
Keesokan subuhnya, Rania masih ada didalam dekapan Khanif saat ia terbangun lebih dahulu.
Mengingat kejadian semalam, membuat Rania menjadi malu. Ia lantas menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Khanif.
Sungguh ia begitu malu dengan kejadian semalam. Dimana dirinya lah yang lebih dahulu merayu Khanif. Bagaimana dirinya bisa seberani itu semalam? Ia berpikir kalau semalam seperti bukan dirinya saja. Namun jika seperti itu, dirinya pasti telah membohongi dirinya.
Ah, apa nanti kata Khanif saat dia terbangun nanti?
"Ma chérie," panggil Khanif dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Rania lantas mendonggakkan wajahnya, lalu secara tak terduga, netra mata mereka saling bertemu pandang.
"Kamu kenapa, hem?" tanya Khanif begitu Rania kembali membenamkan kepalanya dada bidangnya.
Rania menggelengkan kepalanya pelan pertanda kalau dirinya tidak apa-apa.
"Yakin?"
Rania menganggukkan membenarkan.
"Kalau bagitu kita mandi dulu, lalu shalat subuh berjamaah."
"Kita mandi?"
"Iya, ma chérie. Kalau tidak begitu, mana bisa shalat?"
"Aku mandi sendiri saja," kata Rania cepat membuat Khanif terkekeh pelan.
Khanif kini tau kenapa Rania merasa bingung dengan perkataan mandi. Rania pasti mengira kalau mereka akan mandi bersama, tapi apa yang salah? Mereka sudah meresmikan hubungan mereka semalam. Bahkan yang terjadi semalam, Rania yang lebih dahulu memulainya. Apakah dirinya malu?
"Baiklah, kamu mandi lebih dahulu saja. Biar kakak sebentar."
"Baiklah. Kalau gitu, kakak lepaskan pelukan kakak dulu."
"Ah, iya."
Setelah pelukan Khanif terlepas, Rania pun menarik seluruh selimut menutupi tubuhnya yang masih belum memakai apa-apa sejak semalam. Lalu setelahnya, ia duduk sejenak di pinggiran tempat tidur untuk membiasakan dirinya.
Setelah semenit telah berlalu, Rania pun akhirnya berdiri juga. Namun belum juga Rania melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, sudah terlebih dahulu Khanif mengangkat Rania ke dalam pelukannya.
Tentu saja hal itu membuat Rania terkejut dengan jantung yang deg-degan.
"Kakak," pekik Rania karena tindakan Khanif yang tiba-tiba ini.
"Hem. Kenapa?"
"Aku bisa jalan sendiri kok."
"Kakak tau, tapi itu akan memakan waktu."
Setelahnya, Rania tidak dapat berkata apa-apa karena memang dirinya masih merasa sakit di bawah sana.
"Sudah sampai," kata Rania setelah Khanif membawanya masuk ke dalam kamar mandi. "Kalau begitu kakak keluar. Aku mau mandi dulu."
__ADS_1
"Siapa bilang kakak mau keluar. Kita mandi bersama saja. Lagi pula, kakak sudah melihatnya semalam."
"Kakak," seru Rania malu sambil memukul pelan dada Khanif. Lalu sedetik kemudian, ia lagi-lagi menyembunyikan wajahnya yang telah bersemu merah di dada Khanif.
"Tidak usah malu. Kan sama suami sendiri."
"Kakak," kata Rania pelan.
"Cuma hari ini aja, ma chérie karena hari kian terang saja, sedang kita belum mandi wajib dan belum sholat subuh juga."
"Baiklah. Untuk kali ini saja."
"Hem, tapi kalau kesiangan bangunnya, ya terpaksa begini lagi."
"Kakak!"
"Iya, iya. Ayo kita buruan mandi, nanti kita tidak mendapatkan sholat subuh."
Setelah kejahilan Khanif itu, mereka berdua pun mandi bersama untuk pertama kalinya selama mereka menikah.
Lalu beberapa menit kemudian, mereka pun telah selesai mandi bersama - membersihkan diri mereka
Selanjutnya, mereka semua telah bersiap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah untuk menghadap pada sang maha Pencipta.
***
Tepat hari ini, mereka sudah berada di kota N selama seminggu. Hari-hari yang mereka jalani pun begitu menyenangkan. Bahkan karena sangat menyenangkan itu, membuat mereka merasa kalau keberadaan mereka di resort ini berlalu dengan cepat.
