
Baru saja Alex ingin menanggapi, seketika ia merasa lidahnya kelu saat ia tidak sengaja melihat sebuah tatapan tajam yang terarah padanya di pintu masuk restoran. Melihat wajah Alex yang memucat, membuat Rania menolehkan wajahnya dan melihat apa yang tengah dilihat oleh Alex.
"Sepertinya badai akan segera datang," gumam Rania.
Sosok yang memberi tatapan tajam itu semakin mendekati mereka. Oh tidak, Semakin mendekati Alex lebih tepatnya. Sesampainya sosok itu didekat mereka, dia menggebrak meja tepat didepan Alex.
"Aku bisa jelasin sayang," ujar Alex.
"Mau jelasin apa, hah! Bilang kalau kamu tidak berselingkuh?"
Alex menganggukan kepalanya. "Iya, tanya saja dia," tunjuk Alex pada Rania yang dari tadi sibuk memperhatikan sekitar.
Mendengar namanya disebut, seketika Rania langsung melihat sepasang kekasih ini, Rania lalu menjelaskan.
"Apa yang dikatakannya memang benar. Kami tidak seperti dugaan Anda."
Alex menganggu-anggukan kepalanya tanda setuju pada perkataan Rania.
Setelah terdiam beberapa detik, Rania lantas kembali melanjutkan perkataannya, "sepertinya aku sudah tidak lapar lagi." Rania lantas berdiri dari tempat duduknya. Lalu ia berjalan mendekat wanita yang ia kira adalah pacar Alex.
Semakin dekat padanya, Rania berbisik ditelinga wanita itu, "dia bukalah lelaki yang cocok buat wanita baik seperti kamu. Jika mengikuti saran saya, hidup kamu akan lebih bahagia nantinya tanpa dia. Kamu cantik, sia-sia saja kecantikanmu kalau berakhir pada lelaki seperi Alex." Rania lantas menepuk-nepuk pundak wanita itu. "Baiklah, selamat mencoba."
Rania pun meninggalkan Alex yang kini tengah diterpa angin badai yang membuatnya hancur. Lelaki seperti Alex memang pantas dibuatkan pelajaran seperti itu karena saat dirinya sudah mempunyai pasangan, ia masih terang-terangan menggoda wanita lain. Untung saja wanita yang ingin dijeratnya adalah Rania. Jadi usaha Alex itu hanya sia-sia saja.
Saat Rania hendak keluar dari restoran, Rania kembali berbalik melihat ke belakang. Ia tersenyum saat Alex mendapatkan ganjarannya. Ia berpendapat seperti itu agar kelak Alex tidak akan berani lagi mengoda wanita lain saat dirinya sudah mempunyai pasangan. Sebenarnya Rania tidak ingin membuat hubungan Alex hancur menjadi seperti ini. Namun, ia tidak bisa melihat saat sesama wanita yang tidak tau apa-apa malah terjebak oleh ucapan manis Alex.
"Maaf, tapi itulah yang terbaik bagimu." Setelah mengatakannya, Rania kembali membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh menuju luar penginapan.
Semantara Khanif dan Davina saat ini berada di balkon hotel. Mereka terlihat masih sibuk membicarakan masalah pekerjaan yang tengah berlangsung di kota M. Seperti dugaan Khanif sebelumnya, pembangunan vila disana tidak berjalan lancar. Untuk itulah sebenarnya ia sengaja mempercepat jadwal keberangkatan mereka karena ia ingin menangkap basah sendiri pelaku kecurangan itu. Biar bagaimana pun, ia tidak ingin mempunyai bawahan yang tidak bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikannya.
Mereka berbicara cukup lama saat mata Khanif tidak sengaja menangkap sosok Rania yang tengah berada di taman kecil depan hotel. Khanif melihat Rania begitu menikmati waktunya saat ini. Ia tanpa sadar tersenyum. Namun tanpa Khanif tau, sebenarnya Rania sengaja berjalan ke arah taman itu. Rania berharap dapat menemukan Khanif dan Davina disana.
Namun Rania tidak menemukan mereka disana. Malahan, saat Rania hendak berbalik, ia begitu terkejut melihat Alex sudah berdiri didepannya. Meski Alex melihatnya dengan tatapan marah, Rania tidak takut. Ia bahkan bertolak pinggang, seperti ingin mengatakan pada Alex kalau dirinya tidak mudah digertak oleh seorang lelaki macam dia.
Saat Rania sibuk menantang Alex, dari atas balkon, Khanif terus melihat Rania. Bahkan ia bisa melihat saat Alex berjalan pelan dan mendekati Rania. Khanif masih ingin memperhatikan mereka berdua. Namun ia cukup terkejut saat Davina meningkatkan volume suaranya untuk memanggil dirinya dan berusaha untuk menyadarkannya.
"Pak, pak Khanif."
