Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 61. Keadaan yang Disengaja


__ADS_3

Sedang tak jauh dari meja keluarga kelurga kecil itu, sepasang wanita dan pria yang telah diatur pertemuannya oleh kedua orang tua mereka pun melihat ke arah keluarga kecil itu. Namun pria itu hanya melihat sekilas sebelum melanjutkan aksi makannya yang sempat terganggu tadi.


Oh tidak, pria itu mulai terganggu sejak keluarga kecil itu masuk ke dalam restoran ini. Ia tertegun melihat mereka yang juga memilih restoran ini untuk menjadi makan malam keluarga.


"Apa tidak ada restoran lain lagi?" tanyanya dalam hati.


Tentu saja ia sempat bertanya seperti itu dalam hatinya. Bagaimana tidak, sekian banyak restoran yang ada di kota ini, keluarga kecil itu memilih untuk makan disini dan secara kebetulannnya lagi, keluarga kecil itu mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari mejanya. Bagaimana pria itu tidak khawatir coba?


Namun tunggu, untuk apa dirinya merasa khawatir? Toh, ia dan gadis dari keluarga kecil itu tidak memiliki hubungan khusus apapun! Malah seharusnya ia bisa makan dengan tenang karena mengetahui fakta barusan.


Tapi sepertinya, fakta barusan tidak membantunya untuk lebih menonjolkan diri. Lihat, ia terus saja fokus pada makanan didepannya. Tanpa perduli pada wanita didepannya yang sesekali melihat kepada keluarga kecil itu.


Hingga tiba-tiba wanita itu bertanya, "mereka keluarga Rania?"


Ia tersentak kaget. Namun dengan tenang ia berusaha menjawab sebisanya. "Ya, mereka adalah keluarganya," ujar pria itu tanpa melihat ke arah wanita yang duduk didepannya.


"Tapi tunggu. Lelaki yang duduk disamping Rania itu, jangan bilang kalau dia adalah pasangannya."


"Tidak, dia adalah kakaknya."


"Benarkah? Tapi mengapa mereka tidak terlihat seperti saudara? Malah menurutku mereka terlihat seperti pasangan kekasih," ujar si wanita tadi sambil memicingkan matanya. Ia seperti tidak mempercayai perkataan pria yang terus saja mencoba menyembunyikan keberadaan dirinya.


Hingga wanita itu tiba-tiba teringat kejadian masa lalu. "Kamu tidak lagi mencoba untuk menyembunyikan diri dari adik kelas kita kan?"


Pria itu langsung tersedak oleh makanannya. Ia tidak menduga wanita didepannya akan menanyakan pertanyaan yang sangat dihindarinya itu.


"Maaf aku tidak sengaja, Khanif," katanya penuh sesal.


"Tak apa. Mereka memang seperti itu, tapi percayalah, mereka adalah sepasang kakak beradik."


Wanita tadi mengangguk, mencoba menerima penjelasan Khanif. Ya, dia adalah Khanif. Lelaki yang duduk didepan wanita yang ingin tahu tentang keluarga kecil yang duduk tidak jauh dari mereka. Ia adalah Khanif, lelaki yang mengikuti ucapan mamanya untuk melakukan pertemuan lagi meski ia tidak menyukainya.


"Kamu mau kemana?" tanya Khanif saat wanita didepannya ini tiba-tiba saja berdiri tanpa menghabiskan lebih dahulu makanannya.


"Aku mau menghampiri Rania dulu. Udah lama banget ngga ketemu dia. Sungguh, dia berubah sangat drastis. Tunggu, aku akan segera kembali."


Wanita itu pun pergi meninggalkan Khanif yang tidak menduga akan adanya kejadian seperti ini. Wanita itu berjalan semakin dekat dengan keluarga kecil itu.

__ADS_1


Sesampainya disana, ia langsung saja menegur Rania dengan cara memanggil namanya dengan nada suara seriang mungkin. "Rania, lama tidak bertemu."


Merasa ada yang memanggilnya,


Rania mendongkak. Ia dapat melihat Tasya yang notabene-nya adalah kakak kelasnya saat sma dan kakak tingkatnya saat kuliah.


"Kak Tasya."


Melihat kedatangan Tasya yang tiba-tiba disini dan menghampirinya untuk menyapanya, Rania dibuat  terkejut sekaligus heran. Bagaimana tidak, Rania merasa Tasya sepertinya  sengaja untuk menyapanya.


Entah untuk tujuan apa, tapi Rania yakin pasti Tasya memang sengaja menghampirinya. Karena setahunya, Tasya bukanlah seorang gadis seperti saat ini 'hangat' bahkan dia terkesan angkuh saat bertemu Rania. Kadang pula bersikap sombong padanya.


