Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 151. I'm helpless


__ADS_3

"Ada yang ingin kukatakan padamu," ujar Khanif seketika membuat Rania menatapnya.


Lalu tanpa terencana, Rania menjawabnya, "apa itu?"


"Kemungkinan beberapa hari kedepan aku tidak akan mengajakmu makan siang bersama lagi atau menjemputmu untuk pergi ke kantor bersama."


"Bukannya bagus kalau seperti itu! Dengan begitu, teman-teman seruangan ataupun teman kantor, tidak akan melihat saya dengan tatapan aneh. Ini saja, saya pergi duluan ke parkiran mobil bapak, biar tidak ada orang yang tau," ujar Rania membuat Khanif bertanya-tanya dalam hati.


Apa sebegitu menakutkan ajakannya itu untuk makan siang bersamanya, sampai-sampai Rania tidak ingin terlihat jalan bersamanya?


Khanif seperti dilema. Ia tidak ingin membuat Rania merasa tidak nyaman akan keberadaannya disekitarnya. Tapi jika tak begitu, ia tidak dapat menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tulus untuk mendapat hatinya. Ia hanya ingin memberitahu kalau Rania dapat melihat ketulusan hatinya dalam mengejarnya. Apa tidak bisa?


"Kenapa bapak diam?" tanya Rania memecah lamunan sesaat Khanif.


"Tak apa. Kalau begitu kamu tunggu disini dulu. Aku mau membayarnya."


"Tunggu, pak."


Rania pun ingin mengambil uang di tas selempangnya, namun saat ia sudah meraba-raba, ia tidak menemukan keberadaan tasnya itu di bagian samping kanan dan kiri tubuhnya.


"Aduh!" gerutunya dalam hati. "Pasti ketinggalan didalam laci meja."


"Kenapa?"


"Tas saya ketinggalan di kantor, pak."


Khanif tersenyum kecil. "Tak apa. Anggap saja traktiran ini sebagai rasa terima kasihku karena kamu menerima ajakanku untuk makan siang bersama."


"Ba ... baiklah."


Khanif pun pergi membayarnya uang makan mereka.


"Bu ini uang makanan kami, kembalinya buat ibu saja," ujar Khanif seraya memberikan uang berwarna merah.


"Nak Khanif terima kasih," ujar ibu kantin itu senang. Ia lalu kembali melanjutkan perkataannya dengan bertanya, "nak Khanif udah mau pulang?"


"Iya, bu. Lepas ini Khanif masuk kantor soalnya."


"Kalau begitu, nak Khanif dan Rania hati-hati dijalan dan jangan lupa lain kali jalan-jalan ke sini lagi."


"Iya, bu. Kalau begitu, Khanif pulang dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelahnya, Khanif pun kembali ke arah Rania, lalu mengajaknya untuk pulang ke kantor kemudian.


Selama perjalanan, Khanif maupun Rania kebanyakan diam. Mereka seakan tidak mempunyai bahan pembicaraan setelah pembicaraan sewaktu di kantin.


Bahkan setelah sampai di kantor pun, mereka tetap diam dan berpisah diparkiran mobil. Bukan karena kemauan Khanif, namun semua itu kemauan Rania.


***


Jam pulang kantor sebentar lagi. Rania yang telah menyelesaikan pekerjaannya pun mulai membereskan meja kerjanya. Mulai dari merapikan bekas yang ada diatas mejanya, sampai pena yang telah ia pakai.

__ADS_1


Ia menaruhnya ditempatnya semula. Agar pada keesokan harinya, saat ia membutuhkan semua itu, ia tidak perlu mencari kesana sini lagi, apalagi sampai meminjamnya sama temannya yang lain.


Saat waktu telah menujukkan pukul lima tepat, ia pun mematikan komputer didepannya dan semua perangkat lainnya. Baru setelah semuanya selesai, ia kembali memakai tasnya, lalu kemudian mulai beranjak dari tempat duduknya.


Belum juga Rania melangkahkan langkah kakinya menuju lift, sudah lebih dahulu Dian yang baru selesai beres-beres memanggil namanya. Tentu saja ia kembali berbalik dan melihat Dian.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kamu udah dengar berita tentang lokakarya?"


"Lokakarya?" beo Rania.


"He'em, iya. Kamu udah dengar belum?"


Rania menggelengkan kepalanya pelan tanda tidak tau menahu berita tentang lokakarya itu.


"Aku tadi siang di beritau sama mbak May kalau minggu ini, giliran divisi keuangan yang akan mengadakan lokakarya di kota B. Kita disana selama semalam dua hari. Jadi kita akan berangkat sabtu paginya, lalu pulang minggu sorenya."


