
Sesampainya ia di depan pintu masuk kantor, netra matanya langsung saja menangkap sosok lelaki yang tengah tersenyum hangat padanya.
Rania lantas berlari mendekat seraya memanggil namanya senang.
"Kak Rey. Akhirnya kakak datang tepat waktu."
"Bukannya kakak selalu datang tepat waktu dan adik yang malah membuat kakak menunggu lagi?",
"Ya, karena Rania sengaja. Siapa tau ada teman kantor Rania yang dapat membuat kakak jatuh hati."
"Ada-ada saja," ujarnya seraya mengacak-acak rambut Rania. "Ayo pulang," ajak Reyhan kemudian.
"Ayo, kak."
Reyhan pun masuk ke dalam mobil diikuti oleh Rania yang duduk disampingnya.
"Bagaimana kerjaanmu hari ini?"
"Alhamdulillah baik kak."
"Ngga terasa kalau besok hari terakhir kamu kerja sebelum cuti."
"Iya, kak. Rania bahkan tidak menyadari waktu cepat sekali berlalu seperti ini."
"Akhirnya juga kakak ngga antar jemput kamu lagi," canda Reyhan.
"Kenapa emangnya?"
"Kakak cepek aja. Antar jemput jodoh orang," lanjut Reyhan lagi membuat Rania memanyunkan bibirnya.
"Emm, jadi selama ini kakak ngga ikhlas anterin aku gitu?"
Tiba-tiba saja Reyhan tertawa pelan melihat adiknya yang mulai kesal.
"Kakak hanya bercanda, dik. Mana ada kakak cepek hanya mengantar jemput kamu, ada-ada saja. Kakak sengaja melakukan ini karena kapan lagi kakak bisa bercanda dengan kamu sesantai ini. Tidak lama lagi, kakak pasti akan rindu masa-masa ini."
"Bukannya aku masih adiknya, kakak. Sampai kapan pun aku ngga akan pernah melupakan kakak."
Hati Reyhan menghangat. Ia seperti tidak ingin ditinggalkan oleh sang adik.
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Khanif?" tanya Reyhan mengalihkan pembicaraan mereka.
Rania diam. Dalam diamnya itu, ia kembali teringat percakapan Khanif dengan seorang perempuan saat ia ingin minta izin ingin pulang cepat.
"Siapa perempuan itu?" tanyanya dalam hati. Ia jadi bertanya-tanya sendiri.
"Dek. Adek!" panggil Reyhan.
"I ... iya, kak?"
"Kamu kenapa?"
"Rania ngga papa kok, kak. Mungkin karena lelah aja jadi ngga fokus sama perkataan kakak."
"Kalau gitu adik istirahat saja dulu. Ntar kalau udah sampai rumah, kakak akan ngebangunin adik."
"Iya, kak."
Rania pun menurunkan sandaran kursinya, lalu sedetik berikutnya, ia mulai memejamkan matanya.
Reyhan tidak ingin kalau adiknya itu terbangun karena kesalahan kecilnya pun lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Lagi, sesampainya mereka rumah, Reyhan tidak lantas membangunkan sang adik. Ia pun lalu keluar dari mobil, pergi ke dekat adiknya, lalu melepaskan sealbelt-nya. Setelahnya, ia pun memilih mengangkat sang adik masuk ke dalam rumah. Lebih tepatnya, pergi ke kamarnya.
Mama yang barusan dari dapur mengernyit heran melihat Reyhan mengangkat anak perempuannya.
"Adik kamu kenapa?" tanya mama khawatir namun dengan nada yang pelan.
"Adik ngga papa, ma. Adik cuma kecapean aja jadi tertidur di mobil."
"Emm, begitu. Gih, bawa adikmu ke kamarnya."
"Iya, ma."
Sesampainya Reyhan didepan pintu kamar Rania, Reyhan lantas memanggil sang mama untuk membukakan ia pintu kamar Rania.
"Terima kasih, ma."
"Iya, nak."
Reyhan pun menidurkan Rania ditempat tidurnya. Sesaat ia telah menurunkan Rania dengan sangat pelan, Reyhan pun bernafas lega karena sang adik tidak terganggu sedikit pun dalam tidurnya.
Baru setelah itu, ia pun pergi meninggalkan sang adik yang masih setia berada dalam alam mimpinya.
"Adik kamu masih tidur? Tidurnya ngga terganggu?" tanya mama memastikan saat Reyhan telah keluar dari kamar Rania.
"Iya, ma. Kayaknya adik capek sekali jadi ngga terganggu gitu."
"Iya, sepertinya, tapi ngga papa. Adik kamu kan kerjanya tinggal besok aja."
