Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 141. Petunjuk Dari Khanif


__ADS_3

Hai semua, gimana kabarnya hari ini? semoga baik-baik saja ya.


oh, iya. aku cuma mau beri tau, kalau hari ini vote baru dimulai lagi ya. jadi, jangan lupa berikan dukungan kalian dengan memberikan vote pada cerita ini.


sekian dan terima kasih. Selamat Membaca 🤗


...***...


Sudah hampir sejam Rania berada disini. Di kebun stroberi bersama Khanif. Ia mengira kata 'rahasia' yang Khanif katakan tadi adalah sebuah tempat yang seperti di mimpinya. Tapi, ia salah sangka. Ia malah terjebak di kebun ini bersama Khanif.


Tunggu! Apa ia mengharapkan Khanif membawanya ke suatu tempat seperti di mimpinya? Ah, Rania ada-ada saja.


Rania lalu kembali melanjutkan tugas rahasianya. Namun sudah beberapa menit berlalu, Rania akhirnya merasa bosan juga.


"Pak, kapan ini selesai?" tanya Rania yang sudah bosan hanya dengan mencabut rumput liar saja.


"Sampai semuanya selesai di cabut," ujar Khanif seraya melihat seluruh kebun stroberi.


Rania langsung saja jatuh terduduk, lalu memekik kaget, "Apa! Bapak ngga salah kan?"


"Hem. Kalau kamu bosan, kamu bisa memakan stroberi disini."


Tanpa memperdulikan Khanif, Rania lalu kembali mencabut rumput liar yang tumbuh. Ia ingin segera pergi dari sini. Bisa-bisa dirinya ikutan menjadi tanaman stroberi juga kalau seperti ini.


Rania tidak menyadari apa yang dilakukan Khanif karena terlalu sibuk. Ia baru tersadar saat Khanif tiba-tiba mendatanginya dengan berujar. "Makanlah ini, saya tadi sudah mencobanya, rasanya tidak perlu ditanya lagi. Ini." Khanif pun menyodorkan beberapa buah stroberi pada Rania yang telah ia bersihkan lebih dahulu.


"Apa itu?" tanya Rania terlalu malas melihat apa yang ada ditangan Khanif karena ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya ini.


"Buah stroberi. Ambillah."


Rania lantas membuka sarung tangannya lalu menerimanya seraya berkata, "terima kasih, pak."


"Sama-sama," ujar Khanif. "Sebaiknya kita duduk dibangku kecil itu," tunjuk Khanif pada sebuah bangku yang terletak dipinggir kebun stroberi dengan menghadap pada sebuah pemandangan indah didepan sana.


"Tapi Perkerjaan ini?"


"Biar petugas kebun yang menyelesaikannya."


"Apa?"


Rania tiba-tiba berdiri hingga membuat mereka bertubrukan satu sama lain.


"Aduh," keluh Rania pada kepalanya yang terasa sakit. Rania lantas mendongak melihat Khanif. Biar bagaimana pun, yang salah disini adalah dirinya.


"Maaf, pak. Saya tidak sengaja."


Khanif memijit pelipisnya yang terasa berkedut. "Semoga saja tidak apa-apa," rapalnya dalam hati.


"Pak, pak Khanif," panggil Rania cemas.


"Hem."


"Bapak tidak apa-apa kan?"


"Tidak," ujar Khanif singkat. "Sebaiknya kita segera ke sana atau kamu mau ke tempat lain?"


"Disana saja, pak."


Khanif mengangguk. Mereka pun berjalan ke bangku kecil yang ada di kebun stroberi ini.

__ADS_1


"Perkataan bapak benar, stroberi ini terasa manis sekali," ujar Rania kala mencicipinya. "Tapi masih lebih manisan saya," guman Rania pelan nan bercanda.


Berbeda dengan Rania yang sangat menikmati buah stroberi dan pemandangan didepannya, Khanif terdiam melihat pandangan didepannya tanpa berniat mengajak Rania berbicara atau sekedar memakan buah stroberi yang masih ada padanya.


Ia seakan hanyut dalam pemikirannya sendiri. Bahkan, Rania begitu bebas melirik dirinya tanpa takut ketahuan. Entahlah, apa yang sedang Khanif pikirkan sampai Rania begitu segan untuk menyadarkannya.


Bermenit-menit berlalu, tiba-tiba saja Khanif mengajaknya berbicara.


"Apa kamu mempunyai cita-cita yang ingin sekali kamu capai?" tanya Khanif seraya menolehkan wajahnya sebentar kepada Rania.


"Tentu saja ada," jawab Rania mantap.


"Kalau bapak?"


"Sama seperti kamu. Tapi saya rasa itu tidak mungkin."


"Tidak mungkin?"


"Hem. Sudahlah," ujar Khanif langsung saja menyudahi percakapan singkat itu. "Hari kian panas saja. Tidak baik kalau kita terus berada disini, ayo," ajak Khanif.


Saat Khanif baru saja ingin melangkahkan kakinya, langkah kakinya tertahan dengan apa yang Rania ucapkan, "katakan saja, siapa tau saya punya solusinya untuk bapak."


"Tidak, terima kasih."


Khanif pun kembali melangkahkan kakinya berlalu dari kebun stroberi. Selama perjalanan, sesekali Rania menolehkan wajahnya kepada Khanif yang selalu diam sejak kata-katanya yang terakhir. Ia seperti ingin menjadi orang yang paling dipercayai oleh Khanif agar Khanif mau bercerita dengannya. Tapi sepertinya hal itu tidaklah mungkin saat melihat kalau Khanif sengaja memasang tembok besar yang tidak terlihat diantara mereka.