"Emm, gitu," respon Rania singkat. "Baiklah. Terima kasih informasinya. Kalau begitu aku pulang dulu, ya."


"Bukannya kamu ngga bawa kendaraan, Ra?"


"Hem. Iya. Aku naik taksi atau mobil online saja."


"Kenapa ngga sama pak Khanif. Mungkin pak Khanif udah mau pulang juga,"


"Mungkin dia sibuk saat ini. Waktu tadi pun dia mengatakan kalau beberapa hari kedepan, dia tidak akan mengajakku makan siang dulu," ujar Rania seperti tak bertenaga, namun mampu membuat Dian terkikik geli.


"Aku yang kamu maksud?" tanya Rania seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa lagi? Aku kan udah punya David."


"Dasar bucin. Aku yang gini di ledekin juga," ujar Rania lagi-lagi membuat Dian terkikik geli.


"Makanya, Ra. Jadi wanita itu harus fleksibel. Sekarang kamu menyesalkan, ngga manfaatin waktu makan siang dengan pak Khanif."


"Nyesel apanya, malahan aku seperti terbebas dari tatapan mata cemburu yang melihatku dekat dengan pak Khanif."


"Baiklah-baiklah, kita lihat saja besok dan beberapa hari kedepannya. Mudah-mudahan kamu ada selera untuk makan siang nanti."


"Semoga saja."


"Tapi kenapa aku ngga terlalu yakin, ya," ujar Dian membuat Rania melihatnya dengan bibir yang manyun.


"Baiklah, aku bercanda kok. Gih pulang sana. Mungkin pak Khanif udah ada dibawa juga nungguin kamu untuk pulang bersama."


"Jadi kamu sengaja manggil aku dan berbicara sembarangan buat ngasih waktu ke pak Khanif nungguin aku di lobi?"


"Bisa dibilang begitu."


"Di ...," rengek Rania seperti anak kecil.


"Aku bercanda kok."

__ADS_1


"Hem. Baiklah, aku pergi dulu."


"Hati-hati dijalan."


"Ok," ujar Rania seraya menakutkan jari jempol dan telujuknya membentuk sebuah huruf o.


Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju lift karyawan. Untuk apa juga ia menggunakan lift kaca, jika pada akhirnya orang yang ingin dihindarinya malah berada didalam lift kaca juga.


Rania pun berjalan ke lift karyawan. Sesampainya disana, ia menekankan tombol lift. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya lift karyawan itu terbuka juga.


Namun orang yang ingin dihindarinya malah berada didalamnya, bersandar pada dinding lift dengan tangan yang saling terlipat didepan dada. Dan jangan lupa, tatapan dari mata hazel-nya yang tajam kini tengah melihanya juga.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Khanif saat Rania hanya terpaku ditempatnya saja.


"Baru mau kok, pak," katanya dengan canggung, Rania pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.


Jangan tanya kenapa Rania merasa canggung, jika mereka hanya berdua saja didalam lift.


Kata Rania dalam hati, "ini sama saja rencana menghindar telah gagal." Rania lantas memilih berdiri agak jauh dari Khanif.


"Kenapa kamu berdiri di pojokan sekali?" komentar Khanif.


Belum juga Rania sempat menjawab, sudah lebih dahulu lift karyawan kembali terbuka.


Para karyawan yang ada dilantai empat belas pun berbondong masuk hingga membuat Rania memundurkan dirinya sampai ke dekat Khanif.


"Kalau sudah takdir, biar sejauh apapun perginya, pasti akan didekatkan juga," ujarnya pelan sambil tersenyum.


Rania yang dekat sekali dengannya tentu saja mendengar perkataan Khanif dengan jelas. Ia bahkan sempat menoleh dan sempat melihat senyuman yang timbul di wajah yang wanita lain idam-idamkan itu.


Ia lantas berkata pelan dan menjawabnya, "Anda terlalu percaya diri."


Khanif tertawa hingga membuat para karyawan didalam lift itu menolehkan wajah mereka kearahnya sekilas.


Rania tentu saja menjadi salah tingkah, berbeda dengan Khanif yang tidak memperdulikan keberadaan mereka.


Sesampainya mereka di lantai bawa, Rania bergegas keluar dari lift. Khanif yang tau kalau Rania tengah menghindarinya, langsung saja menyusulnya secepat mungkin.


Lalu sesampainya didekat Rania, Khanif kembali berkata, "aku akan mengantarmu pulang. Kemari."


Rania menggelengkan kepalanya.


"Kemungkinan besok-besok aku juga tidak dapat mengantarmu pulang."


Rania terdiam.


"Aku akan sering lembur dikantor nantinya," jelasnya kemudian hingga membuat Rania mau tak mau mengikutinya.


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2