
Hari baru untuk memberikan vote di mulai lagi ya. jadi tunggu apa lagi? segera vote cerita ini ya sebagai dukungan kalian padaku.
ok, selamat membaca.
...***...
"Kamu! Bukannya kamu sekretaris kak Khanif?"
Perkataan itu tentu saja sukses membuat Rania menghentikan langkah kakinya. Lalu mendongkak mencari sumber suara. Setelah menemukannya, Rania lantas bertanya. "Kamu Jihan, kan?"
"He'em. Aku Jihan yang sama kak Khanif kemarin di restoran itu."
Rania mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Eh, kita bicara didalam aja, ya. Ngga enak kalau kita bicara di teras ini."
"Emm, baiklah. Kaki aku juga udah pegel berdiri terus," katanya manja.
"Wanita apa yang dikirimkan kak Khanif kerumahku ini?" runtuk Rania dalam hati. Bukannya ia tidak suka, hanya saja ia merasa tidak nyaman dengan perkataan wanita didepannya ini.
Setelah mereka mendudukkan diri di sofa dengan duduk agak berjauhan, Rania pun memulai percakapan mereka.
"Maaf, aku lama karena urusin bunga-bunga dulu."
"Ngga, papa kok. Santai aja sama aku."
"Kemarin kak Khanif udah bilang kalau kamu bakalan datang, tapi aku ngga nyangka aja kalau kamu-nya datang pagi begini. Aku kira sore," ujar Rania seperti menjelaskan ketidaksiapannya memiliki tamu pagi ini.
Lihat saja, penampilannya masih seperti orang yang tengah berkebun di taman bunga. Dengan topi bundarnya dan celemek yang sengaja ia pakai.
"Ah, iya kak. Rencananya gitu sih, tapi kalau nunggu sore pasti kelamaan. Oh, iya. Aku panggil kakak aja, ya. Aku lebih muda dua tahun dari kakak soalnya."
Rania lantas mengangguk mengiyakan.
"Ngomong-ngomong, ada apa kamu datang menemui aku?"
"Aku penasaran pengen lihat secara dekat calon istri kak Khanif. Ternyata kakak calon istri kak Khanif, Aku kira siapa, ternyata sekretarisnya juga."
"Iya. Tapi sebelum itu, kami sudah kenal sejak sma."
"Aku kenal dari kecil," katanya tidak ingin mengalah.
"Tunggu, aku ingin tanya lagi. Kamu benar teman masa kecil kak Khanif?"
"He'em. Tapi bentar lagi dia akan nikah sama kamu. Makanya aku manggil kamu kak Rania. Biar samaan dengan kak Khanif."
Ya, ampun! Rania tidak menyangka gadis didepannya ini memanggilnya kakak karena Khanif. Ia mengira itu panggilan kesopanan karena dirinya lebih tua dari gadis di hadapannya ini.
__ADS_1
"Kamu sudah melihat aku lebih dekat. Jadi, bagaimana pendapatmu tentangku?"
"Emm, jujur atau ngga?" tanyanya membuat Rania menaikkan alisnya satu.
Apa ia sebegitu buruknya sampai harus ditanyakan seperti itu? Dirinya tau kalau wajahnya kini memiliki jerawat besar di jidat karena alergi sea food, tapi tidak terus terang juga jika ingin mengatakannya.
"Ngga jujurnya apa?"
"Kakak ngga baik kalau memiliki jerawat."
"Jujurnya?"
"Ya, untung saja kakak cantik. Jadi jerawatnya tertutupi."
Rania hampir saja terkekeh dibuat oleh gadis dua tahun lebih muda darinya ini. Bukannya sama saja kalau Jihan jujur dan tidak. Namun, ia mencoba menahan tawanya sebisa mungkin.
Untuk itu, ia pun berdehem pelan agar ia bisa menahan tawanya yang hampir pecah.
"Itu aja?" tanya Rania.
"Ada lagi."
"Apa?"
"Aku mau ngajakin kakak shopping bareng di mall."
"Aku belum bersih-bersih diri."
Saat Rania hendak menjawabnya, mama sudah lebih dahulu datang membawakan Jihan secangkir teh dan setoples cemilan.
"Silakan di nikmati teh dan cemilan-nya, ya, nak," ujar mama Dahlia setelah menaruh cangkir teh dan toples cemilan didepan Jihan.