"Mama benar. Baiklah, Rey mau ke kamar dulu."
Mama menganggukkan kepalanya. Setelahnya, Reyhan pun berlalu masuk ke dalam kamarnya yang persis berada disamping kamar Rania.
***
Namun Khanif belum juga datang ke kantor meski waktu telah menujukkan pukul sembilan.
"Kenapa kak Khanif belum datang juga?"
Rania terus-menerus bertanya dalam hati, hingga pertanyaannya itu akhirnya terjawab juga saat Davina datang ke lantai dua satu.
"Emm, Dav. Pak Khanif kemana, ya? Kok sampai jam segini pak Khanif belum datang juga?"
"Pak Khanif tidak memberitaumu kalau dia akan mengambil cuti setengah hari?"
Rania menggelengkan kepalanya pelan tanda kalau Khanif tidak mengatakan apapun perihal ketidak datangannya pagi ini.
"Oh, mungkin pak Khanif lupa."
"Ya, mungkin saja," ujar Rania agak ragu dengan perkataannya sendiri.
"Ada yang ingin kamu tanyakan lagi, ngga?" tanya Davina memastikan sebelum ia berlalu dari sana.
"Udah ngga ada, terima kasih informasinya, ya."
"Hem, sama-sama. Baiklah, aku pergi kalau gitu. Oh, iya. Kalau pak Khanif udah datang siang nanti, kamu jangan lupa juga untuk memberikan berkas ini padanya."
"Iya, pasti."
Davina pun segera berlalu dari sana dengan perasaan yang tenang. Berbeda dengan Rania yang perasaannya sudah tidak tenang sejak perkataan Davina.
Awalnya ia masih ingin bertanya pada Davina perihal dimana Khanif pergi pagi ini. Namun karena ia berpikir kalau saat ini masih jam kantor, membuat Rania malah mengurungkannya. Biarlah saat Khanif tiba nanti ia akan bertanya sendiri padanya langsung.
__ADS_1
Rania pun kembali mengerjakan tugasnya sebelum ia benar-benar cuti dari perkerjaannya selama sepuluh hari kedepan karena pernikahannya.
---
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua belas tepat. Rania pun segera menyudahi pekerjaannya.
Lalu setelahnya, ia pun melangkahkan kakinya menuju mushollah kantor.
Sesampainya disana, ia sudah melihat Dian duduk disalah satu tempat shaf perempuan. Rania lantas melangkahkan kakinya mendekati Dian dengan senyuman.
"Kamu udah ambil wudhu ngga Di?" tanya Rania.
"Belum. Aku baru aja sampai."
"Kalau gitu, gih kita ambil wudhu dulu. Waktu sholat-nya ngga lama lagi loh!"
"Hem. Ayo," seru Dian.
Kedua wanita itu pun pergi mengambil wudhu. Setelahnya, mereka pun menunggu sejenak sebelum sholat berjamaah dimulai di mushollah yang mulai di datangi oleh karyawan lainnya.
Setelah sholat, Rania dan Dian pun berjalan meninggalkan mushollah.
"Kamu mau makan siang dimana, Ra?"
"Diluar mau. Aku yang traktir deh."
"Baiklah. Aku harus memesan banyak kayaknya. Biar jadi penebus beberapa hari kedepan karena kamu cuti masuk kantor."
"Makanya nikah juga, biar bisa cuti," canda Rania malah membuat Dian murung. "Eh, kok kamu sedih sih?" tanya Rania. "Kamu ingat David lagi?"
"Hem. Ngga semudah itu aku melupakannya."
"Kamu udah pernah mengunjunginya di penjara?"
"Udah."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rania.
Meski telah disakiti, ia tidak lantas membencinya karena Rania sadar, kalau sebenarnya David adalah orang yang baik. Hanya saja David telah kehilangan arah saat itu.
"Dia baik-baik saja. Dia juga minta maaf soal kejadian dulu. Dia telah menyesali perbuatannya."
"Udah aku maafkan dari jauh-jauh hari."
"Terima kasih udah memaafkannya."
Rania tersenyum.
"Jadi kita mau makan dimana?" tanya Dian.
"Ditempat yang pernah aku mentraktir kalian."
"Baiklah. Aku sudah tidak sabar lagi."
Mereka pun menuju restoran dengan menggunakan motor Dian. Sesampainya disana, Dian lantas memarkirkan motornya sebelum ikut bergabung dengan Rania yang masuk terlebih dahulu.
Dian mengernyit heran saat ia mendapati Rania hanya berdiri saja didepan pintu masuk. Sekali lagi ditempat yang sama, Dian kembali mengikuti arah pandang Rania.
"Ra, kamu ngga papa kan?"
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...