Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 30. Kita Berjodoh?


__ADS_3

Khanif pun membuka ponsel pintarnya dan mendial sebuah nomor yang sudah cukup lama disimpannya di dalam kontaknya. Setelah tersambung, bukannya mendapat ucapan salam terlebih dahulu, Khanif malah mendapat ucapan gerutu nan kesal dari seberang sana. "Pergi ngga bilang-bilang! Aku kan udah bilang mau ikut."


Khanif tertawa. Gadis diseberang sana malah cemberut mendengar tawa Khanif yang begitu menggelegar di speaker ponselnya.


"Udah ketawanya, ngga lucu!"


Khanif lagi-lagi tertawa, ia begitu rindu mendengar suara kesal nan manja itu. Jika saja bukan karena pekerjaan sekaligus ajang penyelidikannya ini, Khanif pasti akan mengajaknya kemari. Namun sayang, seperti yang telah terjadi, Khanif tetap tidak akan membawanya meski dia merengek minta diikutkan.


"Maaf, lain kali aku akan mengajakmu kesini. Aku janji!"


"Baiklah, karena sudah berjanji, aku yakin kakak ngga bakalan melanggarnya."


Gadis diseberang sana tersenyum, begitu pula Khanif.


"Baiklah, kakak sudahi dulu. Kakak mau lanjut kerja lagi."


"Ok, assalamualaikum, sayang."


"Waalaikumsalam, too."


Khanif pun menyudahi telponannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengecek dan mencocokkan beberapa dokumen yang telah di kirimkan oleh Davina padanya. Sedang Khanif sibuk-sibuknya mengecek dokumen, Rania malah sibuk mencari Khanif kesana kemari. Ia bahkan sudah beberapa kali memutari penginapan ini.


Semua tidak ada yang berbeda, mobil sewa mereka masih ada ditempatnya. Terparkir rapi seperti siang tadi. Rania lalu teringat sesuatu. Ia pun pergi mencari Davina untuk menanyakan keberadaan Khanif.


Tok ... tok ... tok .... Rania mengetuk pintu kamar Davina. Tidak lama kemudian, Davina muncul dengan wajah yang segar, seperti habis membersihkan diri.


"Rania, ada perlu apa?"


"Kamu tau keberadaan pak Khanif? Aku sudah dari tadi mencarinya, tapi tak kunjung ku temukan."


Davina tersenyum, ia pun menujuk arah tangga disudut ruangan seraya mengatakan, "pak Khanif ada dilantai teratas."


Rania membalikkan badan, untuk melihat arah tunjuk Davina. Setelah tahu, ia lalu berbalik dan berterima kasih pada Davina karena telah memberitahukannya.


"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Rania disertai senyuman manisnya.


Davina mengangguk, ia pun kembali masuk kedalam kamarnya untuk melanjutkan aksi mempercantik dirinya. Sedang Rania pergi ke lantai atas untuk menemui Khanif.


Kini Rania sudah menginjakkan kaki di lantai teratas penginapan. Seperti Khanif, Rania juga terpesona akan keindahan alam yang terlihat dari atas sini, bahkan bertambah kagum karena ia tidak menyangka akan seindah ini berada diatas sini.


"Suka?"


Rania terperanjat, ia menoleh cepat ke arah Khanif. Rania lalu menghampiri Khanif. Khanif mendongak melihat Rania.


"Ada perlu apa, kamu mencariku?"


"Saya mau minta izin sama bapak. Saya mau keluar dulu sama kak Rey."

__ADS_1


Khanif berpikir sejenak. Ia tidak ingin, kejadian yang sama terulang lagi. Rania yang tau apa yang tengah dipikirkan Khanif pun, cepat-cepat mengatakan, "saya janji tidak akan lama."


Sekali lagi Khanif melihat Rania, ia ingin mencari kesungguhan di mata Rania. Saat tahu, Rania mengatakannya dengan sungguh-sungguh, Khanif pun menganggukan kepalanya seraya berkata, "kamu boleh pergi, tapi tidak boleh lama seperti perkataanmu barusan."


"Iya, pak. Saya janji."


Rania tanpa sengaja langsung saja memegang tangan Khanif. Ia begitu senang karena Khanif mengizinkannya pergi.


Khanif yang melihat tangannya yang tengah dipegang oleh Rania, membuat Rania mengikuti arah pandang Khanif. Ia begitu terkejut mengetahui tindakan yang tidak disadarinya.


Seketika Rania melepaskan tangannya seraya berkata, "maaf pak, saya tidak sengaja."


"Hem, kamu boleh pergi sekarang sebelum saya berubah pikiran!"


Rania cepat-cepat berbalik meninggalkan Khanif begitu saja tanpa ada perkataan selamat tinggal. Rania begitu senang, sampai melupakan hal itu. Namun, kala mengetahuinya, Rania tidak berbalik lagi. Ia takut Khanif akan berubah pikiran.


Rania menuruni tangga dengan cepat, tapi tetap berhati-hati. Saat ia telah sampai di anak tangga terakhir, Rania melihat Davina keluar dari kamarnya.


"Ingin ke atas juga?" tanya Rania setelah mendekat ke arah Davina. Davina mengangguk.


