
Malam harinya, Rania masih saja menggigil kedinginan. Padahal ia sudah mengikuti perkataan Davina. Ia teringat akan keberaniannya sore tadi saat ia sudah berada dikamar mandi.
Saat itu ia belum mempunyai niat membersihkan diri, jadi sekedar percobaan, ia lantas pergi ke kamar mandi untuk merasakan suhu airnya.
Saat tangannya baru saja menyentuh air, seakan ia tersengat. Bagaimana tidak, ia tidak menyangka air di bak mandi berukuran mungil itu begitu dingin seperti air yang biasa ia simpan di lemari pendinginnya.
"Seperti mandi dari air kulkas saja," ujar Rania.
Ia ragu apakah dirinya harus membersihkan diri atau tidak. Namun kala teringat perkataan Davina, ia sepertinya tidak mempunyai pilihan lain. Biar saja ia merasakan dingin sekali dari pada dingin selama berjam-jam.
"Kalau sudah begini, aku tidak punya pilihan lain lagi."
Rania pun kembali keluar untuk mengambil perlengkapan mandinya.
...***...
"Huft, meski sudah mandi dan memakai pakaian yang tebal, aku masih saja merasa dingin," ujar Rania menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Ia lalu menyentuh pipinya "heeem, hangat."
Rania lalu kembali bersiap-siap karena sebentar lagi mereka akan keluar untuk makan malam sekaligus keluar berjalan-jalan menikmati suasana kota ini saat malam hari. Selesai bersiap-siap, Rania pun keluar kamar untuk menemui Khanif dan Davina yang sudah menunggu dirinya.
"Aku sudah siap," ujar Rania.
Mendengar Rania berkata seperti itu, Khanif pun berjalan duluan ke keluar dan diikuti oleh Davina dan Rania.
"Kamu ngga kedinginan?" tanya Rania pada Davina yang terlihat biasa-biasa saja.
"Dingin, tapi aku sudah terbiasa. Tunggu beberapa saat, kamu akan segera terbiasa. Dulu juga aku seperti kamu, tapi aku lebih heboh lagi."
"Hah!" Rania seperti tidak percaya akan perkataan Davina yang terakhir.
"Hem, iya. Dulu waktu pertama kali datang kesini saat pak Khanif baru mengunjungi lokasi yang ingin dijadikan vila. Saat itu kami juga bertiga, sama sekretaris pak Khanif sebelumnya. Dandananku pun lebih heboh dari kamu. Mungkin karena itu aku sudah mulai terbiasa." Davina lalu memperlihatkan fotonya sewaktu pertama kali kemari. "Lihat."
"Hah! Ini namanya kamu seperti memborong baju di toko," ujar Rania saat melihat foto Davina yang menggunakan berbagai macam baju hangat. Ia bisa jelas melihat karena baju-baju itu terlihat jelas di badan Davina yang terlihat langsing.
"Ya, kamu benar. Kesalahanku yang pertama, aku tidak sempat mencari informasi tentang kota ini. Jadi, ya begitulah keadaanku dulu."
Rania mengangguk. Mereka pun mempercepat langkah kaki mereka menuju mobil yang akan membawa mereka mengelilingi kota ini. Sesampainya diluar, Rania melihat Khanif sudah duduk dibangku kemudi.
"Sopir yang tadi?"
__ADS_1
"Bapak itu hanya mengantar kita sampai sini saja. Selebihnya, kita menggunakan mobil ini sendiri."
Lagi-lagi Rania mengangguk. Mereka pun masuk dan duduk di kursi belakang sesuai permintaan Khanif. Belum juga beberapa detik, Khanif kembali masuk ke dalam penginapan. Hal itu sukses membuat Davina dan Rania merasa heran.
Namun saat melihat Khanif kembali dengan sebuah Syal rajut ditangannya, membuat Davina lantas tersenyum.
"Kenapa, mbak."
"Lihat, pak Khanif kembali ke dalam hanya untuk sebuah syal rajut saja."
"Untuk siapa emangnya, mbak?"
"Nanti juga kamu tau."
Rania bingung dengan perkataan Davina yang penuh teka-teki. Namun sesaat Khanif kembali masuk ke dalam mobil, kebingungan kian melanda dirinya saat Khanif menyodorkan syal rajut itu padanya.
"Untukmu. Pakailah, malam seperti ini pasti kian dingin."
Melihat Rania tidak merespon karena terkejut, membuat Davina mengambil syal rajut itu, lalu memakaikannya di leher Rania.
"Biar kamu tidak kedinginan."
"Sama-sama. Kamu tidak perlu sungkan."
Baru saja mobil melaju meninggalkan penginapan, Khanif mulai membuka suara kembali. Ia ingin menanyakan mereka ingin makan apa malam ini.