Awalnya Khanif ingin menunda lagi keberangkatan mereka ke kota M. Namun Rania telah mengatakan padanya kalau mereka tidak perlu menundanya lagi.
Jadi, setelah mereka telah mempersiapkan barang bawaan mereka, mereka pun segera bertolak ke kota M. Pergi berlibur kembali di kota yang terkenal dingin itu.
Sore harinya, mereka telah tiba disana. Dengan memakai mantel, rasa dingin di kota itu tidak terlalu membuat Rania kedinginan. Ditambah dengan rangkulan Khanif sesaat mereka tiba, membuat Rania kian merasa hangat. Ini seperti bulan madu kedua mereka.
Setelah memasukkan koper mereka didalam kamar, Khanif pun mengajak Rania untuk pergi berjalan-jalan di sekitaran vila.
"Emm, kak," panggil Rania.
"Iya, kenapa?"
"Seminggu lagi kita akan bekerja. Jadi, selama masa liburan ini, bagaimana kalau kita mengunjungi beberapa tempat wisata disini."
"Kalau itu menyenangkanmu, kakak akan lakukan."
"Jadi aku akan membuat daftar perjalanan kita. Hari ini kita istirahat saja dulu karena besok kita akan pergi ke hutan pinus. Esok harinya lagi, kita akan pergi ke taman bunga yang tidak jauh dari vila ini. Emm, besoknya lagi, kita akan pergi ke tempat kita berfoto waktu itu."
"Dimana? Tempat berfoto kita ada banyak, ma chérie."
"Itu tuh, yang ada seorang wanita meminta tolong sama kita untuk di fotokan satu keluarga. Lalu sebagai balasannya, kita akan di foto sama dia. Emm, singkatnya, wanita mengatakan kita sebagai suami istri saat itu. Kakak ingat?"
"Kakak ingat. Jadi setelah dari sana, kita akan kemana lagi?"
"Setelahnya, aku ingin pergi ke memanen buah stroberi dan dua hari setelahnya, kita beristirahat di vila saja."
__ADS_1
"Tidak. Kakak ingin membawamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia, ma chérie," ujar Khanif seraya mengelus pipi Rania.
"Baiklah. Aku akan menunggunya."
Khanif tersenyum begitu pula dengan Rania. Lalu se-detik kemudian, mereka pun melanjutkan jalan-jalan mereka.
***
Malam harinya, Rania begitu sibuk membuat makan malam untuk mereka. Ia bahkan tidak sempat memperhatikan Khanif yang sudah dari tadi melihatnya.
Sungguh, ia benar-benar fokus untuk memasakkan makanan buat Khanif karena untuk pertama kalinya, Rania memasakan untuknya.
Dulu selama di resort, mereka hanya perlu menghubungi petugas di dapur untuk membuatkan mereka makanan. Namun di sini - vila, Rania tidak ingin lagi hanya mengandalkan makanan dari dapur vila karena dirinya ingin memasakkan makanan buat Khanif dari tangannya sendiri.
Enak tidak enaknya, biar Khanif yang berbicara. Namun Rania yakin, makanan tidak akan kalah enak dengan makanan dari koki vila ini.
Sesaat Rania hendak mengambil piring saji untuk menaruh masakannya, matanya tidak sengaja melihat Khanif yang tengah melihatnya sambil tersenyum.
Rania lantas menegurnya dengan berkata, "apa istri pak suami begitu cantik hingga melihatnya terus menerus tanpa berkedip?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kak," seru Rania tiba-tiba.
"Kenapa ma chérie."
"Aku mengatakannya hanya bercanda. Kakak jangan lihat aku terus, nanti aku salah menata makanan."
"Apa hubungannya?"
"Ya, ada. Kakak ke meja makan aja. Tunggu saja aku disana."
"Emm, baiklah."
Khanif pun mengikuti ucapan Rania. Namun saat Rania kembali menata makanannya di piring saji, tiba-tiba ia terpekik saat Khanif mengangkat dirinya ke dalam gendongannya.
"Kakak!" teriak Rania karena terkejut.
"Kakak sudah tidak lapar makanan itu lagi," ujar Khanif membuat Rania mengernyit heran.
"Lalu kakak mau makan apa?"
"Kakak ingin makan kamu!"
"Apa!"
Setelahnya, Khanif pun membawa Rania ke dalam kamar mereka dan kembali mengulang aktifitas mereka seperti malam-malam yang telah lalu.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
...By Siska C...