania sudah berdiri tegap lagi, lelaki yang telah menolong Rania pun mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan diri.
"Perkenalkan saya David, karyawan baru disini. Saya bekerja di bagian keuangan."
Rania melongo mendengarnya. Baru saja beberapa hari ia tidak masuk kerja, perubahan di tempat kerjanya sudah banyak. Contohnya saja lelaki dihadapannya yang terus saja mengulurkan tangannya tanpa berniat menariknya kembali.
Rania tersadar. Ia pun tersenyum kecil lalu membalas jabatan tangan lelaki yang bernama David, seperti katanya.
"Saya Rania. Salah satu staf keuangan juga."
"Wah, ternyata kita sama ruangan. Senang berkenalan denganmu."
"Saya pun begitu. Oh ya, terima kasih atas bantuanmu tadi. Kalau tidak ada kamu, mungkin saya telah tersungkur di lantai," ujar Rania tanpa menyebutkan kalau kakinya sudah pernah keseleo.
"Sama-sama. Emm ...." David berpikir sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "bagaimana kalau siang nanti kita makan siang bareng. Lagipula belum banyak orang yang ku kenal disini. Aku lihat kamu orang yang cepat akrab dengan orang lain makanya aku mengajakmu."
Rania berpikir sejenak untuk menimbang jawabannya. Namun sedetik kemudian, ia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah, nanti aku jemput kamu di mejamu."
"Eh, tidak usah. Kita ketemu di cafetaria kantor saja," ujar Rania cepat.
"Baiklah, kita bertemu disana saja."
Mereka pun berjalan bersisian menuju ruangan mereka masing-masing. Namun, tanpa mereka ketahui, ternyata saat Rania hampir terjatuh tadi dan malah ditangkap oleh David, seseorang melihat mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Seseorang itu tanpa sengaja melihat mereka saat lift kaca yang membawanya ke lantai duapuluh satu tepat berjalan naik saat kejadian tidak terduga itu.
Yah, dia adalah Khanif. Lelaki yang saat ini sudah duduk termenung di kursi kebesarannya sambil menghadap keluar. Sekali lagi ia memandang keluar saat hatinya merasa tidak karuan.
Sungguh, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kadang kala ia merasa sangat senang bisa berada disekitar Rania lagi, kadang pula ia merasa tidak senang saat Rania berada disekitarnya.
__ADS_1
Apa karena dulu ia begitu memaksakan diri untuk menerima Rania sebagai karyawannya? Huft, Khanif menghela napas panjang. Ia tidak pernah menyangka keputusannya setahun yang lalu seperti telah menjadi boomerang baginya kali ini.
Ia dengan jelas mengingat bagaimana dulu ia memperjuangkan Rania untuk menjadi karyawannya. Pikirannya melayang pada kejadian setahun yang lalu.
Saat itu, Khanif melihat semua berkas pelamar pekerjaan yang melamar pekerjaan dikantornya. Hingga matanya tertuju pada sebuah nama yang sangat familiar. Tangannya terulur mengambil berkas pelamar itu. Ia tersenyum saat sekali lagi ia membaca sebuah nama yang tertulis diatas sebuah berkas lamaran pekerjaan.
"Rania," ujarnya pelan.
Ia pun membaca biodata diri Rania. Mulai dari nama, riwayat pendidikannya sampai pada keahliannya. Ia cukup puas dengan isi biodata diri Rania. Ia mengira sejak ia menolak Rania kala itu, Rania akan semakin terpuruk. Namun nyatanya ia salah. Bahkan Rania lebih bersinar sejak kejadian itu.
Rania bagaikan mutiara yang tersembunyi oleh sebuah kerang yang tersimpan di dasar lautan. Ia begitu berharga, hingga ia tidak boleh disia-siakan. Khanif pun menyimpan berkas lamaran Rania di sisi mejanya yang lain. Ia yakin pasti Rania akan diterima kerja ditempatnya, mengingat ada seorang karyawannya yang mengundurkan diri.
Sesaat Khanif menyimpannya, Rahayu karyawan hrd yang bertugas menyeleksi calon penerimaan karyawan baru pun datang dengan sebuah map ditangannya.
"Selamat pagi pak."
"Pagi, silakan duduk."
"Ini berkas yang bapak minta. Semua sudah saya seleksi sesuai permintaan, bapak."
