
Akhirnya jam pulang yang ditunggu-tunggu dari tadi pun telah tiba. Rania pun dengan cekatan membereskan meja kerjanya agar terlihat kembali rapi seperti pagi tadi.
"Ini baru cocok," katanya setelah melihat meja kerjanya telah enak dipandang setelah berkas yang dikerjakannya telah ia susun rapi Disudut meja. Ia berdecak, "baiklah, sekarang tinggal pulang." Ia mengatakannya dengan senyuman yang mengambang. Entahlah apakah ia senang karena jam kerja telah usai atau sesuatu dari dalam hatinya yang masih saja ia coba sangkal.
Dian yang tidak pernah melihat Rania sesenang ini saat hendak pulang pun menjadi curiga. Ia tersenyum jail, seraya mendekati Rania. "Ehem, ada orang yang senyum-senyum nih!"
Rania menoleh pada Dian. "Siapa?" tanyanya yang tidak tahu kalau orang yang dimaksudkan oleh Dian adalah dirinya.
"Ya ampun, Rania." Dian menepuk jidatnya. "Siapa lagi kalau bukan, kamu. Lihat, disini tinggal kita berdua yang belum pulang."
Rania lantas mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Benar, tinggal mereka lah yang belum pulang kerja.
"Kamu salah lihat kali," elak Rania.
"Mana ada, mataku ini masih berfungsi dengan benar ya," kata Dian sambil mengerucutkan bibir. "Oh, iya. Kamu pulang sama siapa? Aku lihat kamu ngga bawa kendaraan?"
Baru saja Rania hendak menjawab, Dian sudah lebih dahulu kembali berkata pelan dengan mendekat pada Rania. "Sepertinya kamu dijemput sama, pak dokter itu, kan!" Rania sontak menjauh, sedang Dian tersenyum lucu melihat kelakuan Rania.
"Hem ... baiklah, aku balik duluan. Ngga seru kalau aku makin godain kamu. Entar, pipimu jadi warna merah kayak kepiting rebus." Kekeh Dian. Setelahnya, Dian pergi meninggalkan Rania yang kini telah memegang pipinya.
"Ada-ada saja," kata Rania yang kini telah melangkahkan kakinya menuju lift karyawan.
Didalam lift, Rania kembali gelisah. Bagaimana tidak, ia kembali teringat akan pesan yang tadi masuk ke ponselnya. Bahkan tanpa sadar ia telah menganggam ponselnya sedemikian kuat hingga membuat kuku-kuku jarinya memutih.
Dalam hidup Rania, ini adalah pertama kalinya ia begitu tidak suka menerima pesan. Padahal, isi pesan itu sangat bagus di keadaan Rania yang sedang tidak membawa kendaraan saat ini. Bahkan tanpa sadar Rania menghela nafas panjang.
Setelah lift berhenti dilantai dasar, Rania lalu melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan perasaan yang tidak menentu dan dengan wajah yang tertekuk, tak ekspresi senang.
"Apa yang membuatmu tidak bersemangat?"
Rania menoleh, ia melihat Khanif berdiri tak jauh darinya. Ia menduga kalau Khanif baru saja keluar dari lift khusus. Namun tiba-tiba saja Rania tersenyum lucu saat melihat penampilan Khanif. Baju yang bertabrakan warna dengan celananya. Tunggu, ia tahu sebab Khanif sampai berpakaian seperti itu karena dirinya yang tidak sengaja menumpahkan minuman dipakaian Khanif tadi.
"Sudah ketawanya? Kalau sudah, apa bisa kita pergi sekarang."
Khanif melangkahkan kakinya pergi dengan kesal, sedang Rania mengikuti langkah kaki Khanif dengan tangan menutup bibir yang tidak ingin berhenti tersenyum lucu, bahkan sesekali tertawa kecil. Tapi senyum Rania tidak bertahan lama saat tanpa sengaja matanya melihat sosok lelaki yang berdiri tidak jauh dipintu masuk kantor.
__ADS_1
"Aduh, gawat!" gerutunya dalam hati. Rania pun tanpa sadar berlari kecil ke arah Khanif, lalu menarik lengan Khanif dan membawanya untuk bersembunyi dari sosok lelaki yang ingin dihindarinya. Khanif yang mendapat perlakuan seperti itu pun tentu saja jadi terkejut, namun ia tetap saja mengikuti Rania yang masih saja menariknya.
"Kamu kenapa?" tanya Khanif setelah Rania melepaskan lengannya.
