
Sepanjang sore itu, setelah mengerjakan laporan keuangan, lagi-lagi pikiran Rania tertuju pada percakapan para karyawan yang duduk diseberang meja mereka sewaktu makan siang di kantin kantor.
Saat itu dengan jelas Rania mendengar salah seorang berkata, i"ya kamu bener. Oh, iya. Menurut kamu siapa kira-kira yang menjadi sekretaris pak Khanif kedepannya?"
Siapa? Pertanyaan yang dulunya tidak dianggap penting olehnya itu kini telah berbalik menjadi buah simalaka baginya. Bagaimana tidak, dulu ia berpikiran kalau dirinya tidak ingin menjadi sekretaris Khanif. Bahkan ia dengan terang-terangan pernah mengatakan pada Davina kalau dirinya tidak ingin menjadi sekretaris Khanif dan lebih menyukai jabatan sebagai staf accounting biasa.
Tapi apa ini? Dengan pertanyaan yang baru ia dengar siang ini, ia sudah menjadi tidak tenang. Bahkan ia sampai memikirkan pertanyaan itu berulang-ulang kali sampai membuat kepalanya jadi pening. Rania lantas memijit pelipisnya.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Dian.
"Aku agak pusing aja."
"Kamu izin aja kalau gitu. Nanti tambah parah, loh!"
"Udah ngga papa. Nanti juga akan hilang kok."
Tanpa memperdulikan ucapan Rania, Dian sudah lebih dahulu pergi ke meja May untuk meminta izinkan untuk Rania. Biar bagaimana pun Rania mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa, tapi Dian akan tetap meminta izin.
"Ada apa, Dian?" tanya May.
"Ini mbak, saya mau minta izinkan Rania untuk pulang lebih awal."
"Kenapa dengan Rania?"
"Rania sakit kepala, mbak."
"Kalau pekerjaannya udah selesai, dia udah bisa pulang."
"Terima kasih, mbak."
"Hem."
Dian lalu kembali menemui Rania yang lagi-lagi tengah memijit pelipisnya.
"Aku udah ngga terlalu pusing, di."
"Udah ngga papa. Lagi pula aku sudah minta izinkan kamu sama mbak May. Mbak May bilang kamu bisa pulang kalau pekerjaan kamu udah selesai," terang Dian. "Aku perhatikan pekerjaan kamu udah selesai. Sini ku antar ke bawah, biar kamu naik taksi aja. Dari pada bawa motor, ntar kenapa-kenapa lagi!"
Rania mengangguk seraya tersenyum melihat tingkah Dian yang tadi bergidik ngeri saat mengatakan 'naik motor' disaat kepala Rania pusing. Kemungkinan anggapannya, bukannya sampai dirumah dengan selamat, Rania malah terbaring nyaman dirumah sakit.
Dian pun membantu Rania berjalan ke arah lift. Baru saja lift terbuka, terlihat sosol Khanif tengah berada didalam lift dengan salah satu tangannya masuk ke saku celananya. Melihat itu, tentu saja membuat Dian terkejut, tapi ia tetap membawa Rania masuk ke dalam lift. Sedangkan Rania tidak terlalu memperhatikan siapa-siapa yang ada didalam lift termaksud Khanif.
Barulah saat Khanif menanyakan, "dia kenapa?" pada Dian, Rania baru sadar kalau lagi-lagi Khanif dan dirinya satu lift. Namun dirinya yang tidak ingin melihat Khanif, akhirnya berpura-pura saja tidak menyadari keberadaan Khanif disana. Lagi pula, Khanif tidak mengajak dirinya berbicara, melainkan Dian.
"Rania merasa pusing, pak. Jadi saya mengantarkannya ke bawah untuk mencari taksi untuknya."
__ADS_1
Khanif mengangguk, ia sekilas melihat Rania yang tetap diam dengan kepala tertunduk.
Saat-saat mendebarkan pun telah lewat. Lift telah sampai dilantai bawah. Khanif lantas keluar lebih awal, lalu menyusul Dian dan Rania yang langsung pergi keluar mencari taksi. Beberapa menit telah berlalu, namun tidak satu kendaraan pun lewat didepan mereka.
Rania hampir saja memilih naik motornya, saat sebuah mobil suv putih berhenti tepat didepan mereka. Perlahan kaca mobil putih itu turun memperlihatkan sosok lelaki yang tadi telah dihindari oleh Rania.
"Masuklah, saya akan mengantarmu pulang," ujar Khanif.
"Tidak udah, pak. Nanti merepotkan. Saya naik taksi saja," tolaknya.
"Tak apa. Saya juga ingin pergi ke suatu tempat. Kebetulan kita searah."