Tentu saja Rania merasa curiga akan perubahan sifat Tasya yang tiba-tiba ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba saja Tasya bersikap seperti mengenal dekat dirinya. Bahkan Tasya kini menampilkan senyum yang tidak pernah ia perlihatkan pada dirinya.


"Sayang, gih suruh temannya duduk dulu," ujar mama membuat tebakan Rania buyar.


"Terima kasih, tan. Tapi Tasya hanya mampir untuk menyapa Rania aja. Soalnya Tasya juga buru-buru, takut ada yang menunggu," ujar Tasya seraya menoleh ke belakang melihat Khanif.


Rania pun mengikuti arah pandang Tasya. Seketika Rania terkejut saat manik matanya dan manik mata Khanif saling melihat satu sama lain. Khanif pun tak kalah terkejutnya, namun ia cepat-cepat menguasi keadaan. Berbeda dengan Rania yang tiba-tiba merasa canggung.


Sudah Rania duga. Tasya memang sengaja menyapanya untuk memperlihatkan kepada dirinya kalau Tasya datang ke restoran ini bersama Khanif.


"Iya tan. Kami sedang dinner disini dan tanpa sengaja bertemu adik kelas kami, jadi saya menghampirinya."


"Oh, gitu. Kalian pernah satu sekolah rupanya."


"Iya, tan. Kalau gitu, Tasya pamit balik dulu. Takut Khanif menunggu."


"Iya, nak. Salam sama nak Khanif."


"Iya, tan. Tasya pamit."


Seperginya Tasya, tanpa sadar mama memotong steak-nya sudah tidak karuan karena kesal atas kejadian tadi. Reyhan yang dari diam pun akhirnya berbicara untuk menanggapi kelakuan mama yang tidak biasa ini.


"Mama kenapa? Kok steak-nya malah di potong-potong aja?"


"Mama kesal," ujar mama sambil terus memotong steak-nya tanpa memakannya.

__ADS_1


Reyhan, Rania dan papa saling berpandang-pandangan. Seakan tahu apa yang lagi dikesalkan oleh istrinya, akhirnya papa ikut berbicara juga.


"Mama kesal soal yang tadi?"


"Tentu saja, emangnya apa lagi yang bisa membuat mama kesal disaat seperti ini? Gadis itu benar-benar membuat mood makan malam mama hancur." Mama lalu mendorong piring makannya menjauh seraya berkata, "mama tidak minat lagi."


"Mama aneh, bukannya mama tadi menemaninya berbicara?" timpal Reyhan.


"Mama tahu, tapi tidak begitu juga. Gadis itu seperti sengaja datang kemari hanya untuk memperlihatkan sama siapa dia datang. Baru lelaki seperti khanif aja bangga. Gimana kalau yang lain," sungut mama menahan kesal.


"Karena pak Khanif berbeda dengan lelaki kebanyakan, ma! Makanya kak Tasya bisa berani seperti itu," ujar Rania dalan hati.


Mana berani ia mengatakannya tepat didepan papa, mama dan kakaknya. Bisa-bisa sepulang mereka dari sini, Rania tidak bisa langsung beristirahat karena ditawan oleh mereka untuk dimintai penjelasan akibat perkataannya tadi. Memikirkan kemungkinan itu, Rania cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya papa membuat perhatian mama dan Reyhan beralih padanya.


"Rania tidak apa-apa, pa."


"Yakin?"


"Iya yakin."


"Kalau merasa tidak enak, kita pulang saja," ujar papa.


"Jangan-jangan, mana bisa begitu. Sungguh, Rania tidak apa-apa," ulang Rania agar meyakinkan keluarganya.


"Iya, pa. Adik tidak apa-apa kok," ujar Reyhan ikut membantu.


Mereka pun kembali menikmati makan malam mereka dengan tenang. Selesai makan, tiba-tiba Rania pamit izin ke toilet. Awalnya Reyhan hendak menemani Rania meski hanya menunggunya dari jarak jauh. Namun sekali lagi ia dapat dengan tegas meyakinkan keluarganya kalau ia dapat pergi sendiri.


Jadi disinilah ia berada didalam toilet. Ia sejenak memperhatikan wajahnya dari cermin. Lalu kemudian, ia membasunya. "Huft, apa-apaan ini. Kenapa malah bertemu mereka disini! Apa ini salah satu kencan pak Khanif yang dikatakannya tempo hari?" Rania cepat-cepat menggelengkan kepalanya saat tahu kalau ia telah salah bicara.


Tentu saja salah, untuk apa ia mengurusi urusan orang lain? Rania pun lantas keluar dari toilet. Baru saja berapa langkah ia berlalu dari sana, langkah kakinya kembali terhenti saat menyadari siapa orang yang tidak jauh dari dihadapannya saat ini.


...To be continued ...


Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2