
Rania mendongkak melihat bangunan besar didepannya, tempatnya mendapat teman baru, suasana baru dan pengalaman baru, yakni tempatnya bekerja selama setahun belakangan. Tak terasa ia bisa melaluinya sampai saat ini. Padahal dulu ia tidak begitu yakin kalau dirinya akan sampai bekerja selama ini jika mengingat ia kesusahan saat diawal bekerja.
Apalagi saat mengetahui kalau ceo tempatnya mulai bekerja adalah Khanif. Lelaki yang pernah menolaknya semasa sma dengan alasan yang masuk akal, namun dengan anehnya, Rania tidak menerima alasan itu karena Rania beranggapan kalau Khanif sama saja dengan anak remaja lain pada umumnya yang melihat dirinya hanya pada fisiknya saja.
Rasa sakit yang kelam kembali menghampirinya jika terus saja mengingatnya. Rania pun menyudahi aksi mendonggakkan kepalanya melihat bangunan berlantai-lantai didepannya ini. Setelah menghirup udara pagi dengan matahari yang mulai bersinar terik tanpa awan, Rania mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Sepertinya hari baru akan dimulai lagi, mengingat Farah, teman satu kantor yang juga ikut dalam seleksi calon sekertaris Khanif mulai bertugas. Entah, bagaimana sifat Farah nanti padanya. Apakah sama seperti Lisa yang selalu ingin menang sendiri atau malah sebaliknya.
Jika boleh memilih, ia berharap Farah akan bersikap baik padanya. Maksudnya, ia ingin Farah tidak menganggapnya sebagai saingan karena ia juga masuk ke dalam pencalonan sekretaris untuk Khanif.
Baru saja Rania hendak duduk di kursi kerjanya, Rania malah dipanggil oleh May lewat intercom yang mengharuskan dirinya ke meja kerja May. Tanpa menunggu lama, Rania pun bergegas kesana.
"Mbak May memanggil saya?"
May mengangguk. "Maaf kemarin saya membentak kamu," ujar May mengatakan rasa bersalahnya.
"Rania ngerti kok, mbak."
"Oh, iya. Kamu dipanggil sama pak Khanif tadi. Bapak bilang, kalau kamu udah datang, kamu diminta ke ruangannya."
"Hah!" Rania melihat jam tangannya. Ia tahu, ia tidak terlambat. Bahkan masih ada sepuluh menit baru ia bisa dikatakan terlambat, tapi panggilan Khanif datang saat dirinya belum tiba dikantor. Datang secepat itu? Khanif memang pantas menjadi panutan didalam dunia kerja.
Rania lalu kembali melihat May. "Mbak, sudah berapa menit berlalu pak Khanif menyuruh saya keruangannya?"
"Sekitar lima belas menit yang lalu. Gih keruangan pak Khanif, cepat."
"Terima kasih, mbak."
Rania pun bergegas pergi keruangan Khanif. Untung saja lift karyawan tidak terlalu penuh dengan karyawan yang baru tiba dikantor, jadi Rania begitu cepat sampai dilantai ruangan Khanif.
Rania menghirup udara sebanyak mungkin dan mengembuskannya perlahan dari bibirnya. Sungguh ia tidak tahu apa urusan Khanif sampai memanggilnya ke ruangannya.
Ia begitu deg-degan. Namun, ia rasa, ia tidak mempunyai kesalahan selama Khanif keluar kota. Ia begitu giat mengerjakan tugasnya. Ia bahkan sampai beberapa kali lembur karena pekerjaannya telah mencapai akhir bulan.
Saat Rania hendak mengetuk pintu, terdengarlah dari dalam suara Khanif mengatakan masuk. Tanpa disuruh dua kali pun Rania membuka pintu. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Khanif. Rania terkejut, matanya membulat. Ia melihat Farah dan Lisa juga ada disana, duduk di sofa samping Khanif.
Rania lagi-lagi terkejut, padahal ia sudah tahu kalau kerjaan mereka selama beberapa minggu belakangan ini selalu datang lebih pagi agar mereka dapat menyandang gelar karyawan yang cocok menjadi sekretaris Khanif dibandingkan dirinya. Sudahlah. Rania beda dengan mereka yang hanya giat didepan saja.
__ADS_1
"Maaf pak, saya terlambat," ujar Rania setelah sampai didekat Khanif.
"Duduklah."
Rania mengangguk. Ia lalu duduk disalah satu sofa disamping kiri Farah.
"Baiklah kita mulai." Khanif melihat satu persatu calon sekretarisnya. "Saya sengaja mengundang kalian datang pagi ke ruangan saya."