Rania pun hanya diam. Ia tidak ingin memaksa Khanif untuk bercerita. Biar bagaimana pun, ia bukalah siapa-siapa bagi Khanif. Rania pun kembali menyusul langkah kaki Khanif yang sempat meninggalkannya.


"Pak, tunggu!" seru Rania namun tidak mendapat respon balik dari Khanif.


***


Saat sebuah mobil sedan masuk ke dalam vila, tiba-tiba kaca mobil itu turun - memperlihatkan orang yang ada didalamnya. Disana ada Mama Adelin dan Tasya - kakak kelasnya semasa sma. Rania lantas tersenyum, lalu membukakan pintu untuk mereka.


"Selamat datang di vila Chrysant," sapa Rania setelah mama Adelin dan Tasya keluar dari mobil.


"Nak Rania. Terima kasih, nak."


"Sama-sama, bu. Mari saya antar ke penginapan ibu."


Rania lantas berjalan lebih dahulu - diikuti oleh Mama Adelin dan Tasya. Sesampainya mereka di vila yang akan mama Adelin dan Tasya tempati, Rania tidak lantas pergi dari sana. Ia menunggu Mama menyimpan kopernya, lalu kemudian mengajak mereka ke taman kecil depan vila. Taman yang sudah dipenuhi oleh para tamu yang sedang menikmati suasana santai.


"Adelin. Selamat datang," sapa paman Gunawan. "Aku kira kamu tidak akan datang."


"Tentu harus datang, dong. Malah saya kira kamu yang tidak akan datang."


"Sebenarnya begitu, tapi mama menyarankanku untuk datang," ujar Paman Gunawan. "Oh, iya. Silakan duduk dulu."


Mama Adelin pun duduk di kursi depan paman - diikuti oleh Tasya duduk disamping kirinya. Baru saja mama Adelin duduk, paman Gunawan yang memang mempunyai keinginantahuan yang tinggi, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya pada mama perihal gadis yang datang bersamanya sore ini.


"Dia siapa, Lin?" tanya paman Gunawan memanggil nama akrab mama Adelin.


"Oh, ini nak Tasya. Dia teman sma Khanif. Kebetulan aku kenal sama orang tuanya, jadi mengajaknya sekalian kemari," jelasnya. Mama lalu beralih pada Tasya. "Nak Tasya, perkenalkan dia pamannya Khanif, Gunawan."


"Salam, paman. Saya Tasya."


"Iya, nak Tasya. Semoga kamu suka suasana disini."


"Iya, paman."

__ADS_1


"Dia calon Khanif, Lin?" tanya paman Gunawan tiba-tiba.


Mama tersenyum seraya menjawab, "bukan." Membuat Tasya menjadi kehilangan senyumannya.


"O ... aku kira ...."


"Suatu saat pasti ada," ujar mama. Mama lalu melihat Rania yang setia berada didekatnya. "Tante sampai lupa sama nak Rania. Sini duduk dekat tante. Pasti kamu lelah berdiri terus."


Rania pun mengikuti ucapan mama, lalu mengambil tempat duduk di samping Tasya. Saat Rania baru saja mendudukan dirinya, mama Adelin lantas bertanya tentang Khanif.


"Nak Rania, Khanif dimana?" tanya Mama Adelin.


Saat Rania hendak menjawabnya, Khanif yang baru tiba pun langsung saja menjawab, "Khanif disini, ma."


Khanif mendekat, ia lalu mengambil tangan mama untuk disalaminya.


"Kapan mama tiba?"


"Baru saja, sama nak Tasya."


Khanif mengangguk. "Mama mau makan apa? Biar Khanif ambilkan."


"Tidak usah, sayang. Cukup duduk dekat mama saja."


Khanif mengangguk nan tersenyum. Ia lalu mengambil tempat duduk disamping kanan mama.


"Kenapa mama tidak memakai pakaian tebal. Disini dingin, ma," ujar Khanif seraya melepas mantel-nya.


Mama tersenyum. Ia begitu terharu akan perhatian anak laki-laki satu-satunya dikeluarganya.


"Terima kasih, sayang. Semoga kamu segera mendapatkan apa yang kamu inginkan," ujar mama disertai doa seraya mengelus lembut pipi Khanif.


Khanif lalu meng-aminkan ucapan mama.


"Kalau sudah berdoa, harus ada usaha juga nak Khanif," ujar Paman Gunawan. "Atau mau paman kenalkan sama anak kenalan, paman? Dia anak baik loh."


Khanif tersenyum seraya melihat paman. "Paman tidak usah repot-repot karena Khanif sudah memiliki target."


"Kamu seperti pemburu saja," kekeh Paman Gunawan.


"Hem. Bisa dibilang begitu, soalnya dia banyak yang suka, jadi Khanif harus seperti pemburu seperti kata paman," ujar Khanif ikut tertawa kecil.


Mama yang ada disana pun kian penasaran siapa wanita yang dimaksudkan oleh anaknya. Tapi sebagai seorang ibu, ia sudah mempunyai firasat. Sebuah firasat yang mengatakan kalau ia tau siapa wanita yang dimaksudkan anaknya.


"Baiklah. Khanif lanjut menyapa yang lain dulu. Kalau mama butuh sesuatu, katakan saja pada Rania."


"Pasti sayang."


Seperginya Khanif, paman lalu bertanya pada mama Adelin perihal perkataan Khanif tadi.


"Aku penasarankan siapa yang Khanif maksud. Pasti kamu udah tau, Lin."


Mama tersenyum. Ia lalu melihat ke samping kirinya. Merasa dilihat oleh mama, Tasya lalu menampilkan senyuman manisnya.


...To be continued ...


Benarkah Tasya yang mama maksud? Ada yang bisa jawab ngga? Kalau ada, sertai alasannya ya.


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2