Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 97. Terima Kasih


__ADS_3

"Kenapa sepatunya tidak mau lepas?"


Sontak Rania dan Bella beralih ke sumber suara. Mereka sama-sama terkejut dengan siapa yang dilihat didepan mereka.


"Pak Khanif!"


"Kak Khanif!"


Gumam Rania dan Bella disaat bersamaan.


Mengapa Khanif malah datang disaat memalukan seperti ini bagi Rania. Pikir Rania dalam hatinya. Rania lalu berdiri dengan kikuk sambil menahan sakit di kakinya.


Khanif berjalan cepat ke arah Rania.


"Ceroboh, bukannya sepatunya kekecilan malah masih dipakai. Duduk!" ujar Khanif sambil berjongkok didepan Rania untuk membantunya melepaskan sepatunya.


Ucapan Khanif barusan seperti memerintah diperdengaran Rania. Mau tidak mau, Rania sontak mengikuti perkataan Khanif. Apalagi kakinya akan terus sakit kalau ia tetap berdiri dan masih memakai sepatu lars panjang ini.


Bella yang melihat interaksi antara Khanif dan Rania pun tidak dapat berkata apa-apa. Ia terus saja diam sambil memandangi Khanif yang telah jauh banyak berubah. Sedang Bella sibuk dengan dunianya sendiri, Khanif masih berusaha membantu Rania melepaskan sepatunya.


"Kenapa ngga lihat dulu ukuran sepatunya baru mencoba?"


"Aku ... aku ...." Tiba-tiba saja mata Rania berkaca-kaca dan detik berikutnya, ia menangis tepat dihadapan Khanif tanpa merasa malu lagi.


"Maaf. Saya akan membantumu."


Rania mengangguk sambil mengusap jejak air mata yang tertinggal di pipinya. Khanif pun kembali membantu Rania melepaskan sepatu dengan ukuran kecil itu. Setelah berusaha sedikit, akhirnya sepatu yang terasa menjepit dikaki Rania pun bisa lepas juga.


"Terima kasih," ujar Rania.


"Sama-sama. Lain kali jangan langsung mencoba sepatu kalau belum melihat ukuran kakinya," pesan Khanif untuk kesekian kalinya pada Rania. Rania pun mengangguk mengiyakan.


Rania lantas mendonggakkan kepalanya melihat Khanif yang kembali telah berdiri. Ia lalu merasa heran akan keberadaan Khanif disini. Rania lalu bertanya, "apa yang bapak lakukan disini?"


"Saya mencari kamu untuk mengambil file kota M."


"Kenapa bapak tidak telepon saja?"


"Jika kamu mengangkatnya, saya tidak perlu repot-repot datang kemari disaat jam penerbangan saya tinggal beberapa jam lagi."


Rania tercengang. Ia lalu merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya lalu memeriksa nada ponselnya dan telepon yang tidak terjawab dari Khanif.


"Maaf pak. Saya tidak mendengarkan panggilan bapak."


"Tak apa. Dimana file untuk kota M?"


"Ada di laptop saya pak."

__ADS_1


"Kalau begitu kita kerumahmu sekarang. Jangan buang-buang waktu lagi."


"Tapi Bella?"


Khanif menoleh ke belakang melihat seorang gadis yang ia kenali dengan anak anggota osis disekolah yang tidak sama dengannya. Bella lantas tersenyum lalu bibirnya terbuka menyapa Khanif untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


"Hai ... kak Khanif." Canggung. Bella menyadari itu. Namun ia tidak tahu lagi harus berkata seperti apa untuk menyapa seseorang yang ia sukai selama ini dan baru kembali melihatnya.


Khanif tersenyum singkat, lalu kembali menolehkan wajahnya pada Rania. Bukannya ia sombong, ia hanya tidak terlalu ingat siapa wanita yang ada disampingnya ini.


"Tidak ada lagi kan yang ingin kamu beli?"


Rania menganggukkan kepalanya cepat.


"Kalau begitu, ayo bayar belanjaan mu. Lalu saya akan mengantarkan kamu pulang." 


Rania pun menganggukkan kepalanya patuh. Ia lalu bertanya pada Bella, "Bel, kamu naik apa datang kesini?"


"Aku naik mobil online."


"Kalau gitu kamu ikut kami aja," ujar Rania tanpa meminta persetujuan Khanif. Biar, biar Khanif sedikit beramal dengan mengantar Bella pulang. Dalam hati, Rania terkekeh pelan.


"Tapi ...."


"Ngga ada tapi-tapian. Ikut aja. Yuk bayar dulu belanjaan kamu." Rania pun mengajak Bella ke kasir. Bukannya Bella tidak tahu. Hanya saja, Bella meresponnya lambat karena kehadiran Khanif ditengah-tengah mereka.