Khanif menganggukkan kepalanya, ia pun menerima berkas dari Rahayu. Sesaat ia membaca semuanya. Ia mengernyit heran saat tidak mendapati sebuah nama yang tadi diyakininya akan masuk ke dalam berkas ini jika melihat dari biodatanya yang begitu mengangumkan.
Khanif pun melihat Rahayu. "Kenapa tidak seorang pun diterima kerja dibagian keuangan?"
"Maaf atas kelalaian saya pak. Saya terlambat memberitahukan bapak kalau salah seorang karyawan yang pada awalnya berniat mengundurkan diri, tidak jadi mengundurkan dirinya lagi."
"Lalu siapa nama yang sebenarnya masuk menggantikannya kalau dia jadi mengundurkan diri?"
"Dia adalah Rania, pak. Saya melihat biodatanya sangat baik dan bisa untuk diandalkan dimasa depan."
"Kalau begitu, masukkan namanya menjadi salah satu karyawan disini."
"Tapi pak, sepertinya kita sudah kelebihan orang di bagian divisi keuangan."
__ADS_1
"Masukkan saja dia. Biarkan dia bekerja disini," ujar Khanif tanpa bantahan.
"Baik, pak." Rahayu pun keluar dari ruangan Khanif. Biar bagaimana pun, Rahayu harus mengurus masalah pekerjaan ini.
Khanif berdiri dan melangkah ke dekat jendela ruangannya, lalu ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Ia menghela napas lega.
Bagaimana tidak, setelah sekian lama, ia bisa kembali bertemu dengan Rania. Sosok wanita yang selalu dihindari oleh kaum lelaki karena kekurangannya itu. Namun tidak baginya. Baginya Rania adalah sosok wanita yang baik, pengertian dan juga ceria. Maka dari itu, ia bisa menjadi akrab dengannya.
***
Keadaan Khanif saat ini sama dengan keadaannya setahun yang lalu saat ia menerima Rania menjadi karyawannya meski karyawan dibagian keuangan sudah memiliki tugas masing-masing. Saat itu ia tidak memperdulikan semuanya. Karena yang terpenting saat itu, menjaga Rania agar tetap dalam pandangan matanya. Namun apa ini? Setelah melihat Rania tadi yang hampir saja terjatuh dan ditolong oleh seorang karyawan baru dibagian keuangan juga, sudah hampir membuat Khanif menyesali keputusannya dulu.
Bukannya Khanif menyesali kalau Rania bekerja di perusahaannya. Hanya saja, Khanif menyesali membuat Rania bekerja di bagian keuangan. Karena dengan begitu, pastinya tiap saat Rania dengan karyawan baru bernama David itu akan terus-menerus bertemu.
Baik dalam hal pekerjaan maupun bukan dalam pekerjaan. Hal itulah yang sebenarnya Khanif sesali dan coba hindari. Namun semuanya tidak dapat ia ubah dengan seenaknya lagi.
Jika begitu, Khanif sepertinya ingin menjadikan Rania saja sebagai sekretarisnya kalau ternyata Lisa dan Farah tidak sesuai harapannya. Namun mengingat kata-kata Rania dulu saat bersama Davina sewaktu mereka masih di kota M yang mengatakan kalau Rania tidak tertarik menjadi sekretarisnya, membuat Khanif mengurungkan niatnya itu.
Ia tidak ingin memaksakan kehendak Rania. Biarlah Rania memilih jalannya sendiri meski dirinya pun tidak akan tenang dalam hal itu. Biar bagaimana pun juga, Khanif sudah menyerahkan semua keputusannya pada Rahayu. Sebagai orang profesional, ia tidak mungkin bisa menarik kembali kata-katanya.
Khanif pun berbalik kembali ke meja kerjanya karena ingin segera meyelesaikan beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan darinya.
Sudah dua jam Khanif berkutat dengan setumpuk dokumen yang harus selesai ia periksa hari ini juga. Bahkan saking fokus dan sibuknya, Khanif tidak mendengar lagi suara ketukan pintu yang diiringi terbukanya pintu ruangannya itu.
Langkah kaki kecil itu semakin mendekat ke arah Khanif, namun Khanif tetap saja tenggelam dalam pekerjaannya. Hingga Khanif tersentak kaget saat ada sebuah tangan lentik yang memegang dokumen yang sedang diperiksanya.
"Assalamu'alaikum. Sayang!"
...To be continued ...
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1