
Hai semua, maaf ya baru sempat update karena jaringan aku baru bagus. Untuk itu, aku akan up dua bab hari ini.
Oh iya, Aku mau berterima kasih lagi sama @Yustika PAMBUDI @Teti Indrawati @Hannah Khumairah karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.
Selamat Membaca, ya 🤗
...***...
"Mengapa bapak mau membukakan saya pintu, bahkan menarikkan sebuah kursi untuk saya duduki."
"Itu karena suatu hal," ujar Khanif yang tidak dimengerti oleh Rania.
"Maksud bapak?"
"Mendekatlah sedikit," pinta Khanif. Rania pun mendekat. "Jangan ribut dan menoleh sekilas saja."
Rania mengangguk.
"Kamu lihat wanita yang memakai topi lebar disana?"
Rania menoleh sekilas seperti perkataan Khanif.
"Kamu lihat?"
Rania lagi-lagi menganggukkan kepalanya
"Wanita itu sudah dari tadi mengikuti kita."
"Bapak tahu siapa dia?"
"Tentu saja."
"Siapa?"
"Sudah, anak kecil tidak boleh tahu. Yang penting saat ini, kamu ikuti saja apa kata saya."
Rania dibuat bengong oleh perkataan Khanif. Bahkan Rania sampai bertanya-tanya dalam hati tentang siapa wanita yang telah mengikuti mereka dan bagaimana Khanif bisa mengetahui wanita itu dengan penampilan yang aneh itu.
Tentu saja Rania merasa aneh. Wanita itu terlihat memakai topi pantai yang tidak pada tempatnya, kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung dan jangan lupakan pakaian yang serba aneh.
Rania lalu beralih melihat Khanif yang kembali sibuk dengan ponselnya tanpa ingin memberitahu siapa wanita aneh itu. Bahkan sampai mereka selesai makan pun Khanif tidak mengungkit soal wanita itu lagi. Sungguh, Rania tidak terlalu menikmati makannya kali ini.
Saat Khanif hendak membayar membayar makanan mereka, Rania lebih dahulu memberikan Khanif uangnya. "Biar saya yang membayar makanan ini," ujar Rania sambil tersenyum kecil.
Khanif heran. Biasanya tiap wanita yang ia jumpai dan mengajak mereka makan, pastilah Khanif yang membayar. Namun Rania berbeda. Rania ingin membayar sendiri makannya.
Bahkan Khanif sudah memaksa untuk membayarnya, tapi Rania lebih memaksa lagi darinya. Mau tak mau, Khanif pun menyerah. Ia tidak ingin gara-gara ia kekuh untuk membayarnya, Rania jadi tidak ingin makan dengannya suatu saat nanti.
Memikirkan kemungkinan itu, membuat Khanif cepat-cepat menghilangkan pemikiran anehnya. Apa bisa mereka seperti ini lagi suatu saat? Ah, memikirkannya, membuat Khanif pusing saja.
__ADS_1
"Ayo, saya akan mengantarmu pulang."
Rania mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki Khanif meninggalkan restoran ini. Saat mereka beranjak, wanita bertopi pantai itu terus saja mengikuti mereka. Rania pun sedikit mempercepat langkah kakinya mendekati Khanif. Setelah dekat, Rania menarik lengan baju Khanif.
"Kenapa?" tanya Khanif tanpa menolehkan wajahnya pada Rania yang selalu melirikkan wajahnya pada wanita bertopi itu.
"Wanita itu mengikuti kita lagi."
"Tidak usah dipedulikan. Lagipula bukan kamu yang diperhatikan, tapi saya."
Kata-kata Khanif barusan malah tambah membuat Rania heran. Ia ingin kembali bertanya, namun nampaknya Khanif pasti akan menjawab seadanya lagi bahkan kemungkinan bisa membuat Rania tambah penasaran saja. Untuk itulah, Rania memilih diam sepanjang jalan. Begitupula dengan Khanif. Mereka seperti terlihat bak orang asing di mobil yang sama.
Sesampainya mereka di rumah Rania, Khanif pun pamit pulang. Baru saja mobil Khanif hilang dari pandangan, Rania menepuk jidatnya. Ia ingat, sebenarnya tadi ia ingin menanyakan kabar Davina. Tapi gara-gara wanita bertopi pantai tadi, membuat Rania melupakan pertanyaannya itu.
Huft, Rania ingin menanyakan keadaan Rania lewat pesan ber-ikon telpon warna hijau, namun ia takut bukannya malah menghibur, Rania malah nanti akan membuat Davina sedih. Ia pun melupakan niatnya itu dan berlalu masuk ke dalam rumah. Mengistirahatkan diri sejenak, baru kemudian membersihkan diri.
***
Khanif baru saja sampai dirumah saat matanya tidak sengaja melihat mama yang tengah duduk di ruangan tengah dengan baju yang aneh dan disamping kanannya ada sebuah topi dan didepannya berserakan foto-foto hasil penyelidikan mama.
"Sudah puas mama mengikuti Khanif tadi?" ujar Khanif pelan seraya duduk didekat mama.
