Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 70. Siapa yang Cocok Dengan Khanif?


__ADS_3

Bab ini aku persembahan untuk yang telah mendukung cerita aku dengan memberikan like, vote, komen dan hadiah poin. Terima kasih banyak ya. aku hanya dapat membalas kalian dengan meng-update cerita ini dan memberikan doa di akhir cerita aku. Sekali lagi terima kasih. 🤗🤗🤗


...Selamat Membaca, ya....


...***...


Lift kaca baru saja terbuka. Perlahan Khanif, mama dan Tasya pun keluar dari sana. Para karyawan yang kebetulan juga berada dilantai lima karena hendak ke cafetaria kantor pun terkejut melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya.


Oh tidak, ini yang kedua kalinya. Karena yang pertama kali membuat para karyawan itu nampak terkejut adalah saat Rania keluar dari lift kaca itu bersama Khanif minggu lalu.


Tentu saja mereka terkejut. Karena baru dua orang asing yang bukan dari keluarga atasan mereka yang juga ikut memakai lift kaca itu. Yang pertama adalah Rania yang notebenenya adalah sesama karyawan seperti mereka, yang kedua kalinya yakni saat ini.


Saat melihat Khanif dan seorang wanita paruh baya keluar dari lift diikuti oleh seorang wanita cantik yang tampak anggun, para karyawan itu menduga-duga kalau wanita dengan paras ayu itu adalah calon atasan mereka.


Melihat dari caranya menggandeng lengan ibu atasan mereka dengan sangat mesra. Bisakah mereka tidak menduganya? Tentu saja tidak, jikalau melihat hal yang tak biasa itu. Tentu saja ada dari mereka yang turut senang dalam hati karena pada akhirnya atasan mereka akan segera mempunyai pendamping hidup.


Namun tak jarang pula ada dari mereka yang merenggut tidak suka. Apalagi saat melihat Tasya berjalan dengan angkuhnya dan dengan rasa percaya diri yang tinggi. Seakan tidak ada lagi perempuan yang lebih dari dirinya.


Para karyawan itu pun memberi hormat pada tiga orang yang berjalan ke arah cafetaria kantor. Namun tak urung juga berbisik jelek dalam hati saat lagi-lagi Tasya tidak menujukkan sedikitpun rasa ramahya pada mereka.


"Angkuh sekali gadis itu," ujar salah seorang wanita muda dengan pelan takut terdengar oleh orang yang tidak ditujunya.


Gadis yang bersebelahan dengannya pun ikut berkata, "ya, kamu benar. Saya tidak rela kalau pak Khanif sama dia. Bisa-bisa jadi apa kita kalau ikut dipimpin oleh dia."


"Tentu saja. Dia ngga cocok sama pak Khanif yang ramah pada kita."


"Iya, aku ngga rela banget kalau sampai pak Khanif memilih dia. Kalau pak Khanif sama ... sama ...," ujarnya menimbang, apakah harus memberitahu pada temannya ini atau tidak.


Ia takut, kalau temannya ini akan membicarakan pembicaraan mereka. Apalagi ia tahu kalau temannya ini bermulut ember karena suka sekali bergosip ria. Namun ia juga tau kalau temannya ini suka menyebarkan gosip di grup kantor mereka.


"Kamu kenapa?" tanya temannya heran.


"Ngga papa," ujarnya berjalan menuju cafetaria kantor.


"Eh, hei, tunggu! Kamu belum memberitauku siapa yang kamu maksud!" teriaknya sambil mengikuti langkah kakinya.

__ADS_1


Gadis berkaca mata minus itu pun bergumam, "tentu saja yang cocok dengan pak Khanif adalah Rania." Ia terkikik geli dan langsung saja menutup bibirnya. Temannya yang mengekor dibelakang pun tidak sempat mendengar gumamnya. Sehingga semua berlalu seperti biasa.


***


Khanif, mama dan Tasya baru saja mendudukkan diri saat mata mama menangkap sosok gadis yang sangat dikenalnya. Mama pun melambaikan tangannya pada gadis yang tengah berjalan bersama seorang pria.


Ya, gadis yang mama maksud adalah Rania. Ia berjalan bersama David karena janji mereka untuk makan siang bersama. Rania yang melihat lambaian tangan mama pun berjalan mendekat ke arah mereka.


