Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 42. Operasi Hutan Pinus


__ADS_3

Davina segera memperlambat jalannya saat ia sudah berada di keramaian. Bukannya ia tidak ingin cepat sampai ke tempat petugas keamanan. Hanya saja, ia tidak ingin para wisatawan disini menjadi panik karenanya.


Ia juga tidak ingin merusak suasana para pengunjung sedang menikmati hari-hari indah mereka disini. Lagi pula, pos keamanan sudah terlihat didepan matanya. Ia sudah tidak perlu sekacau tadi saat berlari seperti orang yang sedang dikejar oleh binatang buas.


Davina menarik nafas panjang sebelum mengatakan pada lelaki paruh baya penjaga keamanan wisata hutan pinus ini. Ia tidak ingin nanti suaranya keluar hanya sia-sia saja karena suaranya yang terdengar tidak meyakinkan.


Setelah menghirup udara begitu banyak, Davina pun mendekati petugas keamanan itu.


"Permisi, pak."


"Iya, ada apa?"


"Pak, saya mau minta tolong. Teman saya ada yang hilang saat sedang naik kuda menjelajahi wisata hutan pinus ini."


"Apa! Kenapa baru lapor sekarang!"


"Maaf, pak. Kami kira teman kami hanya tersesat dan kami bisa dapatkannya jika mengelilingi tempat ini, nyatanya tidak sesuai prediksi kami.


"Saya segera bersiap-siap."


Petugas keamanan itu pun bergegas mengambil semua peralatan keselamatan. Setelah semua selesai, Davina dan petugas keamanan itu pun bergegas pergi mencari Rania.


Belum juga Davina sampai ditempat ia dan Khanif berpisah tadi, iris mata coklat Davina menangkap sosok yang ia kenal baru-baru ini dan mengenal Rania sangat dekat. Tanpa buang waktu, Davina berlari menghampiri sosok lelaki itu. Membuat bapak penjaga keamanan itu mengikuti langkah kakinya.


"Rey," panggilnya yang terdengar akrab.


Sosok lelaki yang berdiri diantara banyaknya pengunjung wisata lainnya, langsung saja mencari ke sumber suara yang telah memanggil namanya.


Reyhan heran. Ia seperti mengenal wanita yang tengah memanggilnya sambil melambaikan tangannya ke arahnya. Reyhan lantas berjalan mendekat pada Davina.


"Kamu teman Rania?"


Davina mengangguk.


"Jadi, dimana Rania?"


"Rania ... Rania ... dia hilang saat kami naik kuda sewa disini."


Jika saja Reyhan tidak dapat mengendalikan rasa keterkejutannya, ia yakin para wisatawan yang ada disini pasti sudah melihat mereka dengan pandangan heran karena suaranya yang berseru tinggi.


"Dia belum ditemukan?"


Davina mengangguk. Tapi ia juga takut melihat reaksi Reyhan yang baru dilihatnya ini. Reyhan terlihat sangat khawatir dengan Rania, namun tetap bisa mengendalikan cara bicaranya.


"Maaf," cicit Davina. "Ini semua terjadi karena saya yang terlalu memaksa untuk berkuda disini."


"Sudah, sekarang bukan waktunya untuk menyesali apa yang telah terjadi, karena ada hal yang paling penting dari itu semua."

__ADS_1


Reyhan lalu membawa Davina ke tempat yang sepi akan pengunjung agar sekali lagi tidak ada yang mengetahui keadaan mereka ini.


Sampainya ditempat yang tepat, Reyhan lantas membelakangi Davina. Ia menekan suatu alat penghubung yang terletak di telinganya. Sedangkan Davina kian meremas jari-jarinya hingga kuku-kukunya memutih. Ia sangat mencemaskan keadaan Rania yang entah sekarang berada dimana.


"Elang, Macau ..., Rajawali disini," panggil Reyhan dengan nama samaran mereka didalam ketentaraan.


"Elang disini."


"Macau disini."


"Segera ke tempat wisata hutan pinus. Dari pintu masuk utama, terus jalan ke arah jam sembilan."


Elang dan Macau yang tahu kalau nama samaran dipanggil, pasti ada sesuatu yang mendesak. Mereka berdua pun bergegas pergi ketempat yang telah dikatakan oleh pemimpin sekaligus ketua kelompok mereka.


Tidak lama setelah Reyhan memanggil teman seperjuangan, Reyhan sudah melihat mereka berdua jalan terburu-baru mendekatinya.


Sesampainya didekat Reyhan, Elang dan Macau berdiri tegap dan mengatakan, "hormat kapten." Elang dan Macau bersamaan sambil memberi hormat pada Rajawali yang tidak lain adalah Reyhan.


"Ikut saya segera, kita mempunyai tugas mendesak."