Rania menoleh pada Davina, seperti hendak mengatakan kalau Davina saja yang memilih hendak makan dimana karena Davina lebih mengenal betul daerah ini dari pada dirinya.
Paham akan pandangan Rania padanya, Davina pun mengatakan pada Khanif, "kita makan di tempat biasa saja pak. Saya yakin Rania akan menyukai makanan disana."
"Baiklah."
Dalam hati, Rania tersenyum. Ia tidak menyangka Khanif begitu berbeda malam ini. Biasa Khanif bersikap tidak ingin dibantah dan bersikap seenaknya. Namun sekarang, Khanif malah mengikuti perkataan Davina.
"Apa mereka punya hubungan lebih dari sekretaris?" duga Rania dalam hati.
Sungguh Rania tidak ingin menjadi orang ingin tahu segalanya tentang orang lain. Terlebih itu adalah Khanif dan Davina. Namun jika sudah seperti ini, Rania yang tidak ingin curiga pun menjadi curiga.
Rania termenung sejenak. Ia lalu beralih melihat ke kaca tengah mobil dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Khanif yang juga sedang melihat kaca tengah itu. Seperti tidak ingin mengalah, Rania tetap melihat Khanif lewat kaca tengah itu. Sedangkan Khanif memilih memutusnya lebih dahulu dari pada membuat mereka celaka.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai didepan rumah makan yang dimaksud oleh Davina. Saat Rania baru menginjakkan kakinya didepan rumah makan itu, Rania tertegun saat membaca menu makanan yang tersedia disana.
Seketika Rania berminat banyak melihatnya. Namun, jika mengingat kesehatannya yang akan terganggu, sepertinya minatnya itu telah pergi entah kemana.
"Ayo, Rania."
Rania mendengar perkataan Davina. Dengan langkah tanpa minat, Rania pun mengikuti langkah kaki Davina dan Khanif yang sudah masuk kedalam rumah makan khusus seafood.
Saat Rania masuk ke dalam, seorang lelaki menatap lekat Rania tanpa berkedip. Namun Rania masih tidak menyadarinya. Rania terus saja melangkahkan kakinya mengikuti Khanif dan Davina. Sedangkan lelaki itu terus saja melihat Rania hingga ia yakin kalau wanita yang tengah dilihatnya itu benar orang yang dikenalnya. Salah, bahkan sangat dikenalnya. Sampai Rania duduk, pandangan lelaki itu tidak lepas dari Rania seorang.
Sedangkan Rania, masih tidak juga menyadarinya. Setelah beberapa saat, pelayan rumah makan seafood ini datang untuk memberikan mereka buku menu. Sesudah memberikannya, pelayan itu meninggalkan mereka lagi untuk memberikan waktu agar pelanggannya dapat memesan makanan sesuai selera masing-masing.
Rania duduk dalam diam. Ia tidak tau harus memesan makanan apa, saat buku menu sudah berada ditangannya.
Sungguh, ia seperti mati kutu jika sudah berhadapan dengan jenis makanan seafood. Sejak beberapa tahun belakangan, ia sudah berhenti memakan seafood apapun jenisnya itu. Kecuali jika ia sedang ingin sekali ataupun sekedar coba-coba untuk menghilangkan rasa berselera itu. Namun kali ini dirinya lagi tidak berminat. Seberapa mengundangnya selera makannya itu, Rania tetap tidak berminat. Bahkan walau sekedar coba-coba saja.
Ia tetap saja tinggal diam memandangi berbagai jenis makanan yang terdapat di buku menu saat pelayan rumah makan bertanya padanya.
Melihat Rania hanya diam, Davina menyentuh tangan Rania bermaksud untuk menyadarkannya sekaligus
memanggilnya, "Rania, kamu ingin makan apa?" tanyanya.
"Kalian saja yang makan, aku masih sedikit kenyang," ujar Rania menolak halus.
Kali ini Khanif turun tangan dalam membujuk, "pesan saja, meski nanti kamu makannya sedikit. Tidak baik tidur dengan perut yang kelaparan."
"Tidak pak. Terima kasih atas ucapannya, tapi kalian saja yang pesan."
Kembali Rania menolaknya. Lelaki yang tadi terus memperhatikan Rania sejak meram masuk sampai duduk pun menghampiri mereka.
"Permisi," ujar lelaki itu.
Rania yang merasa kenal dengan suara ini, lantas mendongak melihatnya dan tersenyum merekah saat mengetahui kalau tebakannya benar. Ia pun berkata, "kak Rey."
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like 'bintang' /vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang tidak disangka-sangka oleh Allah, Aamiin. 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1