"Tante, apa kabar?" tanya Rania sesaat setelah mencium tangan mama.


"Alhamdulillah baik, nak. Kamu gimana?"


"Rania udah baik, tan."


Tiba-tiba Tasya memutus perbincangan santai itu dengan berceletuk, "Rania! Kamu kerja disini?"


"Oh, kak Tasya. Iya kak. Udah ada setahun lebih."


"Nak Tasya kenal juga sama nak Rania?" tanya mama.


Perkataan Tasya barusan pada mama, membuat mama terkejut namun mama bisa mengendalikan rasa keterkejutannya itu. Ia tidak menyangka saja, ternyata Rania pernah satu sekolah dengan anaknya meski Rania adalah adik kelas dari anaknya.


"Wah, tante baru tahu loh!" ujar mama sambil melirik Khanif sebentar. Sedang Khanif tidak memperdulikan arti lirikan mama padanya.


"Ternyata nak Rania udah kenal anak tante udah lama juga dong."


"Iya tan."


Disaat bersamaan, Tasya juga ikut menimpali, "tentu saja, tan. Siapa coba yang tidak kenal dengan ketua osis kita semasa sma. Kalau tidak salah, waktu itu Rania ikut juga menjadi anggota osis dimasa pemeritahan Khanif," ujar Tasya malah membuat mama tersenyum penuh arti.


"Ah, nak Tasya. Terima kasih atas informasi ini. Tante tidak tahu kalau ternyata nak Rania jadi anggota osis juga." Mama lalu beralih melihat Khanif. "Siapa suruh anak tante pendiamnya minta ampun kalau lagi sama tante."


Merasa di sindir secara halus, membuat Khanif tidak dapat berkata apa-apa untuk membuat mama berhenti membicarakannya dengan Rania.


"Oh, iya nak Rania. Dia siapa?" tanya mama bermaksud pada David. Mama takut kalau lelaki disamping Rania ini mempunyai hubungan lebih dengannya.

__ADS_1


"Dia David, tan. Karyawan baru disini."


Mama menganggukkan kepalanya. Saat tahu kalau Rania belum duduk juga, Mama pun menyuruh mereka untuk duduk bersama disini. Lagi pula kata mama, kalau meja makan ini masih muat untuk mereka berdua. Tapi Rania menolak dengan halus, takut kalau David merasa tidak nyaman.


"Baiklah, nak Rania. Tapi lain kali harus mau ya, kalau tante ajak."


"Iya, tan. Kalau begitu, Rania pergi ke sebelah sana dulu," tunjuk Rania pada meja yang masih kosong.


"Iya, nak."


Rania dan David pun pergi dari sana, meninggalkan dua karyawan tadi yang sempat membisiki mereka.


"Kamu lihat, gara-gara wanita yang bersama pak Khanif itu, Rania malah menolak kesempatan besar ini."


"Maksud kamu?" tanya temannya tadi.


Wanita berkacamata itu menoleh pada temannya yang terkesan lamban, namun cepat jika hanya menyebarkan sebuah gosip di media sosialnya.


"Lihat, disana juga ada ibu dari pak Khanif. Bisa sajakan Rania mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan ibu pak Khanif agar hubungan mereka mengalami kemajuan."


"Hubungan apanya, jangan ngacoh, ah!" ujarnya sewot. Pasalnya, ia juga kagum pada Khanif.


Wanita berkacamata itu menggelengkan kepalanya pelan. "Apa kamu ngga sadar, kalau Rania udah izin selama beberapa hari ini. Bahkan sampai melewati izin yang biasanya perusahaan berikan. Buat apa coba, pak Khanif memberikan izin yang lebih hanya gara-gara kaki keseleo yang pastinya masih bisa jalan menggunakan tongkat."


Wanita lainnya mengangguk. Ia baru sadar akan hal itu. "Jadi?"


"Jadi pastinya pak Khanif memperlakukan Rania lebih dari seorang karyawan."


Nyatanya, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka hingga membuat seseorang itu sangat terkejut dibuatnya.


"Bagaimana bisa mereka bisa berbicara seperti itu!" ungkapnya dalam hati. Ia lalu berdehem, membuat dua orang wanita itu menoleh padanya dengan memberikan pandangan terkejut.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2