Dian lalu menyenggol lengan Rania yang mengisyaratkan kalau Rania ikut saja ke mobil Khanif. Rania lantas menoleh, ia mencoba untuk membuat Dian mengerti kalau dirinya tidak ingin di antar pulang oleh Khanif. Tapi bukan Dian namanya kalau ia tidak ingin menjahili Rania saat ini.
"Terima kasih atas tumpangan, bapak," kata Dian. Ia lalu mengandeng lengan Rania dan membawanya masuk ke dalam mobil Khanif. Setelah pintu mobil tertutup, Dian kembali melanjutkan perkataannya, "saya percayakan keselamatan Rania sama Bapak."
Dengar, Dian begitu santai mengatakannya, sedangkan Rania begitu tidak nyaman berada satu mobil dengan Khanif. Rania bahkan sampai meremas jari-jarinya dan lebih parahnya, Rania sampai lupa memasang sabuk pengamannya. Rania baru sadar saat Khanif mencodongkan badannya untuk membantu Rania memasang sealbeth.
"Bapak mau apa?" tanya Rania tiba-tiba.
"Sealbeth kamu belum dipasang."
"Oh, bi ... biar saya saja, pak."
"Iya, pak. Hati-hati."
Khanif mengangguk, ia pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Rania. Sepanjang jalan, Rania sengaja menyerongkan tubuhnya menghadap keluar jendela karena ia begitu malu akan kelupaannya yang tadi. Bagaimana bisa ia melupakan hal yang penting sebelum berkendara. Terlebih lagi yang mengingatkannya akan hal itu adalah Khanif, lelaki yang sengaja Rania hindari.
Karena keadaan diperjalanan begitu hening, Khanif pun mencoba memulai percakapan dengan Rania. Siapa tau, dengan begitu ia bisa selangkah lebih dekat dengannya. Ah, semoga saja.
"Ehem, Rania."
"Iya, pak."
"Didalam laci dasboard, ada sebuah kotak. Didalamnya ada obat sakit kepala. Kamu bisa meminumnya nanti setelah makan."
"Em, terima kasih, pak." Rania lalu mengikuti ucapan Khanif untuk mengambil obat sakit kepala.
Hitung-hitung sebagai ganti rugi Khanif karena telah menyebabkan beberapa karyawan bercerita tentang sekretaris Khanif kedepannya, hingga membuat Rania sampai memikirkan percakapan mereka.
Mengetahui apa yang terlintas dipikirannya, membuat Rania mau tak mau tersenyum lucu.
"Ada yang ingin saya katakan," ujar Khanif tiba-tiba membuat Rania menolehkan wajahnya dengan pandangan penasaran.
"Ada apa, pak?"
__ADS_1
"Besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat ke kota M."
"Jadi, nontonnya?" ujar Rania begitu tak terima kalau sampai ia tidak pergi nonton. Apalagi, ia sudah menolak ajakan Dian untuk pergi nonton bersama.
"Maaf, sepertinya saya harus membatalkannya. Tapi jangan khawatir, saya sudah mengaturnya, kamu bisa pergi dengan Davina. Sebelumnya saya sudah mengatakan padanya dan dia menyetujuinya."
Rania terdiam. Kenapa keadaan ini begitu mengecewakan! Apa karena Khanif tidak jadi nonton bersamanya? Atau pada awalnya ia begitu tidak ingin pergi menonton dengan Khanif dan pada saat ini, keinginan itu tersampaikan? Ah, ia seperti tidak berminat lagi untuk pergi sebentar malam.
"Ingat, pemilihan sekretaris akan diadakan disana. Jadi, beberapa hari setelah saya pergi, kalian juga akan datang kesana bersama Davina. Persiapkan semua perlengkapan."
"Hem, saya mengerti," ujar Rania seadanya.
Seperti ucapannya yang singkat, percakapan mereka pun menjadi singkat. Hingga tanpa terasa mobil yang di kendarai oleh mereka telah sampai didepan rumah Rania.
"Terima kasih, pak," ujar Rania setelah keluar dari mobil Khanif.
"Sama-sama," balasnya. "Baiklah, saya pergi dulu. Sampai jumpa dipertemuan berikutnya."
Khanif tersenyum. Selanjutnya, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan teman bisnisnya.
...To be continued....
Percakapan singkat readers dan author
Readers : Thor, kenapa kemarin ngga update?
Author : Huaa, (sambil nangis lebay ) Jari Jempol saya sakit lagi.
Readers : Duh, maaf ya thor. Udah buat Jempol author jadi sakit gara-gara nulis cerita ini.
Author : Ngga papa kok. Ini udah mendingan jadi bisa up lagi.
Readers : Jadi ngga enak nih.
Author : Gimana kalau gini, Kamu beri vote aja pada cerita ini mumpung ada vote baru lagi.
Readers : Baiklah Thor, Terima kasih ya, Thor.
Author : Sama-sama.
...***...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1