Mereka berdua mengangguk. Davina yang masih berada disana pun sempat terperangah melihat Reyhan dan kedua temannya begitu memukau. Tapi ia segera tersadar karena ia bukalah waktu yang tepat untuk ia terpesona. Apalagi Rania belum ditemukan.


Sambil berjalan, Elang dan Macau menanyakan apa yang terjadi, agar mereka bisa mengerjakan tugas mereka dengan baik.


"Aku ingin kalian membantuku mencari keberadaan wanita yang tempo hari bertemu kita di latihan olahraga pagi itu."


"Hem."


Lama mereka berjalan, Reyhan pun melihat jalan bercabang didepannya.


"Mulai dari sini kita berpisah. Bertanya seperlunya pada orang-orang. Jangan membuat orang lain curiga."


"Siap kapten," ujar Elang.


"Kapten, " panggil Macau.


Reyhan menoleh padanya. "Ada apa?"


"Kapten, beberapa hari ini saya melihat beberapa orang yang tidak dikenal sering keluar masuk ke dalam hutan pinus ini. Saya juga pernah mendapatkan sebuah signal yang tak dikenal dari daerah sini. Saya tidak langsung memberitaukannya pada kapten karena saya ingin semuanya jelas dulu."


"Kenapa kamu baru mengatakannya? Jelas atau tidak harus diberitahukan pada saya segera setelah kamu mengetahuinya."


"Maaf, kapten."


"Sudah berapa hari signal tidak dikenal itu kamu ketahui?"


"Sudah dua hari ini, kapten."

__ADS_1


"Hubungi Kakatua dan Cendrawasih segera! Katakan pada mereka untuk melacak signal itu."


"Siap laksanakan tugas, kapten."


Mereka pun berpisah disana. Macau menghubungi temannya yang lain. Elang menuju arah jam 10 untuk memulai pencarian, sedangkan Davina dan Reyhan serta bapak penjaga itu pergi menuju tempat Davina berpisah tadi dengan Khanif.


Sesampainya ditempat tujuan, bapak penjaga itu lalu teringat sesuatu. Ia lalu berjalan duluan sambil mengatakan, "dulu disekitar sini ada jalan yang sudah tidak terpakai lagi. Mungkin orang yang Anda cari melewati jalan tersebut, sehingga Anda tidak mendapatinya."


"Bapak jadi petunjuk jalan," ujar Reyhan.


Bapak penjaga pun memimpin ke jalan yang tadi telah disebutkan. Sesampainya mereka disana, mereka tidak mendapati apa-apa kecuali Reyhan melihat sendal yang sangat dikenalinya. Reyhan lantas mengambil sendal berwarna peach itu.


"Ini milik Rania. Berarti Rania tadi sempat berada disini," ujar Reyhan saat memastikan apa yang ada ditangannya betul milik Rania.


"Mungkin Anda salah. Disini ada juga pengunjung yang suka kehilangan sendalnya tanpa sengaja saat mereka berkuda."


"Ini benar milik Rania. Saya yang memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya baru-baru, ini," tegas Reyhan.


Tentu saja ia tahu. Ia ingat bagaimana Rania merengek padanya untuk dibelikannya sebuah sendal yang sudah lama di incarnya disebuah toko ternama.


"Kakak, belikan Rania sendal itu," rengek Rania seperti anak kecil saat mereka berada didepan toko branded yang menampilkan sepasang sendal yang terkesan santai tapi elegan.


"Tidak, jangan yang itu. Kita masih bisa mencari yang lain."


"Tapi aku mau sendal itu. Pokoknya harus sendal itu, kalau tidak," ancam Rania. "Kalau tidak, kakak ngga bisa menikmati masakan Rania lagi!"


"Kamu ingin kakak menjadi kurus?"


Rania mengangguk mengiyakan.


"Ok ... ok kakak belikan. Ayo masuk."


Reyhan menggandeng tangan Rania masuk ke dalam toko yang menjual barang-barang branded.


"Reyhan," panggil Davina membuat Reyhan tersadar.


"Maaf, saya sedang mengingat Rania."


Mereka pun terus menyusuri wisata hutan pinus ini. Setelah lama mencari, mereka melihat kuda putih yang tadinya habis dipakai Khanif. Davina berseru, "itu kuda pak Khanif."


Tidak salah lagi, kuda itu memang kuda yang telah dipakai Khanif. Khanif sengaja turun dari kudanya karena jalan didepannya tidak memungkinkan lagi untuk memakai kuda. Berbekal tanda adanya kuda Khanif, Mereka pun terus jalan, masuk ke dalam hutan pinus.


Sesaat mereka mendengar suara burung-burung yang saling bersahut-sahutan. Namun, bukan hal itu yang membuat mereka berhenti melainkan ada sebuah suara lain yang salah satu dari mereka mengenal suara tersebut.


...To be continued ...


Semoga yang like, vote, komen diberikan kesehatan dan rezeki yang lancar, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2