Jika sudah begini, Rania pasti sudah minus didepan penilaian Khanif. Tapi bukannya Rania memang tidak ada niatan untuk menjadi sekretaris Khanif? Atau pendirian Rania sudah berubah?
"Rania!" panggil Khanif.
Farah yang disamping Rania pun sengaja menyenggol Rania untuk menyadarkannya. Sukses, Rania menoleh pada Farah. Sedang Farah memberikan kode mata pada Rania yang mengatakan kalau Khanif sedang mengajaknya bicara.
"Saat saya bicara, saya harap kamu tidak melamun!"
"Maaf, pak," ujar Rania dengan anggukan kepala canggung.
"Saya sengaja mengundang kalian datang kemari untuk mengatakan kalau pemilihan kalian akan dilakukan minggu depan. Tepatnya di acara peresmian vila yang ada dikota M."
Farah dan Lisa terlihat antusias. Tentu saja, karena apa yang mereka usahakan selama ini, tidak akan lama lagi akan diketahui. Mereka merasa deg-degan. Namun sepertinya tidak bagi Rania, ia terlihat biasa saja dalam menanggapinya.
"Dan kamu Farah, besok kamu mulai bertugas karena hari ini saya hanya masuk pagi saja."
"Siap, pak."
"Satu lagi, saya ingin kalian membuat proposal tentang ide-ide kalian kedepannya untuk perusahaan. Dengan proposal itu, saya akan mempertimbangkan kalian untuk menjadi sekretaris saya. Jadi, buatlah proposal semenarik mungkin."
Mereka tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Khanif beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil sesuatu untuk mereka bertiga. Khanif lalu kembali dengan tiga tas berisikan hadiah untuk mereka.
"Ini hadiah untuk kalian, semoga kalian suka."
"Terima kasih, pak," ujar ketiga wanita berbeda watak itu.
__ADS_1
"Sama-sama. Kalian bisa kembali ke perkerjaan kalian lagi."
Mereka bertiga pun beranjak meninggalkan ruangan Khanif dan kembali ke perkerjaan masing-masing. Namun saat Rania hendak keluar ruangan mengikuti Lisa dan Farah yang telah keluar lebih dahulu, Khanif malah kembali memanggilnya. Rania otomatis berbalik.
"Bapak memanggil saya?" tanya Rania memastikan. Ia takut kalau ia telah salah dengar.
"Hem. Saya hanya mau ucapkan selamat padamu dan Zaky."
Rania diam. Ia merasa sedih saat Khanif mengatakannya. Harusnya ia bahagia, namun yang terjadi malah sebaliknya. Ia bahkan tak bisa membalas perkataan Khanif dan hanya terpaku pada wajah Khanif yang tersenyum padanya. Tersenyum lebar nan manis.
"Saya hanya ingin mengatakan itu. Kamu bisa kembali bekerja."
"Kalau begitu saya pergi dulu, pak. Sekali lagi terima kasih atas hadiahnya." Rania pun hilang dibalik pintu.
Sepeninggal Rania, Khanif menghembuskan napas panjang. Kini perasaannya telah lega setelah mengatakan selamat pada Rania. Ia lega karena sudah bisa melepaskan perasaan yang pernah hinggap dihatinya.
Meski perasaan itu masih ada, namun secepat mungkin Khanif akan melupakannya. Melupakan untuk kebaikan dirinya. Yah, mungkin takdirnya tidak bisa bersama Rania.
Khanif lalu melangkahkan kakinya ketempat favoritnya, yakni berada didepan kaca ruangannya yang memperlihatkan kendaraan yang berlalu lalang menuju ke tempat kerja masing-masing orang yang tengah berjalan kaki dibawah sana.
Ia lega, setidaknya ia sudah tidak terlalu sedih lagi. "Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Selamat jalan, Rania." Khanif memegang dadanya yang terasa berdetak. Ia benar-benar akan melepaskan perasaannya pada Rania untuk selamanya.
...***...
...*Entah sejak kapan aku melihatmu di mataku. Entah sejak kapan kamu mulai merasuki hatiku. Entah sejak kapan jantungku mulai berdetak jika berada di dekatmu. Padahal, aku telah menjaga hatiku penuh dengan kehati-hatian darimu. Namun aku tetap saja kalah dari perasaan ini. Tapi itu semua telah berlalu sejak sesuatu yang terjadi padamu. Kejadian yang tidak bisa ku tahan. Dulu kamu adalah perasaanku, namun esok mungkin semuanya akan berubah. Berubah dengan angin yang tengah menerpa - membawa perasaan sedih ini untuk selamanya. Selamat tinggal untuk perasaan yang belum sempat terucap.*...
...*Muh. Khanifan sya'ban*...
...***...
...**...
...*...
...To be continued...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...