
Saya ucapkan lebih awal, ya.
Minal aidin wal faizin. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum (Semoga kita tergolong orang-orang yang kembali dan berhasil. Semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadhan) kami dan kamu. Aamiin.
Mohon maaf jika selama ini saya punya salah sama kalian. Baik tulisan yang saya sengaja atau tidak. Mungkin tanpa saya sadari, ada tulisan saya yang menyinggung hati kalian. Untuk itu, saya dengan hati yang tulus, meminta maaf pada kalian dan semoga kita semua mendapat berkah di bulan suci ini. Aamiin 🤲
Selamat Membaca 🤗🤗
...***...
Keesokan harinya, Rania terbangun dengan kepala yang masih terasa pusing dan penciuman yang tidak enak karena bau obat yang begitu menyengat di indra penciumannya.
Ia pun perlahan-lahan mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat saat tersadar adalah langit-langit ruangan yang bernuansa putih, dinding yang juga terlihat putih.
Lalu sekali lagi, ia pun secara perlahan mulai mengamati keadaan sekitarnya. Hal yang pertama kali ia lihat saat mengamati keadaan ruangan adalah mama yang tersenyum senang nan haru padanya.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga," kata mama.
"Ma, ini dima ..."
"Kamu ada dirumah sakit, nak," potong mama cepat saat mama tau apa yang ingin diketahui oleh anaknya ini.
"Rumah sakit?" beonya kemudian. Ia tidak menyangka kalau dirinya harus di larikan ke rumah sakit akibat kejadian kemarin.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, nak. Mama tidak tau harus bertingkah seperti apalagi jika kamu tidak ingin membuka matamu untuk melihat mama."
"Ma ..."
"Kamu istirahat saja dulu, ya. Jangan banyak bicara, biar kamu cepat sembuh, hem," potong mama lagi-lagi membuat Rania mau tidak mau menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan ucapan mama barusan.
Sejam telah berlalu sejak Rania sadar. Ia pun sudah terlihat tidak sepucat tadi, sewaktu pertama kali ia sadar.
Teman-teman seruangan pun bergantian datang melihat keadaannya. Bahkan Dian juga datang menjenguknya meski Dian terlihat canggung terhadapnya.
"Maaf, Ra. Aku ngga menyangka kalau David bisa melakukan hal buruk kemarin pada kalian. Sungguh, aku tidak tau menahu soal kejadian kemarin."
"Aku tau, kamu ngga tau soal ini. Sudah, kamu tenang saja dan anggap kejadian kemarin telah berlalu. Biar bagaimana pun, kita ini adalah sahabat dan sebagai sahabat, aku percaya kamu tidak mengetahui rencana David kemarin."
Secara tidak terduga, Dian malah mulai menangis pelan dan mulai terdengar sesegukan.
"Maaf, Ra. Maaf. Semua ini gara-gara aku yang ngotot untuk menyatukan kita menjadi sebuah kelompok. Jika saja aku tidak memaksa, apa tidak mungkin kamu berada disini."
Rania lantas mengambil tangan Dian untuk menenangkannya. "Sudah, Di. Kamu ngga perlu merasa bersalah atas kejadian ini, ya," bujuk Rania.
"Tapi semua gara-gara aku."
__ADS_1
"Ngga kok. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri karena pastinya David sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari sebelumnya. Jadi kamu ngga perlu merasa bersalah, ok!" seru Rania.
"Aku ngga nyangka kalau David sengaja mendekati aku untuk memperhatikan gerak-gerikmu."
"Sudah, ok. Semua sudah berlalu. Jadi biarkan saja hal itu kita jadikan pelajaran dalam hidup kita."
Pada akhirnya, Dian pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Di," panggil Rania pelan.
"Iya, kenapa?"
"Hampir semua teman seruangan datang menjengukku, tapi aku belum melihat pak Khanif. Pak Khanif tidak apa-apa kan?" tanya Rania membuat Dian terdiam.
Apakah ia harus memberitau Rania kebenarannya saat ini atau menunggu Rania pulih dari sakitnya dulu?
Dian dilema. Disisi lain ia sangat ingin memberitau Rania, namun disisi lain, ia harus mempertimbangkan kesehatan Rania.
Hingga mama Dahlia yang baru masuk ke ruang inap Rania, lalu tidak sengaja mendengar pertanyaan Rania pada Dian pun akhirnya memilih menjawabnya.
"Nak Khanif baik-baik saja."
"Ma," ujar Rania pelan saat melihat mama.
"Nak Khanif tidak bisa datang menjengukmu karena saat ini nak Khanif sedang berada diluar kota. Kata mama nak Khanif, nak Khanif punya urusan yang mendesak di luar kota," ujar mama Dahlia yang sebenarnya tidak benar karena nyatanya Khanif sedang dirawat inap juga di rumah sakit yang sama dengan Rania, namun berbeda ruangan.