"Kalau begitu, aku tidak akan menghalangimu lebih lama lagi."


Rania pun berlalu masuk ke dalam kamarnya. Disana, ia bersiap-siap untuk pergi bersama Reyhan. Setelah bersiap, ia pun keluar dari penginapan. Baru saja ia ingin menghubungi Reyhan, sudah lebih dahulu ada sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.


"Pak Khanif?" ujar Rania tak percaya.


"Iya pak?" tanya Rania hati-hati.


"Segera ke lantai teratas penginapan. Saya menunggumu disini."


"Pak, bukannya tadi saya sudah minta izin?" ujar Rania dengan begitu berani. Pasalnya, memang tadi Rania telah meminta izin pada Khanif dan diizinkan.


"Sepertinya acara jalan-jalanmu harus ditunda dulu karena saya sangat butuh bantuanmu saat ini."


"Pak," cicit Rania.


"Jangan lupa bawa laptop dan secangkir kopi," ujar Khanif tanpa bantahan seraya memutus sambungan teleponnya.


Rania tertunduk sedih. Pasalnya ia telah membuat janji pada Reyhan. Mau tidak mau, Rania kembali menghubungi Reyhan untuk membatalkan aksi jalan-jalan mereka. Setelah menghubungi Reyhan, seketika Rania kesal dengan Khanif. Ia menduga kalau khanif sepertinya sengaja mengganggunya kala ia baru saja ingin pergi.


Namun, sungguh! Khanif tidak mempunyai niatan seperti itu. Khanif hanya ingin segera menyelesaikan masalah ini dengan dibantu oleh Rania. Ia hanya tidak ingin Davina merasa lelah karena sepanjang mereka berada disini.


Rania pun masuk kedalam kamarnya kembali untuk berganti pakaian. Ia menggerutu, namun tak urung tidak mengikuti kemauan Khanif.


Rania heran dengan prilaku Khanif yang mudah berubah-ubah. Kadang kala Khanif bersikap hangat, bahkan sangking hangatnya, hingga membuat Rania begitu kagum padanya.


Kadang pula Khanif bersikap dingin, hingga membuat Rania terasa canggung. Kadang kala juga Khanif bersikap arogan, sehingga ia seperti tidak mengenali Khanif. Sungguh! Rania di buat terheran-heran karenanya.

__ADS_1


"Dasar bunglon!" Rania menyapu seluruh wajahnya.


Baru setelahnya, Rania bergegas mengikuti perkataan Khanif tadi yang mengatakan ia harus membawa laptop dan secangkir kopi ke lantai teratas penginapan.


Setelah menyelesaikan permintaan Khanif, dengan sangat hati-hati Rania kembali naik ke lantai teratas. Akhirnya kehati-hatian Rania sedikit berkurang saat dirinya sudah sampai di anak tangga terakhir. Rania lantas melangkahkan kakinya dengan pasti menuju Khanif.


"Ini pesanan bapak," ujar Rania seraya meletakkan cangkir kopi pesanan Khanif terlebih dahulu.


"Maaf dengan berat hati, saya membatalkan aksi jalan-jalanmu," ujar Khanif bersungguh-sungguh.


Namun Rania tidak percaya. Ia lalu berujar, "bapak tahu, beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seekor bunglon. Saya heran, dapat bertemu dengannya di tempat seperti ini."


Khanif hanya tersenyum, ia tahu siapa yang tengah Rania sindir halus itu.


"Kenapa bapak tertawa?"


"Tidak apa-apa, saya juga baru teringat kalau saya juga telah melihat bunglon baru-baru ini. Saya rasa bunglon itu bunglon betina. Dia sungguh garang melihat saya. Emm, kalau diperhatikan, tatapan matanya itu mirip dengan  tatapan matamu padaku saat ini. Persis."


"Bapak kira saya percaya?"


"Saya tidak berharap kamu akan percaya." Khanif terdiam selama beberapa saat, sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Sudahlah, cepat bantu saya. Setelah masalah ini selesai, saya janji saya akan membawa kamu jalan-jalan, kemanapun kamu ingin pergi!"


"Janji!"


"Ya, saya janji."


Khanif tertegun melihat binar mata Rania yang penuh kegembiraan. Tidak ingin semakin hanyut ke dalam binar mata itu, Khanif cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada sebuah kursi didekatnya.


"Duduklah disini, agar saya bisa lebih leluasa melihat hasil kerjamu. Jangan sampai kamu berbuat kesalahan lagi."


Baru saja Rania mengembangkan sebuah senyuman manis di wajahnya, kini senyuman itu telah berganti menjadi sebuah senyuman kecut nan kesal karena perkataan Khanif barusan.


"Bapak pintar berkata-kata manis untuk mendapatkan tujuan bapak."


"Bukan kata-kata manis. Itu namanya keahlian."


"Sudahlah, saya menyerah."


Rania lalu mengambil tempat duduk yang telah Khanif katakan tadi. Sedangkan Khanif diam-diam tersenyum melihat tingkah Rania.


...To be continued ...


Jodokan mereka, sama sama bersikap bunglon 🤭


Semoga yang like/vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2