Rania menempelkan jari telujuknya dibibir, lalu kemudian berkata, "ssstt ... bapak diam saja."
Khanif yang tidak tahu-menahu pun merasa heran. "Ada apa?"
"Ti ... tidak ada apa-apa."
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu malah mengajak saya kesini!"
"Itu tadi ada orang di luar. Nanti gimana kalau dia ikutan tertawa melihat penampilan bapak yang unik. Makanya saya membawa bapak kesini. Biar dia pulang dulu, baru kita pulang kemudian."
"Jangan aneh-aneh, Rania," ujar Khanif. Ia lalu pergi meninggalkan Rania.
"Pak ...," panggilnya dengan suara yang hanya menggema diseluruh ruangan tanpa bisa membuat Khanif menghentikan langkah kakinya.
Sudah, semua sudah terlambat. Khanif sudah pasti melihat lelaki yang ingin dihindari Rania!
***
Sosok lelaki yang ingin dihindari Rania pun menolehkan kepalanya saat suara yang dikenalnya memanggil namanya. "Khanif," katanya dengan tersenyum.
"Siapa yang dilihat Rania tadi? Apa Zaky? Tapi kenapa dia malah menghindarinya?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dalam benak Khanif. Mengapa Rania sampai menyadari Zaky. Bukankah mereka sudah sangat dekat? Apalagi Zaky sudah pernah melamar Rania!
"Khanif?" Zaky sedikit meninggikan nada bicaranya saat ia melihat Khanif seperti berada disuasana yang beda dengannya. "Rania, belum pulang?"
"Rania? Dia masih didalam. Kamu masuklah mencari dia," katanya.
Zaky pun mengikuti perkataan Khanif. Saat ia baru saja akan masuk ke dalam, tiba-tiba saja Rania memunculkan dirinya.
"Rania!"
"Zaky!"
__ADS_1
Mereka sama-sama terkejut. Namun, Rania tidak menyangka kalau Zaky masih ada didepan kantor - menunggu dirinya hingga memunculkan dirinya. Ia mengira kalau Zaky sudah pulang sedari tadi. Namun, kenyataannya ia salah. Tau begini ia sedikit berlama-lama lagi atau setidaknya ia membuat alasan lain pada Khanif.
Mau tak mau pertemuan yang tidak diinginkan oleh Rania malah membuatnya merasa tidak enak. Sangking tidak enaknya, ia bahkan tersenyum terpaksa. Sungguh ia begitu tidak ingin bertemu dengannya.
"Aku ingin mengajakmu jalan," kata Zaky langsung.
Khanif yang masih ada disana malah sigap menanggapinya, "oh, iya. Kalau begitu sekalian saja kamu menemani Rania untuk mengambil motornya yang mogok di bengkel. Sepertinya motornya sudah selesai diperbaiki."
Mendengar Khanif mengatakan kata-kata tadi dengan santai, membuat Rania tanpa sadar sudah melototinya. Tentu saja, Rania yang awalnya ingin menghindari Zaky malah membuat Rania kian terpojok saja.
"Baiklah, kalau begitu saya duluan." Khanif pun pergi meninggalkan mereka.
"Eh, tunggu!" Rania dengan sigap berlari mendekati Khanif. Namun sebelum sampai didekatnya, ia menoleh kearah Zaky. "Maaf, Zaky. Aku tidak bisa menerima ajakkanmu kali ini." Setelahnya, Rania kembali berlari ke arah Khanif yang mulai menjauh.
Zaky yang melihat Rania tanpa bisa berbuat apa-apa hanya bisa memandang Rania dengan pandangan sendu. Zaky tahu, ia telah berbuat sesuatu yang membuat Rania menghindarinya. Tapi, ia hanya ingin tahu, apakah perasaan Rania telah berubah atau tidak. Sepertinya ia harus berusaha lebih giat lagi kedepannya.
***
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Khanif kaget saat Rania tiba-tiba saja membuka pintu samping dan duduk manis dengan sabuk pengaman yang telah terpasang setelahnya.
"Ya mau pergi mengambil motor sama bapak di bengkel."
"Merepotkan saja," gumam Khanif kesal karena melihat dua orang sepasang kekasih yang mungkin lagi tidak akur satu sama lain.
"Bapak bilang apa?" tanya Rania.
"Kamu merepotkan."
"Terima kasih," balasanya sambil tersenyum sumringan melihat kekesalan Khanif.
Entahlah, ia hanya merasa senang melihat reaksi Khanif setelah berjumpa dengan Zaky.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...
... ...