Mama mengangguk senang. Mama lalu mengeluarkan beberapa foto lagi dari dalam tasnya. Mulai dari foto yang memperlihatkan seorang lelaki keluar dari mobil, lalu sebuah foto lelaki menghampiri seorang wanita di pinggiran jalan sampai saat lelaki dan wanita tadi sedang makan disebuah restoran.
Sungguh, mama bak fotografer profesional. Setiap foto yang diambilnya selalu jelas dan bersih. Tapi, sebagus dan seaneh apapun mama berpakaian dan berdandan, Khanif selalu saja mengetahui kalau orang yang sedang mengikutinya adalah mamanya sendiri.
"Ngga, ini tuh, hoby mama. Jadi, mana bisa mama capek."
Ternyata, wanita bertopi pantai, berkacamata hitam didalam restoran dan berpakaian aneh adalah mama. Pantas saja Khanif tidak mengambil pusing kejadian tadi saat seseorang wanita aneh dari tadi mengikutinya. Ia bahkan terkesan santai, seperti sudah sering mengalami hal seperti ini.
"Lain kali mama akan mengambil foto lebih banyak lagi," ujar mama seraya mengurutkan foto-foto yang telah diambilnya.
"Sepertinya Khanif harus menyerah sekarang," ujar Khanif seraya mengembuskan napasnya pelan.
Mama menoleh pada Khanif.
"Jadi gimana, udah mau ngikutin saran mama."
"Tidak. Biarkan Khanif sendiri yang mencari pendamping Khanif. Mama tidak udah khawatir lagi." Khanif lalu berdiri. "Baiklah Khanif ke kamar dulu."
Mama yang baru sadar akan ucapan Khanif barusan seketika berdiri dan berjalan mendekati Khanif. Mama memegang lengan Khanif untuk menghentikan langkah kakinya. Setelah Khanif melihatnya, mama menaikkan satu alisnya - curiga akan ucapan Khanif tadi.
"Seperti anak mama ini sudah mempunyai target."
Khanif tertawa kecil. Mamanya selalu seperti ini. Setiap ada kejadian, mama pasti akan menghubungkannya seperti seorang detektif saja. Khanif lalu menganggukkan kepalanya pelan seraya berdehem, "hem."
Mama lalu memeluk Khanif senang. Ia tidak menyangka, ternyata usaha mama selama ini dalam membujuk Khanif untuk segera mencari calon pendamping, akhirnya membuahkan hasil juga. Tapi siapa? Mama pun tidak tahu. Untuk itulah, mama kembali menjadi seorang detektif dadakan.
"Siapa yang mampu meluluhkan hati anak mama ini?" tanya mama bermaksud menggoda.
__ADS_1
"Cepat atau lambat mama pasti akan tahu."
"Ais, anak ini. Bikin mama penasaran saja." Mama lalu lebih mencondongkan dirinya pada Khanif. "Apa mama mengenal baik wanita itu?"
"Emm ... sepertinya. Baiklah, mamaku sayang, Khanif mau bersih-bersih dulu."
Seperginya Khanif, mama pun kembali ke tempat duduknya. Ia begitu senang dengan kabar dari Khanif sore ini. Ia lalu segera membereskan foto-foto yang berserakan diatas meja dan memasukkannya dalam tasnya kembali.
Setelah itu, mama beranjak dari sana, lalu menuju dapur untuk membuat makan malam untuk semua keluarga. Saat mama sedang menyiapkan makan malam, Khanif datang ke dapur untuk mengambil air minum.
"Bagimana keadaan Davina, ma?"
"Dia sudah baik-baik saja. Tapi mama sarankan, biarkan dia izin sehari."
"Iya, ma. Khanif juga sudah memikirkannya."
"Segera selesaikan masalah Davina. Mama tidak mau melihat Davina sampai menangis lagi. Kalau tidak, mama akan turun tangan sendiri," ujar mama masih terus memotong-motong sayuranya.
"Iya, mama tidak perlu khawatir. Dalam dekat ini, Khanif akan memberitahu semua karyawan kalau Davina sebenarnya saudari persusuan Khanif."
"Apa mama bilang! Harusnya dari dulu kamu memberitahu semua karyawan kalau Davina itu adik kamu!" omel mama kesal.
"Khanif minta maaf karena tidak dapat menjaga Davina dengan baik."
"Makanya segera selesaikan masalah itu. Kalau perlu, kamu tidak perlu lagi mempertahankan karyawan yang sudah membuat anak mama menangis. Mama tidak suka kalau para karyawan itu masih bekerja disana."
"Davina masih dikamarnya?"
"Hem, sejak pulang dia terus mengurung diri."
"Khanif pergi menemuinya dulu."
"Jangan, sepertinya Davina kepingin sendiri. Jadi gimana?"
"Gimana apanya ma?"
"Ya, lanjutan dari yang kamu bicarakan tadi."
"Khanif tidak ingin buru-buru. Khanif ingin hal ini berjalan seperti biasanya."
"Kalau ada yang mendahului kamu baru tahu rasa."
Khanif murung. Sepertinya perkataan mama benar, namun Khanif ingin memastikan satu hal dulu sebelum lanjut ke tahapan berikutnya.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1