Tentu saja mama Adelin tidak ingin membuat Rania kembali jatuh sakit saat mendengar berita tidak baik tentang anaknya, Khanif. Untuk itulah, tidak memberitau kebenarannya pada Rania adalah pilihan yang tepat pada saat seperti ini.
"Tapi saat itu Rania dengan jelas melihat pak Khanif tengah berantem sama David. Benar pak Khanif tidak apa-apa, ma?"
"Iya, sayang. Waktu kamu belum sadarkan diri, nak Khanif sempat berada disini. Sebelum nak Khanif pergi ke luar kota," ujar mama yang keadaan sebenarnya Khanif memang ada disamping Rania, namun keadaan Khanif sudah tidak sadarkan diri seperti Rania.
Saat itu, Khanif dan Rania memang bersampingan berada diruangan gawat darurat, sebelum Rania dibawa lebih dahulu ke ruangan inapnya saat ini.
"Kapan pak Khanif kembali?" tanya Rania lagi.
"Mama tidak tau, sayang," kata mama membuat Rania tidak puas akan jawabannya. "Baiklah, mama mau ke luar sebentar ya. Nak Dian, maaf ya merepotkan."
"Ngga papa kok, tan. Dian juga udah izin Sebelum datang ke sini."
Seperginya mama, Rania terlihat diam. Ia terdiam dalam hati yang tengah memikirkan keadaan Khanif. Apa benar ucapan mama padanya?
"Kamu kenapa?" tegur Dian saat melihat Rania hanya melamun.
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Pak Khanif ngga papa kok. Malahan sebelum pak Khanif pergi keluar kota, kami sempat bertemu," ujar Dian yang sebenarnya habis menjenguk Khanif di ruang inapnya.
"Beneran, Di?" tanya Rania ragu-ragu. "Tapi kenapa ya, aku seperti merasa cemas begitu."
"Itu tandanya kamu udah mulai menerima pak Khanif didalam hati kamu," canda Dian agar Rania bisa sedikit rileks.
Namun meski begitu, Rania kian merasa cemas saja. Ia tidak akan berhenti merasa cemas kalau dirinya tidak mendengar suara Khanif langsung atau melihatnya secara langsung.
"Kamu ada paket nelpon ngga, Di?" tanya Rania bermaksud untuk menghubungi Khanif.
"Ada. Kamu mau menghubungi siapa?" tanya Dian seraya mengeluarkan ponselnya dari tas selempangnya.
"Pak Khanif."
"Aku belum mempunyai nomor pak Khanif, Ra."
"Aku sudah hafal," ujar Rania membuat Dian melongo tak percaya. "Aku pinjam ponselmu, ya," ujar Rania merebut ponsel Dian dari tangannya yang hanya melayang tanpa memberikan ponsel yang ingin di pinjamnya itu.
Rania pun mulai menekan angka-angka yang terpampang jelas didepan matanya. Setelah semua nomor yang ada didalam ingatannya terlihat dilayar ponsel Dian, Rania pun menekan icon hijau untuk segera menghubungi Khanif.
Satu detik, dua detik, bahkan sepuluh detik, ponsel Khanif hanya berdering saja tanpa ada yang mengangkatnya. Rania pun kembali mengulang dalam menelepon Khanif. Namun jawabannya tetap sama, tidak ada jawaban.
"Mungkin pak Khanif sedang sibuk, Ra," hibur Dian.
"Mungkin saja," ujar Rania pelan.
Tidak lama setelah itu, Dian pun pamit pulang lebih dahulu karena izinnya dari May telah habis. Tentu saja Rania merasa sedih akan hal itu, namun mau bagaimana lagi, hal itu sudah menjadi tanggung jawab Dian yang tidak bisa ditunda apalagi di langgarnya.
"Baiklah. Nanti kamu harus datang menjengukku lagi."
"Iya, iya. Baiklah aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Kamu hati-hatilah dijalan."
"Iya," ujar Dian sebelum berlalu dari ruangan Rania.
Seperginya Dian, membuat Rania menjadi bosan di kamar. Ia pun berniat untuk keluar jalan-jalan.
Ia dengan hati-hati beringsut turun dari tempat tidurnya. Lalu setelah meninggikan infusnya terlebih dahulu, Rania mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan untuk sekedar mencari udara yang segar.
Rania sudah beberapa menit berjalan tak tentu arah. Tentu saja ia sudah bosan. Namun saat manik matanya tidak sengaja melihat mama Adelin dan Davina yang terlihat jalan dengan terburu-buru ke sisi lain rumah sakit ini, membuat dirinya kian penasaran.
Lalu tanpa memberitau keberadaannya, Rania pun mulai mengikuti mereka dari belakang dengan cara mengendap-endap.
...To be continued...
__ADS_1
...By Siska C...