"Iya, tan. Makasih."
Setelahnya, mama pun kembali ke dalam rumah.
"Kalau gitu kamu nikmati aja dulu, biar aku siap-siap."
"Hem. Ok, itu ide yang bagus. Aku juga udah ngga sabar mau ngabisin uang kak Khanif."
"Apa?" tanya Rania tanpa sadar.
"Kakak tau. Kak Khanif memberikan aku atm-nya. Katanya, biar aku bisa belanja sepuasnya."
Rania pun mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Kalau gitu, aku ke dalam dulu. Anggap aja rumah sendiri, ya."
__ADS_1
"Hem. Pasti."
Tiga puluh menit kemudian, Rania telah siap untuk pergi bersama Jihan. Setelah pamit pada mama, Rania dan Jihan pun segera berlalu menuju mall yang ingin di datangi oleh Jihan.
Bukannya, Rania ingin menuruti semua kemauannya. Hanya saja, Rania ingin menyelidiki hubungan Khanif dan Jihan lebih dalam lagi.
Bukannya ia mencurigai Khanif tidak setia padanya, hanya saja ia sengaja melakukannya agar ia dapat sepenuhnya percaya pada Khanif dan agar masa depan rumah tangga mereka nantinya bisa menjadi rumah tangga yang damai.
Lagi pula, gadis yang tengah menyetir disampingnya ini terlalu bersikap sok akrab dengannya. Untuk itulah Rania akan mencari tau tentangnya.
Lagi pula juga, mana ada teman kecil yang begitu dipercayai sampai memberikan kartu atm-nya? Rania rasa itu tidak ada.
"Kamu beneran hanya teman kecilnya kak Khanif?" tanya Rania sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi.
"He'em. Kalau ngga percaya, kak Rania bisa melihat foto masa kecil aku sama kak Khanif."
Jihan lantas meminggirkan mobilnya, lalu mengambil ponselnya untuk memperlihatkan Rania sebuah foto. Foto kecilnya dengan Khanif.
"Ini buktinya," ujar Jihan seraya memperlihatkan foto seorang anak kecil laki-laki yang tengah mencium pipi seorang anak kecil perempuan.
"Dari dulu sampai sekarang, kami sangat dekat bagai prangko dan surat. Anggap saja aku adalah prangko-nya."
Melihat foto kedua anak kecil itu, tiba-tiba saja membuat hati Rania merasa tidak terima. Ia sedih karena mereka berdua sangat dekat dari perkiraannya.
"Sekarang kakak udah lihat, kan. Jadi, aku akan melanjutkan perjalanan kita lagi," ujarnya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya. "Aku udah ngga sabar mau belanja pakaian, tas dan sepatu. Aku benar-benar akan menghabiskan uang kak Khanif. Kak Rania harus membantuku untuk menghabiskannya juga, ok!"
"Tidak usah. Aku bawa uang sendiri kok."
"Ternyata apa yang kak Khanif katakan benar, ya."
"Emang kak Khanif bicara apa?"
"Katanya, kak Rania tuh beda dari wanita lain. Disaat wanita lainnya ingin dapat traktiran, kakak malah ngga mau itu. Katanya kakak lebih suka menggunakan uang kakak sendiri. Baik itu makanan maupun minuman, tapi kakak Khanif ngga mengatakan soal pakaian, tas, sepatu atau apalah itu."
Ah, baru saja Rania ingin merasa bangga karena ucapan Jihan pada awalnya, namun semua itu sirna begitu saja saat Jihan mengatakan kata-kata terakhirnya.
Hei! Ia tidak se-matre itu hanya untuk membeli pakaian, tas, sepatu atau apalah itu. Lagi pula, semua kebutuhan sandang dan pangan-nya masih ditanggung oleh papa. Selama dirinya masih belum menjadi milik Khanif, Rania tidak ingin mengambil keuntungan dari atm Khanif yang ada pada Jihan.
"Aduh, maaf ya kak Rania. Aku tuh orangnya ceplas ceplos. Jadi kakak harap maklum saja ya, seperti kak Khanif dan kak Davina.
"Tergantung sikapmu kemudian."
Sebenarnya Rania ingin sekali mengatakan tiga kata itu. Namun semua tersangkut di pikirannya saja.
Jadi, Rania hanya menjawab 'ya' sebagai responnya.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...