"Dimana rumah kamu?" tanya Khanif setelah ia hendak melajukan kendaraannya.


"Saya tinggal di jalan melati, kak."


Tanpa merespon, Khanif melajukan mobilnya menuju rumah Bella. Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka tiba. Bella pun keluar dari mobil Khanif diikuti dengan Rania.


"Terima kasih kak," ujar Bella sedikit menundukkan kepalanya melihat Khanif dari jendela mobil.


"Sama-sama."


Bella kembali melihat Rania. "Ra, terima kasih ya. Kamu hati-hati dijalan."


"Pasti."


"Baiklah, aku masuk dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rania pun membalikkan badannya hendak masuk ke dalam mobil Khanif. Namun belum juga tangannya sempat membuka pintu mobil ditempatnya dan Bella tadi duduk, sudah lebih dahulu Khanif berseru, "Saya harap kamu tidak lupa kalau saya adalah atasan kamu dan bukan supir pribadi kamu."


"Saya hampir saja lupa kalau bapak tidak mengingatkan saya," canda Rania sambil membuka pintu depan.

__ADS_1


Khanif diam menanggapinya. Lalu setelah Rania memasang sabuk pengamannya, ia pun melajukan mobilnya menuju rumah Rania untuk mengambil file kota M di laptop Rania. Disepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka percakapan lagi. Mereka berdua seperti larut dalam keheningan.


Entahlah apa yang mereka pikirkan bersama. Rania sibuk melihat-lihat keluar jendela seakan ia harus menghapal tiap jalanan yang ia lewati. Sedangkan Khanif, ia juga tidak ambil pusing lagi kalau didalam mobil ini ia merasa sendirian saja. Berbeda waktu pertama kali ia mengantarkan Rania pulang.


Keadaan diam seperti ini terus saja terjadi sampai mereka akhirnya tiba didepan rumah Rania. Rania melepaskan sabuk pengamannya lalu sedetik kemudian ia pun keluar dari mobil diikuti dengan Khanif dibelakangnya.


"Assalamualaikum," ujar Rania saat hendak masuk ke dalam rumah.


Dari dalam, mama yang sedang menonton pun menjawab salam Rania, "waalaikumsalam." Mama lalu berjalan menghampiri Rania. "udah pulang?" tanya mama heran karena biasanya Rania pulang jika matahari sudah hampir tenggelam.


"Iya ma." Rania mendekat ke mama dan mengambil tangan mama untuk diciumnya.


Saat Rania tengah melakukan rutinitas sepulang kerjanya, Khanif masuk kerumah dan tidak lupa memberikan salam. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Nak Khanif."


Khanif tersenyum. Belum sempat mama bertanya perihal kedatangan Khanif, Rania sudah lebih dahulu mengatakannya.


"Pak Khanif datang kesini untuk mengambil file, ma."


"Emm." Mama lalu beralih pada Khanif. "Gih, nak Khanif duduk dulu sambil menunggu Rania mengambilkannya. Kalau gitu tante ke belakangan dulu."


Khanif menganggukkan kepalanya lalu ia pun mengikuti perkataan mama Dahlia yang menyuruhnya duduk di sofa dulu. Rania pun bergegas ke kamar untuk mengambil laptopnya. Setelah dapat, Rania langsung saja ke ruangan tamu kembali dan duduk diseberang sofa dekat Khanif.


"Bapak bawa flashdisk?" tanya Rania.


Khanif yang memang selalu membawa flashdisk untuk keperluan kantornya pun memberikannya pada Rania agar Rania bisa menyimpan file yang dibutuhkan Khanif nanti. Rania lantas menghidupkan laptopnya. Setelah menunggu beberapa saat, laptopnya pun hidup dan menampilkan wallpaper dengan foto Rania saat berlibur di kota M bersama Khanif.


Mengatahui hal itu, Rania cepat-cepat menyerongkan sedikit laptopnya dari Khanif. Biar bagaimana pun, ia malu jika Khanif sampai melihatnya.


"Kenapa dimiringkan?"


"Oh, tidak apa-apa, pak. Cuma agar lebih lebih mudah saja saat saya meng-copy nya," ujar Rania beralasan.


Rania pun mulai mencolok flashdisk Khanif ke laptop nya. Ia lalu mencari file yang dibutuhkan oleh Khanif. Setelah dapat, ia men-copynya.


"Ini mau ditaruh di file apa, pak?" tanya Rania saat melihat banyaknya folder yang ada di dalam flashdisk Khanif.


"Di luar saja."


Rania mengangguk. Ia pun mem-paste dokumen yang dibutuhkan Khanif ke flashdisk. Saat semua telah tercopy, tanpa sengaja Rania melihat sebuah foto yang membuatnya bertanya-tanya sendiri.


...To be continued....


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2