__ADS_1
"Iya." Khanif menoleh. "Sampai mana tadi?" tanya Khanif.
"Saya katakan, sebaiknya sore ini kita berangkat ke kota M. Agar malamnya bapak bisa sedikit beristirahat lama. Dan besok paginya, bapak bisa memulai rencana bapak."
"Baiklah, persiapkan semuanya. Pembicaraan kita sampai sini dulu."
Khanif buru-buru meninggalkan Davina menuju tempat yang ia lihat sedari tadi dari atas balkon. Davina yang tau kenapa Khanif sudah mengakhiri pembicaraan pun tidak mempermasalahkannya. Ia bahkan tersenyum kala mengetahui alasan Khanif melakukannya.
Khanif semakin mempercepat langkah kakinya menuju tempat Rania berada. Ia tidak ingin Rania kenapa-kenapa. Entahlah, ia mempunyai firasat yang tidak baik saja. Sesampainya disana, Khanif berdehem agar Rania dan Alex mengetahui keberadaannya. Setelahnya, ia memanggil Rania mendekat.
"Iya pak," ujar Rania.
"Jika tidak ada keperluan lagi dengannya." Tunjuk Khanif pada Alex. "Sebaiknya kamu siap-siap. Karena sore ini kita akan berangkat ke kota M."
"Apa? Bukannya besok pak?"
"Tidak, saya ada keperluan mendesak lainnya. Jadi rencana sebelumya dipercepat."
"Aksi penyelamatan yang bagus," gumam Alex sambil bertepuk tangan kecil. Alex lalu mendekati mereka berdua.
"Ah, kita bertemu lagi. Aku kira kita memang berjodoh."
Alex diam, namun selanjutnya ia kembali berkata, "ah ya. Tentu saja. Sebagai permintaan maaf saya, bagaimana kalau kita minum kopi didalam. Hitung-hitung juga sebagai niat awal pertemanan."
"Saya akan memikirkannya lain kali." Khanif lalu beralih melihat Rania. "Ayo Rania. Kita pergi sekarang."
"Iya pak."
Khanif dan Rania pun pergi meninggalkan Alex yang kini dipenuhi kekesalan yang banyak didalam hatinya. Saat mereka telah menjauh, Rania baru membuka suara.
"Bapak dari mana saja?"
Khanif menoleh lalu tanpa menjawab, ia memberikan pertanyaan balik pada Rania.
"Kamu sudah makan?"
"Belum. Tapi saya sudah kenyang."
__ADS_1
Sekali lagi Khanif menoleh. Ia tidak mengerti maksud dari perkataan Rania. Rania yang memang hendak menjelaskan pun akhirnya angkat bicara. Ia lalu tersenyum lebar seraya berkata, "tadi pacar Alex memergoki Alex sedang berusaha mendekatiku. Tapi dia sepertinya percaya kalau saya bukanlah salah satu wanita Alex. Lalu, sebelum saya pergi, saya berbisik padanya dan memberikannya saran untuk meninggalkan Alex. Mungkin karena kesal, jadi Alex mendatangiku."
"Dimasa depan, kamu harus lebih berhati-hati. Kita tidak tau, orang yang telah kita sakiti menyimpan dendam atau tidak. Kalau menyimpan dendam tapi mempunyai niat melupakan itu bagus. Namun kalau menyimpan dendam dan mempunyai niat membalasnya, hal itulah yang harus dihindari. Paham."
"Paham. Saya tidak memikirkan sampai sana," sesal Rania
"Maka dari itu, kamu harus lebih banyak belajar lagi."
Baru saja Rania terpukau gara-gara perkataan Khanif, Khanif sudah membuatnya jengkel lagi beberapa detik kemudian.
"Bapak mengejek saya?"
"Tidak, itu adalah sebuah pelajaran untuk murid bandel seperti kamu. Sudah lupakan, saya sudah sangat lapar dan ingin segera makan," dusta Khanif sebagian.
"Bapak makan saja sendiri, ngga usah ngajak-ngajak saya."
"Siapa yang ngajak kamu?"
"Tadi."
Khanif lagi-lagi tersenyum. Entah kenapa juga akhir-akhir ini ia selalu tersenyum jika sedang bersama Rania.
"Saya hanya ingin menghentikan pembicaraan tentang Alex. Jadi, saya mengatakan hal seperti itu."
"Huft, bilang saja ngeles," gumam Rania.
Setelahnya, ia berjalan cepat masuk ke dalam restoran. Sedangkan Khanif malah semakin melebarkan senyumnya tatkala mengetahui kalau Rania lagi kesal kepadanya.
"Hei, tunggu," teriak Khanif.
Rania menoleh. "Kejar kalau bisa."
"Dasar anak kecil baru dewasa," ujar Khanif dalam hati.
To be continued.
Semoga yang like/vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin.
__ADS_1
By Siska C